
Keesokan harinya Carissa bangun dengan wajah yang lesu, gadis itu tidak melihat Aaron dikamarnya. Carissa yang tidak ingin berlarut-larut segera mencari jubah mandi dan menghilang ke kamar mandi. Carissa perlu menyegarkan dirinya pagi ini, ia tidak ingin terlihat menyedihkan dihadapan Aaron.
Aaron yang berada di ruang kerja segera ke kamarnya untuk gantian, gemericik air terdengar memenuhi kamarnya sepertinya Carissa sedang mandi sekarang. Aaron menghembuskan napasnya, dirinya tidak ingin berlarut-larut seperti ini. Tetapi untuk minta maaf Aaron masih merasa canggung. Beberapa saat kemudian, Carissa keluar kamar mandi dan terlihat lebih segar. Aaron tidak memedulikan Carissa yang keluar dari kamar mandi. Pria itu memfokuskan dirinya pada handphone miliknya.
Carissa terkejut melihat Aaron berada di kamar ini. Akan tetapi, Carissa kembali kesal karena Aaron terlambat pulang semalam. Carissa akhirnya mengabaikan Aaron. Aaron mengernyitkan dahi ketika Carissa juga mendiamkannya. Aaron ingin bertanya tetapi Aaron juga masih kesal mengingat perbuatan Carissa kemarin malam, akhirnya pria itu masuk ke dalam kamar mandi dengan masih mengabaikan Carissa.
Carissa segera menghubungi Arlan untuk ketemuan, ada yang harus dibicarakannya.
Carissa menarik napas, untuk sementara dirinya harus melupakan saja tentang kekesalannya pada Aaron. Agar harinya tidak terganggu dan aktivitasnya lancar seharian.
Carissa segera turun ke meja makan dengan ceria, Carissa tersenyum pada semua pelayan yang berpapasan dengannya dijalan.
"Bahagia amat mbak, lagi ketibun apaan?" Carissa tersenyum manis.
" Mood-nya mbak lagi bagus sekarang." Carissa tersenyum dan dengan santai mengoleskan selai pada rotinya.
Aaron juga memasuki ruang makan sudah rapi dengan setelan jasnya, pria itu langsung duduk di meja sebelah Carissa. Aaron terlihat dingin, pria itu juga mengoleskan selai pada rotinya tanpa menoleh lagi pada Carissa.
Nadirah menatap keduanya dan menggelengkan kepala ternyata keduanya masih berperang dingin. Carissa makan dengan santai tanpa peduli pada Aaron yang menatapnya sejak tadi. Carissa masih kesal pada Aaron karena menepis tangannya saat sarapan kemarin.
Carissa segera pamit tanpa menunggu Aaron selesai, Carissa segera keluar dan minta diantar oleh supir ke rumah Arlan.
Aaron mengeratkan genggamannya pada sendok dan garpu pria itu kesal atas keacuhan yang diberikan oleh istrinya itu.
Aaron segera ke kantor dengan geram pria melakukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sampai di kantor Aaron segera keruangannya tanpa berbasa-basi dengan Angela. Aaron segera menelpon Aziz untuk datang menemuinya di ruangannya .
__ADS_1
"Lo kenapa bos, lain amat muka lo?" Aaron menggelengkan kepala, masa dia harus menceritakan pada Aziz jika dirinya sakit kepala dengan ulah Carissa.
"Biasalah, masalah kerjaan. Mr.X gimana kabarnya sekarang?" Aziz tertawa kecil.
"Hilang begitu saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Aaron mengangguk.
"Fani sudah kembali, aku tidak tahu bagaimana mau mengatasi ini. Disia lain aku sudah punya Carissa, tapi disisi lain Fani bukan orang yang mudah untuk aku lupakan. Kamu pasti sudah tahukan ceritanya."
Aaron meremas rambutnya kasar.
"Itu kecil bos, bos cuma perlu menentukan mana yang akan bos jadikan pendamping hidup. Bagaimana pun keduanya sama-sama gadis yang luar biasa." Aaron mengangguk, tapi tidak semudah itu untuk praktiknya. Tidak semudah itu untuk
"Bagaimana dengan persiapan perusahaan kita yang baru?" Aziz tersenyum cerah.
"Akhir bulan sudah selesai bos, dan kita bisa angkat kaki untuk pergi dari sini." Aaron tersenyum lega. Sekarang pria itu kembali fokus dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya.
"Ziz bagaimana hubunganmu dengan orang tuamu, sekarang?" Aziz tersenyum sekarang semuanya sudah lebih baik.
"Kamu terima? Kapan mulai kerja?" Aziz menghela napas panjang.
"Mungkin akan aku terima setelah semua masalah kita selesai." Aaron menoleh pada Aziz dan memerhatikan baik-baik raut wajah sahabatnya sekaligus asistennya ini.
"Ambil kesempatan itu! Sudah lama kamu melarikan diri, dari tanggung jawabmu. Kasian sekali paman Alman harus mengurus perusahaanya sendirian." Aziz hanya menatap datar pada Aaron dalam hatinya memikirkan kata-kata Aaron itu.
"Aku takut, karena sekarang papa juga mendesak aku untuk mencari pendamping hidup. kamu tahu kan? itu hal yang paling susah mengingat aku malas berurusan dengan perempuan selama ini." Aaron mengangguk mendengar keluhan Aziz.
"Kalau begitu, kamu cari orang bisa aku percaya untuk asisten biar kamu tidak setiap hari sama aku. Biar kamu juga cepat dapat jodohnya." Aziz mengangguk mengiyakan saja, karena jauh dari lubuk hatinya Aziz belum bersedia untuk mencari perempuan yang akan mendampingi hidupnya.
__ADS_1
Arlan turun menemui Carissa setelah mendapat chat jika Carissa ingin bertemu dengan dirinya, ada yang sangat penting kata Carissa.
"Sabar, dong lo pencet belnya. Gue masih ngantuk tadi." Carissa tidak peduli pada Arlan yang menggerutu Carissa menyelonong masuk ke dalam rumah Arlan.
"Gue lagi bosan sebenarnya di rumah, jadi gue kesini. sekalian gue mau tanya tentang harta-harta dan orang yang mengikuti lo itu bagaimana?" Carissa berjalan seperti pemilik rumah, yang diikuti oleh Arlan. Carissa membuat sarapan untuk dirinya dan Arlan .
"Oh, itu nanti setelah sarapan gue ceritain. Banyakin dikit porsi sarapannya, ada Dewi di ruang tamu." Carissa menatap Arlan dengan mata mengintimidasi.
"Kok Dewi bisa ada disini? Lo tidak macam-macam kan? Awas lo! Kalau Dewi sampai kenapa-kenapa." Arlan meremas rambutnya dan menatap Dewi malas.
"Jangan suudzon, gue gak ngapa-ngapain. Gue masih ingat cara menghargai dan menjaga perempuan." Carissa mencibir tapi jauh disudut hatinya dirinya bahagia, itu artinya Arlan cowok baik-baik.
"Rissa? Ngapain lo kesini pagi-pagi?" Dewi muncul di ambang pintu dengan wajah yang cerah. Gadis itu mendekati Arlan dan Carissa.
"Gue lagi cuti, terus gue juga malas di rumah. Jadi gue main kesini. Selain itu, ada yang mau gue omongin juga sih sebenarnya." Dewi mengangguk, dan gadis itu membantu Carissa membuat suwiran ayam. Arlan segera meninggalkan mereka, untuk membersihkan diri sebelum sarapan.
"Lo sudah tahu semuanya? Tapi kata om dan Arlan semalam, paman lo tiba-tiba saja menghilang." Carissa mengernyitkan keningnya merasa heran.
"Kok bisa seperti itu sih? Kayak ada yang ganjil deh." Dewi mengangguk, gadis itu kemudian mengambil mangkuk untuk menyajikan bubur ayam mereka.
"Terus Daren dan aunty Aliya dibiarkan terlantar. Gue takutnya itu akal-akalan dia." Carissa manggut-manggut, tangannya kudian sibuk menyendokan bubur untuk mereka bertiga. Dewi celingak-celinguk memastikan Arlan tidak akan mendengar percakapan mereka. Setelah dirasa aman, gadis itu menghadap Carissa.
"Gue, tidak bermaksud menjelek-jelekan suami lo. Gue juga tidak itu sama lo. Tapi ini gue serius mau tanya, lo benar-benar menikah karena cinta kan dengan suami lo?" Carissa merasa gugup mendengar pertanyaan dari Dewi. Carissa memasang senyum manisnya untuk meyakinkan Dewi.
" Iya, gue menikah karena cinta. Aneh banget pertanyaan lo. Memang ada apa sih?" Dewi tersenyum canggung.
"Semalam tanpa sengaja gue lihat dia makan malam dengan cewek lain, gue tidak tahu sih itu adiknya atau sahabatnya. Tapi, lo jangan marah dulu lo cari tahu dulu. Mungkin gue juga salah orang." Carissa merasa tercubit, karena semalam suaminya tidak makanan malam bersama mereka. Carissa tersenyum canggung menatap Dewi yang terlibat was-was menatapnya.
__ADS_1
"WOE," Arlan mengagetkan Carissa dan Dewi, keduanya tersenyum pada Arlan.
"Aneh banget senyum kalian berdua, sini buburnya kita sarapan." Arlan segeraengangkat mangkuk bubur membawanya keruang makan. Tindakan pria itu diikuti oleh Carissa dan Dewi. Sampai di meja makan ketiganya makan dalam diam.