Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Tanya Jawab


__ADS_3

Malamnya Aaron pulang lebih larut dari biasanya, pria itu mengerutkan alisnya ketika memasuki kamarnya lampunya belum juga dimatikan. Carissa tersenyum melihat kedatangan suaminya, Aaron menerka sepertinya Carissa menunggu kepulangannya. Semoga tidak ada masalah yang sangat serius.


"Kenapa sih belum tidur?" Aaron melepaskan tas dan jasnya ke sembarang arah, pria ini sangat lelah karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


"Carissa mau bicara mas." Carissa turun dari ranjang dan merapikan barang-barang yang di lempar sembarangan arah oleh suaminya. Aaron masuk untuk membersihkan diri dan kembali bergabung bersama istrinya setelah selesai.


"Jadi apa yang mau kamu bicarakan, Hem?" Aaron membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Tentang banyak hal, tentang mas juga!"


Aaron mengangguk kemudian kembali mendaratkan kecupan-kecupan ringan pada istrinya. Risih juga Carissa dibuatnya, Carissa segera menjauhkan diri dari suaminya. Aaron tidak berpindah sedikitpun, Carissa menatap suaminya galak.


"Tidak ada cium-ciuman! Carissa serius, demi keselamatan Carissa dan mungkin mas juga." Aaron mengangguk, tetapi masih menyempatkan diri mencuri ciuman dari Carissa kemudian memasang ekspresi serius seperti siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Carissa.


" Oke, mas sudah siap untuk menjawab pertanyaan kamu." Carissa mengangguk kemudian gadis itu mengeluarkan pikirab-pikiran yang mengganggunya sejak kemarin.


"Mas sejak kapan main senjata-senjataan?" Aaron bernapas lega, pertanyaan gampang.


"Sejak mas belajar bisnis, mas menggunakan ini hanya untuk melindungi diri mas. Apalagi papa kan punya banyak musuh sejak dulu, kadang-kadang mereka juga mengincar aku walaupun hubungan aku dan papa tidak begitu baik sih." Carissa mengangguk, Carissa mengigit bibir.


"Mas, memang hanya melindungi dirikan? Tidak membunuh orang sembarangan kan?" Aaron tertawa, melihat Carissa yang tampak waspada.


"Tidak dong sayang, sekarang mas boleh gantian bertanya?" Carissa mengernyit, apa yang akan ditanyakan suaminya.


"Kamu benaran jatuh miskin setelah orang tua kamu meninggal?" Carissa mengangguk.


"Iya mas, syukurnya Carissa punya tabungan karena uang jajan Carissa tabung tidak gunakan untuk bersenang-senang." Aaron tertawa dengan kesyukuran Carissa itu.

__ADS_1


"Menurut kamu, ketika orang tua kamu meninggal siapa yang paling senang dikeluarga kamu?" Carissa mengingat-ingat, orang tuanya tidak memiliki keluarga yang banyak. Opa dan Oma ya sudah meninggal sejak lama baik dari sebelah ayah ataupun ibunya. Ayah dan ibunya anak tunggal, ibunya mempunyai saudara angkat. Carissa menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Aaron, pamannya pun sama terpukulnya dengan dia saat mengetahui kematian orang tua Carissa.


"Tidak ada mas, kalaupun ada itu bukan keluarga aku, itu musuh papa. Tapi aku juga tidak yakin, papa tidak punya musuh seingat aku." Aaron manggut-manggut kemudian merapatkan lagi tubuhnya pada istrinya.


"Bagaimana dengan wasiat atau harta peninggalan orang tua kamu?" Carissa berpikir, ayah dan ibunya kecelakaan tabrakan dengan truk. Sebelumnya tidak ada pesan apapun yang menunjukkan itu wasiat.


"Sepertinya tidak ada mas, harta peninggalan pun tidak ada, rumah di sita oleh bank sedangkan perusahaan atau yang lainnya aku tidak tahu, aku juga tidak mengerti apa-apa tentang perusahaan." Carissa menyesal sampai sekarang karena tidak pernah mencari tahu tentang perusahaan orang tuanya.


"Bagaimana dengan pamanmu?" Carissa menggeleng, pamamnya keluarga susah.


"Paman juga hidupnya sangat susah, itulah sebabnya Carissa merantau." Carissa menatap tajam Aaron pria itu mencuri ciuman setelah Carissa selesai berbicara. Aaron hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, Aaron gemas melihat bibir istrinya yang bergerak-gerak.


" Ada tidak relasi bisnis ayahmu yang kamu kenal atau mungkin yang sering ayahmu ceritakan, rivalnya mungkin?" Carissa menggeleng cepat. Ayahnya tipe pria yang tidak membicarakan pekerjaan ketika sampai di rumah, pria itu akan selalu bertanya tentang keseharian yang terjadi pada Carissa. Mungkin mereka membicarakan tentang pekerjaan hanya bersama ibu Carissa.


" Ayah tidak pernah bercerita tentang pekerjaannya pada Carissa, atau hal apapun. Mungkin ayah hanya bercerita pada ibu" Aaron mengernyit sedikit aneh keluarga Carissa.


"Apa yang kamu ingat tentang teman-teman ayahmu Carissa?" Carissa menerawang tentang orang-orang yang datang kerumahnya.


"Mereka datang hanya untuk minta tolong, Carissa tidak pernah berinteraksi langsung dengan mereka. Ayah selalu mengatakan teman-teman ayah datang untuk meminta pertolongan" Aaron mengangguk saja, Carissa sedikit rumit hidupnya.


" Apakah orang-orang tahu, jika kamu adalah putri seorang pengusaha?" Carissa mengangkat bahu tidak mungkin orang lain tahu, terkecuali Arlan.


"Hanya Arlan, karena dia tetangga aku saat SMA" Carissa menatap was-was pada Aaron, kemudian matanya melirik Aaron dengan penuh kecurigaan.


" Mas, tidak niat membunuh Arlan atau memisahkan aku dan Arlan kan?" Mendengar pertanyaan Carissa, Aaron menatap Carissa menyelidik, ada yang menarik di sini.


" Arlan kan cuma teman kamu! ngapain sampai berpikir sejauh itu?" Carissa menimbang-nimbang tapi akhirnya mengatakan sesuatu yang membuat Aaron sangat terkejut.

__ADS_1


"Arlan menemuiku dan melarang aku untuk berkomunikasi duluan dengannya, aku kira mas yang mengancamnya." Aaron menggeleng, walaupun kepikiran untuk mengancam Arlan, Aaron tidak akan melakukan itu karena dirinya percaya pada Carissa.


"Arlan seperti menahan kesakitan saat menemuiku sepertinya ada yang disembunyikan dariku." Arlan menatap Carissa kemudian kembali menarik Carissa ke dalam pelukannya.


"Kasih dia waktu, pasti ada alasan untuk melakukan itu semua sayang. Nanti dia akan cerita sama kamu kok, kamu tunggu saja." Carissa tersenyum, ia juga pasti ada alasan untuk semua yang dilakukan Arlan.


"Sayang, bagaimana dengan yang akan kamu temui itu?" Carissa tersenyum mengingat kembali orang itu.


" Kami bertemu saat pemakaman, dia memberikanku nomor handphone, aku menyuruhnya untuk menghubungi emailku, dia pasti tahu semua tentang aku."


Aaron menggelengkan kepala, jangan sampai itu musuh yang berlagak baik padanya, kenapa gadis ini tidak berpikir.


" Sayang kamu polos banget, bisa jadi dia itu musuh ayah kamu." Carissa terbelalak, kemudian menjadi ragu-ragu.


" Tapi itu tidak mungkin mas, saat pemakaman ayah. Hanya aku dan orang itu yang hadir bersama paman, tapi orang itu melarang aku bercerita pada paman tentang nomor yang diberikannya itu." Aaron menghembuskan napas, ia harus menunggu setelah Carissa bertemu orang itu untuk memastikan apakah orang itu benar-benar membantu.


"Tidak ada rekan bisnis sama sekali?" Carissa mengangguk mantap, Aaron terdiam kemudian tertarik menatap Carissa.


" Apakah ayahmu sangat kaya raya?" Carissa mengangguk cepat, orang tuanya memang sangat kaya raya, itulah sebabnya Carissa tidak bisa melakukan pekerjaan kasar dengan benar, Carissa di besarkan dengan banyak pelayan yang menyediakan kebutuhan-kebutuhannya.


"Sayang, mas butuh energi nih, setelah dikantor banyak pekerjaan setelah mendengar cerita kamu." Aaron mulai melakukan gerakan-gerakan nakal menggoda istrinya.


"Mas, Carissa temanin makan di bawah" Carissa menutup wajahnya malu, kenapa jadi mendesah sih.


"Tidak perlu sayang, mas mau makan kamu saja. Kamu siap kan? Aaron menatap intens istrinya, Carissa hanya mengangguk muka Carissa memerah mengalahkan kepiting rebus." Aaron tertawa kemudian mencumbui istrinya dengan mesra.


Aziz menggerutu menghubungi bosnya, yang tidak mengangkat panggilannya, Aziz menggantikan Aaron pada pertemuan-pertemuan penting. Sekali ini saja dia membantu bosnya itu bidiknya dalam hati.

__ADS_1


Di rumah Bi Sitti mengarahkan para pelayan untuk menyiapkan makanan yang menjadi sarapan, walaupun nyonya dan tuan muda tidak ikut makan setidaknya masih ada Nadirah yang akan sarapan. Nadirah yang sarapan sendirian ingin mempertanyakan ketidak hadiran abangnya beserta iparnya, tapi Nadirah rasa itu tidak sopan. Bi Sitti melarang para pelayan untuk membangunkan nyonya dan tuan muda, Bi Sitti pernah muda untuk memahami apa yang terjadi, lagi pula Aaron akan menghubungi dirinya jika membutuhkan sarapan. Jadi tidak perlu membangunkan mereka.


__ADS_2