
Sepanjang jalan pulang Carissa termenung, tidak menyangka Aaron malah memberikan tatapan benci pada mereka. Apa salah kalau dirinya juga ikut mencari Nadirah? Mengapa Aaron bereaksi berlebihan pada dirinya?
Carissa menghembuskan napas kasar ketika sudah berada di halaman rumah Aaron.
Carissa turun dari mobil Arlan dengan jantung yang berdegup kencang, apalagi ada banyak mobil di rumah ini. Carissa menarik napasnya mengumpulkan keberanian untuk melangkah masuk. Semoga Aaron tidak menyidangnya di dalam sana.
"Gue temanin deh, kalau lo ragu-ragu untuk masuk." Arlan ikut turun dari mobilnya melihat Carissa yang berhenti seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
Aku menggeleng menatap Arlan, aku tidak mau menambah masalah untuk pria ini. Apalagi saat di hutan Aaron menatap Arlan sengit, akan semakin memperparah keadaan jika sekarang Arlan datang menemani Carissa masuk ke dalam rumah Aaron.
"Terimakasih, tapi gue bisa masuk sendiri kok. Kamu pulang saja, nanti aku kabarin kalau ada apa-apa." Arlan mengangguk, kemudian mengacak-acak rambutku dan berbalik pergi. Aku memberanikan diri melangkah masuk, aku membuka pintu dengan jantung yang berdentang keras. Aku menghembuskan napas lega, tidak ada orang di depan saat ini.
Prok prok prok prok! Aku menegang melihat Aaron yang muncul di hadapanku pria itu bertepuk tangan melihatku, aku menelan ludahku. Wajahnya merah padam, giginya gemeletuk sangat marah tatapannya merenung tajam menatap wajahku. Aku menarik napas, mengangkat kepala memberanikan diri membalas tatapannya.
"Senang banget ya? Pergi tidak izin, pulang juga masih sempat-sempat bermesraan depan rumah." Aku mengatupkan bibir mendengar sindiran Aaron. Aku memberanikan diri menjawab dengan suara pelan, tidak ingin menaikkan emosi Aaron.
"Aku kan, khawatir sama Nadirah mas. Jadi aku minta tolong Arlan untuk jemput aku." Aaron menatapku sinis, pria itu berjalan mendekatiku. Aku merinding, Aaron sekarang terlihat lebih menyeramkan daripada saat di rumah oma kemarin.
__ADS_1
" Kamu khawatir? Atau kamu menggunakan kekhawatiran kamu untuk dekat dengan pria itu? Aku tidak paham Carissa, apa yang kurang dengan diriku sehingga kau mampu melakukan hal keji seperti itu pada Nadirah. Apa salah Nadirah padamu?" Aaron berteriak dan menatapku tajam, pria itu mencekram daguku. Aku menatapnya dengan tatapan terluka, aku terluka dengan semua tuduhannya, apalagi tangan Aaron seperti berniat menghancurkan diriku.
"Aku, aku tidak sejahat itu mas, aku tidak pernah berpikir seperti itu untuk Nadirah. Aku, sudah menganggapnya adikku sendiri." Aku menutup mataku, mata Aaron kembali mengobarkan kebencian yang semakin membuatku terluka. Bibirnya pelan-pelan bergerak ke telingaku.
"Tunggu sampai bukti ada, aku akan benar-benar membuatmu menyesal telah lahir di dunia ini." Aaron berbisik pelan tapi sarat akan kekejaman, aku benci wajahnya yang menyeringai melihatku. Apa ada orang yang memanfaatkan kepergianku bersama Aaron ke kampung oma? Apa memang ada pihak yang mengadu domba kami? Mengapa sekarang Aaron menatapku penuh kebencian?
"Mas, kamu jahat banget. Suatu hari nanti, kamu akan menyesali ini." Aku mendesis tajam. Aku juga balas menatapnya tajam, kami saling bertatapan tajam. Aku tidak mengalihkan pandanganku, agar Aaron juga tahu aku tidak gentar dengan ancamannya.
“Wow, tatapan yang penuh cinta, romantis sekali." Nurmansyah terkekeh mengejek melihat anak dan menantunya yang bertatapan tajam.
Aaron menormalkan ekspresinya kemudian menarik Carissa lalu memeluk pinggang istrinya itu, Carissa tersenyum kaku pada Nurmansyah. Tubuhnya serasa mau remuk rengkuhan Aaron seperti mau mematahkan tulang-tulangnya tidak ada kelembutan sama sekali.
"Aha! Itu memang mesra sekali. Iri juga aku melihatnya, tapi aku ragu jika itu tatapan orang yang saling mencintai." Nurmansyah tertawa melihat Aaron yang mulai menegang. Rahang anaknya mulai mengetat, pasti Aaron tersinggung.
"Papa tidak mungkin membuang-buang waktu untuk hal yang seperti ini kan? Katakan apa yang ingin anda katakan!" Nurmansyah menggosok dagunya kemudian memasukan kedua tangannya kedalam celana. Pria itu menatap Aaron dengan senyuman sinis miliknya.
"Temuilah Nadirah, gadis itu sudah sadar dan masih tidak mau ngomong." Aaron segera menarik Carissa untuk pergi menemui Nadirah. Nurmansyah yang ditinggalkan tanpa pamit tersenyum senang, walaupun didepannya Aaron membela Carissa tapi nyatanya anak itu tadi bersitegang dengan Carissa, menarik sekali bagi Nurmansyah. Pelan atau pasti Aaron pasti akan meninggalkan Carissa.
__ADS_1
Di apartemen miliknya Seshil marah-marah karena kesal, sejak tadi Nurmansyah tidak mengangkat telepon dari dirinya. Padahal gadis itu butuh uang untuk membeli tas Hermes yang terbaru. Dia akan menjadi bahan tertawaan oleh teman-temannya jika belum membeli tas itu, sedangkan teman-temannya yang lain sudah memiliki tas itu. Seshil kembali menelpon lagi sambil bersungut-sungut, masih lagi tidak diangkat.
Seshil melemparkan ponselnya karena Nurmansyah akhirnya menolak panggilan darinya. Dasar pria tua Bangka, kalau bukan karena uang yang dimilikinya Seshil tidak akan pernah mau menikah siri dengan pria itu. Seshil kemudian merapikan dandanannya, ia butuh jalan-jalan untuk membuat harinya menyenangkan.
Nurmansyah menolak panggilan telepon dari Seshil bagaimana pun sebagai ayah, dirinya masih berduka atas kejadian yang menimpa putrinya. Nurmansyah masih ingin tenang tanpa gangguan dari siapa pun. MelihatMelihat Nurmansyah yang duduk sendirian Zein menghampiri pria itu dan ikut duduk disampingnyanya, Nurmansyah tersenyum melihat kedatangan Zein.
"Apa kita akan pulang sekarang bos?" Nurmansyah menggeleng, pria itu mengajak Zein untuk pindah ke ruang tamu.
"Zein, aku minta maaf. Tapi kalau boleh aku minta tolong padamu sesuatu yang berat, aku akan memberikan uang tambahan untukmu." Zein menatap Nurmansyah waspada, apa yang akan diminta oleh bosnya ini. Zein memasang wajah serius menatap Nurmansyah.
"Apa yang harus aku tolong, pak?" Nurmansyah termenung dan menatap Zein hati-hati. Pria itu terdiam sepertinya agak ragu untuk melanjutkan ucapannya. Zein menatap Nurmansyah tidak sabar, apa sebenarnya yang diinginkan oleh Nurmansyah?
" Katakan saja tuan, semoga aku bisa membantu." Nurmansyah menatap pria itu hati-hati, menarik napas dan mulai berbicara.
"Bisakah engkau menjadi suami Nadirah, aku akan memberikan uang untuk gantinya. Ini hanya sementara, setidaknya orang tidak akan tahu jika dia diperkosa. Aku percaya padamu, tolong rahasiakan ini." Nurmansyah menatap Zein dengan mata yang berkaca-kaca, Zein tidak enak hati dibuatnya.
Akan tetapi, apakah Nadirah bisa menerima dirinya? Zein tidak punya jawaban untuk itu, Zein menatap Nurmansyah penuh arti kemudian bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Beri aku waktu untuk memikirkannya tuan, lagi pula Nadirah belum seutuhnya sembuh tuan. Permisi.” Nurmansyah mengangguk, menatap punggung Zein yang menjauh. Nurmansyah mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya dan membakarnya, sambil menghirup rokok pikirannya mengulang kembali kenangan-kenangan bersama Nadirah. Air mata kembali lolos, dia lengah menjaga anaknya.