Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Carissa & Nadirah


__ADS_3

Malam itu Carissa ikut tertidur di kamar Nadirah. Aaron yang ditinggal sendirian di kamarnya, turun ke bawah untuk mengecek kamar Nadirah. Aaron tersenyum ketika membuka pintu kamar matanya menangkap dua wanita penting dihidupnya yang tidur berdampingan. Malam ini Aaron memutuskan untuk tidak membangunkan Carissa, mungkin saja setelah menemani Nadirah malam ini, hubungan Nadirah dan Carissa akan semakin akrab ke depannya.


Usai shalat subuh Carissa tersenyum tipis menatap nadirah.


"Kamu kenapa sih semalam nangis-nangis?" Nadirah menjadi berkaca-kaca dan memeluk


Carissa.


"Mbak, maafin Nadirah yang sudah jahat pada mbak. Sekarang Nadirah sudah tahu kebenarannya." Carissa mengernyitkan alis, dia tidak paham dengan kebenaran yang dimaksud oleh Nadirah.


"Kebenaran apaan? Mbak tidak mengerti," Nadirah melepaskan pelukannya dan menatap wajah Carissa.


"Tentang papa, aku sudah tahu kalau papa benar-benar brengsek." Nadirah mengucapkannya dengan berapi-api, Carissa hanya diam dan menyimak apa yang disampaikan oleh Nadirah.


"Aku mau cerita tapi Mbak janji ya, jangan bilang ke Bang Aaron?" Nadirah menatap Carissa dengan hati-hati, Carissa mengangguk dan tersenyum pada Nadirah.


"Aku kan punya pacar, namanya Ben. Aku pacaran jalan dua tahun mbak. Bulan lalu Ben mutusin aku, aku tidak terima dong masa sih aku diputusin tanpa alasan yang jelas. aku cari tahu, ternyata Ben selingkuh dengan seorang cewek. Firasat aku mengatakan cewek itu tidak baik buat Ben. Aku cari tahu lebih jauh lagi, ternyata firasatku itu terbukti benar. Cewek itu sering jadi simpanan om-om. Kemarin malamnya, aku ke hotel tempat biasa perempuan itu check in, dan yang membuat aku terpukul ternyata cewek itu juga punya hubungan dengan papa. Aku terpukul banget mbak, aku kecewa sama papa." Nadirah terdengar mulai terisak-isak.


"Mbak sedih mendengarnya, memang kenapa bang Aaron nggak boleh tahu? Kan kalau bang Aaron tahu biar di kasih pelajaran cowokmu itu." Carissa jadi gemas pada pria yang bernama Ben yang diceritakan oleh Nadirah. Dasar pria seenaknya saja menanam perasaan dan seenaknya juga mendua.


"Karena sebenarnya bang Aaron melarang aku pacaran, katanya laki-laki itu berbahaya sebaik apapun dia. Tapi kan nggak semua kayak gitu kan mbak?" Carissa mengangguk, nggak semua laki-laki juga jahat dan berbahaya.


"Terus kamu ketemu papa?" Nadirah menggeleng.


"Aku nggak kuat kakak, takut aku suudzon atau gimana gitu jadi aku tanya semuanya sama Aziz asistennya bang Aaron." Carissa mengernyitkan alis, apa Aziz tidak akan curiga ya?


"Aziz tahu alasan kamu tanya-tanya tentang papa?" Nadirah menggeleng.


"Aku tidak cerita alasannya dong kak, itu kan bisa ngebahayain aku." Carissa mengangguk.


"Mbak mau tanya, menurut kamu mas Aaron akan ngizinin aku gak keluar rumah?" Nadirah terlihat berpikir.


"Pasti diizinin asal mbak bisa membuat mas Aaron yakin mbak akan baik-baik saja. Mbak biarin saja diikuti bodyguard" Carissa bergidik, sedikit keberatan diikuti oleh bodyguard untuk semua aktivitas yang akan dilakukannya.


"Mbak masih risih loh." Nadirah terkikik geli melihat ekspresi Carissa.

__ADS_1


"Dibawa santai aja mbak, daripada terkurung dalam rumah kan?" Carissa mengangguk lemah, benar juga usul adik iparnya.


Tok tok tok!


Ketukan pintu itu menghentikan Carissa dan Nadirah yang masih berbicara. Nadirah berdiri membukakan pintu.


"Mohon maaf non, sudah waktunya sarapan. Tuan muda sudah menunggu di ruang makan." Nadirah mengangguk, setelah Maryam keluar dari kamar Nadirah, Carissa dan Nadirah berjalan ke ruang makan.


Aaron tersenyum lebar melihat kehadiran Carissa dan Nadirah ke meja makan yang bersamaan. Nadirah dan Carissa menatap Aaron dengan heran, mereka tidak tahu apa yang membuat Aaron bahagia sepagi ini. Carissa dan Nadirah segera bergabung ke ruang makan itu.


Selesai sarapan Carissa mengikuti Aaron untuk membuat kesepakatan. Carissa mengejar langkah Aaron yang besar-besar itu.


"Mas, aku setuju untuk diikuti oleh bodyguard." Aaron mengangkat alis, sambil mengancingkan bajunya.


"Terus?" Senyum Carissa luntur mendengar pertanyaaan suaminya itu. Sedetik kemudian


Carissa kembali memasang wajah manisnya.


"Aku bisa dong keluar rumah, atau gimana gitu. Bosan kalau di rumah terus." Aaron hanya mendengarkan yang membuat Carissa bingung. Pria itu merapikan rambut dan memberikan dasinya pada carissa. Carissa memasangkan dasi Aaron dengan harap harap cemas, Aaron tidak mengatakan apapun.


"Ngapain? Mau ikut mas ngantor?" Carissa menggeleng polos.


" Itu mas belum jawab pernyataan Carissa di kamar" Aaron menyeringai kemudian menunjuk bibirnya. Carissa menatap tajam dan menggelengkan kepala, bisa-bisanya pria itu meminta di cium di hadapan para bodyguardnya yang kini memerhatikan mereka.


"Kembali ke dalam, mas mau jalan." Aaron berjalan mendekati mobil tanpa menoleh lagi pada Carissa. Carissa masih menimbang-nimbang kemudian secepat kilat tubuhnya berlari dan berjinjit memberikan ciuman untuk suaminya. Aaron tersenyum dan membalas ciuman Carissa dengan panas. Setelah beberapa lama Aaron melepaskan ciumannya dan menyusuri bibir Carissa yang agak membengkak. Aaron mengisyaratkan anak buahnya untuk bubar lewat matanya.


"Kamu boleh beraktivitas di luar rumah dengan pengawasan bodyguard yang sangat ketat." Carissa mengangguk patuh.


"Ini terakhir kalinya kamu keluar kamar dengan tampilan seperti ini, cukup mas yang melihat kamu berpenampilan seperti ini." Carissa mengangguk malu, dan melirik dirinya yang masih mengenakan jubah mandi dan rambut yang masih belum tersisir.


"Jangan nakal ya! Mas usahain cepat pulang." Carissa mengangguk dan melepaskan pelukannya dari Aaron.


Aaron masuk ke dalam mobil setelah istrinya itu tidak terlihat lagi dari pandangannya.


"Kenapa nyonya sangat agresif bos?" Aziz menatap Aaron dengan tertawa kecil

__ADS_1


"Demi kebebasannya sih, lo pikir dia mau memulai ciuman kalau tidak punya tujuan." Aaron tersenyum membayangkan wajah istrinya itu.


"Bos serius? Kalau Carissa benaran di culik gimana?" Aaron menatap tidak suka pada Aziz.


"Itulah fungsinya menyewa bodyguard agar Carissa tidak kena culik." Aziz hanya nyengir menutupi perasaan gugupnya karena telah salah bicara pada bosnya ini


"Mbak gimana?" Carissa menoleh pada Nadirah yang berada di kursi santai yang ada didekat pintu utama.


"Sejak kapan kamu disitu?" Carissa takut kalau nadirah melihat dirinya yang mencium Aaron tadi.


"Sejak drama Korea belum dimulai mbak." Nadirah tersenyum genit pada Carissa.


Carissa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ini semua gara-gara Aaron sehingga dia harus canggung pada Nadirah.


"Santai saja mbak, sudah halal kok. Walaupun aku yang jomblo merasa terganggu sih." Nadirah mengangkat bahu acuh.


"Iya, maaf ya." Carissa menggigit bibir, kenapa juga bibirnya harus meminta maaf sih. Nadirah tertawa kecil melihat kakak iparnya yang salah tingkah ini.


"Mbak, nggak usah dipikirin Nadirah juga cuma bercanda." Carissa tersenyum kaku dan ikut duduk di samping nadirah.


"Kamu nggak kuliah?" Nadirah menggeleng.


"Mumpung aku libur mbak, kita jalan yuk ke mall atau kemana gitu!" Nadirah menatap Carissa penuh harap.


"Yuk, mbak juga sudah lama tidak ke luar." Nadirah segera menarik Carissa ke kamarnya.


"Kok mbak ditarik ke kamar kamu sih?" Carissa cemberut. Nadirah terkikik kemudian mencubit pipi carissa.


"Mbak pakai bajuku saja, badan mbak tidak besar-besar amat." Carissa menggelengkan kepala melihat pakaian Carissa.


"Baju kamu ini tidak sesuai dengan kriteria bang Aaron." Nadirah mengernyit sejak kapan abangnya punya kriteria pakaian cewek.


"Maksud Mbak gimana sih?" Carissa menghela napas.


"Mas Aaron larang aku pakai baju yang pendek-pendek gitu." Nadirah tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Jadi, Abang sudah mulai ngatur ya." Carissa menganggukemah. Nadirah mengambilkan celana panjang untuk Carissa. Gadis itu juga mencarikan beberapa cardigan yang bisa di pilih oleh Carissa untuk digunakan.


__ADS_2