Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Cekcok kecil


__ADS_3

Carissa masuk ke dalam rumah dengan santai, Carissa melihat Aaron berada di dekat pintu masuk. Aaron menatap Carissa dengan muka masam, tetapi Carissa tidak memedulikannya Carissa berjalan dengan santai melewati Aaron. Aaron segera menahan pergelangan tangan Carissa, dan menatap Carissa berkilat tajam.


"Mas, sudah bilang kamu jangan gabung-gabung sama ibu-ibu disini. Tapi kok kamu tidak menurut sih sama, mas?" Carissa menghela napas, menatap malas pada Aaron.


"Mas, masa aku disini diam seperti patung. Aku kan juga butuh teman." Carissa menjawab santai, Aaron kembali menatap Carissa serius.


"Tapi tidak dengan mereka juga dong, dia ibu biang gosip. Habis kamu diajari gosip oleh dia." Carissa yang masih dongkol pada suaminya semakin merasa dongkol. Seingatnya tadi Bu Lala hanya menanyakan hal-hal umum tentang dirinya dan kehidupannya, tidak ada tuh yang namanya ngegosip atau ngegibahin orang.


"Mas itu tidak rasional banget sih, masa aku harus menjauh cuma karena mereka tukang gosip. Lagi pula kan gosip itu fakta yang terungkap tapi tidak mau diakui oleh yang digosipin." Carissa tersenyum remeh menatap Aaron, sekalian menyindir pria itu.


" Maksud kamu apa melihat mas seperti itu?" Aaron tersinggung dengan tatapan istrinya yang membuat dia tersulut emosi.


"Aku tidak punya maksud apa-apa, kenapa mas harus ngegas?" Carissa balas membentak.


"Aku tahu kok alasan sebenarnya melarang aku berbicara dengan ibu-ibu itu, pasti karena mas takut kan semua borok mas aku tahu? Namanya bangkai pasti akan tercium mas!" Carissa menunjuk wajah Aaron.


" Kamu jangan kurang ajar ya, ngapain kamu tunjuk-tunjuk aku?" Aaron menarik Carissa sehingga Carissa semakin dekat dengan dirinya kemudian memelintir tangan istrinya itu.


"Dengar, ini semua demi kebaikan kamu. Aku tidak mau kamu jadi tukang gosip baik itu gossip benar atau bukan." Carissa mulai mengeluarkan air mata, selain karena bentakan juga karena tangannya yang sakit.


"Mas kan bisa jelasin dari awal, tidak perlu bentak-bentak aku. Mas memang egois, mas pembohong, aku benci mas!" Carissa segera berlari meninggalkan Aaron, Carissa tidak peduli pada Oma dan Sasha yang berdiri di depannya menonton pertengkarannya dengan Aaron. Aaron meremas rambutnya, pusing dengan cekcok mereka yang terjadi cuma karena hal sepele. Padahalkan niatnya baik, Carissa pasti sudah terpengaruh oleh gosip yang beredar tentang dirinya karena pernikahan Hania.


"Kasian banget sih bang, masa lo ditunjuk-tunjuk sama istri lo. Makanya kalau nikah cari tahu latar belakangnya, jangan karena cantik langsung dinikahin." Sasha tertawa mengejek, Aaron menatap tajam gadis itu.


"Lo tidak tahu apa-apa. Stop komentarin hidup aku!" Aaron segera meninggalkan Sasha yang mencebik.


"Sasha, kamu jangan ikut campur rumah tangga orang lain. Ini terakhir kalinya oma lihat sifat yang seperti ini dari kamu. Awas kalau kamu macam-macam." Oma menatap Sasha tajam, Sasha mengangguk dan menunduk kemudian pergi ke dapur.


Dasar perempuan kampung, penyihir. Yang aku bilangkan fakta, ngapain juga oma membela Carissa. Lagian bang Aaron bodoh banget, mau juga dibentak-bentak istrinya.


Sejak kepergian Carissa dan Aaron ke rumah oma, Nadirah merasa kehilangan. Hari ini Nadirah mendapatkan hal yang mengejutkan, Fani datang menemuinya di rumah Aaron. Dengan malas-malasan Nadirah berbicara dengan Fani. hal ini dilakukan karena aziz yang menyuruhnya, kalau diikutkan hatinya Nadirah tidak siap berbicara dengan Fani. Alasannya Nadirah bingung bagaimana mau menjelaskan pernikahan Carissa dan Aaron. Bagaimana reaksi gadis itu?


" Maaf, kalau kedatangan mbak Fani membuat kamu tidak nyaman." Nadirah mengangguk.

__ADS_1


"Mas Aaron kemana? Kok tidak pernah masuk kantor." Nadirah mengerutkan alis, tahu darimana Fani kalau Aaron tidak masuk kantor?


"Bang Aaron pulang ke rumah Oma, Oma kangen katanya." Fani mengangguk, kemudian menatap Nadirah memelas.


"Nad, tolong banget jawab dengan jujur. Apa benar Aaron sudah menikah?" Nadirah terdiam, kalau mengatakannya dengan jujur situasi tambah runyam. Tapi kalau dirinya bohong, mungkin akan lebih runyam lagi. Nadirah menggaruk kepalanya.


"Gimana ngomongnya ya mbak, aku bingung." Fani tersenyum lembut.


"Ngomong biasa saja, mbak tidak akan marah kok." Nadirah tersenyum canggung, kemudian mengumpulkan keberaniannya.


"Mas Aaron, benar sudah menikah mbak." Nadirah mengatupkan bibirnya menunggu reaksi Fani.


"Kamu tidak bohongkan? Aaron tidak mungkin mengingkari janjinya." Nadirah menggaruk kepala. Fani masih menatapnya tak percaya, bahkan gadis itu tertawa terbahak-bahak.


"Aku jujur ini mbak, bang Aaron sudah menikah." Nadirah menggigit bibirnya melihat butir air mata yang jatuh di wajah Fani.


Fani merasakan jutaan pisau menusuk hatinya, bukan sekedar menusuk bahkan mencincang-cincang hatinya. Dimana janji yang pernah mereka ucapkan dulu? Dimana cinta yang selalu pria itu banggakan? Fani berkorban untuk banyak hal agar bisa bersanding dengan pria itu dan sekarang ini balasan yang didapatkannya? Dulu Aaron bilang akan menunggu Fani membuktikan bahwa dia layak mendampingi Aaron. Fani menjaga hatinya hanya untuk Aaron, tapi pria itu dengan mudahnya menikahi gadis lain. Apa benar seperti yang dikatakan Sasha jika Aaron dijebak untuk pernikahan itu. Tapi kalau benar dijebak tidak mungkin pernikahan itu berjalan hampir mendekati satu tahun. Fani pikir dirinya tidak akan sesakit ini karena sudah tahu kebenarannya, tapi nyatanya Fani tidak sanggup mendengarkannya secara langsung.


"Bang, Bang, bang Aziz." Nadirah berteriak histeris. Aziz datang bersama para pelayan.


"Kamu kenapa?" Nadirah menunjuk Fani yang pingsan.


"Kok jadi seperti ini? Aziz menatap penuh selidik pada Nadirah." Aziz mengarahkan pelayan untuk menghubungi dokter.


"Karena dia kaget ketika mendengar bang Aaron sudah menikah." Aziz menghela napas.


"Maunya kamu tidak usah bilang." Nadirah mendengus.


"Kan dia yang tanya aku duluan, jadi aku jawablah." Nadirah menatap Aziz sewot.


"Kamu temani dia, tunggu dokter datang!" Nadirah mengangguk.


Rega menghela napas kasar setelah mendapatkan informasi jika Fani pingsan dirumah Aaron. Gadis itu terlalu keras kepala, Fani terlalu yakin jika Aaron akan menunggunya sedangkan kenyataannya Aaron sudah punya istri sekarang. Aaron benar-benar kurang ajar, akan ada bogem mentah untuk pria itu.

__ADS_1


Oma mencari keberadaan Carissa, setelah dari acara hajatan tetangga diatidak melihat keberadaan cucu menantunya itu.


"Surti, kamu lihat dimana Carissa berada?" Surti menggeleng.


"Nyonya Carissa tidak turun makan sejak sore tadi, nyonya." Oma mengangguk kemudian berjalan menuju kamar Aaron.


Tok tok tok tok


Oma mengetuk tapi tidak ada sahutan. mungkin Carissa berpikir Aaron yang mengetuk pintu. Oma kembali mengetuk pintu lagi, kemudian menarik napas.


"Rissa, ini Oma di buka dong pintunya." Oma menunggu dengan sabar.


Clek!


Pintu terbuka, Carissa muncul dengan mata yang bengkak. Suaranya pun terdengar parau ketika mempersilahkan Oma masuk dalam kamarnya. Carissa celingak-celinguk menatap keluar kamarnya, yang membuat Oma menggeleng.


"Aaron, tidak ada kok." Carissa mengangguk, dan berjalan duduk di ranjangnya.


"Kamu tadi bertengkar karena apa?" Carissa menegang, apakah Oma akan marah padanya. apalagi dirinya hanya istri Aaron sedang Aaron adalah cucu kandungnya.


"Aku dilarang berteman sama ibu-ibu disini. katanya mereka itu tukang gosip, Carissa yakin itu cuma alasan. Karena Aaron tidak mau Carissa tahu masa lalunya." Carissa terdiam, malas sebenarnya mengulang lagi cerita tentang pertengkaran mereka.


"Kamu jangan lihat sisi negatifnya, kamu lihat juga positifnya. kalau masa lalu Aaron, kamu jangan kepikiran. Mungkin kamu sakit hati karena Hania kan? Tapikan Hania juga sudah menikah." Carissa diam, oma mengelus rambut Carissa.


" Kalau kamu butuh cerita, cerita sama oma dikampung ini tidak semua hal yang kamu ceritakan akan jadi rahasia. bajakan kadang hanya jadi bahan gunjingan, paham kan maksud oma?" Carissa mengangguk.


" Bissa oma minta satu hal sama kamu?" Carissa mengangguk ragu-ragu.


" Boleh, semoga Carissa bisa bantu." Oma tersenyum.


"Janji sama oma, sesakit apapun masa lalu Aaron untuk kamu terima. Jangan tinggalkan Aaron karena masa lalunya, janji ya? oma percaya kamu bisa menjaga Aaron." Carissa terdiam, apakah dirinya mampu memenuhi janji itu?


"Pelan-pelan saja pikirnya, oma pergi dulu. selamat tidur." Oma pergi setelah menepuk pundak Carissa. Carissa termenung, Apakah dirinya mampu untuk terus berada disisi Aaron?

__ADS_1


__ADS_2