
Keesokan paginya setelah Carissa mandi, gadis itu tersenyum melihat memar-memar dibadannya sudah memudar. Tuan Muda Aaron sepertinya sudah pergi ke kantor karena sudah tak terlihat lagi di kamar ini. Selesai berpakaian, Carissa memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar taman milik suaminya.
Banyak daun-daun bunga yang berguguran, Carissa terpikir untuk menyapu, biar ada aktivitas yang dilakukannya. Walaupun tadi pagi, dirinya telah dilarang untuk melakukan apapun oleh Tuan Aaron, Carissa tidak peduli. Gadis itu celingak-celinguk mengamati sekitarnya, memastikan tidak ada yang melihatnya menyapu. Takut juga bila nanti dilaporkan pada suaminya. Carissa menyapu dengan senang karena keringatnya keluar, lumayanlah untuk membakar kalori pikirnya.
Capek membersihkan daun-daun yang tadi berguguran, gadis itu beristirahat sebentar kemudian masuk ke dalam rumah. Carissa langsung melangkah ke dapur mengambil minum. Tidak ada siapapun mungkin para pelayan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Saat kembali ke ruang keluarga, Carissa dikagetkan oleh penampakan seorang gadis yang ada dalam rumah ini, gadis itu terlihat seperti orang yang mau liburan. Tangannya menyeret koper, dan tampilannya seperti artis-artis yang sering Carissa lihat di televisi. Melihat Carissa datang, pelayan yang tadi menyambut Sasha undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Sasha celingak-celinguk untuk mencari keberadan istri aaron, apa istri aaron juga orang yang sibuk sehingga tidak kelihatan gerutu sasha dalam hati. Sasha melihat Carissa dengan pandangan menilai, lumayan juga pembantu Aaron yang ini, cantik sih iya, tetapi penampilannya sedikit kampungan. Sasha terkikik geli dalam hati, apalagi pembantu itu menatapnya tak berkedip sedikitpun.
"Hai, kamu!" Carissa menatap gadis itu dan mengarahkan telunjuknya pada dirinya sendiri, biar lebih jelas apa memang dirinya yang dipanggil gadis itu?
"Iya, kamu. Siapa lagi sih yang ada disini?" Sasha memutar matanya, lelet banget sih pembantu baru Aaron ini. Carissa menghembuskan napasnya mendekati gadis dihadapannya. Sasha tersenyum angkuh dan melepaskan kopernya.
"Pegangin koper gue yah, antarin ke kamar tamu," bukan hanya koper sasha juga melemparkan jaket tebal miliknya, sasha terkesiap menerimanya. Sasha berjalan lebih dulu meninggalkan carissa, gadis itu berjalan seperti tuan rumah dan Carissa seperti pelayan yang mengikuti majikannya.
Sampai di kamar tamu, Carissa meletakkan koper tersebut di dekat meja rias, Carissa lalu mengamati dekorasi kamar tamu ini. Sasha yang melihat Carissa mengamati kamar ini seperti orang bodoh, menjadi sedikit jengkel dengan perilaku pembantu yang kampungan ini. seharusnya gadis itu langsung keluar dari kamar ini, Ngapain, sih? Pakai lihat-lihat kamar ini lagi, dasar tidak sopan. Sasha langsung berdiri dan menarik lengan Carissa menyeretnya keluar dari kamar ini.
"Dasar kampungan kamu, sana keluar. Hush!" Carissa terhuyung ke depan.
“Blam!” pintu dibanting dengan sangat keras oleh sasha.
Carissa menatap pintu di depannya dengan aneh.carissa menarik napas untuk menormalkan emosinya. Setelah agak membaik Carissa berjalan ke dapur, Carissa mengambil air minum dan menghabiskannya dengan sekali teguk. Bi sitti memerhatikan majikannya ini yang sepertinya sangat lelah.
"Bi, boleh Carissa tanya?" Bi Sitti mengangguk, Carissa memelankan suaranya, sambil celingak-celinguk-celinguk takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
" Silahkan, nyonya," bi Sitti tersenyum manis pada istri tuan mudanya ini.
"Panggil Carissa saja bi, biar lebih enak. Tuan muda Aaron punya kekasih ya?” Carissa bertanya sambil tersenyum dan duduk di meja yang ada di dapur itu.
"Setahu bibi sih, tidak ada Carissa. Memang ada apa kamu bertanya seperti itu?" carissa menggaruk-garuk kepalanya lalu mengusap tengkuknya.
" Ada seseorang yang datang, orang itu sekarang berada di kamar tamu. Carissa kira itu kekasih Tuan Muda, karena sepertinya dia sudah sering ke rumah ini.” Carissa tertawa garing, bi Sitti menimpali dengan senyuman.
“Oh itu mungkin nona sasha, itu adik sepupu tuan aaron.” Carissa manggut-manggut.
"Terimakasih informasinya ya, Bi." Bi Sitti tersenyum dan mengiyakan. Carissa kemudian naik ke kamarnya untuk belajar dan agar tidak bertemu dengan sepupu aaron yang terlihat jutek pada dirinya.
****
Aaron meneguk rakus air putih dihadapannya, hari ini dirinya telah melewati meeting yang melelahkan. Terdengar ketukan dari pintu di ruang kerjanya. Aaron langsung membuka pintu ruang kerjanya menggunakan remot. Aziz masuk menghampirinya, wajah asistennya itu terlihat sedikit cemas. Aaron mengerutkan alis menatap aziz.
__ADS_1
"Ada apa, Ziz?" Aziz menghela napasnya, pria itu duduk di depan aaron.
"Nona Sasha sekarang ada dirumah anda, Tuan!" Aaron mengangguk, ekspresi pria itu datar, tidak terbaca.
"Awasi terus pergerakan gadis itu! Kamu tahukan Sasha itu tidak akan datang kerumah kalau tidak punya misi tertentu" Aaron mengetukkan jarinya pada meja, keningnya berkerut mengingat berbagai kenekatan Sasha dimasa lalu. Aaron tahu kalau sasha sangat mengagumi dirinya sejak mereka remaja.
"Selidiki, apakah papa ada kaitannya dengan semua in?!". Aziz mengangguk mantap itu pasti akan dilakukan untuk melindungi tuan mudanya ini.
"Nona Sasha dari dulu sangat sungguh-sungguh mengejar anda bos! Mengapa bos tidak menikah saja dengan nona Sasha?" Aaron minum seteguk, kemudian mengarahkan matanya menatap Aziz cukup serius.
" Menurut aku, menikah itu sama dengan menentukan sosok seperti apa yang akan mendidik anak-anaku nanti. Jadi menurut aku, Sasha kurang hanya tepat untuk menjadi istriku." Pria itu menerawang, Aziz manggut-manggut dengan jawaban bosnya ini.
" Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya bos?, Tuan Besar pasti tidak akan diam, Nadirah juga tidak akan diam."
Aaron menghela napasnya, situasinya menjadi sulit karena kesalahpahaman Nadirah justru memperkeruh suasana.
" Awasi saja semua pergerakan yang mencurigakan, baik dari orang yang baru atau orang-orang yang telah lama bersama kita." Aziz mengangguk, pria itu kemudian pamit meninggalkan Aaron sendirian. aaron memejamkan matanya, semoga semua berlalu dengan baik. Aaron meremas rambutnya pasti tidak akan mudah hidupnya setelah ini, setelah keputusannya menikah.
****
Saat makan malam, Sasha kembali membuat keributan. Gadis itu membuat para pelayan repot karena semua makanan yang disediakan di meja makan tidak ada yang pas menurut seleranya.
Kalau bukan karena Sasha adalah adik sepupu Tuan Aaron, tidak Sudi mereka diperintah-perintah seperti ini. Toh, selama ini Aaron tidak pernah protes dengan masakan mereka. Bi sitti kembali was-was melihat shasha yang mulai mencicipi lebih dulu masakan yang disajikan.
Sasha mencicipi ayam percik yang tersaji di depannya.Sasha menggigitnya sambil berpikir. Bibi Sitti hanya menghela napas entah apa lagi yang tidak kena menurut gadis itu.
"Bi, ini ayamnya tidak empuk. Pasti ayang Aaron tidak suka, masak yang baru lagi sampai benar-benar lunak dagingnya". Bibi Sitti menganggukkan kepalanya lagi, semua makanan malam yang mereka sajikan malam ini tampaknya salah.Bukan hanya sup dan ayam percik, bakso, capcay semua menjadi tidak kena. Untungnya buah tidak dimasak terlebih dahulu, kalau buah harus dimasak mungkin buah pun harus dimasak ulang untuk malam ini.
Carissa turun terlambat untuk makan malam, Carissa segera mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Sasha. Sasha mendengus kesal, kok pembantu duduk satu meja sih dengan dirinya. Ngomong-ngomong sejak tadi dirinya tidak melihat istri Aaron. Wah, kesempatan nih untuk memberikan pelajaran pada pembantu yang tidak tahu malu ini.
" Kamu berdiri, sejak kapan pembantu makan semeja dengan majikan? Ihhhhhhh, najis deh!!" Sasha menatap Carissa dengan tidak suka. Carissa yang malas ribut segera berdiri disamping meja makan.
Aaron sampai lebih cepat di rumahnya malam ini, pria itu memutuskan untuk makan malam dirumahnya. Aaron memberikan jas dan tas kerjanya pada pelayan yang menyambutnya, pria itu langsung berjalan ke ruang makan. Aaron terbelalak melihat istrinya yang berdiri disamping meja makan, dan Sasha duduk dengan manis di meja makan sembari memainkan ponselnya. Aaron mengernyit heran melihat makanan yang belum siap di meja, tidak biasanya para pelayan telat menyajikan makanan.
" Kamu kenapa sih berdiri disini, sana duduk." Carissa menggeleng, tidak enak mau mengatakan kalau dirinya di suruh berdiri disitu oleh Sasha.
“ Aku disini saja tuan,” Carissa menundukkan kepalanya.
Aaron yang mendenagrnya menjadi gemas, gadis ini lupa tau bagaimanan sih kalau dirinya istri seorang Aaron Ashraf. Aaron langsung menarik tangan istrinya kemudian duduk di hadapan Sasha. Sasha kaget melihat Aaron sudah ada di depannya, gadis itu terlalu serius dengan handphonenya.
__ADS_1
" Ayang Aaron sudah pulang, Sasha kangen tahu.” Gadis itu tersenyum genit pada Aaron. Aaron menatap sasha tajam. Carissa ngeri melihat tingkah gadis ini, sepertinya gadis ini menaruh hati pada Aaron.
" Jangan genit, istriku pencemburu orangnya!" Sasha tersenyum kelat kemudian tertawa terbahak-bahak, sejak pertama datang di rumah ini dia tidak melihat keberadaan istri Abang sepupunya.
" Ayang Aaron ada-ada saja deh, sasha sejak tadi tidak meliht istri anagn Aaron. Terus ngapain abang aaron mengizinkn pembantu baru itu semeja dengan kita?" Sasha menatap jijik pada Carissa. Dasar orang kampung tidak tahu malu, ihhhhhhh kalau dirumahnya pembantu ini sudah dipecatnya.
"Sasha jaga bicara kamu! Ini bukan pembantu baru, ini istriku, Carissa!" Aaron menatap tajam adik sepupunya itu, agar sasha tidak semakin melunjak dan menghina istrinya. Sasha yang ingin bicara lagi tertahan karena para pelayan sudah mengantarkan makanan ke meja makan.
"Bi, kenapa makan malamnya terlambat?" Aaron menatap serius bibi Sitti, kepala pelayan itu menunduk dan terlihat ragu-ragu untuk berbicara.
" Ehm, ehm itu anu tuan." Bibi Sitti susah mau membohongi tuannya, tapi juga tidak enak mau mengatakan kebenarannya.
"Aaron akan tahu tanpa bibi jelaskan. Tapi sekarang Aaron mau mendengar langsung dari bibi kebenarannya!" Aaron bersuara tegas. Biar tidak terulang lagi kejadian seperti ini.
" Kami memasak ulang, karena kata nona Sasha masakan kami tidak sesuai selera anda tuan." Aaron mendengus kesal dan menatap tajam Sasha. Sasha hanya memasang wajah bersalahnya dan membuat muka kasihan. Sayangnya, tidak mampu untuk membuat aaron luluh.
" Sekali lagi, perintah yang diikuti hanya perintah saya dan istri saya. Dicatat! baru semalam diingatkan kalian sudah lupa." Aaron bersuara dengan nada geram. Bi sitti mengangguk paham, Sasha terbelalak, kok Abang sepupunya ini seperti ini sekarang. Dulu juga Sasha tidak pernah dimarahi kalau merepotkan para pelayan, pasti ini terjadi gara-gara gadis kampungan itu. Huh, menyebalkan!
" Paham tuan, maafkan kesalahan kami". Aaron mengangguk, bi sitti diikuti para pelayan menjauh dari meja makan.
Aaron memberikan piringnya pada Carissa, Carissa segera menyendokan nasi dan mengambilkan capcay. Sasha yang sakit hati dengan Carissa, ikut mengambilkan makanan untuk Aaron. Gadis itu menaruh ayam percik kedalam piring Aaron, dan juga menyendokan sup untuk Aaron. Tanpa memedulikan sasha, Carissa kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Aaron tidak menyentuh makanan di depannya. Sasha menggerutu kesal melihat aaron yan tidak menyentuh makanan yang diambilnya.
"Ayang Aaron, Sasha minta maaf deh sudah tidak sopan, Sasha dimaafkan kan?" Aaron hanya mengangguk, Sasha mendengus kesal, dijawab kek masa masih didiamin.
"Senyum dong kalau Sasha dimaafin, hehehe." Gadis itu bersuara lebih manja, Carissa geli mendengarnya.
" Diam kalau kamu mau dimaafin". Aaron bicara tegas tanpa menoleh pada Sasha.
Sasha mengatupkan mulutnya, tangannya mengambil makan untuk dirinya sendiri. Melihat Carissa yang hendak makan, Aaron menghadap pada gadis itu. Carissa seakan bertanya ada apa pada suaminya itu.
"Suap". Carissa mengangguk dan mengambil sendok kemudian mengambil nasi dan lauk dari piring pria tersebut. Aaron yang melihat itu, menghentikan gerakan gadis itu.
"Makanan kamu saja, tidak perlu pakai sendok pakai tangan saja". Aaron tersenyum lembut pada istrinya, Sasha melebarkan matanya. Kok, Aaron jadi begini sih.
Apa dia menyerah saja ya? Tapi kan cinta butuh perjuangan, jadi sasha akan berjuang. Kalau dia menyerah sekarang yang ada malah Carissa akan kegirangan, dan sasha tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Carissa akur menyuapi suaminya dengan tangan, Carissa tidak memasukkan sesuap makanan pun dalam mulutnya.
Carissa menyuapi suaminya dengan telaten, Aaron jadi kasihan melihat istrinya yang hanya menyuapi dirinya. Pria itu kemudian berinisiatif untuk melakukan hal yang sama, pria itu menyuapkan makanan pada istrinya. Carissa menggeleng, tetapi Aaron mengatakan dirinya akan sangat merasa bersalah jika Carissa tidak menerima suapan darinya. Carissa akur menerima suapan Aaron setelah mendengar alasan suaminya itu. Sasha yang melihat semua itu menggerutu kesal apalagi keduanya seakan melupakan kehadirannya dimeja makan.
Hati sasha memanas melihat pasangan ini yang masih asyik suap-suapan. Sembari menyuapi istrinya pria itu juga menanyakan hal-hal yang sudah dilakukan gadis itu seharian ini. Carissa menceritakan semuanya dengan sangat rinci, terkeculi tentang dirinya yang menyapu di taman. Aaron tertawa, dirinya tahu kalau istrinya itu mengerjakan pekerjaan pelayan hari ini. Tetapi, malam ini pria itu tidak mempermasalahkan hal itu, karena moodnya sedang baik.
__ADS_1
Sasha yang cemburu dan kepanasan memilih pergi dari meja makan, pasangan itu benar-benar tidak menganggap keberadaannya. Dirinya tidak diberikan ruang untuk masuk dalam perbincangan mereka. Cinta butuh perjuangan, Sasha akan berjuang untuk mendapatkan cintanya, gadis itu menyemangati dirinya agar api kekesalan dan kecemburuan yang ada dalam hatinya padam.