Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Fani


__ADS_3

Aku janji aku akan menunggu kamu sampai kapanpun, kita akan berjuang sama-sama Fan, kamu jaga diri baik-baik disana! Ingat aku selalu menunggumu, disini! Itulah kata-kata yang selalu terngiang ketika aku di Paris bahkan sampai sekarang kata-kata itu selalu terpatri dalam ingatanku. Itu kata-kata yang dibisikkan Aaron ketika dia mengantarku ke bandara untuk pergi ke Paris. Pria yang sangat aku cintai dihidupku, dia adalah nafasku, sakitku, bahagiaku, dan segalanya untukku. Dia satu-satunya pria yang menjadi kebanggaan dalam hidupku, kebaikan hatinya, tanggung jawabnya, dan juga sayangnya pada ibunya.


Seperti kata orang tidak ada yang baik-baik saja dalam hubungan, seperti hubungan kami berdua. Banyak sekali konflik yang muncul yang terkadang membuatku goyah, tapi Aaron selalu mengingatkan jika semuanya akan dapat kami lewati sama-sama. Aku juga pernah bertengkar hebat dengan Reg karena mempertahankan Aaron. Rega sejak dulu tidak pernah setuju dengan hubunganku bersama Aaron. Tapi anehnya pria itu juga tidak menjauhiku, bahkan dirinya ikut melanjutkan studinya di Paris bersamaku.


Hal yang menjadi penghalang besar di keluarga Aaron adalah oma dan juga paman Nurmansyah, ayah Aaron. Oma tidak suka dengan aku karena masa di masa lalu orang tuaku pernah menipunya, jadi kebencian oma juga menurun dari orang tuaku pada diriku. Padahalkan itu masalah orang tuaku, aku tidak pernah tahu apapun tentang itu. Tapi sebagai anak dari orang tuaku aku juga menanggung akibatnya. Dulu aku semoat menyalahkan orang tuaku, tapi setelah beberapa lama aku sadar aku tidak mengubah keadaan dengan menyalahkan kedua orang tuaku apalagi mereka juga telah pergi untuk selamanya. Hal yang membuatku tidak jatuh terpuruk adalah Aaron yang selalu membesarkan hatiku dan selalu menguatkan aku. Aaron selalu meyakinkan aku jika aku suatu saat nanti pasti ada restu untuk kami berdua.


Hal yang paling mengiris hatiku adalah Nurmansyah, pria itu benar-benar kurang ajar padaku! Dia tidak suka padaku dengan alasan aku tidak cocok untuk bersanding dengan anaknya karena aku bukan wanita kelas atas yang pantas untuk anaknya. Tapi itu hanyalah bukannya semata. Berbeda dengan oma yang mengatakan ketidaksukaannya dibelakang Aaron, paman Nurmansyah mengatakan ketidaksukaannya didepan Aaron. Karena hinaan-hinaanyanh dilontarkan Nurmansyah padaku itulah Nurmansyah dan Aaron sampai ribut besar.


Aku kira Nurmansyah benar-benar tidak merestui kami karena aku benar-benar tidak layak untuk bersanding di depan anaknya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya beberapa minggu kemudian pria tua itu datang menemuiku membawakanku segepok uang dan dengan terang-terangan meminta aku meninggalkan Aaron dan menjadi istri sirinya.


Kurang ajar! Ini benar-benar melukaiku sebagai perempuan. Apa dimata pria tua itu aku hanya gadis pencinta uang dan melakukan segalanya untuk uang? Jadi semua ketidaksetujuannya pada diriku, semua penghinaannya itu hanyalah alasan yang dibuat-buatnya? Dan diam-diam dia ingin menjadikan aku istrinya, itu benar-benar penghinaan untuk yang luar biasa.


Dengan langkah yang angkuh aku berjalan, aku mengambil uang itu dan melemparkannya di mukanya agar dia tahu aku tidak mampu dibinya dengan uangnya. Aku langsung mengusirnya, aku tidak sudi dia berada di kamarku! Aku benar-benar mengusirnya agar dia tahu diri, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa dibelinya dengan uangnya. Setelah kepergian Nurmansyah aku menangis sekeras-kerasnya, aku mengamuk dan terakhir yang kuingat aku terbaring dengan Rega yang ada di sampingku.

__ADS_1


Sayangnya tidak cukup sampai di situ Nurmansyah benar-benar merasa terhina sampai-sampai pria itu membuat fitnah jika aku yang menggodanya. Itu bukan hal yang kecil, keluarga besar Aaron benar-benar menggunjingku, bahkan sampai ada yang memaki-makiku lewat media sosial. Fani perempuan murahan, Fani tidak tahu malu dan banyak lagi hinaan-hinaan yang mereka lemparkan padaku. Walaupun tidak ada yang tahu kelakuan tua bangka itu pada diriku karena aku tidak menceritakannya pada siapapun. Setelah hari itu aku benar-benar menghindar untuk bertemu Nurmansyah. Aku tidak pernah lagi ikut serta jika ada acara di keluarga Aaron.


Aaron benar-benar pria yang benar-benar dikirimkan Tuhan untukku. Pria itulah yang membuatku tetap bernapas sampai hari ini, Aaron yang selalu pasang badan jika aku mendapatkan masalah pun penghinaan. Yang paling aku ingat adalah saat malam dimana Aaron membawaku untuk makan malam di restoran terkenal belum lama setelah Nurmansyah menebarkan fitnah yang sangat kejam itu.


Ada seorang wanita yang menghampiriku dan langsung menyiramkan makanan yang kupesan diwajahku, aku tidak sempat memproses kejadian itu langsung berteriak kepanasan. Aaron segera berdiri dan memanggil keamanan di restoran itu bahkan pria itu sampai membuat laporan pada polisi. Aku mencegahnya, orang yang menyiramkan aku makanan tadi cuma salah paham karena terprovokasi dengan berita-berita yang ada di media sosial. Berita Nurmansyah yang mengaku digoda olehku itu menyebar dengan cepatnya seperti api yang disiramkan bensin.


Aaron selalu memelukku dalam masa-masa sulitku itu. Selama di Paris aku juga selalu memikirkan pesannya, aku bahkan belajar lebih giat dan menambah kursus-kursus untuk menambah keterampilan memasakku. Benar saja, usaha kerasku tidak bertepuk sebelah tangan karena aku lulus dengan hasil yang baik dan cukup memuaskan untuk diriku.


Rega benar-benar menentang keras keputusanku, tapi aku tidak peduli lagi pada pria itu aku benar-benar sudah yakin. Pada akhirnya tegalan yang mengalah, karena aku tidak akan pernah mengalah untuk sesuatu yang sudah aku yakini. Kepulanganku ke Indonesia ternyata tidak semanis yang kuharapkan setelah mendapat kabar Aaron telah menikah. Tidak, tidak mungkin Aaron seprerti itu pria itu selalu menepati janjinya pada diriku, bisikku dalam hati. Sasha bahkan mengirimkan aku foto seseorang yang menjadi istri Aaron, dan yang paling mengejutkan ada foto kecupan yang dikirimkan Aaron, air mataku mengalir deras. Aaronku telah menyakitiku, Aaronku telah menganggap ku tidak ada. Sekarang dia sudah bersama wanita lain, sakit dan perih yang kurasakan tidak juga membuatku membenci pria itu. Sekuat apapun aku membenci Aaron aku tidak bisa, aku tidak mampu bahkan tidak berdaya. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan pria itu dimasa lalu terlalu banyak sehingga mampu mengikis luka yang ditorehkannya.


Bibir itu, bibir yang selalu mengecup hangat keningku. Bibir yang selalu menguatkanku dengan kata-kata semangatnya bahkan bibir yang selalu membisikkan kata-kata manis penuh cinta. Lalu kini, kenapa bibir itu justru mengecup orang lain? Kenapa harus ada orang lain, hiks hiks hiks. Aku benci semua ini, aku tidak terima Aaron memperlakukan aku seperti ini. Setelah semua pengorbanan yang kulakukan kenapa justru hal seperti ini yang aku dapatkan, aku menangis dan memecahkan semua barang yang ada di kamarku.


Aaron kini jahat, Aaron kini membunuhku dengan semua yang dilakukannya. Dimana janjinya untuk menungguku? Dimana janjinya untuk selalu sama-sama denganku. Aku menangis sepuasnya sampai aku sadar kembali setelah pagi dan Rega sudah membawakan sarapan untuk diriku.

__ADS_1


Hari itu aku langsungemghubungi Sasha agar segera bertemu. Aku ingin cerita yang lebih jelas dari gadis itu. Sasha datang menemuiku di restoran Rega, gadis itu menceritakan semuanya padaku dan yang paling membuatku geram adalah gadis itu yang menjebak Aaron sehingga Aaron yang harus bertanggung jawab dengan menikahi gadis itu. Itu sangat menyedihkan, gadis itu benar-benar keterlaluan sampai mengorbankan Aaronku.


Sasha menyarankan aku untuk merebut Aaron dari gadis itu, tentu saja aku tolak walaupun hatiku masih berdarah dengan pernikahan itu. Sasha malah menertawakan diriku yang katanya bodoh dan mudahnya mengalah pada Carissa. Oh, jadi namanya Carissa? Aku mencatat baik-baik nama gadis itu dalam ingatanku.


Suatau malam aku bertemu dengan Aaron tanpa sengaja, pria itu berjalan dengan berkas-berkas ditangannya. Malam itu aku memeluk pria itu penuh kerinduan, akhirnya aku dapat kembali hangatnya rengkuhan Aaron. Aku mengeluarkan air mata bahagia, terharu, campur aduk menjadi satu.


Aaron mengajakku untuk makan malam dan itu tidak aku tolak, aku menyambut ajakan pria itu dengan antusias. Hatiku membuncah bahagia ketika Aaron. Membawaku ke restoran favorit kami dulu, tempatdimana kami menghabiskan malam-malam Minggu kami. Tempat menceritakan hari-hari yang kami lewati yang disaksikan oleh kursi, meja, piring, dan sendok yang ada di meja kami. Aku kembali larut dalam kenangan-kenangan itu, seketika tubuhku seperti tersiram air aku harus memperjuangkan pria ini karena Aaron memang cukup pantas aku perjuangkan.


Sepanjang makan malam kami kembali bertukar cerita tentang hari-hari yang kami lewati dan pria itu tidak pernah menyinggung pernikahannya sedikitpun. Aku mengulung senyum sepertinya Aaron tidak bahagia dengan pernikahannya. Selesai makan malam aku diantar pulang oleh Aaron dan masih seperti dulu pria itu membukakan pintu untukku. Aku masuk ke apartemen milikku dengan senyum yang mengembang, aku kembali bahagia.


“Bahagia benget, sadar dong lo cuma akan jadi pelarian.” Aku tidak mengindahkan Rega yang menyindirku. Jangan tanya mengapa pria ini sampai berada di kamarku, Rega sahabatku sejak SMA bahkan aku mengenal dia lebih dulu daripada Aaron. Aku membiarkan dia tahu password apartemenku karena dia satu-satunya pria yang menjadi sahabatku dan juga dia menghormati dan menghargai wanita, jadi aku tidak khawatir kalau dia ke apartemenku. Selama ini dia juga yang melindungiku dari pria-pria haus belaian yang ingin menjadikan aku kekasih mereka. Rega adalah malaikat pelindungku setelah Aaron.


Karena mood-ku yang sangat baik malam ini aku tidak menanggapi pria itu. Aku masuk ke kamarku mengunci pintunya dan kemudian melompat-lompat dan berguling-guling bahagia di atas ranjangku. Aku bermimpi indah malam itu tentang diriku dan Aaron, aku tersenyum sepanjang tidurku. Aku kembali merasakan kehangatan dalam hatiku setelah pertemuanku dengan Aaron malam itu.

__ADS_1


__ADS_2