Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Hadiah dari Aaron


__ADS_3

Sepeninggal Aziz, Aaron segera menelpon Bi Sitti memerintahkan para pelayannya untuk menyulap taman belakang rumahnya menjadi tempat untuk makan malam yang. Aaron juga menjelaskan agar tempat makan malam itu di dekor dengan seromantis mungkin. Ia juga meminta agar menyiapkan makanan yang di buat oleh chef langsung yang menjadi kepercayaan Bi Sitti.


Setelah beres dengan urusan para pelayannya Aaron menghubungi Carissa.


"Halo," suara itu terdengar serak seperti baru bangun tidur. Aaron tersenyum, pasti muka istrinya sedang lucu-lucunya sekarang. Sepertinya istrinya ini kelelahan setelah marah-marah.


" Jangan makan malam duluan ya! Kita makan diluar, kamu dandan yang cantik!" Aron mendengar gadis itu menggumam istrinya sepertinya masih setengah sadar. "Sampai nanti," Aaron mematikan panggilannya.


Pria itu tidak berhenti tersenyum bahkan sampai bersiul-siul. Gila! Kenapa harus sebahagia ini perasaannya. Tidak ada salahnya pikir Aaron, istrinya yang membuatnya seperti ini bukan istri orang lain. Pria itu segera menyelesaikan ketikannya dengan lancar. Sesekali melirik jam tangannya menunggu waktu malam tiba.


Di kamarnya Carissa, memejamkan matanya kembali. Tumben banget suaminya itu menelponnya untuk makan malam di luar. Carissa pikir dirinya akan terjebak pada pernikahan ini. Kalau keadaannya seperti ini Carissa merasa seperti orang menikah karena saling mencintai, suaminya sangat baik padanya. Akan tetapi, setelah Carissa pikir-pikir ini hal bagus, Carissa bangkit dari ranjangnya dengan semangat, gadis itu juga bersenandung kecil ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi. Gadis itu mengeringkan rambutnya, dan menyisirnya. Dibiarkan saja rambutnya terurai, gadis itu mulai memoles wajahnya. Carissa tidak membutuhkan bantuan siapapun untuk menciptakan riasan yang indah pada wajahnya. Gadis itu pernah menggilai make up pada zamannya, sebelum kepergian orang tuanya.


Carissa menatap bayangannya sambil tertawa kecil mukanya terlihat lebih dewasa dari biasanya, biarlah sesekali biar sesuai dengan Aaron. Selesai dengan wajah dan rambutnya gadis itu mencari pakaian yang sesuai untuknya malam ini. Pilihan Carissa jatuh pada dress hitam satin yang panjang dan terbuka bagian punggungnya. Gadis itu akan menutupinya dengan


blazer agar tidak dilihat oleh pelayan-pelayan dirumah ini.


Carissa menyimpan pakaiannya diatas ranjang. Gadis itu mencari sepatu yang sesuai untuk dress itu. Melihat jam yang menunjukan waktu Magrib, Carissa tersenyum mengingat dirinya yang antusias.


Di tempat lain Dewi sudah berdiri di depan pintu rumah Arlan, Gadis itu memencet bel rumah Arlan. Arlan keluar dari rumahnya melihat Dewi mata Arlan membulat, pria itu menghela napasnya agar sabar.


"Ar, aku minta waktu kamu lima atau sepuluh menit. Aku mau ngomong!" Arlan mengangguk, pria itu berjalan menuju tempat duduk yang ada di halaman rumahnya.


"Mau ngomong apa, sampai repot-repot ke rumah gue?" Dewi menghela napasnya, gadis itu menarik senyum.


"Aku minta maaf sama kamu untuk semua salahku dimasa lalu. Arlan, kalau kamu tidak menginginkan aku kembali di hidup kamu, katakan sekarang! Aku mungkin akan kembali besok dan dengan berjalannya waktu aku juga akan mencari orang lain." Dewi menangis tanpa menatap ke arah Arlan. Dewi benci air matanya, gadis itu menghapus air matanya dengan kasar. Arlan menatap gadis ini gusar, selain keposesifannya tidak ada hal yang menjadi alasan untuk menjauhi gadis itu.


"Kasih gue waktu, setelah Carissa benar-benar aman. Aku akan datang menemui kamu, tapi jangan menungguku. Mungkin aku akan kehilangan nyawa. Jadilah gadis yang lebih baik lagi." Mendengar itu Dewi memeluk Arlan. Gadis itu menangis, Arlan pun menangis.


"Aku janji jadi lebih baik lagi" Dewi tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Arlan meneteskan air matanya, hatinya terasa sakit. Arlan menyadarinya sekarang, dirinya juga mencintai Dewi, tapi masih ada hal yang harus diselesaikan.


"Aku cinta kamu" Arlan mengecup puncak kepala gadis itu. Dewi semakin terisak rasanya menyakitkan juga melegakan. Dewi tersenyum dalam hati, dia akan membantu Arlan sekuat tenaganya.

__ADS_1


****


Aaron yang sampai rumahnya, langsung menuju kamarnya. Memasukkan password dengan tidak sabar. Pria itu tercengang melihat tampilan istrinya.


"Cantik amat, istri Aaron!" Pria itu berjalan melepaskan tas kerjanya dan segera menarik tangan istrinya. Carissa tersenyum malu, Carissa mengikuti langkah suaminya. Setelah jauh berjalan kening


Carissa mengkerut, katanya makan malam di luar tapi kenapa pria ini menyeretnya ke belakang rumah. Hilang sudah perasaan senang di hati Carissa, gadis itu mengikuti saja kemana Aaron melangkah dengan terdiam tanpa berharap lebih lagi. Aaron mengeratkan genggaman tangannya, pria itu tersenyum melihat Carissa yang terlihat bertanya-tanya. Aaron kemudian meminta isstrinya memejamkan mata, dan menutup mata istrinya dengan kain hitam. Sampai di tempat tujuan Aaron membuka penutup mata istrinya, Carissa terkejut melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya.


"Wow" gadis itu terpana, ini lebih indah dibandingkan yang dipikirkannya.


Matanya disajikan dengan lampu-lampu kecil yang dipasang pada bunga-bunga di sekitarbitu. Di meja makan diterangi dengan sebuah lilin yang sudah di desain sedemikian rupa. Carissa juga melihat banyak lampion-lampion yang melayang di udara. Carissa beralih menatap Aaron, pria


itu tersenyum sangat manis padanya. Carissa segera menghampiri dan memberikan pelukan pada suaminya. Aaron tarkaku sesaat sebelum membalas kembali pelukan istrinya. Pria itu menciumi puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Makasih mas," Carissa tersenyum senang.


"Mas?" Pria itu tersenyum jahil menatap istrinya, Carissa gelagapan dalam pelukan suaminya.


" Mas saja, lebih enak di denger." Carissa mengangguk, Aaron berbisik pada istrinya.


" Di kamar saja mas dipeluk, sekarang perut mas meronta-ronta minta diisi!" Carissa malu mendengar bisikan suaminya, wajah gadis itu memerah. Carissa melepaskan pelukannya dan berjalan lebih cepat menuju meja makan. Aaron menahan gadis itu untuk menautkan jari-jari mereka dan berjalan beriringan dengan Carissa sampai ke meja makan.


"Selamat makan," Aaron kemudian membaca doa makan yang juga diikuti oleh Carissa.


"Senang gak?" Aaron melirik istrinya cerah, Carissa mengangguk antusias.


"Tapi tadi aku kesal banget!" Alis Aaron terangkat mendengar pengakuan istrinya.


"Kesal karena apa?" Carissa menatap Aaron malu-malu.


"Kirain mas mau ngerjain Carissa. Masa makan diluar, Carissa malah dibawa ke belakang rumah." Aaron tertawa mendengar lahan isi hati istrinya ini.


"Memang ini dalam rangka apa mas?" Carissa mengingat-ingat, ini bukan hari ulang tahunnya maupun ulang tahun Aaron.

__ADS_1


" Ehmm,,, karena mas senang saja sih." Aaron tersenyum-senyum mengingat kejadian yang dinontonnya sore tadi.


Carissa mengernyit heran, tapi gadis itu tidak bertanya lagi toh yang ditanya lebih senang tersenyum sendirian dibandingkan bercerita padanya. Carissa akhirnya melanjutkan menikmati makanan yang ada di depannya.


" Gimana perasaannya?" Aaron bertanya pada Carissa berbinar bahagia. Carissa tersenyum memandang Aaron.


"Bahagia," Carissa tertawa kecil, Aaron mengangguk setuju dengan perasaan istrinya, dia juga merasa bahagia.


Tiba-tiba musik mengalun dengan


indahnya.


"Ada musik juga?" Carissa tertawa. Ternyata semua penuh kejutan untuk malam ini, padahal dipikirnya tadi hanya makan malam biasa.


"Mau dansa?" Carissa menggeleng, Aaron mengangguk tidak memaksa.


"Sini, duduk dekat aku!" Carissa bergeser sehingga duduk lebih dekat dengan Aaron. Pria itu merangkul istrinya, membuat wajah Carissa memerah.


"Pejamkan matanya" Carissa menatap Aaron dengan pandangan bertanya, pria itu hanya menggerakkan bibirnya, rahasia.


Carissa memejamkan matanya, gadis itu merasakan sesuatu mengenai lehernya, bibirnya terangkat senyum tergambar di wajahnya. Aaron tersenyum menatap hadiah yang diberikannya, istrinya terlihat makin cantik.


"Sekarang, buka matanya!" Carissa membuka matanya dan tersenyum melihat kalung yang melingkari lehernya. Sangat cantik! Carissa terpukau beberapa saat. Tapi gadis itu menyadari ada yang salah, Carissa menatap Aaron yang memandangnya tersenyum.


"Mas, kok huruf A. Maunya kan C inisial Carissa" Aaron terkekeh menatap istrinya.


" A itu inisial Aaron, biar kamu tidak lupa sama suami tampan kamu ini." Carissa tertawa mendengarnya, suaminya ini sangat percaya diri. Akan tetapi Aaron memang tampan sih, itu tidak diragukan lagi. Carissa kembali terdiam, membuat Aaron menyeringai jahil.


"Tidak ada nih, terimakasih untuk mas?" Carissa tersenyum malu-malu menatap Aaron.


"Terimakasih mas" Gadis itu memeluk suaminya, menghirup aroma parfum suaminya. Aaron tersenyum dan menghirup aroma shampo istrinya, menenangkan.


Beberapa saat berpelukan Aaron dan Carissa bertatapan, entah bagaimana ceritanya Aaron berakhir dengan mencium bibir istrinya dan melumatnya. Carissa juga membalas ciuman suaminya tak kalah panasnya. Setelah beberapa menit kemudian keduanya menghela napas panjang, mereka hampir kehabisan napas. Aaron kembali menciumi seluruh wajah istrinya, Carissa memejamkan matanya menikmati ciuman itu.

__ADS_1


__ADS_2