
Setelah lama terdiam karena kecanggungan yang baru saja menimpa mereka, Aaron dan Carissa kembali saling melirik. Keduanya menimbang-nimbang untuk memulai pembicaraan. Menghela napas keduanya kembali bertatapan dan bibir mereka berdua serempak bergerak.
"Kamu duluan," mereka kembali bersuara bersamaan, alih-alih salah tinggah keduanya malah saling menertawakan karena merasa geli. Setelah puas tertawa dan napas mereka terdengar normal, Carissa menarik senyum dari sudut bibirnya.
"Mas duluan," Carissa mempersilahkan Aaron untuk bicara lebih dulu. Aaron tersenyum menatap Carissa lama juga dia tidak dipanggil mas oleh wanita ini. Aaron kembali teemung menatap Carissa. Bayangan-bayangan kenangan yang indah untuk mereka berdua kini menghampirinya silih berganti. Carissa dibuat bingung melihatnya.
"Hai, hello." Carissa melambaikan tangannya di depan Aaron. Aaron masih tersenyum-senyum sendirian, Carissa menepuk bahu pria itu. Apa yang ada dalam pikiran pria ini sih?
"Eh? Kamu tadi bilang apa?" Aaron terlihat linglung, membuat Carissa mengerucutkan bibirnya. Ternyata Aaron tidak fokus bicara padanya entah apa yang sedang bermain dalam pikiran pria ini.
"Aku bilang silahkan ngomong duluan, mas." Aaron menggut-manggut, pria itu lalu menatap Carissa serius. Carissa mengerutkan alis menanti kata-kata yang akan keluar dari bibir pria itu.
"Kamu mengapa tidak ada kabar untuk mas, selama ini?" Alis Carissa mengernyit memang untuk apa dia harus memberi kabar pada Aaron. Lagi pula bukannya Aaron harusnya bersyukur Carissa pergi dari dirinya sehingga Aaron bisa kembali bersama Fani. Mengingat Fani hati Carissa kembali memanas.
“Mas sendiri juga tidak pernah ngabarin aku, terus apa pentingnya aku kabarin mas? Bukannya sekarang mas sudah ada Fani?" Aaron terdiam lalu menganggukkan kepalanya, membuat Carissa jengkel. Dasar pria tidak peka, batin Carissa meronta-ronta kesal.
“Kamu benar juga sih, aku sudah ada Fani ngapain juga aku mengharapkan kabar dari kamu.” Aaron memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan memasang wajah polosnya. Carissa semakin sebal melihatnya, gadis itu menahan tangannya yang sudah ingin menjambak rambut pria itu. Dasar kurang ajar! kalau sudah tahu ngapain pakai tanya, membuat hati orang lain panas saja. Wajah Carissa menegang, berarti benar Aaron dan Fani sudah balikan.
"Kalau sudah tahu ngapain situ pakai cara tanya-tanya, mau pamer? Aku juga bisa kok kalau cuma mau pamer." Carissa memandang Aaron sengit, Aaron menahan senyumannya.
__ADS_1
"Kamu makin cantik sih kalau marah-marah kayak gini, aku makin cinta jadinya." Aaron mengedipkan matanya yang membuat Carissa menatapnya jijik. Sudah bikin orang lain panas dan setelah itu mulai melancarkan rayuannya yang sudah sangat pasaran itu. Carissa kembali menatap Aaron galak.
"Dudududu, cintamu kok seperti tidak laku amat mas, gampang banget diobral." Aaron menahan tawa, kalau di momen yang lain mungkin dirinya akan marah. Tapi seperti sekarang ini dia malah semakin bernafsu untuk menggoda Carissa.
"Tidak di obral dong sayang, cinta aku 'kan tak ternilai. Jadi harusnya kamu bersyukur menjadi salah satu yang mendapatkan cinta aku." Aaron mencolek dagu Carissa, yang segera ditepis kasar oleh carissa.
"Bersyukur? Tak ternilai? Apa yang mau di syukuri orang cinta kamu seperti empedu, pahit. Tidak sih, lebih parah dari empedu malah. Sudah pahit, nyakitin hati lagi." Carissa melirik Aaron sewot, Aaron terdiam seperti ada yang menusuk hatinya. Apa memang seperti itu yang dirasakan Carissa terhadap dirinya ya?
"Oke deh, kalau cinta aku pahit lebih pahit dari empedu cinta kamu gimana? Manis seperti gula?" Aaron tersenyum lebar pada Carissa. Dasar bucin, kok aku sudah tidak merasa marah lagi. Kontrol Carissa, kontrol, kamu tidak boleh luluh.
"Tidak seperti gula, karena cinta aku manisnya tidak bikin penyakit. Seperti aku manis tanpa bikin sakit hati." Carissa menepuk dadanya dengan angkuh. Sekalian dengan sindiran, semoga saja Aaron juga merasa tersindir. Carissa tersenyum tipis melihat Aaron yang terdiam mendengar kata-kata terakhirnya. Gila juga Carissa main sindir-sindiran tapi aku harus tetap terlihat datar, jangan terpancing Aaron membatin.
"Ya sudah, sana pulang cari sarapan yang manis-manis. Hush hush hush," Carissa mengusir Aaron menggunakan tangannya.
Aaron malah mendekati gadis itu.
"Tega banget suami sendiri di usir." Aaron membuat muka kasihan, Carissa menahan senyum jahat.
"Suami? Aku lupa kalau punya suami tuh." Aaron semakin geram dan menarik gadis itu dalam pelukannya. Carissa membeku mendengar jantung mereka yang sama-sama berdebar kencang.
__ADS_1
"Aku menyerah, kamu kok sekarang makin pintar ya membalas semua kata-kata aku." Carissa terdiam, gadis itu kemudian bergerak untuk lepas dari pelukan Aaron.
"Mas, lepas dong aku tidak enak dilihat oleh orang." Carissa melirik orang-orang yang lalu lalang. Aaron menurut agar Carissa nyaman, Aaron mengernyit menatap orang yang menurutnya aneh. Orang itu mengenakan Jodie, padahal cuaca sangat cerah hati ini.
"Jadi, mas mau minta maaf untuk semua salah mas. Untuk semua salah mas sama kamu, untuk kejadian di rumah oma, untuk kehadiran Fani. Kamu pasti sangat terluka dengan semua itu.” Aaron menghela napas, Carissa diam saja mendengarkan.
“Maaf juga untuk semua perlakuan papa ke kamu, untuk semua keegoisan aku.” Aaron memandang lurus kedepan, Carissa masih terdiam.
“Maaf tidak bisa jadi suami yang baik untuk kamu, aku tidak akan minta kamu untuk bertahan sama aku. Mas yakin kamu pasti akan menemukan orang yang lebih baik, tapi kamu tenang kita tidak akan pisah secepat ini. Mas akan bantu mencari tahu pelaku yang menodai Nadirah, agar nanti hidup kamu tenang.” Aaron mengucapkan semuanya dengan tenang, setidaknya itulah jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Dirinya tidak akan menyakiti Carissa lagi, dan Carissa akan mendapatkan kebahagiaannya. Carissa terdiam memandang pohon-pohon yang ada di depannya. Kok sekarang rasanya sakit banget ya, walaupun Aaron mengatakan mereka akan pisah setelah semuanya menjadi clear. Carissa memaksakan senyumnya mungkin Aaron benar-benar sudah kembali pada Fani.
“Terimakasih mas, maaf juga kalau aku tidak pernah jadi istri yang baik selama sama kamu. Aku malah mendatangkan banyak masalah untuk kamu, hiks hiks hiks.” Carissa menjadi sensitif, wanita itu mengeluarkan air matanya. Aaron berbalik dan mendekati Carissa.
“Sudah dong, jangan menangis seperti ini. Nanti cantiknya hilang, cup.” Aaron mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap air mata gadis itu. Aaron memberikan kecupan pada puncak kepala Carissa.
Carissa semakin mengeluarkan air mata dengan deras, Aaron menghela napas. Pria itu membawa Carissa dalam pelukannya, menenangkan gadis itu dengan mengelus punggungnya. Setelah Carissa agak tenang Aaron kembali bersuara.
“Jangan nangis-nangis dong, mas akan bantu kamu. Harusnya kamu bahagia karena tidak akan ada lagi yang hina-hina kamu. Tidak ada papa aku tidak ada Sasha, senyum dong.” Carissa menggelengkan kepalanya, tidak sanggup untuk tersenyum.
Aaron tersenyum kecut, melihat Carissa yang seperti ini. Hatinya juga seperti teriris, pria itu kembali mencium pucuk kepala Carissa. Carissa mengeratkan pelukannya pada Aaron, menikmati kenyamanan yang ada. Aaron kembali mengelus rambut gadis itu.
__ADS_1
“Mas benar-benar kembali pada Fani?” Carissa menggigit bibirnya kenapa bibirnya ini sangat lancang, Carissa sudah tahu jawaban dari pertanyaanya. Aaron menegang, kemudian mendongakkan wajah Carissa. Pria itu menatap Carissa dan menggelengkan kepala pelan. Dia tidak kembali pada Fani