Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Pergi


__ADS_3

Aisyah ikut berdiri melihat menantunya ditarik-tarik seperti itu oleh mantan suaminya. Nurmansyah tidak peduli sama sekali jika tindakannya itu mengundang perhatian orang-orang yang ada di rumah itu.


Pria tua itu menghempaskan tangan Carissa dengan kasar.


"Kamu benar-benar perempuan tidak tahu malu kamu! Apa tidak cukup kamu membuat Nadirah seperti itu! APA TIDAK CUKUP!" Nurmansyah menatap Carissa kesal.


"Aku tidak melakukan itu, aku tidak sejahat itu" Carissa bersuara lirih menatap Nurmansyah yang menatapnya tajam.


"Aku tidak peduli! Pencuri tidak akan pernah mau mengaku Carissa! Tapi kelakuan kamu itu tidak akan pernah termaafkan." Napas Nurmansyah mulai berkejaran, ia tidak tahu apa dosanya sampai Carissa tega melakukan hal ini. Ia tidak tahu kenapa Aaron masih mempertahankan gadis ini.


"Tapi aku tidak melakukan itu, a.. aku hanya dijebak. Mungkin ada orang lain yang mengadu domba kita." Carissa bersuara lemah. Adu domba? Nurmansyah tertawa sinis, menatap Carissa geli.


"Adu domba? Aku tidak sebodoh itu Carissa, aku tahu kalau kamu punya dendam padaku. Aku tahu, dan mungkin kamu juga dendam pada Nadirah. Kamu memanfaatkan Nadirah dengan berbaikan dengannya!" Nurmansyah bersuara dengan berapi-api yang membuat Carissa bertambah sakit hati.


"Tapi aku tidak melakukan itu! Anda tidak punya bukti apapun!" Carissa menangis, capek juga dia jika di tuduh sepertinya ini. Nurmansyah terlihat berbinar-binar melihat seseorang yang datang kepada mereka, siapa lagi kalau bukan putranya. Aaron Ashraf. Aaron berjalan melihat keributan yang terjadi di depan kamar Nadirah, pria itu meremas rambutnya. Kemudian menatap ayahnya dengan datar. Tidak ada ekspresi yang terbayang diwajah itu. Marahkah? Sedih kan? Kesalkah?


Aaron menatap semua orang yang ada disekitar situ dan dengan isyarat khusus meminta orang lain untuk pergi dari situ. Ini bukan tontonan yang enak untuk dilihat orang lain, selain keluarga inti. Aaron menatap Carissa, ibunya dan juga papanya.

__ADS_1


"Papa jangan mulai lagi membuat keributan, apalagi di depan kamar Nadirah. Nadirah sedang istrahat! Kalau kalian mau debat silahkan pergi ke tempat lain!" Aaron menatap mereka tajam. Carissa tidak terlalu menghiraukan suaminya itu, gadis itu sibuk dengan air matanya.


"Aaron! Aaron! Papa cuma mengingatkan perempuan akan ini agar tidak lagi datang menemui Nadirah. Papa tidak suka melihat wajahnya disini, dia akan tertawa dibelakang kita. Dia akan membuat kita semua hancur, nak! Tinggalkan perempuan itu!" Suara Nurmansyah mulai mengendur, tidak lagi sekeras saat dirinya berbicara dengan Nadirah tadi.


"Papa tidak berhak untuk mengatur aku, seperti aku yang tidak pernah mengatur hidup papa. Meninggalkan ataupun menetap itu pilihan aku." Aaron menatap tajam papanya, karena menurut Aaron pernikahannya adalah untuk dirinya, jadi keputusan ada ditangannya bukan ditangan papanya tau siapapun.


" Papa tahu, tapi papa tidak lupa kamu menikahi dia hanya karena kamu sakit hati sama papa. Oke, papa akui itu salah papa tapi papa sudah pisah dengan mama, sebaiknya kamu juga pisah dengan dia. Dia hanya akan menyusahkan keluarga kita!" Nurmansyah tersebut kemenangan melihat Aaron yang mulai diam, pria itu melirik Carissa yang juga terdiam. Tapi Carissa terdiam dengan pucat, sepertinya Carissa sadar jika Aaron tidak benar-benar menginginkannya. Nurmansyah menyeringai kemenangan, kemudian kembali menatap Aaron.


"Lagi pula, papa juga tahu kamu dekat dengan Fani jauh sebelum perempuan sialan ini datang! Sekarang Fani sudah pulang, kamu tidak lupa pada janji kamu kan?" Nurmansyah tersenyum sisnis pada carissa.


Carissa menelan ludahnya susah payah, Aaron memiliki janji dengan perempuan lain? Jauh sebelum dirinya datang? Janji apa, perjanjian apa? Jadi apa maksud kebaikan Aaron yang ada padanya? Apa benar dia hanya alasan pria itu untuk membalaskan sakit hati pada ayahnya? Kenapa fakta itu justru merobek- robek hatinya? Kenapa ada rasa sesak didalam hatinya? Bukankah harusnya dia sadar jika mungkin dia pengganti? Aaron tidak pernah mengatakan ini sebelumnya, jadi dia tidak menjaga hatinya. Dia membiarkan hatinya jatuh pada kelembutan dan kebaikan pria itu, kini dirinya benar-benar jatuh. Carissa benar-benar larut dalam buaian kebahagian bersama Aaron, dia lupa jika sebenarnya Aaron hanya sementara untuk dirinya. Mereka menikah karena jebakan, jebakan Nurmansyah yang licik itu. Sehingga Aaron menikahinya, walaupun pria itu memperlakukan dirinya sangat baik seperti istri yang dinikahi penuh cinta tapi pada akhirnya pria itu tetap akan melepasnya.


Aaron terdiam memikirkan kata-kata ayahnya, apa benar jika dia menikahi Carissa hanya karena ingin balas dendam pada ayahnya? Mungkin awalnya memang seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu dia melupakan itu. Dia begitu bahagia dengan kehidupan barunya, dia lupa jika mungkin Fani akan kembali dan menangis janjinya. Tapi tentang Fani, tahu darimana ayahnya tentang perjanjian itu? Aaron juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Carissa, hatinya juga diremas-remas melihat lelehan air mata itu.


Tapi apa yang harus dilakukannya? Memeluk gadis itu? Bukankah itu akan semakin menambah luka untuk Carissa, apalagi Fani ternyata belum benar-benar pergi dari hidupnya. Membela Carissa dan melawan papanya? Ayahnya akan semakin keras kepala untuk membuatnya membenci Carissa, apalagi sekarang dia juga tidak punya bukti apapun untuk menyelamatkan Carissa dari tuduhan-tuduhan itu. Aaron menahan dirinya, hanya bisa memandang Carissa dengan tatapan yang sedih, tangannya tidak bisa mengelap air mata gadis itu atau bahkan menenangkan gadis itu.


Nurmansyah terkekeh, melihat Aaron yang tidak bereaksi apapun terhadap Carissa. Sekarang kamu sadar nak, gadis itu memang tidak baik untukmu. Walaupun kecantikannya membuatku tergila-gila pada masa yang telah lewat, tapi sekarang ini aku jijik pada gadis itu. Berani-beraninya dia merencanakan semua ini pada Carissa? Sungguh luar biasa.

__ADS_1


Merasa lega Carissa segera menatap Aisyah lembut, dan menyalami mertuanya. Gadis itu akan kembali ke rumah Dewi. Toh, disini tidak ada lagi yang akan mempertahankan dirinya, mungkin hanya Aisyah. Tapi seberapa kuat Aisyah untuk melindunginya?


Carissa tahu Aaron pun tidak akan lagi membelanya, sekarang pria itu hanya berdiri dan memandangnya dengan sedih tanpa adalagi pembelaan untuk dirinya seperti dulu-dulu. Aaron juga mungkin sudah memutuskan untuk melepaskan dirinya, Carissa menitikkan air matanya melihat pria itu yang hanya menatapnya tanpa melakukan apapun. Carissa menjaga matanya agar tidak melirik Nurmansyah, pria itu dengan pasti tersenyum penuh kemenangan di sebelah Aaron.


"Tap tap tap!" Carissa berjalan lemah kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaian yang dibutuhkannya. Carissa menatap kamarnya dengan smteliti, merekamnya dalam ingatan. Kamar dimana dirinya menghabiskan banyak waktu bersama Aaron.


Carissa kembali menitikkan air mata mengingat kenangan-kenangan dirinya bersama Aaron yang ada dikamar ini. Setelah merasa cukup Carissa turun dengan membawa kopernya, toh pergi sendiri dan diusir oleh Aaron akan sama saja. Dirinya benar-benar harus pergi dari rumah ini. Carissa menatap seisi rumah ini dengan saksama, pasti dirinya akan merindukan rumah ini. Carissa berjalan tenpa menoleh lagi pada Aaron dan keluarganya yang mungkin melihatnya keluar. Carissa merasakan tajamnya pandangan orang-orang dibelakangnya yang menatap kepergiannya, entah gosip apalagi yang akan ada mengenai kepergiannya ini. Sekali lagi Carissa mengamati rumah ini dari luar, rumah yang pernah memberikan dirinya kehangatan dan juga kebahagiaan sekaligus kesedihan. Air matanya kembali jatuh, Carissa terisak-isak.


Dalam rumah Aaron kembali merasakan sesak, ini lebih sesak rasanya Carissa benar-benar telah pergi. Carissa membawa kopernya, koper yang sama dengan yang dibawa sejak gadis itu pindah disini, dirumah ini. Aaron merasakan pasokan udara disekitarnya semakin berkurang, satu tetes air matanya jatuh. Tanpa ditahan lagi, pria itu refleks mengejar Carissa. Aaron berusaha secepat mungkin, Carissa terlihat akan memasuki mobil.


Hap, Aaron memeluk Carissa, istrinya, kekasihnya yang sudah memberikan warna-warni baru dalam hidupnya. Aaron meneteskan air mata, dan menghujani kepala Carissa dengan ciuman. Carissa kaget ketika merasakan dirinya berada dalam pelukan seseorang. Carissa mendongak, Aaron kini memeluknya erat. Mata pria itu basah, membuat Carissa bertambah sedih. Apa yang ditangisi oleh Aaron bukankah ini yang diinginkan pria itu? Carissa semakin sedih mungkin ini pelukan terakhirnya untuk Aaron. Carissa balas memeluk Aaron erat, gadis itu juga mengeluarkan air matanya.


"Maafkan mas yang tidak bisa membahagiakan kamu. Maafkan mas yang sudah melukai kamu. Maafkan semua kesalahan mas, kebodohan mas." Aaron menangis sambil meminta maaf.


"Carissa juga minta maaf mas, kalau Carissa jadi istri yang kurang baik. Istri yang belum membahagiakan mas, Carissa juga minta maaf untuk semua kekacauan di keluarga mas. Carissa menangis tersedu-sedu dan memeluk suaminya erat. Aaron menghapus air mata istrinya, kemudian mencium bibir istrinya. Ciuman yang sarat akan kesedihan, mungkin ini ciuman yang akan menjadi kenangan terakhir mereka.


"Pergilah, carilah kebahagiaanmu. Maafkan mas, maafkan keluarga mas!" Carissa mengangguk sedih.

__ADS_1


"Pergilah, bahagialah." Carissa masuk kedalam mobil yang dipinjamnya dari Dewi. Aaron berbalik tidak melihat Carissa pergi. Tuhan saja yang tahu, betapa hancurnya hati Aaron saat ini. Ini lebih hancur ketika janji yang diikatnya dengan Fani terurai.


************************


__ADS_2