
Setelah makan malam Aaron turun ke bawah, mata pria itu kembali berkilat-kilat. Aaron menuju ruang kerjanya kemudian meminta kepala pelayan memanggil adiknya.
Mendengar perintah tuannya, Bi Sitti berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar Nadirah. Wanita paruh baya itu segera mengetuk pintu kamar yang ditempati Nadirah.
Tok tok tok!
Mendengar ketukan pintu kamarnya Nadirah beranjak. Nadirah muncul dibalik pintu, Nadirah mengerutkan alisnya melihat Bi Sitti yang berdiri di depan kamarnya. Melalui ekor matanya Bi Sitti menangkap keberadaan sasha di dalam kamar itu.
"Anda dipanggil tuan muda di ruang kerjanya Nona, segeralah kesana!" Nadirah memucat mendengar penuturan kepala pelayan ini, ada apa malam-malam begini Abang Aaron memanggilnya. Apa abangnya akan memberikan hukuman padanyakah?
"Apa yang akan Abang sampaikan Bi?" Nadirah mencoba peruntungannya untuk bertanya, setidaknya dirinya tidak akan mati kutu jika sudah mengerti arah pembicaraan abangnya.
"Silahkan temui tuan muda sendiri nona, agar Anda tahu apa yang akan dibicarakan pada Anda, Nona!" Nadirah cemberut mendengar jawaban kepala pelayann itu. Dengan menghentakkan kakinya jarena kesal kemudian berjalan meninggalkan Bi Sitti. Bi Sitti menggelengkan kepala melihat kelakuan Nadirah, Bi Sitti kemudian berjalan tegak menuju dapur. Wanita paruh baya itu tidak lagi menoleh pada Nadirah.
Nadirah mengetuk pintu ruang kerja abangnya dengan tangan bergetar, Nadirah masih takut pada abangnya. Apalagi setelah insiden keributan dirumah ini. Nadirah baru mengetuk satukali pintu langsung terbuka, Nadirah langsung masuk menghampiri abangnya yang duduk di kursinya.
" Ada apa Abang panggil Nadirah?" Nadirah menunduk, takut bertentangan mata dengan abangnya.
"Apa kamu tahu yang dilakukan Sasha pada istri Abang?" Alis Nadirah terangkat, Sasha tidak menceritakan apapun padanya. Nadirah menggeleng mantap menatap abangnya.
"Kali ini Abang benar-benar tidak akan memaafkan Sasha, jika kamu ketahuan terlibat Abang akan kirim kamu ke tempat yang terpencil sebagai hukuman." Nadirah melotot dan susah payah menelan ludahnya, sejak kapan abangnya seseram ini padanya? Nadirah menggeleng laju mengingat meyakinkan abangnya. Syukur dirinya tidak terlibat lebih jauh dengan Sasha.
"Nadirah tidak berbohong bang, Nadirah tidak ikut campur urusan Sasha. Walaupun Nadirah ingin, Nadirah masih kenal siapa Abang." Nadirah menggigit bibirnya, kenapa abangnya menatapnya penuh curiga padanya sih? Padahal Nadirah sudah berkata sejujur-jujurnya. Nadirah memang tidak ikut rencana Sasha atau apapun untuk masa depannya yang aman, karena abangnya selalu sungguh-sungguh dengan setiap kata-katanya. Nadirah tidak mau dihukum oleh abangnya.
"Kembali ke kamarmu! Jangan katakan apapun pada Sasha! Suruh dia datang di sini menemui Abang!" Nadirah mengangguk gadis itu lalu berdiri dan keluar dari ruang kerja abangnya. Setelah keluar dari ruang kerja abangnya Nadirah bernapas lega, akhirnya ia bisa juga bernapas dengan normal.
Sampai di kamarnya, Sasha juga masih berada di atas ranjang Nadirah, Sasha menatap Nadirah dengan pandangan berbinar. Sepertinya gadis itu penasaran dengan apa yang dikatakan Aaron pada Nadirah.
"Kak Sasha dipanggil Abang Aaron, jadi langsung kesana saja!" Nadirah meremas jemarinya, gadis itu sedikit takut. Perasaan Nadirah tidak enak menatap Sasha.
Bertolak belakang dengan yang dirasakan oleh Nadirah. Sasha bukannya langsung pergi ke ruang kerja Aaron, Sasha malah ke meja rias merapikan make up dan bajunya. Nadirah menarik napas, menetralkan perasaan takutnya.
"Kak, Abang gak suka menunggu lama, sebaiknya kakak pergi sekarang!" Nadirah bernada gusar, Sasha mengangguk kemudian keluar dari kamar Nadirah. Nadirah menatap kepergian Sasha dengan sedih, sepertinya Sasha tidak akan berada di rumah ini lagi. Nadirah jadi bertanya-tanya dalam hati apa yang telah dilakukan Sasha?
__ADS_1
Sasha berjalan penuh senyuman menuju ruang kerja Aaron. Ruang kerja Aaron sudah terbuk Sasha langsung masuk, begitu masuk pintu langsung terkunci. Aaron membalikkan badannya menatap Sasha tajam.
"Sha aku tidak tahu apa tujuan kamu menumpang dirumahku, tapi aku tahu apa yang sudah kamu lakukan selama berada di rumah ini!" Sasha sedikit terperanjat mendengar perkataan Aaron kemudian Sasha kembali menenangkan dirinya. Sasha, mengangkat kepalanya menatap Aaron tanpa rasa bersalah.
" Ini gak yang seperti ayang Aaron lihat kok, Sasha gak ngapa-ngapain kok, suer!" Sasha mengangkat dua jarinya, Aaron hanya menatap Sasha bosan.
"Aku tidak akan basa-basi lagi!" Aaron melemparkan sebuah hasil tes tentang kandungan nasi goreng yang dibuat Sasha. Sasha kelabakan untuk beberapa detik, dengan tangan gemetar Sasha menerima kertas itu. Sasha pucat saat semuanya ketahuan, gadis itu bingung nasi itu masih ada di kamarnya bagaimana bisa ketahuan?
"Lo benci Carissa oke, tapi lo gak punya hak melakukan ini. Carissa tidak ada sangkut pautnya dengan apapun. Kalaupun gue gak nikah dengan Carissa, gue gak akan nikah sama cewek kayak lo!" Aaron berteriak dihadapan Sasha. Sasha menatap Aaron pucat, lidah gadis itu kelu.
"Lo pergi dari rumah gue, kehidupan gue. Gue gak akan pernah maafin lo!" Sasha tersenyum sinis mendengar Aaron mengusirnya, gadis itu kemudian tertawa lalu bertepuk tangan dengan keras.
"Oke aku pergi. Akan tetapi seperti yang Abang tahu, bersama Carissa Abang tak akan pernah punya keturunan sampai kapan pun." Tawa Sasha membahana di ruangan itu kemudian gadis itu berlalu untuk benar-benar pergi dari rumah Aaron.
Sasha tidak peduli Aaron marah atau mengusirnya yang terpenting adalah dendamnya pada Carissa sudah tuntas. Lagipula, cepat atau lambat Carissa akan diusir dari kehidupan Aaron. Siapa yang akan mempertahankan gadis yang tidak mampu memberikan keturunan? Sasha tersenyum penuh kemenangan.
Karena kesal Aaron melemparkan vas bunga ke arah Sasha vas itu mengenai pintu, Sasha sedikit terkejut kemudian tersenyum sinis menatap Aaron. Salah sendiri Aaron menolak dirinya dan memilih gadis kampung itu. Sasha keluar dari kamar Aaron dengan santai dan tersenyum menyeringai.
Aaron meremas rambutnya, secara tidak langsung dirinya telah menghancurkan hidup Carissa. Benar-benar kurang ajar! Aaron sialan! Aaron menyalahkan dirinya. Aaron benar-benar mengamuk, kesal pada dirinya sendiri. Para pelayan yang berada diluar ruang kerja dibuat takut oleh suara-suara barang pecah di dalam ruang kerja Aaron. Bi Sitti mengetuk pintu ruang kerja Aaron, tidak ada jawaban apapun. Bi Sitti segera memerintahkan Maryam untuk memanggil Carissa.
"Ada apa Maryam?" Carissa menatap Maryam tajam, Carissa sedikit kesal karena merasa terganggu oleh kedatangan gadis itu.
"Tuan Aaron mengamuk diruang kerjanya, sepertinya hanya anda yang mampu menenangkannya nyonya!" Carissa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, seingatnya tadi Aaron baik-baik saja. Apa yang telah terjadi pada pria itu?
" Ya sudah, ayo kesana!" Carissa segera mengunci pintu kamarnya. Carissa menuruni tangga dengan tergesa-gesa, gadis itu melihat banyak pelayan yang berdiri di depan ruang kerja Aaron. Carissa membubarkan mereka kecuali kepala pelayan yang masih bersama dirinya. Carissa mengetuk pintu, tidak ada jawaban apapun. Carissa menjadi kesal dan mengetuk pintu lebih keras, tidak ada respon apapun dari Aaron.
Carissa lalu mencoba membuka pintu itu dengan password yang sama dengan password kamar tidurnya. Ajaib pintu langsung terbuka. Carissa segera masuk ke dalam ruangan itu bersama Bi sitti. Mata Carissa terbelalak, ingin sekali ditaboknya kepala Aaron. Apa sih yang dipikirkan pria itu sampai- sampai harus membuat ruang kerja ini berserakan. Ruangan ini dipenuhi oleh pecahan vas dan guci, serta buku-buku berhamburan. Carissa menggeram, Carissa sangat marah sekarang.
Bi Sitti hanya mengikuti Carissa tanpa berkomentar apapun. Carissa melangkah masuk mengelilingi ruang kerja Aaron ternyata ada lagi ruangan kecil yang berada di ruangan itu. Carissa menggeser pintunya pelan pelan. Mata Carissa terbelalak menyaksikan suaminya dengan tangan berlumuran darah dan menangis. Pria itu terlihat sangat kacau sekarang.
"Mas!" Carissa berteriak, Carissa segera meminta diambilkan kotak P3K oleh BI Sitti. Aaron hanya tersenyum lemah pada istrinya.
"Mas itu apa-apaan sih, kurang kerjaan banget mencelakai diri sendiri dan melakukan hal kayak gini?" Carissa kemudian menarik suaminya itu untuk berdiri, Aaron berdiri mengikuti istrinya.
__ADS_1
"Mas, ihhh. Pokoknya Carissa benci sama mas yang kayak gini. Jangan diulangi lagi!" Carissa menatap Aaron dengan tegas, Aaron mengangguk lemah. Bagaimana bisa Aaron tidak akan merasa bersalah, sedangkan istrinya ini sangat baik padanya. Bagaimana mungkin Aaron tidak menyakiti dirinya sendiri, istrinya ini memperlakukannya dengan sangat baik. Bagaimana mungkin Aaron akan baik-baik saja sedangkan pria itu secara tidak langsung telah membuat istrinya cacat. Istrinya cacat karena dirinya!
"Sayang, maafin mas ya. Untuk semua yang terjadi sama kamu." Carissa mengangguk walaupun gadis itu tidak paham kemana arah pembicaraan suaminya.
Bi Sitti datang dengan kotak P3K ditangannya, wajahnya tersenyum melihat Aaron yang dimarahi Carissa. Sepertinya tuannya ini sudah terikat pada istrinya, terlihat dari Aaron yang hanya tersenyum-senyum mendengar Omelan Carissa. Bi Sitti meletakkan kotak p3k kemudian berlalu ketika Carissa menganggukkan kepalanya.
"Sayang pelan-pelan dong! Akhhhh." Aaron meringis merasakan carissa membersihkan tangannya. Carissa menatap tajam suaminya, untung jadi suami kalau jadi teman Carissa akan ditekan kuat-kuat luka ditangan Aaron. Tadi tidak ada kesakitan apapun saat menonjok tembok, ketika dibersihkan lukanya pria itu merasakan kesakitan. Dasar manja, cibir Carissa dalam hati sambil membersihkan luka Aaron.
"Mas ini sangat pelan. Kalau diikutkan hati Carissa maunya akan melakukannya dengan sangat kasar biar mas kapok, biar tidak melakukan hal seperti ini lagi!" Aaron tertawa mendengar omelan istrinya, Carissa terpana melihat Aaron yang tertawa. Sejak kapan suaminya ini bertambah tampan ketika tertawa? Carissa menggelengkan kepalanya kembali fokus pada tangan Aaron.
"Iya deh, mas tidak melakukannya lagi kalau tidak perlu." Carissa tidak menanggapinya lagi, Carissa fokus pada perban yang telah dipasangnya.
"Selesai!" Carissa tersenyum manis, Aaron menatap tangannya yang sudah bersih dan rapi dibalut perban.
"Carissa balik dulu ya mas, Carissa ada tugas kuliah mas." Carissa segera turun dari sofa. Aaron menarik lengan gadis itu, Carissa kembali terduduk diatas pangkuan Aaron.
"Mas!" Carissa menatap Aaron sengit. Aaron hanya tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi. Aaron tahu istrinya ini mahasiswa yang sangat rajin, pasti tugas kuliah yang diselesaikan oleh istrinya itu tugas yang diberikan saat kuliah tadi pagi. Aaron masih ingin bermanja dengan istrinya sekarang.
"Temanin mas ya, tugas kamu nanti saja. Mas butuh kamu disini." Carissa mau menolak tapi yang terjadi adalah kepalanya yang mengangguk, Carissa merutuki dirinya yang sangat mudah luluh pada suaminya apalagi ketika pria itu melembutkan suaranya.
Carissa mengangguk dan ikut naik ke atas sofa, Aaron tersenyum. Pria itu meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya dan menghirup aroma istrinya dalam-dalam.
Aaron merasa tenang, pria itu kemudian menatap istrinya lekat-lekat. Carissa terlihat sangat manis, Aaron melayangkan kecupan kilat pada bibir istrinya.
"Mas, naik ke kamar, biar enak mas istrahat nya." Aaron mengangguk, kemudian pria itu memeluk pinggang istrinya. Aaron membawa Carissa keluar rumah bukan ke kamar mereka, mata Carissa bertanya-tanya. Aaron masuk kedalam mobil setelah Carissa masuk.
"Kita mau kemana mas?" Carissa menatap dirinya bergantian dengan Aaron. Aaron terlihat lebih rapi dibandingkan dirinya.
"Klinik sayang, mas mau memastikan sesuatu." Carissa mengangguk saja.
Sepanjang perjalanan Aaron tidak melepaskan tangan istrinya, atau kadang-kadang menciumi tangan istrinya. Jantung Carissa berdangdut ria di dengan perlakuan Aaron yang seperti ini.
Sampai di klinik Aaron melepaskan sabuk pengaman istrinya kemudian pria itu turun duluan, Carissa menyusul. Aaron tidak melepaskan rangkulannya dari Carissa, apalagi saat memasuki klinik itu.
__ADS_1
Aaron segera mendatangi ruangan yang bertuliskan pemeriksaan kandungan. Aaron tersenyum kemudian mempersilahkan Carissa untuk mengikuti seorang dokter yang menyambut mereka. Aaron tersenyum mendengar penjelasan dokter kandungan itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan, rahim Carissa baik-baik saja. Carissa juga tersenyum tidak salah tadi gadis itu memuntahkan nasi goreng yang diberikan Sasha bahkan sampai minum susu dan air kelapa. Sepertinya Aaron tahu sesuatu tentang nasi goreng itu, Carissa makin meleleh suaminya ini memang luar biasa! Malam itu keduanya tidak pulang ke rumah, Aaron mengajak Carissa untuk menginap di villa miliknya.