
Sasha berjalan mengendap-endap memasuki rumah. Sasha baru bisa bernapas lega setelah memasuki kamarnya, untung tidak ada pelayan yang melihat atau mengetahui perbuatannya. Sasha segera mengeluarkan serbuk yang sangat berbahaya untuk diberikan pada Carissa. Sasha mandi dan berganti pakaian, Sasha mengamati bayangannya yang terlihat lebih segar. Sasha keluar kamar dan berjalan ke dapur, Sasha membuat nasi goreng dibantu oleh para pelayan.
Bi Sitti mengerutkan alisnya melihat Sasha, tingkah gadis itu sangat mencurigakan, Bi Sitti segera mengirimkan SMS pada tuan muda. Aaron yang menerima SMS dari BI Sitti hanya membalas agar wanita itu membiarkan saja Sasha, Sasha tetap akan diawasi oleh dirinya. Aaron menyeringai mengingat satu musuh akan tersingkirkan.
Aziz masuk ke ruangan bosnya, bosnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Bos tadi pagi nona dibuat syok atas terjadinya tabrakan di pinggir jalan. Nona sampai harus ditenangkan oleh Arlan pria yang menjadi teman Carissa sejak dulu" Aaron mengangguk, kemudian berdiri menatap jendela yang langsung mengarahkan pada pemandangan gedung- gedung pencakar langit dikota ini.
"Seberapa jauh pria itu berhubungan dengan Carissa. Apakah pria itu mencintai Carissa?" Aziz membuka kembali catatan-catatan yang ada di email-nya.
"Sebatas sahabat atau teman , dan pria itu juga memasang badan untuk melindungi carissa. Sepertinya ada alasan yang sangat kuat, tapi bukan cinta!" Aaron mengangguk, pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya kemudian duduk kembali di kursinya menghadap pada Aziz.
"Kamu tahu? Sasha bertingkah aneh hari ini. Gadis itu memasuki dapur di rumahku. Aku sudah mengirim Yogo untuk menyelidiki semuanya lebih lanjut." Aziz mengangguk, kemudian pria itu kembali memfokuskan matanya serius.
"Bagaimana dengan perusahaan X bos?" Tanya Aziz yang disambut Aaron dengan tersenyum kecil kemudian menatap Aziz.
"Ikutkan saja mau mereka, mari pura-pura tidak tahu saja apa motif sebenarnya dari mereka!" Aziz mengangguk, memang bosnya ini selalu punya kejutan.
"Permisi tuan, rapat akan segera dimulai." Angela tersenyum manis di muka pintu. Aaron dan Aziz bertatapan beberapa saat kemudian, Aaron merapikan berkasnya dan berjalan mengikuti Angela. Aziz ditempatnya segera mengawasi pergerakan mencurigakan orang-orang diruang rapat.Carissa pulang dalam keadaan tergesa-gesa. Gadis itu melangkah menuju kamarnya tetapi langkahnya terhenti karena satu suara yang menghentikannya.
__ADS_1
" Carissa, sini aku buat nasi goreng". Carissa menatap Sasha dan nasi goreng yang ada di atas meja, Carissa tersenyum manis. Gadis itu segera ke meja makan duduk disamping Sasha.
"Ini sebagai terimakasih aku karena sudah mau temanan sama aku," Sasha mau menyuapkan nasi goreng, Carissa melotot. Carissa sudah sangat kenyang sebenarnya, dan gadis itu masih ragu, teringat lagi pada surat misterius yang diterimanya.
"Gue senang lo sudah mau buatin gue nasi goreng sudah mau repot-repot. Tapi gue benar-benar sakit perut. Kalau lo ngizinin gue bisa kok, bawa ke atas. " Carissa memberikan senyum manis pada Sasha. Sasha mempertimbangkan beberapa tawaran Carissa beberapa detik, tapi kemudian gadis itu menggeleng.
" Kalau gitu gue suap, satu suap ajah gak papa kok." Carissa terlihat ragu tapi lambat-lambat gadis itu akhirnya membuka mulutnya. Sasha menyuapi Carissa dengan semangat, setelah diberi suapan oleh Sasha, Carissa segera berlari menuju kamarnya.
Sasha menatap kepergian Carissa dengan pandangan puas, Sasha tersenyum tidak peduli toh Carissa sudah menelan nasi ini, dipastikan rahim gadis itu akan rusak. Obat yang dipesannya bukan kaleng-kaleng, Sasha menyeringai kemudian berjalan menuju kamarnya dan membawa nasi goreng itu ke dalam kamarnya.
Sasha tidak mungkin akan membuang nasi goreng itu ke sembarang tempat, bisa bahaya kalau sampai ketahuan. Sedangkan Bi Sitti yang sedari tadi memerhatikan gerak gerik Sasha akhirnya memerintahkan para pelayan untuk masuk membersihkan kamar Sasha.
"Nona Sasha, kami harus membersihkan ruangan yang anda tempati!" Sasha hanya mengangguk walaupun dalam hatinya ada sedikit rasa khawatir yang mengganggunya. Setengah jam kemudian gadis itu masuk ke dalam kamarnya, syukurlah nasi goreng itu masih berada dinakasnya, tidak ada pelayan yang mencurigainya. Gadis itu melompat-lompat diatas ranjang merayakan keberhasilannya.
"Halo tuan, bagaimana?" Aaron langsung menjawab dengan cepat, tanpa mendengarkan pertanyaan lanjutan dari Bi Sitti.
"Darurat Klinik sehat". Aaron langsung mematikan teleponnya. Di rumah Bi Sitti memerhatikan sekitarnya, memastikan tidak ada seorang pun yang mencurigakan. Bi Sitti segera memanggil Maryam menginstruksikan perintah yang disampaikan tuannya.
Aaron keluar dan kembali ke ruang kerjanya, pria itu mengamati rekaman yang terjadi di ruang rapat tadi, sejauh ini tidak terlalu mencurigakan. Semua berjalan normal seperti biasanya. Aaron menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai dan memfokuskan seluruh perhatian pada pekerjaannya.
__ADS_1
Berkat kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk.
Sebuah bubuk perusak rahim
Aaron mengepalkan tangannya Sasha benar-benar merusak kepercayaannya. Aaron segera merapikan berkas-berkas penting kemudian, keluar dari ruang kerjanya.
"Batalkan semua jadwal yang kumiliki sore nanti" Aaron berlalu tanpa memedulikan lagi panggilan Angela, Anggela tersenyum misterius. Gadis itu mengetikkan sesuatu pada handphonenya yang dikirimkannya pada seseorang.
Aaron mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, Aaron membunyikan klakson dengan tidak sabaran saat terjebak kemacetan, Aaron harus segera sampai ke rumahnya itu yang dipikirkannya. Sampai di rumahnya pria itu berlari menuju kamarnya, mencari keberadaan istrinya. Carissa terlihat meminum susu, tanpa mengatakan apapun Aaron langsung memeluk istrinya itu dan menghujani Carissa dengan ciuman. Carissa terlihat bertanya-tanya apa yang membuat Aaron seperti ini.
"Ada apa mas? Carissa baik-baik saja!" Carissa tersenyum manis, mata Aaron berkaca-kaca, pria itu sangat merasa bersalah mengingat Carissa menerima suapan dari Sasha.
"Ehhm itu" Aaron menangis pria itu memeluk istrinya, tidak mungkin dengan keadaan seperti sekarang Aaron akan mengatakan bahwa Carissa telah menelan racun yang akan merusak rahimnya.
Bagaimana pun tidak bisa memiliki anak akan membuat Carissa terluka, itu yang dipikirkan Aaron sekarang. Aaron tersenyum dan memeluk istrinya, semoga semua baik-baik saja. Besok Aaron akan mengantar istrinya itu periksa untuk lebih lanjut. Carissa mengelus-elus rambut Aaron, dirinya sebenarnya tidak paham apa yang membuat suaminya seperti ini.
"Mas, kalau ada masalah cerita sama carissa. Carissa bisa kok jadi pendengar yang baik" Carissa mengelus punggung suaminya.Aaron melepaskan pelukannya kemudian menatap serius manik mata istrinya.
"Jangan minta perpisahan apapun yang terjadi" Carissa mengangguk mendengar permintaan suaminya. Carissa langsung menyodorkan kelingkingnya.
__ADS_1
"Carissa janji, mas." Aaron mengaitkan kelingkingnya dan kelingking Carissa.
Aaron kembali tersenyum dan mendaratkan kecupan pada bibir istrinya. Dari kecupan-kecupan kecil berubah menjadi ciuman yang panas. Aaron melakukannya dengan sangat lembut, Aaron tersenyum manis dibalik ciumannya ketika Carissa mengalunkan tangan pada lehernya, Aaron menyudahi ciumannya ketika mereka berdua hampir kehabisan napas. Aaron menarik istrinya ke dalam pelukannya dan berkali-kali mengucapkan maaf pada istrinya. Aaron meminta pelayan untuk mengantarkan makan malam di kamarnya. Aaron tidak ingin merusak moodnya dengan bertemu Sasha, sekarang Aaron ingin menghabiskan waktunya hanya bersama istrinya.