
Arlan menatap serius pada Carissa kemudian berdehem pelan.
"Lo tadi mau tanya tentang harta-harta itu?" Carissa mengangguk menatap menatap Arlan.
"Harta itu sudah aman, paman berhasil menghentikan mereka. Jadi seminggu lagi lo sudah bisa mencairkan aset-aset lo." Carissa menatap mereka serius.
"Kalau bisa lo saja yang kelola aset itu, seperti dulu. Gue belum siap, dan gue lagi bentrok juga dengan Aaron sekarang." Arlan mengangguk, tanpa bertanya lagi.
"Gue percaya sama lo berdua, gue kesini mau minta tolong lo berdua mencarikan aku tempat untuk membuka toko. Aku lagi cuti kuliah sekarang." Dewi mengangguk sambil menyiapkan buburnya.
" Lo tenang saja, kita bakal bantu kok." Carissa menghabiskan buburnya kemudian segera pamitan.
"Ar, lo serius. Bilang saja yang sebenarnya dong, Carissa bisa bahaya." Dewi menatap khawatir pada Arlan.
"Jangan, Carissa itu suka kepikiran masalah. Pokoknya ini biar menjadi rahasia kita untuk sementara." Dewi mengangguk dan melanjutkan menelan buburnya.
Sampai di rumahnya Carissa dikejutkan oleh Aaron yang sudah berdiri di depan pintu bersama kopernya.
Gila! Apa aku diusir ya? Aku melangkah dan tersenyum kikuk pada Aaron.
"Masuk mobil," aku melongo menatapnya, ini aku benaran diusir?
"Mas, kamu ngusir aku? Kamu mau cerai?" Aku mulai berkaca-kaca, tidak kusangka karena pertengkaran kami Aaron akan menceraikanku.
Aaron menghela napas melihat istri cantiknya itu mulai berkaca-kaca. Melawan semua ego dan kekesalannya Aaron segera memeluk istrinya itu dan membawanya ke dalam mobil. Pak Toni hanya memerhatikan saja majikan dan istrinya itu.
"Kamu jahat banget, kamu bilang mau mempertahankan pernikahan sekarang aku diceraikan. Kamu jahat, kamu bohong, kamu manfaatin aku." Aaron diam, pria itu menekan remote menaikan pembatas yang memisahkan mereka dengan pak Tono. Carissa mulai menangis dan memalingkan wajahnya dari Aaron. Aaron segera menarik istrinya agar rapat padanya.
"Lihat mas, siapa yang mau ceraiin kamu? Siapa yang ngusir kamu?" Aaron mengambil tisu dan membersihkan air mata istrinya. Aaron menciumi kedua mata istrinya. Carissa kembali menjauhkan wajahnya.
"Mas pasti bohong. Kemarin mas menepis tanganku, setelah itu mas tidak pulang makan malam karena makan malam dengan cewek lain, hiks hiks" Carissa kembali menangis, membuat Aaron menghela napas.
Diangkatnya Carissa dan didudukan diatas pangkuannya. Carissa menyembunyikan wajahnya di leher Aaron.
"Sayang, itu cuma teman masa lalu mas. Kemarin mas cuma kesal sayang, mas minta maaf ya sudah membuat kamu sedih." Carissa tidak menggubris Aaron tapi suara tangisannya mulai mereda. Aaron merapikan rambut istrinya itu, Carissa menutup mata jika Aaron menatap wajahnya. Aaron merasa geli melihatnya.
__ADS_1
"Gemas banget lihat istri mas seperti ini." Aaron langsung mencium pipi Carissa dan juga bibirnya. Aaron sengaja sedikit ******* bibir istrinya.
" Mas ganjen banget deh." Carissa menutup bibirnya, dan kembali menyembunyikan wajahnya dileher pria itu.
" Ganjen sama istri sendiri bagus loh, coba kalau mas ganjen sama cewek lain?" Carissa segera mencubit perut Aaron.
"Carissa juga akan cari cowok lain, yang lebih tampan dari mas." Niatnya bercanda, sekarang Aaron malah ikut panas mendengar Carissa menyebut cowok lain.
"Enak saja, mas tidak akan membiarkan itu terjadi." Carissa terkikik geli mendengar suaminya menggeram. Pasti cemburulah, Carissa senang Aaron cemburu.
"Kita mau kemana mas?" Aaron menatap wajah istrinya itu.
"Kerumah omanya mas." Carissa melotot dan segera turun dari pangkuan Aaron. Carissa menatap Aaron kesal.
"Mas kok tidak bilang? Kalau oma juga tidak suka aku gimana?" Carissa terdengar khawatir, Aaron menggenggam tangan istrinya.
"Oma memang nyebelin kok, jangankan kamu aku saja cucunya takut sama oma. Tapi oma punya hati yang baik, jadi kamu tenang saja. Anaknya dan cucunya oma saja kesemsem sama kamu, masa oma tidak." Carissa kembali mencubit suaminya itu.
"Mas, jangan bercanda deh. Kalau oma suruh kamu ceraiin aku gimana?" Carissa merasa was-was, apalagi dari dirinya tidak ada yang layak dibanggakan. Dia menikah dengan Aaron pun itu cuma karena terjebak.
"Sayang, mas tidak seburuk itu. Mas akan perjuangin kamu lah, kamu kira mas ini lelaki apa?" Aaron mengelus rambut istrinya, Carissa memeluk lengan suaminya itu.
"Mas tidak mau mendengar kata-kata ditinggal atau semacamnya, kalau kamu mengucapkan itu lagi. Mas akan kasih kamu pelajaran." Carissa menelan ludah mendengar ancaman suaminya.
Carissa memainkan tangan suaminya sebelum akhirnya gadis itu tertidur. Aaron membawa Carissa kedalam pelukannya, pasti istrinya ini capek karena menangis tadi. Aaron mengecup kening istrinya sebelum akhirnya ikut memejamkan matanya.
Sampai di kampung tempat oma Aaron berada Carissa tersenyum canggung dan menyalami wanita tua itu. Ternyata rumah Oma Aaron tidak kalah mewahnya dengan rumah yang dimiliki oleh Aaron. Carissa mengikuti Aaron yang mengangkat koper mereka. Aaron membagi-bagikan oleh-oleh buat saudara sepupunya dan juga tetangga-tetangga omanya.
"Sayang kamu berbaur saja dengan semua keluarga mas. Kamu tidak perlu takut atau pun cemas." Aaron memeluk istrinya ini, Carissa balas memeluk suaminya ini. Aaron menggenggam tangan Carissa saat keluar kamar, semua keluarganya menggoda mereka. Carissa menjadi malu dibuatnya sedangkan Aaron hanya tertawa dan sesekali membalas gogaan mereka.
Carissa segera melepaskan diri dari Aaron dan ikut membantu apa yang bisa dikerjakannya. Malam ini Oma mengadakan acara syukuran kedatangan Aaron, walaupun Oma memiliki pelayan tapi saat acara syukuran seperti ini banyak warga yang datang membantu. Inilah yang disenangi Oma karena masih kentalnya rasa kekeluargaan tinggal di kampung ini.
Setelah selesai acara makan-makan saat acara kumpul-kumpul, Aaron dan Carissa mendapatkan banyak pertanyaan dari keluarga mereka.
"Sudah isi? Sudah lama kan kamu menikah?" Aaron tersenyum menatap istrinya.
__ADS_1
"Belum rejeki tante, Alhamdulillah baru jalan 6 bulan kok tante pernikahanku." Ibu yang tadi bertanya tersenyum, kemudian kembali bersuara.
"Secepatnya periksa kandungan, jangan sampai kalian punya penyakit. Itu sepupumu Si Winda langsung isi setelah satu bulan menikah atau istrimu KB?" Carissa menelan ludah menatap orang-orang yang menatap mereka penasaran. Carissa ingin berbicara, tapi sudah di dahului oleh Aaron.
"Anak itu kan rejeki tante. Mungkin si Winda lebih cepat dapat rejekinya. Lagi pula Carissa masih muda kok, jadi tidak perlu terburu-buru." Carissa menggenggam erat tangan Aaron yang ada di atas pahanya. Ini baru berhadapan dengan tante Aaron belum lagi dengan oma Aaron.
"Iya betul kata Aaron kak, itu sudah di atur sama Tuhan. Bukan karena penyakit." Seorang ibu berkerudung pink ikut nimbrung.
"Tidak ada salahnya cek, karena kelihatan sehat belum tentu benar-benar sehat." Carissa menggigit bibir, entah kenapa dirinya terasa dengan perkataan ibu itu yang seperti sengaja memojokannya.
"Terimakasih tante, nanti aku periksa." Aaron mengambil jalan tengah untuk menyudahi percakapan ini. Kemudian dengan sopan Aaron memohon ijin untuk pamit ke kamarnya. Carissa mengekori suaminya, meninggalkan ibu-ibu rempong itu.
"Biasalah anak muda, berdua terus masih hangat." Semua yang mendengarnya tertawa. Oma Aaron keluar setelah selesai melakukan shalat isya.
"Aaron dan istrinya mana?" Shelina tersenyum menatap Oma.
"Biasalah kak, masuk tidur mereka." Oma mengangguk.
"Kak, suruh pergi periksa mereka berdua. Masa sudah lama menikah belum ada isinya. Apalagi istrinya si Aaron itu, sepertinya banyak perawatan itu sampai susah punya anak." Oma hanya menggelengkan kepala mendengar saran dari saudara-saudaranya ini.
"Siapa yang bilang perawatan bikin susah punya anak?" Shelina menjadi penasaran.
"Adalah aku dengar dari temanku, kamu pikir orang cantik itu tidak banyak perawatannya? Jaga badan itu tidak gampang olahraganya berat-berat jadi mana mungkin bisa tinggal anak." Shelina mengangguk-angguk.
"Sudah jangan bicara sembarang, kalian pulang menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anak yang ada di rumah. Berhentilah menggibah tidak ada pahala yang kalian dapat, tidak dapat gaji juga. Menggibah cuma buang-buang air liur." Semua ibu-ibu yang ada disitu merasa di skak oleh oma. Mereka bubar untuk pulang ke rumah masing-masing.
Di dalam kamarnya Aaron memeluk istrinya, sejak dari ruang keluarga tadi Carissa menjadi banyak diam. Aaron kembali menggenggam tangan istrinya dan membawanya ke bibirnya kemudian dikecupnya.
"Jangan dipikirin, kamu tahu 'kan mereka kebiasaan banyak bicara. Kamu harus belajar tidak mengambil hati ucapan mereka." Carissa mengangguk.
"Anak itu rejeki, anak itu titipan. Kamu jangan dengarin omongan mereka. Toh, aku juga menikahi kamu bukan tujuannya untuk anak, kalau tujuannya anak berarti kalau tidak ada anak aku ceraikan kamu. Aku tidak sepicik itu, kamu ngomong dong. Masa mas ngomong sendiri." Carissa memeluk suaminya, Aaron mengelus-elus kepala istrinya.
"Tapi kalau benar aku punya penyakit gimana?" Carissa mulai berkaca-kaca. Aaron balas memeluk istrinya itu.
"Sayang, kita berobat. Kamu sehat, kita sudah pernah periksa kan? Kamu jangan kepikiran omongan mereka. Kamu harus senyum, biar mas ikut tenang." Carissa tersenyum lebar. Aaron memberikan ciuman di dahi istrinya itu.
__ADS_1
"Jangan pikir macam-macam, ayo tidur. Kita butuh banyak tenaga untuk menghadapi besok." Carissa mengangguk, Aaron tersenyum melihat istrinya mulai memejamkan mata.
Dikamarnya Sasha tersenyum senang, tadi dirinya juga mendengar jika Aaron dan Carissa dilempari banyak pertanyaan sensitif dari keluarga yang lain. Sasha tersenyum senang jika Carissa belum hamil, itu artinya rencananya itu hari benar-benar berjalan lancar. Rasakan Aaron, suatu saat nanti kamu akan kembali menyesali keputusanmu membela Carissa.