Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Mengikuti Carissa


__ADS_3

Nadirah dan Aziz yang berada di restoran Carissa saling menatap satu sama lain. Aziz menatap Nadirah yang terlihat menatap Aziz penuh arti. Aziz mengangkat alisnya menunggu instruksi dari Nadirah untuk langkah mereka selanjutnya.


"Abang suruh semua anak buah Abang mengikuti bang Zein, kita akan mengikuti bang Aaron dan mbak Carissa." Aziz mendesah lelah mendengar jika mereka akan mengikuti Carissa dan Aaron, bukannya merasa bersalah Nadirah malah menatapnya tajam.


Hanya Tuhan yang tahu Aziz sebenarnya kurang senang menuruti permintaan Nadirah yang sangat aneh menurutnya. Pagi tadi Nadirah meminta di antar ke suatu tempat oleh Aziz yang ternyata tempat itu adalah Carissa menginap. Aziz tidak mengerti apa yang ada di otak Nadirah sehingga hari ini membuntuti carissa, dengan alasan Nadirah ingin mengungkap siapa pelaku kejahatan yang sebenarnya pada dirinya. Sejak pagi yang mereka lakukan hanyalah mengikuti kemanapun Carissa pergi, seperti sekarang ini. Mereka akan mengikuti Carissa dan Aaron, dan Aziz mulai kesal pada Nadirah.


Akan tetapi rasa kesal Aziz dikalahkan oleh rasa simpatinya pada gadis itu, semoga saja banyak pahala yang didapatkannya dari mengantar Nadirah kesana kemari.


"Kamu ikut sendiri saja deh, dari tadi juga tidak membuahkan hasil apapun. Kalau di lihat bos Aaron aku bisa diintrogasi dan kalau ketahuan aku tidak tahu hukuman apa yang akan kita dapat karena mengikutinya." Aziz bersuara lemah, Nadirah mendengus dasar tukang drama Aaron tidak sekejam itu kali. Nadirah berdiri dan menarik tangan pria itu. Aziz mengikuti Nadirah, setelah mereka menjadi pusat perhatian di restoran itu.


"Alah, itu cuma alasan abang. Mana mungkin bang Aaron akan marah kalau kita ketahuan mengikutinya aku kan tinggal bilang tidak sengaja ketemu dia." Nadirah mendorong Aziz ke dalam mobil kemudian gadis itu ikut masuk ke dalam mobil. Nadirah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Ngapain sih kita ikutin Carissa, dia 'kan perginya juga sama Aaron." Aziz masih terlihat enggan untuk mengikuti Carissa dan Aaron.


"Ikutin saja bang, namanya juga ini kan seperti detektif-detektif itu loh. Abang mau tolong aku atau di tidak sih banyak banget alasannya?" Nadirah mulai menatap Aziz kesal, akhirnya pria itu mengalah dan mulai menyetir dengan tenang.


"Bukannya tuan besar sudah mencari tahu kasus ini juga ya, Nad?" Nadirah mengangguk, tapi dia tidak terlalu yakin pada ayahnya buktinya sekarang ayahnya tidak ada kabar sama sekali.

__ADS_1


"Iya sih, tapi aku juga ingin cari tahu sendiri. Aku juga tidak pasti sih Ziz, tapi entah kenapa aku merasa orang itu justru seperti dendam kesumat pada papa bukan pada aku. Aku pikir tidak mungkin mbak Carissa yang melakukan itu, tapi tidak ada salahnya kalau aku cari tahh. Lagian tadi ngapain itu Zein menemui mbak Carissa, kalau tidak ada sesuatu?" Aziz mengangkat bahu, dan masih fokus pada jalanan. Nadirah menutup mata, dasar pria tidak peka setidaknya pria itu menjawabnya. sia-sia saja dirinya berbicara panjang lebar


Zein segera menemui Nurmansyah di kantornya, pria tua itu terlihat sibuk dengan berkas-berkasnya. Zein berdehem pelan untuk menarik perhatian Nurmansyah, Nurmansyah mengangkat kepalanya ketika mendengar deheman Zein.


"Maaf aku banyak yang harus diurus, silahkan duduk." Zein tersenyum dan duduk di depan pria itu.


"Tuan, tentang kasus yang menimpa putri anda sampai sekarang polisi masih mencari tahu karena tidak ada bukti terbaru sama sekali." Nurmansyah meremas kepalanya, selalu saja seperti ini informasi yang diterimanya. Tidak ada perkembangan.


"Lalu bagaimana dengan Carissa? Apakah ada bukti yang bisa menyeret gadis itu?" Zein menggeleng lemah, menghancurkan harapan Nurmansyah.


Karena kesal sepanjang jalan Carissa mendiami Aaron. Gadis itu hanya mengernyit merasakan Aaron membawanya semakin jauh. Aaron juga berhenti menggoda Carissa agar wanita itu tidak semakin marah pada dirinya. Setelah sampai di tempat tujuan Carissa turun mengikuti Aaron yang mulai berjalan menyusuri taman. Sengatan cahaya matahari terasa dikulit Carissa walaupun banyak juga pohon-pohon besar yang menghalangi cahaya matahari di taman ini.


Keduanya berjalan dengan diam untuk beberapa menit, tapi hati mereka akhirnya mulai tidak nyaman dengan keterdiaman mereka. Aaron dan Carissa mulai saling melirik, walaupun belum ada yang memulai pembicaraan. Kok jadi seperti ini sih, tapi kalau aku yang mulai membuka percakapan aku harus bilang apa? Aku kan lagi kesal sama Aaron batin Carissa. Aduh, kok jadi akhward seperti ini. Kira-kira Carissa masih kesal sama aku atau sudah tidak tidak kesal ya? Aaron juga hanya membangun tanpa bersuara secara langsung. Tuhan, buatlah Aaron yang duluan bicara padaku biar tidak secanggung ini, Carissa lagi-lagi hanya membatin.


Melihat Aaron dan Carissa yang sudah parkir Nadirah melemparkan Hoodie, wik, dan juga kumis palsu pada Aziz. Aziz melotot menatap Nadirah, setelah menangkap kegunaan dari barang-barang yang dilemparkan Nadirah pada dirinya Aziz menatap Nadirah horor.


“Nad, kamu tidak serius kan? Mau mengikuti mereka sampai di dalam? Aku tunggu di mobil saja.” Aziz memelas dan menatap Nadirah frustrasi,tapi Nadirah hanya memutar bola matanya malas mendengarkan pria itu.

__ADS_1


“Iklas tidak bantuin aku? Kalau ikhlas cepat pakai. Biar enak gitu menyamarnya dan kita bisa segera mengikuti mereka.” Aziz menggerutu pada Nadirah yang tersenyum penuh kemenangan melihatnya mulai memakai barang-barang aneh bin ajaib itu. Ini juga karena simpatinya akhirnya terseret pada keanehan ini. Nadirah sudah lengkap dengan penyamarannya.


“Kelamaan, cepat keluar! Abang Aaron dan Carissa sudah menjauh.” Nadirah segera mendorong Aziz keluar gadis itu keluar belakangan. Aziz memerhatikan dirinya, ini terlihat sangat jelek sekali.


“Non, ngapain sih ngikutin Carissa. Jelas-jelas dengan Aaron mana mungkin kita dapat bukti atau petunjuk?” Aziz menatap Nadirah geram dengan ide yang tidak masuk akal dari Nadirah.


“Alah, justru itu tugas Abang Aziz disini adalah mengawasi orang-orang yang mungkin mengintai pergerakan Carissa. Aku juga akan awasin Carissa dan bang Aaron.” Nadirah menepuk dadanya banggga. Aziz menatap gadis itu mencibir. Itu sih tugas bodyguard lagi pula siapa yang mau mengintai di tempat yang sepi seperti ini? Para pengintai juga pandai memperhitungkan kondisi target mereka, batin Aziz sembari menarik napas panjang.


Lama dalam keterdiaman dan berperang menggunakan bahasa batin. Akhirnya Carissa dan Aaron menyerah. Keduanya menarik napas dan menghembuskannya secara pelan, lalu membalik tubuh mereka sehingga saling bertatapan.


1


2


3


"Aku mau ngomong," keduanya berbicara serempak. Keduanya terdiam sesaat lalu Aaron berdehem pelan, sedangkan Carissa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kok mereka ngomong bersamaan dengan kalimat yang sama apa otak mereka sudah satu frekuensi ya?***

__ADS_1


__ADS_2