
Sampai di kantor Aaron kembali terkejut, pasalnya ruang kerjanya sudah dicoret-coret dan dipenuhi oleh bangkai-bangkai tikus yang dikeluarkan isi perutnya. Aaron menghela napasnya, sepertinya orang itu benar-benar menginginkan perusahaan miliknya ini. Aaron segera memerintahkan OB untuk membersihkan ruangan ini. Aziz datang menemui Aaron, ada informasi terbaru yang akan disampaikannya hari ini. Karena suasana ruang kerja Aaron yang tidak mendukung, Aziz dan Aaron ke villa rahasia milik Aaron yang ada di daerah perbukitan yang harus ditempuh dengan dua jam perjalanan. Sampai disana keduanya segera ke ruang meeting yang ada di tengah villa.
"Jadi begini bos, sekarang tuan besar sedang giat-giatnya membangun perusahaan dan perkembangannya sangat pesat dan lebih baik. Zein juga menjadi semakin dekat dengan tuan besar." Aaron mengangguk, pria itu menyesap minumannya.
"Bagaimana dengan Nadirah?" Aaron juga mengkhawatirkan adik semata wayangnya.
"Tidak terlalu berbahaya seperti Carissa" Aaron lega mendengarnya, baguslah jika adiknya itu menurut.
"Anehnya, sekarang nona Sasha mengajak Carissa berbaikan dan yang aneh beberapa kali Sasha mengunjungi tempat aborsi terkenal di kota ini." Aaron terbelalak, tidak mungkin gadis itu yang akan aborsi, Aaron tahu betul pergaulan Sasha.
"Awasi terus, gadis itu kadang licin seperti belut. Pasti ada muslihat dibalik tindakan Sasha yang berbaikan dengan Carissa." Aziz mengangguk.
"Bos bagaimana dengan masalah perusahaan X yang meneror kita?" Aziz menatap Aaron dengan serius.
"Mereka sudah sampai mengacak-acak ruang kerjaku. Sepertinya kita memiliki banyak musuh dalam selimut. Jangan percaya siapapun, yang benar-benar bersama hanya kita berdua Ziz, itupun kalau kamu tidak tergiur dolar disaat seperti ini". Ini yang menjadi alasan Aaron untuk menjual perusahaan itu dan memulai semuanya dari nol, ketika semuanya semakin merugikan.
"Beres bos. Aku akan ikut bos, walaupun bos mau mengusir aku!" Aaron menepuk bahu Aziz mendengar ungkapan pria itu.
" Carissa meneleponku. Sepertinya kalian sudah cukup dekat sekarang." Aziz sedikit mengerling nakal, Aaron menatap Aziz penuh curiga.
"Aku tak tahu dari mana didapatkannya nomorku, suer!" Aziz mengangkat tangannya. Aaron masih diam seakan menunggu penjelasan lanjutan dari Aziz.
"Dia bertanya tentang bos yang banyak diam. Sepertinya gadis itu mengkhawatirkan Anda!" Pria itu menghentikan matanya dan tersenyum menggoda Aaron.
" Entahlah, gadis itu hanya mempermainkanku. Dia membuatku kesal pagi tadi, lupakan saja semua yang dikatakannya padamu semalam!" Aaron kembali sakit hati mengingat Carissa yang kurang nyaman dipanggilnya sayang.
"Memangnya kenapa anda kesal bos" Aziz bertanya sambil nyengir.
"Masa gadis itu kurang nyaman aku panggil sayang, harusnya dia bersyukur. Kamu tahu sendiri semua cewek yang pdkt ke gue tidak ada yang kupanggil sayang" Aaron menghela napas mengingat lagi kejujuran gadis itu tadi pagi.
"Harusnya bos membuatnya terbiasa, abaikan saja perasaan tidak nyaman gadis itu,hehehehe!" Aaron tersenyum berbinar, ia benar juga saran Aziz lagi mereka sudah menikah.
"Tumben kamu berguna untuk hal seperti ini?" Aaron menepuk-nepuk Aziz dengan semangat. Aziz hanya ikut tersenyum melihat mata bosnya itu berbinar bahagia.
"Tapi bagaimana dengan Fani?" Aaron terdiam mendengar pertanyaan Aziz.
"Ziz lupakan dulu tentang Fani, kembali ke perusahaan apakah Angela punya kemungkinan menjadi orang perusahaan X?" Aaron kembali memikirkan orang-orang yang berkhianat padanya.
__ADS_1
" Kalau kemungkinan, semuanya mungkin tuan." Aziz melihat banyak yang bergerak main aman di perusahaan. Mereka menggunakan orang lain, jadi yang terdeteksi bukanlah pelaku asli.
"Mengenai nona Carissa, sepertinya anda harus berhati-hati tuan. Pihak yang merebut perusahaan orang tua Carissa, tidak dapat mencairkan semua harta Carissa. Aset-aset akan cair jika Carissa menikah, target mereka sekarang adalah menikahkan Carissa dengan putra mereka!" Aaron tertawa sinis, hanya karena harta mereka harus membunuh dan bahkan akan menikahkan seseorang.
"Apakah mereka mulai mendekati Carissa ?". Aziz berdehem kemudian menatap Aaron serius.
"Sepertinya iya bos, tapi anak-anak suruhan kita tidak tahu yang mana pihak mereka karena yang mendekati Carissa, ada tiga pihak dengan motif yang tidak terbaca. Bahkan istri anda tidak menyadarinya!" Mendengar itu Aaron mengusap wajahnya, kenapa menjadi serumit ini.
"Kirim pengawal pribadi perempuan untuk Carissa." Aziz mengangguk, pria itu segera mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya pada seseorang anak buahnya.
Carissa merinding di tempatnya, kali ini gadis itu mendapat paket kain putih yang berlumuran darah. Bau anyir menyeruak memenuhi pernapasan Carissa. Carissa terbayang-bayang lagi pada kecelakaan orang tuanya, banyak Darah memenuhi wajah keduanya, Carissa sampai merasa mual. Carissa menarik nafas mengumpulkan kesadaran.
Gadis itu melirik ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa pun. Carissa cepat-cepat membuang paket itu dalam tempat sampah, semoga hanya salah kirim doanya dalam hati. Carissa masuk ke dalam rumah, sampai dikamarnya carissa menatap bayangannya. Pucat bahkan sangat pucat, Carissa mengelap bulir-bulir keringat yang ada di wajahnya. Gadis itu mengoleskan liptin pada bibirnya untuk menyamarkan bibirnya yang pucat dan turun ke dapur. Hanya ada beberapa pelayan, Carissa tersenyum pada mereka dan mulai mencari bahan-bahan untuk membuat brownies coklat, sebagai permintaan maafnya pada suaminya atas ke jadian tadi pagi.
"Nyonya, biar kami saja yang membuatnya. Nyonya cukup menyebutkan seperti apa yangnyonya inginkan!" Carissa menggeleng, ia ingin benar-benar membuat brownies sendiri. Sudah lama gadis itu tidak membuat brownies, tapi Carissa yakin masih bisa membuatnya sendiri.
"Untuk urusan brownies aku bisa sendiri kok, kalian lanjut kerja yang lain saja!" pelayan itu mengangguk, dan berlalu meninggalkan Carissa. Carissa membuat brownies dengan semangat, sampai masalah siang tadi terlupakan dari ingatannya. Carissa menghias browniesnya dengan senang, kemudian Carissa menyimpan brownies khusus untuk Aaron ke dalam kulkas. Selebihnya Carissa memberikan pada para pelayan untuk dimakan. Carissa kemudian membuat jus alpukat untuk menyegarkan tenggorokannya.
Sasha yang melihat dapur yang ramai , langsung menuju dapur. Gadis itu terbelalak melihat para pelayan yang makan-makan, ada carissa juga yang duduk. Sasha memberikan senyum terbaiknya layaknya seorang teman.
"Hi Carissa. Ada acara apa hari ini, kok rame?" Carissa tersenyum dan menggeleng, Sasha membalas tersenyum manis.
"Eh, lo beli dimana kalung lo bagus banget. Aku juga mau pesan satu." Carissa tersenyum meraba kalung yang berada di lehernya.
"Oh ini, hadiah dari seseorang." Sasha mengangguk mendengarnya, apa dari Aaron ya? Tapikan semalam Aaron marah-marah, jadi tidak mungkin pikir Sasha . Sasha sedikit lega, gadis itu memerhatikan Carissa yang menghembuskan napas berulang kali.
"Lo ada masalah? lo bisa kok cerita ke gue. Gue kan teman lo sekarang" Carissa tersenyum menatap Sasha, Carissa menggelengkan kepalanya.
" Biasalah, masalah kuliah kok, lo juga belum tentu paham. Lo desainer kan?" Sashmengangguk, Carissa menatap Sasha perasaannya tetap saja khawatir.
" Gue senang temanan dengan lo, gue ke atas ya! Mau istrahat !" Sasha mengangguk dan tersenyum manis. Sasha senang jika Carissa senang berteman dengannya. Misi akan segera dimulai. Para pelayan yang berada di dapur dibuat melongo dengan keakraban dua orang itu. Saat makan malam tiba Carissa ke ruang depan, gadis itu menunggu kepulangan Aaron. Carissa kembali ketakutan mengingat teror yang didapatnya siang tadi. Aaron sampai lebih cepat, pria itu kaget ketika memasuki rumah dirinya mendapatkan pelukan dari istrinya. Aaron mengisyaratkan pelayan untuk mengambil alih tas kerjanya. Aaron balas memeluk Carissa, menguap sudah kemarahannya pada gadis itu.
Carissa menangis terisak-isak di pelukan suaminya, banyak hal berat yang terjadi padanya akhir- akhir ini. Satu-satunya orang yang dipercaya Carissa hanyalah Aaron, apalagi satu-satunya orang yang dekat dengan dirinya hanyalah pria itu. Carissa tidak mungkin mau merepotkan pamannya dengan masalahnya, apalagi merepotkan Arlan.
Aaron mengelus-elus kepala istrinya, terkadang memberikan ciuman.
"Ada apa, kok nangis?" Aaron mengelap air mata istrinya. Carissa menggeleng, gadis itu malah naik ke pangkuan Aaron dan memeluk suaminya erat.
__ADS_1
"Carissa lelah seharian, Carissa juga kangen mas." Aaron tersenyum mendengarnya, sepertinya dirinya juga sudah berpengaruh pada istrinya.
"Sudah makan?" Carissa menggeleng, Aaron membersihkan sisa-sisa air mata istrinya.
"Kita ke ruang makan ya." Carissa mengangguk dan turun dari pangkuan suaminya.
"Kenapa turun sayang, mas kuat kok gendong kamu" Carissa menggelengkan kepalanya, gila saja kalau sampai di gendong ke meja makan.
"Malu mas, sama yang lainnnya" Aaron terkekeh mendengar jawaban istrinya. Pria itu menggenggam jemari istrinya dan beriringan ke ruang makan.
Sasha dan Nadhirah yang dari tadi menunggu memasang muka datar, tidak menyapa Aaron dan Carissa. Aaron tidak memedulikan hal itu, pria itu hanya sibuk bermanja-manja pada istrinya. Carissa tidak lagi terganggu dengan panggilan sayang suaminya. Gadis itu menyuapi suaminya dengan telaten seperti biasa, Aaron pun melakukan hal yang sama. Sasha sendiri kembali panas melihat adegan di depannya, tapi gadis itu pura-pura tersenyum agar tidak ada yang mencurigainya.
Setelah makan malam Carissa ke dapur mengambil brownies untuk suaminya. Carissa segera ke lantai atas dan masuk ke kamarnya, suaminya lagi di kamar mandi, terdengar dari bunyi gemericik air. Sambil menunggu suaminya, Carissa memainkan ponselnya diatas ranjang, menunggu suaminya keluar. Aaron keluar dan pakaian pria itu menjadi lebih santai, hanya menggunakan boxer dan kaos tipis.
"Mas, banyak pekerjaan tidak malam ini?". Carissa meletakkan handphonenya diatas nakas dan memfokuskan perhatiannya pada suaminya.
"Malam ini mas mau tidur cepat, mas lelah sayang". Aaron segera naik ke atas ranjang. Carissa tersenyum dan mengambil brownies yang berada di atas nakas.
"Mas, ini Carissa buatin sebagai permintaan maaf Carissa karena membuat mas marah pagi tadi." Melihat Carissa yang tersenyum, Aaron mengerling nakal ke arah istrinya.
"Mas, gak yakin deh rasanya seperti tampilannya" Carissa terkekeh dan balas tersenyum mengejek.
"Mas sembarangan deh. Ini tuh, kue kebanggaan Carissa. Karena cuma ini yang bisa Carissa buat, hehehehe. Papa dan mama juga waktu masih hidup suka sama brownies buatan Carissa." Carissa memotong brownies itu dan menyuapkan suaminya. "Iya deh, mas coba ya." Aaron makan dengan perlahan-lahan, pria itu mengerutkan keningnya tanpa berkomentar. Carissa cemberut melihat Aaron yang makan dengan tatapan datar. Aaron tersenyum melihat istrinya yang cemberut.
" Siniin piringnya, kamu juga makan. Jangan mas saja yang makan." Pria itu mengambil alih piring dari tangan carissa kemudian menyuapi gadis itu.
" Enak kan?". Carissa mengangguk. Aaron mengelus pipi istrinya, sambil sesekali menyuapi istrinya.
"Makanya jangan cemberut dong, kan enak browniesnya." Carissa mengangguk, tapi gadis itu melayangkan protes.
"Harusnya kan mas bilang kalau enak, biar Carissa senang. Menyenangkan orang kan dapat pahala" Aaron tertawa mendengar penuturan istrinya.
" Oke. Maafin mas sayang." Carissa mengangguk, kemudian gadis itu mengembalikan piring ke atas nakas.
"Gimana tadi kuliahnya?" Aaron menatap Carissa, Carissa tersenyum kecil.
"Baik-baik saja mas" Aaron mengangguk, lalu mengacak rambut gadis itu pelan.
__ADS_1
Carissa kemudian ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Saat kembali Aaron terlihat sibuk bersama tabletnya, Carissa naik ranjang, dan memejamkan matanya. Aaron pindah ke sofa melihat-lihat rekaman pada laptopnya, pria itu memfokuskan matanya pada rekaman ketika istrinya terlihat menerima paket dari kurir. setelah kurir itu pergi Carissa membuka paket tersebut. Istrinya terlihat melempar hadiah itu, wajah Carissa pucat. Aaron memerhatikan isi paket tersebut hanyalah kain yang dilumuri darah. Perang memang telah dimulai, mereka juga mulai meneror Carissa. Pantas saja istrinya itu menangis saat memeluknya, sepertinya Carissa sangat ketakutan oleh teror tersebut. Aaron menutup laptopnya, pria itu berjalan ke ranjang dan ikut berbaring dengan istrinya. Pria itu mengecup kening istrinya dan menarik istrinya dalam pelukannya, Aaron berdoa agar diberi waktu yang panjang untuk selalu bersama Carissa.