Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Setelah Pergi


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, dan semuanya masih sama masih berwarna kelabu baik untuk Aaron, Nadirah atau siapapun. Tidak ada lagi senyuman yang ada di wajah Aaron, yang terlihat hanyalah wajah lesu dan tatapan suram tanpa warna yang muncul dari binar matanya. Aaron menjadi lebih pendiam, bahkan pria itu menjadi seperti robot enggan untuk bicara dan menghabiskan waktunya dengan semua pekerjaannya. pergi pagi sekali dan pulang setelah malam sangat larut kini menjadi kebiasaannya.


Aisyah yang masih berada di rumah Aaron sangat khawatir dengan perubahan Aaron yang mendadak itu, wanita itu berdoa agar semuanya menjadi baik-baik kedepannya. Aisyah memilih untuk tinggal lebih lama melihat Aaron yang seperti mayat hidup sekarang ini. Nadirah sudah agak mendingan, gadis itu sudah mulai menjalani aktivitasnya seperti biasa walaupun dia menjadi lebih dingin. Nadirah juga menjadi lebih banyak diam, tidak ada lagi keceriaan, tidak ada lagi keriuhan dari bibir cantik gadis itu.


Lain halnya dengan Nurmansyah, kini pria itu hilang tanpa kabar. Nurmansyah memang jarang lagi datang kesini setelah Nadirah mulai sembuh. Melihat kelakuan anak-anaknya yang mulai berbeda Aisyah tidak bertanya, wanita itu hanya memberikan beberapa nasehat untuk kedua anaknya. Penyebab berubahnya Aaron, mungkin karena terpikir pada Carissa, Fani, ataupun Nadirah itu pendapat Aisyah. Seperti sekarang Aaron makan malam dalam diam tanpa banyak bicara, bahkan pria itu tidak menyentuh makanan kesukaannya yang membuat Aisyah mendesah lirih menatap Arion dengan sedih.


"Sayang, kamu makan yang banyak dong mama sudah capek-capek loh menyediakan semua makanan kesukaan kamu." Aaron menatap mamanya lesu, pria itu mencoba menyendok konro sedikit kemudian makan hanya dengan satu suapan. Aaron meletakkan sendoknya di dalam piringnya, dirinya tetap tidak berselera sama sekali, Aisyah menghentikan makannya dan menatap anaknya dengan saksama.


"Kamu cerita dong sama mama, mama sedih melihat kamu yang seperti ini. Kamu terbebani masalah dengan Carissa? atau dengan Fani atau dengan Nadirah?" Aaron memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya pelan sehingga bebannya terasa ringan. Aaron menggerakkan bibirnya lalu kembali mengatupkan bibirnya, terlihat ragu-ragu untuk berbicara. Aaron menatap Aisyah sendu, tidak ada binar kehidupan di bola matanya.


"Aku kepikiran semuanya mam, aku tidak tahu bagaimana mau mengakhiri masalah ini." Aaron menghembuskan napas lega setelah mengutarakan isi hatinya pada mamanya. Carissa, Fani dan Nadirah? Semua memberi tekanan yang berbeda-beda pada dirinya.

__ADS_1


"Kamu tanya hati kamu memilih yang mana untuk diselesaikan lebih dulu, jadi kamu selesaikan satu persatu masalah kamu. Kalau masalah Nadirah, serahkan saja dulu pada pihak yang berwajib kamu selesaikan dulu masalah kamu sama Fani dan carissa." Aaron mengangguk saja mendengar saran dari mamanya. Setelah beberapa lama terdiam, Aaron kemudian mencium tangan ibunya dan melangkah ke kamarnya. Aisyah memandang kepergian Aaron dengan satu harapan, semoga anaknya cepat kembali menjadi Aaron yang seperti boasanya.


Di dalam kamarnya, Aaron memandang buku-buku yang tersusun rapi milik Carissa. Gadis itu tidak membawa pergi buku ini, atau mungkin nanti Carissa akan datang mengambilnya. Aaron tidak tahu pasti, karena sejak seminggu ini juga dia tidak memberi kabar sama sekali pada gadis itu. Aaron tersenyum melihat Carissa yang sibuk membaca buku sambil sesekali menatapnya, Carissa berjalan menghampirinya. Aaron memejamkan matanya dan ketika matanya terbuka, senyumnya luntur Aaron menggelengkan kepalanya menyadari dirinya mulai berhalusinasi.


Kembali ke kamar bukan pilihan yang bagus untuk dirinya karena kamar itu kembali membangkitkan ingatannya tentang Carissa. Mengulang-ulang momen-momen manis mereka berdua. Aaron memejamkan matanya, tidak pernah terpikirkan jika semuanya akan berakhir seperti ini. Tanpa Carissa, terasa menyeramkan. Aaron mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas, untuk sekarang yang diingatnya hanya satu hal yang perlu dilakukannya yaitu menemui Fani untuk menyelesaikan masalah diantara mereka berdua.


Carissa terdiam menatap kalungnya, membuat Dewi mengernyit menatap carissa. Sepertinya kalaung itu mempunyai banyak kenangan untuk Carissa, terlibat dari Carissa yang jadi melamun sembari melihat kalung itu. Dewi menghela napas, Carissa memang belum baik-baik saja selama satu Minggu yang berlaku ini. Semuanya sudah cukup, Dewi merasa Carissa sudah cukup mengingat-ingat laki-laki itu. Sekarang sudah saatnya bagi Carissa untuk menyudahi semua kesedihannya, dan bangkit untuk menghadapi semua kenyataan. Kalau perlu Carissa harus membuat Aaron menyesal, pria seperti Aaron tidak cocok untuk wanita sebaik Carissa, Dewi keki sendirian.


"Ini gue juga berusaha untuk bangkit, kan lo tahu sendiri gue sudah biasa dengan kehadiran dia jadi tidak semudah itu untuk melupakan dia. Lo tenang saja, besok pagi lo akan lihat gue menjadi lebih baik." Carissa menepuk-nepuk bahu Dewi yang kini duduk disampingnya. Dewi tersenyum senang, itu yang diharapkannya agar Aaron menyesal telah menyia-nyiakan Carissa.


"Janji ya? Awas kalau masih mikirin dia." Carissa mengangguk antusias, tapi itu untuk menyenangkan Dewi sekaligus agar Dewi tidak terus khawatir. Carissa tidak keberatan atas sikap Dewi yang mulai membenci Aaron, karena dirinya juga tidak menceritakan semua masalahnya pada Dewi. Tapi untuk berhenti memikirkan Aaron, Carissa tahu itu tidak mudah apalagi pikirannya begitu mudah menghianatinya jika berkaitan dengan Aaron.

__ADS_1


"Makasih ya, sudah baik sama aku.


Ngomong-ngomong lo jangan sering marah-marah kasian Arlan punya pacar yang cepat tua." Dewi langsung terbahak dan memukul lengan carissa refleks.


"Iya, ini sudah ke seratus jutanya lo mengucapkan terimakasih. Gue marah-marah agar lo jangan bodoh nangisin Aaron terus, harusnya bersyukur punya sahabat seperti gue." Dewi menepuk dadanya dengan bangga di hadapan Carissa, Carissa tersenyum dalam hati dia membenarkan ucapan Dewi kalau dia harus bersyukur. Tapi tentang ucapan terimakasih itu Dewi terlalu hiperbola, karena dirinya juga tidak sesering itu mengucapkan terimakasih.


Di apartemen miliknya Fani dan Rega sedang makan malam, Fani membuat perayaan kecil-kecilan karena hari ini dirinya ulang tahun. Fani sebenarnya juga ingin menghubungi Aaron, tapi nomor pria itu tidak aktif. Banyak kesibukan yang dialami Fani membuat gadis itu tidak sempat untuk mendatangi Aaron secara langsung. Fani mengernyit mendengar handphone-nya berbunyi, dengan malas-malasan di ambilnya handphonenya dari atas meja dan dengan cepat gadis itu membaca pesan yang masuk di handphonenya.


Ketemuan yuk, kafe favorit kamu. sekarang ya!


Senyum melengkung di sudut bibir Fani, matanya berbinar dadanya berdebar bahagia. Jutaan kupu-kupu beterbangan menggelitiknya, kejutan macam apa ini. Prianya memang selalu punya kejutan untuknya, Fani berlari masuk ke kamarnya untuk meraih jaketnya dan segera keluar bersama kunci mobilnya. saking bahagianya gadis itu melupakan Rega yang sedari tadi menatapnya heran. Mari kita lihat kado apa untuk ulang tahunnya yang ke 26 ini? batin Fani sambil menyetir meninggalkan Rega di apartemennya.

__ADS_1


***********


__ADS_2