Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Misi Balas Dendam 2


__ADS_3

Misi balas dendam dua


Malam ini, Aaron berada di rumah lebih cepat karena informasi dari mamanya, jika mamanya dan adiknya akn menginap dirumahnya. Saat berjalan menuju kamarnya aaron berpapasan dengan adiknya yang menundukkan kepala saat pandangan mereka bertabrakan. Pria itu tersenyum kecil adiknya itu masih takut padanya, Aaron akan mencari waktu agar bisa membuat adiknya mengerti dengan semua keadaaan ini.


Saat sampai ke kamarnya Aaron mendapati Carissa yang terlihat sibuk dengan berbagai macam buku, sepertinya gadis itu akan mengerjakan tugas kuliahnya. Aaron menghampiri istrinya dan mengulurkan tangannya, Carissa mencium tangan suaminya. Setelah itu, Carissa beranjak mengambil pakaian kerja suaminya dan menyimpannya pada keranjang kotor. Aaron lalu melangkah meninggalkan istrinya, dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah sholat Isya Aaron dan Carissa turun ke bawah untuk makan malam. Ketika memasuki ruang tamu Carissa menelan ludahnya melihat meja makan sudah terisi oleh mama aisyah, Nadirah dan Sasha. Aaron menyadari ada ketakutan yang terlihat dimata Carissa, Carissa agak ragu untuk melanjutkan langkahnya bergabung ke meja makan. Carissa berhenti sejenak, Aaron menggenggam tangan Carissa dan tersenyum meyakinkan Carissa, seakan mengatakan bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.


Pasangan suami istri itu berjalan bergandengan, ibu Aaron tersenyum melihat putranya dan menantunya yang bergandengan, dalam hatinya wanita paru baya itu mendoakan agar kebahagiaan selalu menyertai anak dan menantunya . Lain halnya dengan Sasha, gadis itu mendadak ingin mencakar-cakar wajah Carissa. Untung ada Aunty Aisyah dan Aaron, jadi gadis itu masih aman dari Sasha. Dasar gadis kampungan dan kegenitan, harusnya kan Sasha yang menggandeng tangan abang Aaron bisik hati Sasha. Sedangkan Nadirah hanya bisa menatap penuh benci pada Carissa dan melirik takut-takut pada abangnya. Nadirah takut abangnya menangkap basah dirinya, yang menatap penuh benci pada Carissa.


Di meja makan, Aaron duduk berdampingan dengan istrinya. Sasha dn nadirah berhadpan dengan mereka.


" Jam berapa mama berangkat besok?" Aaron bertanya karena berencana untuk mengantar ibunya ke bandara.


" Mama berangkat pagi, mama akan menginap di rumah Tante Vella. Mama akan umroh bareng Tante Vella." Aaron mengangguk, Carissa hanya mendengarkan percakapan ibu dan anak itu, begitupun dengan Sasha dan Nadirah.


" Mama bilang sama Aaron kalau ada yang mama butuhkan." Aisyah mengangguk, anaknya ini memang sangat perhatian padanya.


"Sayang, kamu harus makan banyak malam ini. Mama tadi bersama Carissa sudah membuatkan makanan kesukaan kamu." Aisyah mengisyaratkan agar Carissa mengambilkan makan untuk suaminya. Memahami isyarat mama mertuanya Carissa lalu mengambilkan makanan untuk Aaron.


" Carissa tidak bisa masak ma, memang apa yang dibantu oleh Carissa." Aaron mengernyit, kemudian menahan senyum menghayalkan jika istrinya itu hanya membantu dengan melihat- lihat ibunya memasak.


" Membantu menemani mama masak dong sayang, Carissa masih muda masih banyak waktu untuk belajar masak. Tidak bisa masak juga tidak masalah, suami Carissa kan kaya raya." Aisyah sengaja menggoda Aaron diujung kalimatnya, Aisyah terkekeh geli melihat wajah merona putranya tersebut.


" Itukan berkat doa mama juga." Aisyah tersenyum. Kemudian mereka semua mulai makan, Nadirah dan Sasha tidak mengeluarkan suara apapun.

__ADS_1


Aaron masih minta disuapi oleh istrinya seperti kemarin malam. Sasha mendengus, hilang sudah selera makannya melihat Aaron dan Carissa yang suap-suapan. Sedangkan Aisyah tersenyum, dasar anak muda bisik hatinya. Lain lagi dengan Nadirah, gadis itu hanya makan seperti biasa tidak terpengaruh oleh yang dilakukan Abang dan iparnya.


Selesai makan malam mereka kembali ke kamar masing-masing. Sasha dan Nadirah menempati satu kamar, bukan karena rumah ini yang kekurangan kamar tetapi karena Sasha butuh curhat pada Nadirah.


Selain untuk curhat sasha membutuhkan Nadirah untuk melawan Carissa. Sasha akan membalas perbuatan Carissa tadi pagi yang membuatnya menjadi tertawaan pelayan, tunggu saja kalau abang Aaron pergi dan kesempatan itu ada, Carissa akan mati ditangannya. Sasha tersenyum senang memikirkannya.


"Nad, kamu suka ya sama istri Abang Aaron?" Walaupun Sasha sudah tahu Nadirah tidak suka dengan istri abangnya, tetapi untuk mendapatkan kepastian sasha sengaja menanyakannya secara langsung.


" Tidak sih kak, asal kakak tahu saja, gara-gara dia papa dan mama sampai cerai. Mana mungkin aku suka." Nadirah sedih mengingat perceraian orang tuanya. Sasha tersenyum menatap nadirah, kesempatan yang manis pikirnya.


" Sama aku juga benci sama issteri bang aaron, asal kamu tahua tadi pagi Carissa melabrak kakak dan mengata-ngatai kakak. Kakak sangat sakit hati." Sasha bercerita dengan melebih-lebihkan sedikit.


" Maunya kakak lawan dong, memang apa alasannya kakak dilabrak?" Nadirah juga tertarik, ternyata Carissa itu berani juga.


*****


Di tempat lain Nurmansyah termenung, pria itu tidak biasa dengan hidupnya yang tiba-tiba seperti ini. Dia kehilangn semuanya, harta dan keluarga. Botol minuman keras berserakan dikamarnya.


"BRAK!!


Pria itu kembali melemparkan botol minumannya untuk kesekian kalinya ke dinding kamarnya.


"ARGHHHHH" Pria itu meremas rambutnya, kini dirinya tinggal sendirian.


Istri yang selalu mendukungnya tidak ada lagi. Wanita-wanita penghangat ranjangnya juga pergi perlahan-lahan.

__ADS_1


Menghela napasnya kasar Nurmansyah masuk ke dalam kamar mandi untuk merapikan dirinya, pria itu akan berusaha lebih keras lagi untuk melawan Aaron. Usai mandi Nurmansyah berpakaian kemudian menghubungi seseorang untuk bertemu. Bukan hanya Aaron, pria itu juga akan menghancurkan Carissa. Gadis itu telah mempermainkannya dengan menikahi Aaron. Nurmansyah segera mengambil kunci mobilnya, pria itu bergegas meninggalkan rumahnya.


Nurmasyah ke sebuah bar yang sangat terkenal di kota ini. Pria itu membooking sebuah kamar privat, dirinya akan bertemu seseorang yang akan membantunya untuk menghancurkan Aaron. Sampai diruangan yang sudah di bookingnya, Nurmansyah langsung duduk, pria itu menatap jam ditangannya dan sesekali melihat pintu. Beberapa saat terdengar pintu diketuk, nurmansyah berdiri dan membukanya.


Nurmansyah sedikit terkejut di depan pintu, kemudian mempersilahkan pria muda itu masuk. Nurmansyah mengamati pria yang kini duduk dihadapannya, terlihat masih muda dan mungkin seumuran dengan Aaron. Nurmansyah tersenyum tenang dan menjabat tangan pria itu.


"Wah, ternyata kamu jauh lebih mudah ya dari yang kubayangkan. Oh iya, Silahkan diminum. Pria muda itu mengamati gelas didepannya, dan menyesap aromanya perlaha-lahan. Bukan hanya untuk menikmati aromanya tapi untuk memastikan tidak ada racun dalam minuman itu. Pengalaman mengajarkan pria muda itu untuk selalu berhati-hati. Nurmansyah tertawa,melihat pria muda ini sangat hati-hati.


"Tidak ada apapun dalam minuman itu. Lagi pula Ini malam pembukaan, jadi kita harus menikmatinya. agar misi kita selanjutnya berjalan lancar." Pria itu mengangguk, kemudian membawa minuman tersebut kebibirnya dan meneguknya dengan nikmat. Nurmansyah termenung, pria muda ini mengingatkan dirinya pada masa lalu ketika masih muda dulu. Dirinya yang muda juga sangat hati-hati terhadap apapun.


"Aku tidak menyangka kamu yang direkomendasikan Robert. Kata Robert kamu sudah sangat berpengalaman dalam menyelidiki kekurangan lawan-lawan Robert." Nurmasyah berbinar kagum menatap anak muda dihadapannya ini.


"Tuan Robert sangat berlebihan tuan, saat ini pun saya masih perlu banyak belajar." Nurmansyah mengangguk setuju, memang kebanyakan orang hebat selalu merendah diri.


"Jadi apa pekerjaan yang akan saya lakukan selain memata-matai anak Anda tuan?" Nurmansyah mengusap dagunya memikirkan sesuatu.


"Cari peluang untuk mendekati istrinya, kalau perlu buat mnereka sampai bercerai. Cari celah untuk menghancurkan perusahaan anak itu." Pria muda itu mengangguk, mencatat dalam pikiran apa yang akan di lakukanya ke depan.


" Oh iya siapa namamu, anak muda?" Nurmansyah keasyikan sampai lupa untuk berkenalan sejak awal dengan anak ini. Sekarang nurmansyah baru teringat untuk menanyakan nama anak itu.


" Zein Hamid, Tuan. Terimakasih sudah menerima saya bekerja pada Anda, Tuan." Pria muda itu tersenyum lebar tapi terkesan dipaksakan. Nurmansyah tidak terlalu memerhatikan hal itu.


Hamid? Nurmasyah sepertinya tidak asing dengan nama itu, tapi tidak terlalu dipikirkan. Dirinya pebisnis sukses yang sangat terkenal, tidak heran kalau dia dikelilingi oleh nama-nama yang hampir sama setiap harinya.


Kedua pria yang berbeda usia itu menikmati minumannya. Setelah minum, Nurmansyah menawarkan pria muda itu untuk memilih perempuan yang akan menemaninya sepanjang malam ini, dengan sopan pria muda tersebut menolak dan pamit. Zein menghilang dalam hiruk-piruk orang-orang yang bersenang-senang di tempat itu. Nurmansyah juga memutuskan pulang, pria tua itu butuh istrahat untuk memulai misinya.

__ADS_1


__ADS_2