Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Pencarian Nadirah


__ADS_3

Nadirah terbangun, samar-samar gadis itu membuka matanya. Mata Nadirah melihat tembok-tembok yang mulai usang, ini bukan seperti dikamarnya. Hawa dingin menerpa kulitnya menimbulkan sensi dingin yang membuat Nadirah memerhatikan tubuhnya. Nadirah terbelalak melihat ada banyak bekas lebam, bekas ****** yang ada dibadannya. Pakaian miliknya sudah berbentuk rongsokan, dan penuh sobekan.


"Hiks hiks hiks." Nadirah mengelap air mata yang mulai membanjiri wajahnya. Ternyata yang terjadi padanya bukan mimpi, ternyata dirinya benar-benar telah diperkosa. Telah dilecehkan oleh ******** yang tidak mendengar permohonan dan permintaan maafnya. Nadirah tidak salah, dirinya tidak salah tapi mengapa dia sampai diperkosa. Apa salahnya, apa salahnya Tuhan? Apa salahnya sampai harus menanggung derita seperti ini. Ia kini menjadi sampah, semua orang hanya akan menatapnya kasihan.


Nadirah merasa sakit hati, sakit yang lebih sakit dari diputuskan oleh Ben. Gadis itu membentur-benturkan kepalanya di dinding untuk mengenyahkan bayangan-bayangan pemerkosaan itu. Nadirah juga menggosok-gosok bibirnya yang menyimoan sisa-sisa ciuman laki-laki keparat itu. Nadirah seperti kesetanan menggosokkan badannya pada tembok, gadis itu tidak peduli jika kulitnya murah memerah dan mengeluarkan darah. Tangannya sampai meninju-ninju dinding yang ada disampingnya melampiaskan keputus asaannya.


"Gue sudah tidak berguna lagi, gue harus mati. Gue harus mati, gue sudah kotor." Nadirah berjalan sempoyongan tidak ada keaakitan yang kini dirasakannya. Nadirah mencari besi atau kayu yang dapat membuatnya terluka. Nadirah ingin bunuh diri, dirinya memang harus bunuh diri. Dia tidak pantas lagi untuk hidup, dirinya tidak pantas lagi untuk hidup SANGAT TIDAK PANTAS! Dengan kematiannya, keluarganya tidak akan malu tidak akan dikasihani dan tidak akan dipandang sebelah mata. Papa dan semuanya tidak akan melihat dirinya yang menyedihkan ini. Nadirah semakin histeris ketika mengetahui hanya dirinya sendiri yang ada dikamar ini. Kemana perginya orang-orang kemarin yang menculiknya? Nadirah semakin histeris.


Aku menajamkan mataku mencari tempat pelarian, aku tidak akan menampakkan diriku pada mbak Carissa, bang Aaron, papa dan mama. Aku kotor, aku menjijikkan aku sampah. Seonggok sampah tidak pantas untuk hidup, air mataku kembali mengalir. Aku mencari jalan keluar untuk pergi dari ini. Pintu, iya pintu. Aku mencari pintu dan ketika menemukannya aku langsung mendobrak pintu dengan sisa-sisa tenagaku. Sayangnya, ini sama sekali tak menghasilkan apapun. Pintu tidak terbuka sama sekali. Aku merasakan badanku mulai kesakitan, aku juga mencari jendela. Iya jendela, semoga jendelanya terbuat dari kaca aku pasti bisa memecahkannya. Aku memaksa diriku untuk melangkah lagi mencari jendela.


"Argggghhhhhhhh, sialan! Sialan!"


Aku tidak menemukan jendela. Aku kembali meraung-raung dalam kesendiriaku di tempat ini, Tuhan cabutlah nyawaku secepatnya, cabut nyawaku secepatnya! Aku harus mati! Aku harus mati! Aku rasa pandanganku langsung menggelap, mungkin tuhan sudah mengabulkan doaku.


Carissa segera naik kedalam mobil Arlan setelah Arlan datang.


"Rissa, gue gak tahu kita akan cari kemana adik ipar lo. Lo tidak punya apapun sebagai petunjuk." Carissa menarik napas benar juga apa yang dikatakan Arlan. Carissa tidak memikirkannya tadi, karena yang ada dipikirannya cuma pergi mencari Nadirah.


"Kita ikutin Aaron, Carissa mencari keberadaan suaminya itu lewat ponsel pintarnya, untung banget Aaron menyalakan GPS miliknya." Arlan mengangguk, dan menyetir dengan tenang. Carissa duduk dengan gelisah, semoga Nadirah tidak kenapa-kenapa.

__ADS_1


"Bagaimana ceritanya sampai adik ipar lo itu bisa hilang?" Carissa menggeleng, kemudian menatap Arlan yang terlihat gusar.


"Aku tidak tahu Aaron cuma bilang Nadirah hilang bahkan pria itu tidak mengajak aku ikut mencarinya, nyebelin 'kan?" Arlan tertawa kecil mendengar keluhan Carissa.


"Mungkin suami lo tidak ingin merepotkan lo jadi sebagai istri yang baik su'udzon saja lo!" Carissa mencebik. Beberapa jam kemudian Carissa menatap Arlan dengan pandangan yang penuh tanda tanya.


"Lo serius? Ini kan menuju hutan." Arlan mengangguk.


"Ini memang arahnya menuju hutan. Lo pernah datang daerah sini?" Arlan menggeleng kemudian mengangguk.


"Bukan datang, gue pernah disekap. Di depan belok kanan tempat gue disekap." Carissa menggigit bibirnya, merasa ketakutan. Apa jangan-jangan Nadirah juga disekap sekarang ya?


"Ar, lo berhenti disitu. Kita cek tempat lo disekap." Arlan menurut, menghentikan mobilnya. Mereka berdua turun dari mobil, kemudian berjalan mendekati gedung yang tak terawat itu.


"Ini lumayan jauh sih dari pemukiman warga." Carissa mendekatkan dirinya berjalan beriringan bersama Arlan. Takut kalau seandainya tiba-tiba ular muncul.


"Serius?" Arlan mengangguk.


"Ngomong-ngomong yang sekap lo disini siapa?" Arlan tersenyum getir karena terbayang lagi kejadian penyekapan itu.

__ADS_1


"Sama anak buah Lao, siapa lagi memang? Itulah kenapa aku suruh kamu jauhin aku dulu." Carissa mengangguk.


"Ar, berhenti. Kita cek bangunan yang itu saja, yuk!" Carissa menarik tangan Arlan. Arlan mengikuti Carissa. Mereka membuka pintu bangunan yang tidak terkunci. Mereka masuk dan memeriksa semua ruangan, tidak ada tanda-tanda jika Nadirah berada di tempat itu.


"Nggak mungkin sih, kalau disini Nadirah dibiarkan pintunya tidak terkunci." Arlan menggaruk kepalanya apa yang dikatakan Carissa memang benar.


"Ar, gedung-gedung kayak gini menurut kamu banyak nggak?" Arlan menatap Carissa sambil memperkirakan.


"Aku kurang tahu, tapi mungkin akan banyak" Carissa mengangguk.


"Kalau gitu kita cari saja di bangunan yang pintunya masih utuh." Arlan mengangguk menyetujui usul carissa. Pria itu menarik Carissa untuk kembali ke mobilnya.


"Kok balik?" Carissa menatap Arlan tajam. Melihat pria itu yang berjalan menuju arah jalan untuk pulang.


"Hutannya luas Bu, masa iya kita jalan kaki cari Nadirah. Yang ada kita yang akan kewalahan dan Nadirahnya lama untuk ditemukan." Carissa tersenyum malu dengan prasangkanya. Mereka kembali ke dalam mobil itu dan kembali menyusuri hutan itu.


Di hutan yang sama tapi ditempat yang berbeda Aaron dan Nurmansyah memutuskan untuk berpencar mencari Nadirah agar mereka lebih cepat menemukan Nadirah. Aaron terdiam sepanjang jalan, pria itu meremas rambutnya karena sudah banyak gedung kosong yang mereka masuki tidak menunjukan keberadaan Nadirah. Aaron geram memikirkan siapa yang melakukan ini semua, kenapa harus adiknya apa fungsi bodyguard yang disewanya selama ini. Aaron kembali geram, mengapa dirinya sampai kecolongan? Apa mungkin ada orang dalam yang bermain-main dengan dirinya. Aaron mencari tahu siapa yang menjadi mata-mata penjahat itu.


Nurmansyah kembali menggeram, mereka belum lagi menemukan keberadaan Nadirah. Demi Tuhan anaknya bisa mati kalau mereka terlambat menemukannya dan ******** keparat yang mengiriminya foto Nadirah pasti akan bertambah senang. Nurmansyah menatap Zein yang mendekatinya.

__ADS_1


“Tuan, setelah diselidiki lebih jauh lagi oleh anak buah saya nomor pengirim ini sama dengan nomor nyonya Carissa.” Nurmansyah menyeringai, jadi semua ini ulah wanita sialan yang juga menjadi menantunya itu? Sekali ular tetaplah ular. Nurmansyah akan membalas semua ini, ini penghinaan luar biasa untuk dirinya.


“Cari tahu lagi Zein, kumpulkan bukti yang banyak untuk membalas wanita ular dan sialan itu!” Nurmansyah berteriak, Carissa mengibarkan bendera perang kepadanya. Nurmansyah tidak akan diam saja.


__ADS_2