Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Sasha jadi baik


__ADS_3

Sasha jadi baik


Pagi ini Carissa menyambut pagi dengan penuh senyuman, euforia semalam sepertinya masih tersisa sampai pagi ini dalam diri gadis itu. Carissa melangkah sambil bersenandung menunggu grab motor pesanannya sampai. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, kaca mobil itu diturunkan. Carissa terbelalak ketika melihat yang berada di dalam mobil itu adalah Sasha. Mau apalagi ya gadis ini, Carissa memilih mengacuhkan Sasha. Bisa telat ngampus kalau dirinya meladeni Sasha.


"Butuh tumpangan? Ayo naik!" Carissa meriding menatap Sasha yang tersenyum manis padanya, apa orang ini sudah amnesia pikir Carissa.


" Jangan takut, gue mau damai dengan lo" Carissa mencubit pipinya, memastikan ini kenyataan. Rasanya Carissa seperti mau pingsan, melihat Sasha yang super ramah dan penuh senyuman. Tidak masuk akal, orang berubah dalam sekejap belum juga kena azab. Grab yang di pesan Carissa sampai, gadis itu langsung naik tanpa mengatakan apapun pada Sasha.


Sasha yang ditinggalkan oleh Carissa memukul stirnya dengan kuat. Sudah merendahkan harga dirinya dan egonya malah seperti ini yang di dapatnya. Tadi mati-matian Sasha melebarkan senyumnya, eh si Carissa malah tidak merespon apapun padanya. Sasha menarik napas, tunggu Carissa. Kamu akan terperdaya, Sasha mengibaskan rambutnya masih banyak waktu untuk menaklukanmu.


Sampai di kampus Cariss jadi sering melamun. Sasha benar mau damai atau Sasha punya niat terselubung. Carissa teringat lagi pada surat misterius itu, sepertinya sekarang gadis itu harus lebih waspada, tidak ada salahnya berjaga-jaga.


Selesai kuliah Carissa melanjutkan dengan pergi ke kursus masak. Gadis itu sengaja menambah banyak kesibukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Carissa jadi bertanya-tanya, apakah selain musuh Aaron ada yang berniat mencelakainya. Carissa tidak dapat memastikan itu, gadis itu hanya mampu berjaga-jaga untuk segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.


Aaron menghela napasnya, pria itu melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Tender yang seharusnya menjadi miliknya karena kesalahan anak buahnya. Ditambah lagi Sean yang membawa kabur uang-uang perusahaan, dan pria itu tidak ditahu dimana keberadaannya. Aaron memejamkan matanya, hatinya kembali membaik keetika terbayang wajah cantik istrinya.


Aziz menghampiri bosnya yang masih memejamkan mata. Aziz duduk dihadapannya, Aaron kemudian membuka matanya."Tuan, Sean setelah diselidiki memang memiliki hubungan dengan tuan Zein yang menjadi orang kepercayaan tuan besar". Aaron mengangguk, jadi nama pria itu Zein.


" Sepertinya tuan Zein juga menyukai nyonya muda tuan, dia mengikuti semua aktivitas Carissa" Aaron terkaku, apa tidak ada lagi perempuan yang menarik selain istrinya. Aaron mengepalkan tangannya, pria itu tahu dirinya tidak boleh gegabah dalam hal ini. Akan ada saja kemungkinan yang akan terjadi, yang tidak hanya membahayakan perusahan tetapi membahayakan dirinya dan Carissa.


"Awasi semuanya, sepertinya kita di serang dari berbagai arah. Awasi juga pergerakan Sasha!" Aziz mengangguk, dirinya juga pusing memikirkan semua ini, apalagi Sasha yang mulai menunjukkan taringnya.


"Siapkan semuanya, jika terjadi kemungkinan paling buruk perusahaan ini kita lepas, dan memulai semuanya dari awal. Bahkan jika itu terjadi, kamu pun bebas untuk pergi, begitupun Carissa" Aaron mengatakannya dengan suara pelan matanya terpejam. Aziz tidak bisa membaca emosi apa yang tergambar dalam mata bosnya itu.


Aziz hanya mendengarkan, keadaan mereka sekarang tidak separah itu. Aziz tahu bosnya ini punya rencana lain, dari dulu bosnya ini selalu punya kejutan-kejutan baru. Aziz tidak akan meninggalkan bosnya walaupun pria itu memintanya, banyak jasa Aaron dalam hidupnya yang tidak bisa dilupakan. Semoga Carissa juga tidak meninggalkan bosnya jika itu terjadi. kelihatannya gadis itu sudah mulai berpengaruh pada bosnya. Merasa cukup Aziz segera meninggalkan Aaron, sepertinya bosnya itu butuh waktu sendiri.


Sorenya Carissa sampai di rumah segera masuk kamarnya gadis itu takut dan belum siap untuk menghadapi Sasha sekarang. Carissa turun nanti pada saat makan malam, bertepatan dengan kepulangan Aaron. Aaron tidak seperti biasanya, pria itu sangat amat irit bicara. Pria itu makan sendiri tidak lagi bermanja-manja pada istrinya. Sasha yang melihat itu tersenyum, sepertinya mereka ini sedang bertengkar.


Sasha mengambilkan minum untuk Aaron dan tidak digubris, bahkan pria itu menatapnya dengan sangat tajam seakan berkata apa yang kau lakukan, Sasha menggigit bibirnya mukanya memerah, malu. Harusnya dia memahami suasana hati Aron sangat tidak bagus malam ini. Berbanding terbalik dengan Carissa, gadis itu tidak mengatakan apapun, gadis itu akan mencari tahu lewat Aziz setelah makan malam ini.

__ADS_1


Setelah makan malam Aaron segera berlalu dari ruang makan. Setelah kepergian Aaron, Sasha mulai mendekati Carissa untuk memuluskan misinya berbaikan dengan Carissa.


"Carissa, gue serius mau minta maaf semua salah gue ke lo yang selama ini gue lakuin." Carissa mengangguk dan tersenyum kecil, gadis itu segera menjawab permintaan maaf Sasha. Syukur deh, akhirnya Sasha juga mau baikan.


"Gue sudah maafin lo , jadi jangan dipikirin lagi!" Carissa berdiri dari tempat duduknya yang ada di ruang makan. Carissa ingin segera ke kamarnya untuk istirahat.


"Kita bisa jadi teman kan?" Sasha menahan tangan gadis itu. Carissa segera tersenyum dan pamit.


"Oke. Gue duluan ya!" Carissa segera berlalu ke lantai atas. Sasha menatap kosong kepergian gadis itu. Sedetik kemudian, senyum licik terbit dibibir Sasha, satu langkah lagi dan semuanya akan selesai.


Di kamarnya Carissa diam, tidak berani untuk memulai percakapan dengan Aaron. Aaron keluar untuk ke ruang kerjanya yang diikuti oleh Carissa. Mereka berpisah dilantai bawah, Carissa segera menemui kepala pelayan untuk meminta nomor telepon Aziz setelah mendapatkannya gadis itu bergeser ke taman setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya.


"Assalamualaikum, ini aku Carissa." suara diseberang menjawab ucapan salam dari Carissa.


"Ada apa yang penting sampai menelpon malam-malam seperti ini?" Carissa menghela napasnya mendengar suara Aziz yang datar dan sepertinya terganggu dengan Carissa.


"Ini, ehm tentang tuan Aaron dia banyak diam malam ini, apa ada kesalahan?" Carissa menutup mulutnya bukan itu yang akan ditanyakannya sebenarnya, kegugupan sangat mempengaruhinya sekarang.


" Terimakasih Aziz, maaf menganggu waktu istrahatmu." Aziz hanya menjawab oke dan langsung mematikan Handphonenya.


Carissa mengurut dadanya, ternyata asisten suaminya tidak semanis saat bersama suaminya. Carissa tidak segera kembali ke kamarnya, gadis itu menikmati suasana taman malam ini. Carissa larut dalam lamunannya berbagai kemungkinan-kemungkinan untuk masa depan berkelebat dalam kepalanya.


Merasa sudah lama berada di taman Carissa segera mengecek Handphonenya, sudah pukul 11 malam. Gadis itu beranjak meninggalkan taman masuk ke kamarnya.


Sampai di kamar Carissa belum menemukan Aaron, mungkin pria itu akan tidur di kamar lain atau di ruang kerjanya. Carissa masuk ke dalam selimut dan memejamkan matanya. Jam 1 malam Aaron menuju kamarnya, pria itu naik ke ranjangnya. Matanya melirik istrinya yang sudah terlelap.


"Kamu sudah banyak mempengaruhi hidupku, apakah kamu masih akan ada ketika aku memulai semuanya lagi dari nol? Apakah kita masih akan seperti ini jika Fani kembali?" Carissa hanya menggumam tidak jelas. Aaron tersenyum, mengecup kening istrinya dan ikut berbaring disebelah istrinya. Pria itu tersenyum lebar merasakan istrinya itu bergeser mendekatinya. Aaron segera memeluk gadis itu.


"Bahkan dalam tidur pun kamu tidak mau berjauhan dariku, semoga pada kenyataannya juga seperti itu." Aaron tertawa, melihat istrinya yang masih pulas yang tidak mungkin membalas kata-katanya.

__ADS_1


Mengeratkan pelukannya akhirnya Aaron ikut terlelap bersama Carissa. Carissa yang bangun duluan melihat jam, sudah masuk waktu subuh. Gadis itu melihat dirinya masih berada dalam dekapan suaminya, Carissa tersenyum sepertinya tadi malam suaminya banyak pekerjaan sehingga tidur setelah larut malam. Gadis itu melepaskan dirinya pelan-pelan kemudian menatap wajah suaminya, Carissa tersenyum jahil lalu meniup-niup mata suaminya.


Carissa terkikik kemudian kembali meniup-niup mata Aaron, tidak ada pergerakan dari Aaron. Carissa menatap wajah suaminya, yang terlihat makin tampan kalau tidur. Gadis itu mendaratkan kecupan di pipi suaminya lalu cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Takut, suaminya akan menangkap basah kelakuannya dan mungkin akan menertawakannya. Aaron menggosok matanya, pria itu terbangun saat merasakan tiupan-tiupan dimatanya.


Pria itu hampir kelepasan memarahi pelakunya jika tidak ingat yang melakukan hal ini, pasti istri cantiknya. Aaron kembali berdebar-debar ketika merasakan pipinya di kecup. Pria itu tersenyum bahagia, Aaron akan berpura-pura tidak tahu agar istrinya itu tidak canggung pada dirinya.Carissa keluar kamar mandi dan tersenyum canggung menatap suaminya. Aaron membalas tersenyum lebar kemudian masuk ke kamar mandi.


Pagi ini Aaron terlihat lebih baik begitu pun dengan Carissa. Sasha mengerutkan alis melihat pasangan ini, yang terlihat lebih berseri-seri.


"Gila, bahagia amat. Dirah, menurut lo apa yang sudah terjadi? Kemarin lo ingat kan muka abang lo yang kusut banget?" Sasha mengepalkan tangannya di bawah meja, Nadirah mengangguk mengiyakan pertanyaan Sasha.


"Mungkin masalah mereka sudah selesai kak." Nadirah tidak terlalu memusingkan Carissa dan Aaron. Sasha kembali memasang senyum palsunya ketika Carissa dan Aaron sampai di meja makan.


"Pagi." Sasha menyapa keduanya, ketika Aaron dan Sasha sampai ke meja.


"Pagi." balas Carissa, Aaron tidak membalas sapaan Sasha pria itu menarik kan kursi untuk istrinya. Carissa mengambil makan untuk dirinya seperti biasa, gadis itu hanya sarapan roti gandum.


"Sayang, buatkan mas juga dong. Mas pingin makan roti seperti kamu." Wajah cantik Carissa memerah, gadis itu lalu mengangguk mengabulkan permintaan suaminya. Aaron tersenyum melihat tingkah istrinya, pria itu menunduk dan mulai menempelkan hidungnya pada leher terbuka istrinya. Aaron menggigit-gigit kecil leher istrinya, gemas.


"Mas, ini di ruang makan. Carissa tidak akan membuatkan mas rotinya kalau begini." Aaron tertawa licik, kemudian kembali melayangkan ciuman pada leher Carissa.


"Ini semua salah kamu sayang, kamu sih membuat mas gemas. Nanti mas makan roti milik kamu saja, kalau mas tidak dibuatkan." Aaron kembali terkekeh, pria itu masih melanjutkan aksinya tanpa malu jika mereka diperhatikan oleh Sasha dan juga Nadirah.


Carissa menunduk, gadis itu sangat malu pada Sasha dan Nadirah yang juga berada diruangan ini. Melihat Aaron dan Carissa yang seperti itu Sasha segera pergi dari meja makan. Dasar Carissa kurang ajar, tunggu saja pembalasannya! Dasar penggoda! Dasar perempuan murahan! Sasha sangat geram dengan tingkah Aaron dan Carissa di meja makan. Nadirah yang tidak berniat menganggu abangnya juga segera berlalu. Sekarang hanya Aaron dan Nadirah yang ada di meja makan.


"Tuh kan! Semua tidak ikut sarapan. Ini semua gara-gara tuan!" Carissa memberikan roti yang sudah diolesinya selai buah itu.


"Kok tuan sih sayang, kan aku senangnya dipanggil mas!" Aaron kembali pada mode datarnya, moodnya rusak hanya karena panggilan tuan dari Carissa.


"Mas jangan sayang-sayang dong panggilnya, Carissa kurang nyaman." Wajah Aaron mengetat, pria itu makan dan menjauh dari Carissa. Carissa menggigit bibirnya, dia salah ngomong. Carissa mendekati pria itu, Aaron tidak melihat sedikitpun pada Carissa. Pria itu pasti sangat tersinggung oleh ucapannya barusan.

__ADS_1


" Mas, Carissa....Carissa mohon maaf." Aaron hanya mengangguk, pria itu meminum susunya tanpa menoleh lagi pada Carissa. Aaron segera berangkat ke kantor tanpa pamitan seperti biasa pada istrinya. Carissa yang ditinggalkan Aaron lemas di meja makan, gadis itu berkali-kali menyalahkan bibirnya. Dasar bibir sialan!


__ADS_2