
Carissa terbangun mendengar suara adzan, Carissa bangun untuk membersihkan diri dan bersiap untuk melakukan shalat. Sepertinya Aaron sudah bangun sejak tadi terlihat dari sisi ranjang yang kosong.
Semalam Aaron mengajak Carissa untuk menginap ke apartemennya karena sudah larut malam dan untuk keamanan mereka. Carissa dibuat ternganga karena apartemen ini yang sangat mewah. Namun pagi ini kekaguman Carissa luntur ketika memeriksa barang-barang di dapur semuanya kosong. Aaron menyusul istrinya ke dapur, tersenyum merasa bersalah melihat istrinya yang terlihat sebal.
"Maaf ya, kita makan di rumah saja. Kamu tahu kan aku selalu di rumah jadi rumah ini aku tidak sediain bahan-bahan yang dapat dimasak." Carissa mengangguk.
"Kenapa tidak kamu jual saja apartemen mu mas? Daripada tidak ditinggali 'kan?" Aaron menggeleng.
"Ini apartemen pertama yang aku beli dengan hasil kerja kerasku, jadi aku biarin saja." Carissa mengangguk.
"Bagaimana kabar mama mas?" Carissa ingat sudah lama dia tidak mendengar kabar mertuanya itu.
"Mama mau menetap di tempat Tante Vella sembari mau membuka butik." Carissa mengangguk bersyukur jika mama mertuanya tidak larut dalam kesedihan yang mendalam.
"Yuk sayang, kita pulang." Aaron datang bersama dengan tas Carissa dan tas kerjanya. Carissa tertawa kecil dibuatnya.
"Sini mas, tasku aku pegang sendiri." Aaron menyerahkan tas itu ke tangan Carissa. Kedua pasangan suami istri itu berjalan bergandengan keluar dari apartemen.
Di rumah Nadirah menjadi was-was takut juga kalau Aziz sampai menceritakan kejadian semalam pada bang Aaron, Nadirah menunggu kedatangan Carissa dan Aaron dengan khawatir. Aziz yang sedari tadi memerhatikan gerak gerik Nadirah tersenyum kecil, kemudian menormalkan ekspresinya mendekati gadis itu.
"Kemu kenapa terlihat gelisah banget?" Nadirah tertawa hambar.
"Tidak apa-apa kok bang, aku biasa kok tidak gelisah." Nadirah berusaha terlihat tenang, Aziz kembali tertawa kemudian menatap manik mata gadis itu.
"Kamu jangan khawatir, aku tidak bermulut ember selama kamu mau kerja sama." Glup! Nadirah kesusahan menelan ludahnya, Aziz ternyata tahu apa yang menjadi ketakutannya.
"Hehehehe. Aku ke kamar dulu ya bang, ada tugas yang harus aku selesaikan." Nadirah segera berlalu tanpa mendengar jawaban Azizi.
Aziz hanya menggelengkan kepala melihat gadis itu yang terlihat konyol di depannya barusan. Entah kenapa kadang perilaku Nadirah yang seperti itu seperti hiburan tersendiri bagi Aziz.
"Selamat datang kembali tuan." Aaron mengangguk dan menggandeng Carissa yang juga tersenyum. Aaron memberikan barang-barang mereka kepada pelayan dan segera ke meja makan, disana sudah Aziz dan Nadirah. Carissa menatap heran pada Nadirah yang terlihat gelisah.
"Dek, kamu sakit?" Nadirah tersenyum dan menggeleng menatap Carissa. Aaron ikut memerhatikan adiknya itu dengan penuh selidik. Aziz tersenyum melihat mereka yang sepertinya sudah baikan.
__ADS_1
"Akhhhhh. Kamu kenapa sih sayang main cubit-cubit segala?" Aaron menatap Carissa kesal.
"Kamu itu ngapain sih melihat Nadirah seperti itu, kan takut Nadirahnya." Nadirah dan Aziz sontak cekikikan melihat Aaron yang menahan kesal.
"Kan aku penasaran, kamu sih pakai tanya dia sakit atau tidak segala." Carissa segera mengambil makan tanpa meladeni Aaron yang menyalahkannya.
Aziz dan Nadirah ikut mengambil makan tanpa berbicara. Semuanya membaca doa makan dan mulai makan seperti biasa. Selesai makan Aaron dan Carissa naik ke atas untuk membersihkan diri.
Melihat kepergian ipar dan abangnya Nadirah segera menghampiri Aziz yang sudah berjalan menuju kamar tempatnya menginap.
"Bang, bisa Nadirah bertanya sebentar?" Aziz mengangkat alis.
"Tanya apa?" Nadirah menarik napas.
"Mama tidak akan pulang ya? Aku sudah hubungi tapi nomor mama tidak aktif, sosial medianya juga sudah hilang." Aziz menatap Nadirah lekat-lekat.
"Mama kamu akan menetap di kota tempat tante Vella itu sih yang Aaron bilang sama aku." Nadirah mengangguk, lega juga itu artinya ibunya baik-baik saja disana.
"Jadi tujuan kamu tentang Ben, bukan mama kamu?" Nadirah mencari kalimat yang tepat.
"Bukan gitu bang, aku cuma tidak siap di marahi bang Aaron, apalagi mama makin jauh papa juga sudah menikah lagi." Aziz mengangguk.
"Abang tidak secerewet itu kalau kamu tahu, terkecuali kalau Aaron yang meminta." Nadirah tetap tersenyum dan memeluk Aziz. Aziz berdehem keras membuat Nadirah melepaskan pelukannya.
"Abang baik, bukan berarti kamu bebas untuk peluk-peluk Abang." Aziz menepuk-nepuk tubuhnya. Nadirah menatap pria itu jengkel, sok-sokan banget Nadirah juga tidak sengaja. Nadirah berlalu dengan seribu kutukan untuk Aziz. Aziz menggelengkan kepala melihat kepergian Nadirah.
"Kamu tidak kuliah hari ini?" Carissa menggeleng.
"Aku mengambil cuti mas karena kemarin aku sudah ketemu dengan pengacara papaku. Ternyata papaku orang kaya, ada warisan untuk aku. Sayangnya, aku baru tahu sekarang. Aku ambil cuti biar lebih aman tanpa takut untuk diculik atau diapakan sama orang yang ngincar aku. Paman aku kata pak Mikhael masih mengincar aku." Aaron menatap Carissa dengan mata yang menyipit.
"Kamu menyesal baru tahu kamu anak orang kaya?" Carissa menatap Aaron tidak suka, suaminya ini terlihat kurang senang.
"Tidak sih mas, aku menyesalnya kalau dari dulu aku tahu aku bisa melakukan sesuatu yang berguna." Carissa melanjutkan menyisir rambutnya.
__ADS_1
"Kamu tidak akan meninggalkan aku karena harta itu kan?" Carissa menggeleng. Aaron menatap tidak percaya pada Carissa.
"Kamu kenapa sih mas? Aku tidak akan tinggalin kamu lah, aku saja sebenarnya tidak peduli dengan harta itu." Carissa menatap Aaron aneh.
"Mas pegang janji kamu, awas kalau kamu sampai meninggalkan mas karena harta itu." Carissa sampai sesak napas karena di peluk sangat erat oleh suaminya itu.
"Mas, aku juga tidak semudah itu untuk tinggalin kamu kok." Carissa menatap suaminya itu lembut.
"Kamu baik-baik di rumah ya." Aaron mengecup bibir istrinya kemudian pergi ke kantor.
Carissa bersiap-siap untuk kursus memasak. Guru memasaknya yang datang di rumah ini, Carissa akan belajar memasak di ruangan bawah yang sangat luas, Bi Sitti sudah menyiapkan semuanya kemarin.
"Mbak, tidak ngampus?" Carissa tersenyum pada Nadirah.
"Tidak, mbak ambil cuti." Nadirah tersenyum nakal.
"Mbak sudah isi ya sampai cuti?" Carissa mengernyit, kemudian menggeleng.
"Tidak kok, mbak ada masalah lain sehingga mbak harus cuti." Nadirah mengangguk.
"Terus mbak mau ngapain? Tidak mungkin kan mau bersih-bersih?" Carissa tertawa terbahak-bahak.
"Mbak mau belajar masak, sini kamu ikut mbak daripada penasaran." Nadirah mengikuti iparnya itu. Nadirah terkagum-kagum melihat ruangan tempat Carissa belajar memasak seperti di film-film.
"Mbak ini mas Aaron yang siapkan?" Carissa menggeleng.
"Kirain mas Aaron mulai perhatian sama mbak." Carissa tertawa saja.
"Ini Bi Sitti yang siapkan mbak cuma request saja mbak mau yang seperti apa."
Nadirah tersenyum melihat Carissa yang terlihat bahagia, semoga mbak dan abangnya rumah tangganya aman dan sejahtera.
*******
__ADS_1