
Hari ini Carissa menemani Aaron ke kondangan teman SMA nya, Carissa merasa tidak nyaman dilihat dengan intens oleh orang-orang yang dilewatinya. Carissa mengeluarkan ponselnya memeriksa dandanannya tidak ada yang aneh kok, Carissa juga melirik tubuhnya tidak ada yang salah. Baju yang dikenakannya adalah kebaya yang warnanya senada dengan Aaron.
"Mas, aku kelihatan aneh ya?" Aaron ikut menilik penampilan istrinya. Pria itu menggeleng, tidak ada yang terlihat aneh dari penampilan Carissa.
"Tidak ada yang aneh kok. Kamu kelihatan makin cantik malah." Carissa tersipu malu dan menunduk, wajahnya terasa panas.
"Cie, blusing." Aaron tertawa melihat istrinya yang malah mencubit lengannya.
"Aku pakai blush on, bukan blusing." Carissa menjulurkan lidahnya.
"Kok jadi jelek sih?" Carissa memukul Aaron.
Keduanya terdiam ketika sudah di depan gedung berlangsungnya resepsi pernikahan. Carissa segera mengikuti Aaron, banyak orang yang menyapa mereka. Aaron dan Carissa ikut mengantri untuk berjabat tangan dengan pengantin. Carissa merasa heran melihat banyak ibu-ibu yang bersorak-sorai ketika Aaron makin dekat dengan pengantin.
Carissa terkejut ketika salaman dengan pengantin wanita, pengantin wanita itu menangis dan memeluk Aaron banyak kamera yang merekam adegan itu. Sepertinya ini adaegan yang ditunggu-tunggu sejak tadi oleh ibu-ibu yang bersorak-sorak. Carissa merasa canggung sendiri, apalagi Aaron juga mengeluarkan air mata. Carissa melongo menyaksikan pemandangan didepannya. Carissa menyingkir karena Aaron juga seakan melupakan keberadaan dirinya, Carissa segera keluar dari gedung itu.
Carissa berjalan sendirian dab berhenti di dekat danau. Carissa menarik napas, ada hubungan apa antara Aaron dan wanita itu. Carissa merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat wanita itu menangis, Carissa menghela napas kemudian mengambil kerikil dan melemparkannya dalam air. Bunyi percikan air yang terkena batu membuat dirinya merasa lebih baik.
"Hai, kamu juga merasa sedih?" Carissa menoleh seorang pemuda yang ditaksir seusianya menegurnya. Pria itu berjalan mendekati Carissa.
"Tidak kok, aku cuma sedikit kesal." Pria itu mengangguk dan duduk disamping Carissa.
"Kamu pacarnya Aaron 'kan?" Carissa mengernyit kemudian menggeleng.
"Kamu kenal Aaron?" Carissa balik bertanya, pria itu mengangguk dan ikut duduk di sisi Carissa. Pria itu juga mulai melempari air danau dengan kerikil.
"Kenal, kami sama-sama mantannya Hania." Pria itu terlihat menerawang.
"Hania? Siapa Hania?" Pria tadi terkekeh melihat Carissa yang Sepertinya kaget dan bingung disaat yang bersamaan.
"Hania itu mempelai wanita yang tadi menangis di pelukan Aaron." Carissa mengangguk, oh jadi namanya Hania.
"Kami sama-sama tidak mendapat restu untuk menikah dengan dia. Aku kira setelah tidak jadi menikah dengan Aaron, aku akan mendapatkan kesempatan. Tetapi ternyata tidak sama sekali." Carissa menggerakkan bibirnya karena mulai tertarik.
"Memang apa sih masalahnya sampai kamu tidak menikah dengan dia?" Pria itu meremas rambutnya.
__ADS_1
"Ayahnya rivalnya ayahku. Sekarang Hania menikah dengan pilihan ayahnya." Carissa tertawa mendengarnya.
"Jadi lo lagi patah hati ceritanya? Gue ikut sedih." Pria itu menoleh pada Carissa.
"Begitulah, tapi bagaimanapun aku juga harus bangkit kan?" Carissa mengangguk.
"Kamu pulanglah, karena nanti kalau kamu dilihat orang disini duduk dengan aku pasti akan jadi gunjingan." Carissa mengangguk, tanpa perlu diberi tahu pun Carissa juga sudah tahu jika dikampung ini hobi warganya adalah menggunjing. Carissa pulang setelah pamit pada pria itu.
Carissa sampai di rumah Oma, dirinya tidak menangkap keberadaan Aaron. Sasha yang melihat Carissa seperti mencari sesuatu segera menghampirinya.
"Cie tahu rasa, lo pasti diabaikan Abang Aaron kan? Makanya itu karma karena lo belagu sama gue." Sasha menatap Carissa remeh.
"Masa belagu sama orang belagu karma. Bodoh banget lo jadi orang." Carissa balas tersenyum remeh pada Sasha. Sasha langsung naik pitam, berani sekali Carissa pada dirinya.
"Lo jangan songong deh, lo disini bukan siapa-siapa jadi jaga omongan lo." Carissa menatap Sasha yang merah padam wajahnya.
"Kamu yang jual jadi aku belilah." Carissa menjawab dengan santai kemudian meninggalkan Sasha. Sasha melepas sepatunya dan berancang-ancang untuk melempar Carissa. Tangan Sasha melayang di udara, Sasha berbalik untuk melihat siapa yang menahan tangannya.
"Lo jangan berani-berani menyakiti istri gue, kalau lo tidak mau jari-jari cantik lo ini hilang semuanya." Aaron menyeringai tajam pada Sasha. Sasha menatap Aron ketakutan, bodoh banget sih aku. Ini semua gara-gara Carissa. Ada batu ada talas ada waktu aku balas. Sasha menyentak tangannya kemudian segera pergi dari hadapan Aaron.
Aaron menghembuskan napas dan masuk ke dalam kamarnya. Carissa terlihat sibuk menghapus make up-nya.
"Tanya Sasha saja deh, aku malas cerita." Carissa berdiri ingin keluar dari kamar ini.
"Kamu mau kemana sih? Aku belum selesai ngomong loh." Carissa memutar badannya menghadap Aaron.
"Tetserah mas deh, malas aku." Aaron menghela nafas dirinya tidak tahu apa yang salah dengan Carissa.
"Kamu marah sama mas?" Carissa mencebik pakai acara tanya-tanya lagi. Masa Aaron tidak sadar diri, Carissa makin dongkol.
" Pikir saja sendiri, aku marah atau tidak." Carissa segera pergi dengan membanting pintu. Aaron menahan diri, mungkin Carissa lagi datang bulan sekarang.
Carissa turun kebawah, di jalan dia kembali berpapasan dengan Sasha. Sasha tersenyum melihat Carissa yang sepertinya sedang marah. Ini kesempatan untuk menyiramkan bensin secara langsung.
"Carissa, gue mungkin pernah jahat ke lo. Tidak pernah baik ke lo, tapi asal lo tahu Aaron tidak sepolos itu. Kamu wanita kesekian diantara semua wanitanya." Carissa menahan penumbuknya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk sampah yang kamu ucapkan." Carissa mendesis tajam.
"Coba sesekali lo berpikir Carissa, mana ada pria yang sungguh-sungguh menikah dalam waktu cepat? Mana ada pria yang benar-benar tulus mencintai lo sementara ada wanita yang benar-benar lebih dicintainya? Lo jauh banget dari standar Aaron. Lo tunggu waktunya,cepat atau lambat lo akan ditinggalkan dan aku akan sangat tidak sabar menantikan saat itu terjadi." Sasha menepuk-nepuk bahu Carissa dan pergi dengan tawa yang terbahak-bahak. Carissa menggenggam tangannya, menahan emosinya.
******
"Betulkan aku bilang si Aaron itu masih suka sama Hania tidak percaya kalian, Carissa pun sampai keluar dari pesta," Bu Lala berbicara dengan semangat.
"Iyalah, kamu kan dari dulu disini. kami ini baru juga tinggal, apa kita mau tahu tentang Aaron itu." Shelina tersenyum datar.
"Kak Lala, kok aku jadi kasian si Carissa." Kak Mila mendengus mendengar suara Bu Lala.
"Alah, masalah begitupun kamu kasihan. Biasalah itu untuk anak muda." Membuat Bu Lala diam.
"Lanjutin kalian menggibah, aku pulang duluan. Suamiku sudah diperjalanan pulang." shelina berlalu tanpa memedulikan teriakan Bu Lala.
"Itu juga si Shelina, ada suaminya baru dia tidak menggibah. Sok suci juga." Bu Mila tertawa mendengar omelan Bu Lala.
"Shutt" Kak Tia menempelkan jarinya dibibir, dengan ekor matanya dia menunjukkan sesuatu. Bu Lala, Bu Mila, dan Dira menoleh ke arah yang dimaksud kak Tia. Carissa terlihat duduk sendirian diatas dipan di depan rumah Oma.
"Pasti galau itu Carissa." kak Tia mulai berbisik.
"Jelas galau, melihat suaminya peluk-pelukan dengan pengantin. Kalau suamiku yang begitu, kuusir dari rumahku." Bu Lala mulai berapi-api.
"Jangan seperti itu kak Lala, mungkin Carissa ini hanya istirahat." Bu Lala mencebik.
"Sudah-sudah, tidak ada gunanya kita debat disini. Kalian pulang saja ke rumah masing-masing, biar aku yang pergi cari tahu langsung." Bu Lala meninggalkan gengnya dan pergi menuju rumah Oma. Ibu-ibu yang lain bubar, toh mereka tetap akan tahu setelah bertemu Lala keesokan paginya.
"Asyik juga sore-sore duduk di teras." Carissa tersentak lalu tersenyum ketika melihat ibu itu berjalan mendekat kearahnya.
"Iya, apalagi banyak bunga-bunga dan air mancur. Menenangkan!" Bu Lala tersenyum manis, dan ikut duduk disamping Carissa.
" Aku Lala, masih ingat?" Carissa mengerutkan alisnya mengingat-ingat. Oh, ini ibu yang kemarin dibantunya memotong kue.
"Ingat tante, tante yang kemarin membuat kue kan?" Ibu Lala tersenyum, kemudian menatap Carissa lagi.
__ADS_1
"Iya betul sekali ternyata Carissa ini cepat ingat orang, aku kira tadi aku sudah dilupakan." Carissa tersenyum kecil.
"Carissa, sedih sekali tadi tante melihat Aaron dan Hania pelukan. Sabar kamu, mungkin tadi Hania itu refleks." Carissa mengangguk saja, tanpa mengatakan apapun lagi. Karena sebenarnya Carissa tidak ingin membicarakan Aaron sekarang ini. Bu Lala terus memancing Carissa berbicara, Carissa hanya menjawab seperlunya saja.