Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Kembali ke rumah


__ADS_3

Carissa merasa lebih baik setelah menangis dipundak Dewi. Carissa kalau membasahi wajahnya dan mengelapnya, wanita itu terlihat lebih baik sekarang walaupun bibir matanya masih memerah jejak tangis yang keluar tadi. Dewi memerhatikan Carissa yang sudah rapi dan tampaknya akan keluar.


“Lo mau kemana? Lo istrahat saja dulu, baru juga habis nangis.” Carissa tersenyum dan menggeleng kecil.


“Nggak perlu istirahat, gue mau ke rumah Aaron dulu ada urusan sebentar saja kok.” Dewi mengangguk tapi kemudian mengernyit heran.


“Lo yakin akan baik-baik saja sampai disana? Kalau lo ketemu Nurmansyah gimana?” Carissa mengendikkan bahunya santai, dirinya tidak tahu bagaiman mau menghadapi Nurmansyah itu nnati jadi urusan belakangan. Tidak perlu dipikirkan batin Carissa.


“Biarin saja, mau gimana lagi kan? Nggak mungkin cuma gara-gara dia gue harus ngumpet. Lo tenang saja, kalau ada apa-apa gue akan kabarin Lo.” Carissa memberikan senyum terbaiknya agar Dewi percaya. Dewi mengangguk dan mengikuti Carissa sampai mobil yang Carissa kendarai hilang dari pandangannya barulah gadis itu masuk ke dalam rumahnya.


Suasana dalam mobil sangat hening, Carissa fokus menyetir dan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Aaron dan juga keluarga Aaron terhadap dirinya? Apakah mama Aisyah juga menganggap dirinya adalah otak dari pelaku kejahatan terhadap Nadirah? Carissa menggeleng pelan, menurunkan kaca mobil merasakan belaian angin diwajahnya setidaknya dia butuh rileks untuk bertemu Aaron dan keluarganya.


Sampai di rumah mewah Aaron, Carissa segera menuju garasi untuk memarkir mobil. Tatapan-tatapan setajam tatapan elang menodongnya, itu tatapan para bodyguard Aaron. Carissa menarik napas agar tidak terintimidasi tatapan mereka dan berjalan memasuki rumah Aaron dengan santai seolah tanpa beban. Seperti biasa, ketika masuk ke dalam rumah dirinya berpapasan dengan para pelayan Aaron. Kali ini begitu berbeda ketika melewati para pelayan ada sebagian pelayan yang mulai berbisik-bisik tentang dirinya. Entah itu benaran bisikan atau bahkan kesengajaan karena Carissa juga mendengar ucapan mereka. Carissa diam saja tidak menggubris para pelayan itu, mungkin mereka lagi butuh topik pembicaraan batin Carissa. Bukan rahasia lagi jika semua orang menyenangi gosip tanpa peduli itu benar atau hoaks termaksud para pekerja yang bekerja sebagai pelayan di rumah ini.


Suasana rumah sangat hening tidak ada orang yang dilihat oleh Carissa. Mungkin mereka ada di kamar lain yang ada di rumah ini, Carissa segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. Sampai di dalam Carissa mengamati keadaan kamar ini, kamar ini sama seperti beberapa hari yang lalu saat ditinggalkan olehnya untuk pulang ke rumah oma. Tidak ada yang berubah Bahakan kamar itu juga terasa pengap. Carissa tersenyum miris Aaron juga tidak pernah lagi masuk ke kamar itu. Itu artinya pria itu benar-benar marah pada dirinya.

__ADS_1


Carissa membuka tirai kamarnya membiarkan udara masuk memenuhi kamar itu, sehingga udara dalam kamar itu menjadi terasa lebih segar. Mengingat pelayan yang tadi berbisik-bisik tentang dirinya Carissa kembali ke bawah. Carissa tidak melihat Nurmansyah atau pun Aziz, Carissa segera berbelok menuju dapur untuk menemui kepala pelayan yang sekarang berada di dapur.


"Bu Sitti, bisa bicara sebentar?" Bu Sitti menoleh lalu mengangguk, kepala pelayan itu menatap Carissa dengan tatapan yang aneh. Apa mereka juga berpikir aku sejahat itu ya? Aku menatap Bi Sitti diam, tidak mengatakan apapun untuk membela diri atau menjelaskan pembelaan diriku padanya. Toh itu tidak penting bukan? Wanita itu segera mengikutiku menuju taman belakang. Setelah kami sampai ke taman yang sangat sepi aku lihat bi Sitti menghembuskan napas.


"Apa yang ingin anda bicarakan nyona?" Aku menatap Bi Sitti yang terlibat mengawasi sekitar kami. Aku juga ikut memeriksa sekelilingku, tidak ada orang. Jadi aman untuk berbincang-bincang.


"Bi, apa Aaron sudah mendapatkan bukti tentang kejadian yang menimpa Nadirah itu?" Bi Sitti mengatupkan bibirnya dan menggelengkan kepala perlahan, matanya menatapku lesu.


"Sepertinya belum dapat nyonya, apalagi tuan Aaron jarang ada di rumah ini." Carissa mengangguk, kemudian matanya menatap Bi Sitti hati-hati.


"Apakah semua orang dirumah ini mengetahui hal ini? Bahkan para pelayan sampai berbicara dengan berani dihadapanku. Apakah ini juga sudah tersebar di media?" Bi Sitti menggeleng, kemudian wajah wanita tua itu menahan marah.


"Lupakan itu Bi, itu tidak penting sekarang. Aku cuma mau tahu apakah Aaron sudah punya bukti baru atau petunjuk baru tentang kejadian itu. Karena aku juga ingin mencari bukti, untuk membebaskan diriku dari tuduhan yang tidak masuk akal ini. Untuk para pelayan cukup ingatkan saja kalau bergosip jangan di depan orangnya." Bi Sitti hanya menganggukan kepala sedangkan Carissa tersenyum datar.


"Terimakasih Bi, maaf telah mengganggu pekerjaanmu. Kembalilah bekerja!" Bu Sitti mengangguk dan berjalan tegak pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Carissa segera menelpon Arlan, untuk menjemputnya dirinya karena Carissa perlu bertemu Arlan ada banyak hal yang perlu dilakukannya untuk membela Carissa. Carissa tidak mau Nurmansyah menghina dirinya, begitupun Aaron. Aaron bahkan juga menuduhnya malam itu, Carissa tidak akan membiarkan itu berkepanjangan, dirinya harus menemukan bukti untuk terlepas dari tuduhan itu.


Kembali masuk ke rumah utama Carissa lalu berjalan menuju kamar Nadirah untuk menemui gadis itu, sekeligus melihat keadaan gadis itu. Carissa mengetuk pintu kamar Nadirah, beberapa saat pintu akhirnya terbuka ibu Aaron yang membukakan pintu untuknya. Sontak Aisyah memeluk Carissa erat, kangen juga dia dengan menantunya ini.


"Kok baru kelihatan? Kangen banget mama sama kamu!" Carissa tersenyum menatap mertuanya.


"Habis menginap dirumah teman ma, mama sudah lama?" Aisyah mengangguk.


"Nadirah belum lama tidurnya?" Carissa menatap Nadirah yang tertidur dengan tenang.


"Belum, baru saja. Mama harap semuanya cepat selesai, kasihan sama Nadirah." Air mata kembali jatuh dipipi Aisyah, Carissa merasa sayu melihatnya.


"Mama yang sabar ya!" Carissa memeluk ibu mertuanya dan mengelus punggungnya.


"Kamu juga, mama tahu kamu tidak mungkin sejahat itu." Carissa mengangguk, dan memeluk ibu Aaron lebih erat. Carissa dan Aisyah sama-sama berbagi kesedihan dan saling menguatkan. Carissa tersenyum hatinya menjadi bahagia, setidaknya masih ada orang yang percaya pada dirinya.

__ADS_1


Nurmansyah datang ke rumah Aaron untuk menjenguk Nadirah, pria itu membawakan martabak makanan kesukaan Nadirah. Nurmansyah menjadi geram melihat Carissa berada dikamar putrinya. Kurang ajar! Dasar tidak tahu malu! Berani-beraninya gadis itu masuk ke kamar anaknya. Nurmansyah menatap tajam Carissa kemudian menarik gadis itu. Carissa merintih merasakan tangannya yang kesakitan.


****


__ADS_2