
Mengingat kejadian siang tadi Carissa menjadi siaga, Aaron benar-benar berbahaya untuk kesehatan jantungnya. Setiap berdekatan dengan Aaron akhir-akhir ini, jantung Carissa selalu berdebar kencang.
Sore ini Carissa mengelilingi villa itu sendirian, gadis itu memandang takjub hamparan mawar yang ada di kebun-kebun di sekitar villa. Carissa segera memetik setangkai mawar dan menghirup aromanya. Gadis itu terkekeh kemudian mengeluarkan handphonenya untuk selfie. Ini momen yang harus di abadikan bisik hatinya. Setelah banyak hasil selfie yang didapatnya, Carissa memilih foto yang terbaik untuk diunggah di Instagram miliknya. Puas dengan semua tangkapan gambarnya Carissa kembali ke villa. Carissa memutuskan untuk berenang mumpung tidak ada Aaron dan tidak ada orang lain yang akan mengganggu acara renangnya.
Aaron terbangun sore harinya, pria itu mencari keberadaan istrinya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Carissa di dalam kamar, Aaron lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai shalat barulah dirinya akan mencari istrinya. Aaron turun ke dapur, pria itu memilih buah- buahan yang ada dalam kulkas untuk membuat jus. Setelah selesai Aaron membawa dua gelas jus ke gazebo di depan villanya.
Aaron mencari-cari keberadaan carissa di luar villa, gemericik air memancing perhatian Aaron. Aaron tersenyum kemudian mengangkat jus yang dibuatnya dan berjalan ke arah kolam. Aaron tersenyum melihat handphone istrinya yang berada di atas gazebo. Carissa masih asyik berenang, sepertinya Carissa tidak menyadari kehadirannya sama sekali. Aaron memainkan ponsel Carissa, sempurna! Carissa tidak menggunakan password.
Aaron tersenyum-senyum membuka galeri istrinya, jadi tadi istrinya berkeliling di sekitar villa. Banyak foto Carissa yang diambil saat berada di kebun mawar. Aaron mengganti walpapaer Carissa dengan fotonya. Aaron tertawa melihat hasil pekerjaannya di ponsel Carissa. Selesai dengan handphone Carissa, Aron beralih pada istrinya yang masih asyik berenang ke sana kemari. Aaron turun dari gazebo dan berjalan mendekati kolam renang. Pria itu berdehem menarik perhatian Carissa.
"Asyik banget, mas ditinggalin lagi sendirian." Carissa terkejut melihat Aaron yang menjulang tinggi di pinggir kolam.
"Mas kan tidur nyenyak, Carissa tidak tega mau membangunkan mas." Carissa berenang ke arah suaminya, karena dirinya sudah capek dan kedinginan karena kelamaan berenang.
"Masuk gantian, terus temui mas di gazebo itu." Carissa mengangguk patuh, gadis itu segera masuk ke dalam vila.
Aaron menatap kepergian istrinya dengan hati yang berdebar, pikirannya selalu tidak waras jika berdekatan dengan istrinya akhir-akhir ini. Carissa kembali sesuai permintaan Aaron, Carissa duduk disamping suaminya. Aaron mengambil alih handuk dari tangan istrinya, kemudian menggantikan Carissa mengeringkan rambut Carissa menggunakan handuk. Carissa senang dengan Aaron yang sangat perhatian padanya seperti ini.
"Mas, enak ya kalau liburan di tempat seperti ini. Carissa merasa senang dan tenang." Aaron mengangguk, sambil terus mengeringkan rambut Carissa.
"Iya sayang, itulah kalau mas banyak masalah mas sering kesini." Carissa mengangguk kemudian matanya menyipit, menatap tajam suaminya.
"Berarti mas sekarang banyak masalah? Mas cerita dong ke Carissa." Carissa menatap suaminya cemberut. Aaron melepaskan pekerjaannya di rambut istrinya ketika merasakan rambut Carissa mulai kering. Aaron mencium kilat bibir istrinya yang cemberut.
"Sayang, mas akan cerita kalau masalahnya tidak berat, kalau berat nanti mengganggu kamu." Carissa mengangguk saja, mungkin suaminya butuh waktu untuk cerita padanya.
"Mas makasih yah sudah baik sama Carissa." Carissa meminum jus yang dibuat suaminya.
"Sama-sama sayang, istri kan harus diperlakukan dengan baik." Aaron tersenyum sambil sesekali mengelus rambut istrinya.
"Carissa tidak tahu bagaimana cara untuk membalas semua kebaikan mas." Aaron tertawa, kemudian pria itu mengerling menggoda menatap istrinya.
"Kamu jadi istri dan ibu yang Sholeh saja buat anak-anak mas, itu cukup kok." Carissa memerah seluruh badan, Aaron tertawa melihat istrinya yang memerah.
"Mas ihhhh." Carissa meninggalkan Aaron, yang ditinggalkan tertawa dan meraih handphone istrinya menyusul ke dalam vila.
Aaron menggelengkan kepala istrinya itu terlalu pemalu terhadap dirinya, sepertinya masih akan lama untuk memiliki anak dari gadis itu.
__ADS_1
Aaron tersenyum memikirkan seperti apa wajah anak mereka nanti. Carissa yang kesal langsung ke dapur, gadis itu sengaja mengunci pintu agar Aaron tidak segera masuk ke dalam situ. Carissa tersenyum melihat masih banyak makanan siang tadi yang hanya perlu dipanaskan. Carissa mendengar gedoran pintu yang dilakukan Aaron, gadis itu mengabaikannya masih malas untuk bertemu dengan Aaron.
Aaron yang diabaikan istrinya, naik ke kamarnya untuk menunggu waktu Magrib. Setelah selesai dengan masakan yang dipanaskannya Carissa naik ke kamar atas.
Aaron masih mengaji, ternyata enak juga suara suaminya. Carissa merasa kecewa pada dirinya yang tidak bisa mengaji dengan suara seindah suaminya. Carissa berjalan pelan-pelan naik ke atas ranjang, gadis itu meraih handphonenya yang ada di atas nakas. Carissa tersenyum melihat walpaper handphonenya, ternyata suaminya itu tampan sekali. Aaron yang selesai mengaji menghampiri istrinya, pria itu mengulurkan tangannya. Carissa mencium tangan suaminya, Aaron mencium kening istrinya.
Aaron merapatkan tubuhnya pada Carissa.
"Kenapa sih masih malu sama mas, Huem? Mas sudah jadi suami kamu loh." Carissa memeluk suaminya erat.
"Tidak tahu mas, Carissa malu saja sama mas." Aaron tersenyum mendengar Jawaban istrinya. Aaron menarik Carissa ke atas tubuhnya, pria itu menatap istrinya intens. Carissa kembali berdebar ditatap seperti itu oleh suaminya.
"Jadi sudah siap untuk jadi ibu anak-anak mas." Carissa mengangguk, Aaron berbinar-binar.
"Jawab dong, mas tidak dengar." Aaron sengaja menggoda istrinya, Carissa mencubit perut Aaron suaminya ini masih pura-pura tidak dengar atau bagaimana sih.
"Siap mas, tapi mas ingatin Carissa ya. Carissa masih jauh dari kata baik. Carissa hampir saja jadi pelakor di keluarga mas, hiks hiks hiks." Aaron hanya mengelus rambut istrinya, jadi sedih pula istrinya itu.
"Iya dong, kita akan saling mengingatkan. Jangan nangis dong, bukan salah kamu sepenuhnya kok." Carissa masih sesenggukan, Aaron mengelap air mata istrinya. Kemudian mencium pipi istrinya, singkat.
"Iya sayang, mas selalu berusaha untuk tetap disamping kamu. Jangan sebut nama pria lain saat bersama mas!" Aaron menatap istrinya lembut, Carissa kembali memeluk erat Aaron.
"Terimakasih ya mas. Carissa sayang mas." Aaron mengangguk, dia juga menyayangi istrinya itu, sangat malah. Keduanya berpelukan sembari menunggu waktu shalat tiba.
Paginya Aaron dan Carissa segera kembali ke rumah utama, sepanjang jalan Aaron memegang tangan Carissa. Kejadian semalam mengubah semuanya, membuka lagi sekat di antara mereka. Aaron senang Carissa lebih manja padanya, pria itu merasa sangat dibutuhkan oleh istrinya. Bi Sitti menyambut kepulangan tuannya dengan semangat, Aaron tidak melepaskan pelukannya dari Carissa. Carissa kaget saat memasuki ruang makan untuk sarapan gadis itu tidak menemukan keberadaaan Sasha, mau bertanya tidak enak akan merusak suasana pagi ini.
Aaron masih seperti biasa, pria itu masih makan dengan di suapi Carissa. Nadirah hanya menatap dalam diam, dia tidak berani untuk menanyakan apapun. Aaron juga mengundang Aziz pagi ini ada beberapa hal yang ingin dibicarakannya. Usai makan pria itu mengantar istrinya ke kamar utama dan kembali ke ruang kerja.
"Bos, semua klien kita berusaha untuk memutuskan kerja sama, apakah kita masih dengan plan yang dulu?" Aaron terlihat menimbang-nimbang kamufian mengangguk.
"Ya masih dengan plan lama. Bagaimana dengan papa?" Aziz menghela napas.
"Tuan besar mulai bangkit perusahaannya mulai stabil, kita juga sudah berhenti menghancurkannya." Aaron teringat sesuatu, pria itu menyeringai.
"Lalu siapa yang masih bermain-main dengan papah?" Aziz mengangkat bahu, kemudian berjalan disamping bosnya itu.
"Sepertinya masih orang yang sama dengan yang waktu itu. Ketika kami selidiki menjadi bercabang-cabang, belum ketahuan siapa pelaku aslinya." Aaron tersenyum, kemudian menatap Aziz tertarik.
__ADS_1
"Bagaimana dengan yang mengganggu Carissa?" Aziz terlihat khawatir.
"Ambil langkah yang lebih serius, Carissa sudah mendapatkan teror dan sepertinya sebentar lagi mereka akan datang menemui Carissa secara langsung. Aku menambahkan banyak pengawal untuk nyonya Carissa" Aziz tersenyum menatap Aaron.
"Langkah yang bagus, bagaimana dengan rencana baru kita?" Aaron terlihat lebih semangat yang disambut kekehan oleh Aziz.
"Baru 20% siap, karena banyak orang-orang yang menggelapkan dana mulai terdeteksi" Aziz menyeringai, Aaron tersenyum sangat manis. Aaron kemudian duduk di kursinya dan menyesap minumannya.
"Aziz, awasi semuanya termaksud pergerakan sasha!" Aziz mengangguk dan ikut bergabung menyesap minuman yang ada di depannya.
"Ziz, aku ke atas dulu kalau mau pulang silahkan pulang atau lo bisa duduk-duduk disini" Aziz mengangguk matanya mengikuti pergerakan Aaron yang berlalu.
Aziz memejamkan matanya, sudah berapa hari dia kehilangan waktu istirahat.
Aaron menyeringai melihat istrinya yang habis mandi, gadis itu semakin menggiurkan dimatanya. Aaron berjalan perlahan dan segera memeluk istrinya. Carissa terpekik dibuatnya, gadis itu melepaskan pelukan Aaron, Aaron malah makin mengeratkan pelukannya.
"Mas, Carissa mau nyisir rambut. Jangan dipeluk" Carissa menggerutu pelan.
"Rambutnya disisir saja, toh mas tidak mengganggu kamu sayang" Aaron bersuara di telinga Carissa kemudian sesekali mencium telinga dan leher Carissa.
"Mas, geli tahu! Carissa tidak bisa konsentrasi." Aaron masih tetap dengan pekerjaannya menciumi leher Carissa tanpa menghiraukan gadis itu.
"Mas! Geli ishhh." Aaron tidak peduli, diangkatnya tubuh Carissa dan diletakkan di atas ranjang. Aaron melanjutkan cumbuannya dan mulai melepaskan semua pakaiannya. Merasa tak tahan lagi, Aaron menatap Carissa penuh permohonan. Carissa menatap Aaron sedikit ragu kemudian menganggukkan kepalanya. Aaron tersenyum kemudian menghujani istrinya dengan ciuman. Aaron komat-kamit mengucapkan sesuatu kemudian menyatukan tubuh mereka. Sorenya Aaron bangun lebih dulu, Aaron tersenyum melihat istrinya yang tertidur kelelahan. Ranjangnya mereka seperti kapal pecah, selimut tampak kusut dan ada noda darah yang menempel di atas seprai. Aaron memungut baju-baju mereka yang berhamburan kemudian memasukkannya ke dalam keranjang kotor.
Makin membucah perasaan sayang dihati Aaron untuk istrinya, benar dia dipertemukan dengan orang yang sama-sama baik. Aaron kembali duduk di ranjang dan mencium kening istrinya lama. Carissa menggerutu tidak jelas dalam tidurnya, Aaron hanya terkikik geli.
Melihat istrinya yang masih nyenyak Aaron mengirimkan pesan pada bi Sitti untuk mengantarkan makan malam ke kamar mereka. Pria itu segera masuk untuk membersihkan dirinya.
Carissa bangun sudah waktunya magrib, gadis itu menoleh melihat yang sudah rapi dengan bajuh kokoh membelakanginya.
"Mas, haus." Aaron segera menoleh mendengar suara istrinya, Aaron melangkah mendekati Carissa. Pria itu mengambilkan minuman yang ada di meja dan diberikan pada Carissa yang masih berada di atas ranjang.
"Masih sakit?" Aaron merapikan rambut Carissa yang kusut dengan jarinya. Carissa mengangguk. Carissa minum dengan rakus.
"Terimakasih mas." Carissa memberikan gelasnya pada Aaron. Carissa mencoba berdiri, tapi Carissa masih terlihat kesusahan.
"Mau dibantuin?" Aaron kasihan melihat Carissa yang kesusahan. Carissa mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Aaron. Aaron segera mengangkat Carissa dan membawanya ke dalam kamar mandi. Aaron mulai lagi mengecup tengkuk Carissa sebelum akhirnya Aaron keluar karena di usir dengan galak oleh Carissa.
__ADS_1