Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Gibahan ibu-ibu


__ADS_3

Sejak mendapati foto gadis diponsel Nurmansyah, Seshil meminta tolong pada detektif yang juga merupakan teman dugemnya untuk mencari tahu siapa perempuan itu. Sore ini dirinya mendapat telepon dari Bagas untuk datang menemui Bagas di rumahnya. Tanpa membuang waktu Seshil segera kerumah Bagas, keberuntungan berpihak padanya karena Nurmansyah sedang berada di luar kota sekarang. Seshil menatap tak percaya pada Bagas, Seshil terkejut mendengar fakta yang disampaikan Bagas.


"Serius lo ini anak mantunya? Masa si tua itu cinta sama mantunya?" Bagas menatap Seshil tenang.


"Tua-tua juga lo mau jadi istri sirinya. Itu pak Nurmansyah yang duluan kenal istri anaknya. Tapi aku juga tidak tahu kenapa sampai anaknya yang malah menikahi gadis itu." Seshil menyimak dengan serius penjelasan Bagas. Seshil masa bodoh dengan sindiran Bagas.


"Jadi anaknya Nurmansyah masih muda?" Bagas mengangguk menatap Seshil.


"Kalau gitu gue mau goda anaknya saja, pasti anaknya tidak kalah kaya kan?" Bagas mengangguk.


"Oke deh, makasih untuk informasi berharganya. Gue mau pulang dulu mau pergi perawatan." Bagas menahan Seshil yang mulai berjalan. Pria itu menatap penuh arti pada Seshil.


"Ini semua tidak gratis, lo harus bayar." Seshil tertawa remeh menatap Bagas.


"Oke, lo tinggal bilang gue perlu bayar berapa?" Bagas tersenyum kecil dan merapatkan tubuhnya pada Seshil.


"Gue mau tubuh lo, itu sebagai bayarannya." Seshil menatap Bagas tajam, gadis itu memainkan jari-jari lentiknya di dada pria itu.


"Itu kecil sayang, bawa aku ke surgamu." Seshil mendesah mesra ke telinga Bagas. Bagas tidak menyia-nyiakan kesempatan segera menggendong Seshil dan membawanya ke dalam kamar, keduanya bergelut bersama cucuran keringat.


Vela menatap mbaknya yang terlihat termenung, Aisyah menatap nanar email yang di terimanya. Vela mendekati mbaknya dan meletakkan teh disamping mbaknya itu.


"Mbak, lupain saja. Sudah sejak tadi lo mbak ini merenung. Syukur kalau masih ada yang mau menikah dengan mas Nurmansyah. Mbak harusnya bersyukur dong, tidak perlu merasa bersalah." Aisyah menatap adiknya sambil menghela napas.


"Mbak bukan apa, mbak kasihan sama dia. Semua juga perempuan yang mendekati dia pasti karena hartanya." Vella tertawa, mbaknya ini memang mahluk langka sudah disakiti pun masih kasihan juga sama si tua bangka Nurmansyah itu.


"Mbak, mbak tidak perlu kasihan dia juga sudah tualah pasti sudah punya pengalaman. Mbak minum dulu tehnya, keburu dingin." Aisyah menurut, Aisyah mengangkat alis melihat Vella tersenyum sendirian.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Vella menatap mbaknya berbinar-binar.


"Mbak tadi aku ke kantornya suamiku, terus disana aku ketemu mas Alman. Tebak apa yang terjadi." Vella makin melebarkan senyumnya yang membuat Aisuah kebingungan.


"Mana mbak tahu, kamu yang ketemu masa mbakmu yang kamu tanya." Vella tertawa kencang, gemas juga dengan mbaknya yang susah diajak bercanda ini.


"Mbak tidak asyik banget sih. Mas Alman tanyain mbak, terus aku bilang mbak sama aku. Terakhir aku bilang mbak menenangkan diri pasca bercerai." Aisyah melotot, dan mencubit adiknya.


"Kamu ngapain sih pakai bilang-bilang seperti itu? Mbak malu, mbak sudah banyak nyakitin dia. Kamu kan tahu itu, dek!" Vella mendengus, mbak aku kok polos banget. Itu juga kejadian udah lama banget, Alman pasti sudah lupa.

__ADS_1


"Mas Alman tidak pendendam kok, malah tadi dia titip salam untuk mbak." Aisyah tidak menanggapi ucapan Vella.


"Lagian, sekarang sudah tidak ada lagi bapak. Mbak harus mencari kebahagiaan mbak sendiri, Nadirah dan Aaron pasti mengerti kok." Aisyah termenung lagi.


"Mbak dengar tidak sih? Mbak tidak ada salahnya kali kalau mbak balikan sama mas Alman." Aisyah sontak memukul lengan adiknya dengan keras.


"Kamu kalau ngomong, mulutnya disaring dulu. Kamu mau mbakmu ini jadi palakor?" Vella meringis memegang lengannya.


"Hehehe, maaf mbak aku lupa memberitahu mbak, ternyata istri Alman sudah meninggal sejak 5 tahun yang lalu. Itu artinya mas Alman masih jomblo." Vella merasakan kepalanya ditoyor.


"Ngawur ah." Aisyah meninggalkan adiknya itu di luar dan masuk ke dalam rumah.


Alah mbak Aisyah, nanti juga pasti akan mau. Semoga mbak Aisyah kembali berjodoh bersama mas Alman. Vella tersenyum membayangkannya.


"Tuk" Vella kembali meringis, tatapannya menjadi kesal ketika mengetahui siapa yang mengetuk dahinya.


"Mas itu apa-apaan sih, kalau dahiku benjol gimana? Menggangu orang senang aja."


"Mas itu apa-apaan sih, kalau dahiku benjol gimana? Menggangu kesenangan orang lain saja." Pria itu tersenyum mendengar Omelan istrinya.


"Kamu ngapain senyum-senyum sendiri? Aku pikir kamu kemasukan jadi mengetuk dahimu, biar setannya keluar." Vella memutar bola matanya, alasan yang tidak masuk akal banget.


Di rumah omanya Sasha keluar dari kamar, matanya mengawasi mencari keberadaan Carissa, tapi nihil. Aaron pun tidak kelihatan sejak tadi. Sasha memutari rumah omanya naik ke lantai dua kemudian kembali lagi ke lantai bawah. Tidak ada yang menarik! Sasha segera ke luar rumah.


Di depan rumah sudah terdapat banyak ibu-ibu yang menggibah, Sasha tersenyum. Kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan ini. Sasha tersenyum menyapa mereka, salah satu anggota menggibah Ibu lala segera memanggil Sasha duduk bergabung bersama mereka. Sasha menurut, untuk memuluskan misinya.


" Sasha, berapa hari kamu tinggal di rumahnya Aaron?" Sasha tersenyum dalam hati.


" Hampir 2 bulan Tante, ada apa memangnya?" Bu Lala tersenyum.


"Bagaimana menurutmu Carissa itu? Kuperhatikan gadis itu tidak pintar urus dapur, sejak semalam dan tadi pagi dia hanya bantu-bantu yang ringan saja." Sasha tersenyum, rasakan Carissa kamu akan temukan nerakamu disini.


"Mau pintar darimana tante? Gadis itu juga menikahi Aaron modal menjebak Aaron, mungkin dia pakai pelet tante. Hati-hati dengan dia tante." Ibu-ibu yang lain yang mendengar omongan Sasha merasa bergidik. Kemudian mereka mulai berbisik-bisik.


"Sasha ngeri juga kedengarannya, ternyata cewek sekarang masih banyak yang pakai pelet. Padahalkan Carissa itu cantik sekali." Sasha mengangguk.


"Biar cantik untuk apa kalau tidak bisa urus dapur kak." Bu Mila ikut nimbrung.

__ADS_1


"Alah, itu bukan masalah kak Lala, aku pun tidak urus dapur karena suamiku sudah punya pelayan. Tidak harus pintar urus dapur orang sekarang kalau mau menikah." Bu Lala mencebik mendengar penuturan Shelina.


"Itu karena suamimu kaya, tapi kalau dikampung harus bisa urus dapur walau sesekali." Shelina tersenyum.


"Samalah kak Lala, Aaron juga itu pria kaya. Jadi sebenarnya bukan masalah kalau istrinya tidak bisa urus dapur." Bu Mila mendengus mendengar pembelaan Shelina.


" Pantas saja, dia menjebak Aaron karena Aaron pria kaya. Jadi tidak perlu repot dengan dapur, padahal dulu orang tua selalu bilang jangan menikah kalau belum putari dapur tujuh kali supaya paham orang tentang pernikahan." Sasha mulai tidak mengerti dengan pembahasan ibu-ibu ini, tapi dirinya masih menahan diri untuk memberikan bumbu tentang Carissa.


"Itu kan dulu kak Tia, sekarang orang kalau sudah cinta langsung menikah. Padahal kadang, satu bulan juga langsung cerai. Bikin habis saja buku nikah." Ibu-ibu yang lain hanya mendengarkan omelan Bu Mila.


"Cariss itu, anak orang kaya kah?" Sasha menggeleng.


"Dia itu anak yatim juga miskin itulah sebabnya dia menjebak Aaron." Ibu-ibu itu manggut-manggut mendengarnya.


"Tapi kalau diperhatikan gadis itu baik, tidak mungkin sejahat yang kamu bilang itu Sasha. Tidak mungkin dia yang menjebak Aaron, mungkin Aaron yang jebak dia. Laki-laki mana mau melepaskan yang cantik bening seperti Carissa itu." Sasha mencebik, kemudian meninggalkan ibu-ibu itu. Ngapain bertanya-tanya panjang lebar kalau pada akhirnya kembali membela Carissa, hanya membuat Sasha badmood.


"Kamu ini kak Tia, kalau memuji Carissa jangan terang-terangan didepan Sasha. Kamu lihatlah sekarang, gadis itu sudah pergi. Padahal banyak informasi penting dari dia." Bu Lala menghembuskan napas menatap mereka.


"Santai saja kak Lala, itu si Sasha sepertinya iri sama Carissa. Masam mukanya jika kamu puji-puji Carissa." Shelina meminum air putih, capek juga sejak tadi bicara.


"Seperti sudah pikun saja kalian, si Sasha itu juga suka sama Aaron. Tapi mungkin Aaron tidak suka sama dia. Kalian tahu kan bagaimana centilnya anak itu." Mereka semua mengangguk setuju.


"Eh, ini hari pernikahannya Hania kan? Aaron juga pergi kesana dengan Carissa kan?" Semuanya mengangguk.


"Pasti berita besar ini, kalian harus tahu Hania dengan Aaron saling suka, cuma dulu keluarga Oma dan keluarga Hania lagi bentrok jadi terhalang restu. Pasti ada dramanya ini seperti yang viral-viral itu." Semuanya menatap Bu Lala berbinar-binar, pasti akan jadi gosip yang mantap untuk kampung ini.


"Itu kan sudah lama kak Lala, Aaron pun sudah menikah." Shelina menatap tak percaya pada Bu Lala.


"Tidak semudah itu, cantik. Kau kira segampang rinso menghilangkan noda kah mau menghilangkan rasa cinta? Bisa jadi bunga-bunga cinta mereka mekar kembali ketika ketemu dipelaminan, ulalala." Bu Lala tersenyum memprovokasi.


" Kalau begitu kita kesana, bawa dengan Hp dan Kamera." Shelina mulai tertarik.


"Boleh itu, kesempatan ini kita live streaming." Bu Mila ikut semangat.


" Tidak perlu lama-lama kalian dandan, pokoknya ganti baju ambil undangan kita cus." Bu Lala ikut berdiri dari tempat duduknya. Semua ibu-ibu yang tadi merumpi akhirnya bubar menuju ke rumah masing-masing untuk bersiap ke pernikahan Hania.


"Kenapa lari-lari Lala?" Bu Lala berhenti sejebak dan tersenyum pada Oma.

__ADS_1


"Mau ke resepsinya Hania Oma, keenakan sharing tadi sampai lupa. Jadinya sekarang aku buru-buru, karena mau siap-siap." Oma hanya menggelengkan kepala melihat sepupunya itu.


Begitulah aktivitas ibu-ibu dikampung ini, memiliki suami yang pekerja keras sehingga mereka hanya perlu menjadi ibu rumah tangga saja. Untuk menghilangkan penat, mereka biasanya berkumpul untuk melakukan sharing dan kadang berakhir dengan menggibah.


__ADS_2