
Aaron segera memanggil dokter pribadinya, Nadirah harus segera dirawat. Pria itu mengetatkan rahangnya menggenggam penumbuknya, siapapun pelakunya dia akan membayar mahal untuk kejadian ini. Aaron mengepalkan tangannya dengan keras. Nurmansyah terduduk lemas, pria tua itu masih belum terbangun dari mimpi buruknya. Masih terekam dalam ingatannya beberapa tahun yang silam, Nadirahlah yang sering menyambutnya pulang kerja dan begitu menyayanginya, berbeda dengan Aaron karena sejak dulu dirinya memang tidak dekat dengan anak itu setelah anak itu beranjak dewasa. Zein hanya menatap biasa tuan Nurmansyah dan tuan Aaron, kedua laki-laki dewasa itu menatap dalam diam. Aaron terdiam pikirannya melalang buana.
"Mari lupakan masa lalu nak, aku tidak akan memaafkan perbuatan wanita itu. Wanita itu telah mencoreng harga diri keluarga kita dengan membuat Nadirah seperti ini." Nurmansayah mengucapkannya dengan mata yang berkilat tajam penuh dendam.
"Siapa yang bilang ini perbuatan Carissa? Bukankah tadi Carissa menolong Nadirah, walaupun aku tidak tahu siapa pria yang bersamanya." Aaron membalas datar, masih belum sepenuhnya yakin jika Carissa pelakunya.
"Kau jangan bodoh Aaron, walaupun dia istrimu dia itu punya dendam dengan diriku. Apalagi jika dia tahu aku punya anak perempuan." Nurmansyah mencibir anaknya, Aaron terlalu mudah terpercaya oleh wanita itu, begitu mudahnya wanita itu merasuki Aaron.
"Papah, jangan bodoh. Siapa tahu ini dendam dari orang-orang yang papa sakiti, simpanan-simpanan papa misalnya?" Aaron membalas tak kalah tajamnya, membuat muka Nurmansyah memerah.
"Jaga omongan mu! Jangan seenaknya!" Nurmansyah berteriak yang membuat Aaron tersenyum menyeringai.
"Mengapa papa berteriak? Papa takut jika omonganku akan terbukti benar? Aku tidak akan memaafkanmu sama sekali jika ini karena ulah para simpananmu, meskipun kamu adalah papaku." Aaron melenggang pergi menjauhi Nurmansyah.
"Lihatlah, itu sikap asli dari anak itu. Aku sangat benci anak itu Zein, aku sangat benci anak itu." Nurmansyah menatap putus asa punggung Aaron yang menjauhi mereka dengan penuh kemarahan. Zein menatap Nurmansyah iba, pria itu ikut memandang punggung Aaron yang menjauh.
"Mungkin dia belum menerima kenyataan atas masa lalu anda tuan?" Zein menatap Nurmansyah hati-hati takut kalau pria tua itu tersinggung.
__ADS_1
"Bagaimana pun, tidak sepantasnya dia mengatakan hal seperti itu padaku. Dia lebih membela istrinya, gadis kurang ajar yang juga penipu itu." Nurmansyah bersuara dengan penuh kemarahan. Tergambar dari wajahnya yang memerah juga rahangnya yang mengeras.
"Bagaimanapun seorang suami wajib mempercayai istrinya, itu tindakan yang benar, Tuan." Nurmansyah mencebik mendengar jawaban Zein. Benar dari mana sedangkan Carissa itu melakukan kejahatan, dimana letak benarnya?
"Tapi itu istri baik-baik, lain halnya dengan Carissa. Gadis itu hanya mengandalkan wajahnya dan Aaron dengan bodohnya terpengaruh gadis itu. Carissa bukan istri baik-baik." Nurmansyah masih berapi-api, Zein tertawa dalam hati melihat tuannya yang seperti ini.
Bagaimana jika seandainya Carissa menjadi istri anda apakah dia juga akan anda katakan bodoh? Apakah anda tidak akan terpengaruh oleh Carissa seperti Aaron yang terpengaruh oleh gadis itu? Zein membatin mengulum senyum mengejek bosnya ini. Nurmansyah mengatur napasnya yang berkejaran, marah sebenarnya sudah tidak baik lagi untuk dirinya, karena akan membuat lehernya tegang. Pria tua itu berusaha meredakan amarahnya dengan menghela napas panjang.
"Begitulah suami yang seharusnya tuan, mereka harus membela istri mereka, bagaimanapun kewajiban mereka melindungi istrinya, termaksud membela mereka." Nurmansyah menatap Zein sedikit tak suka, disengaja atau tidak dalam hatinya merasa tercubit mendengar perkataan pria muda yang ada dihadapannya ini. Pria itu kembali lagi pada masa-masa dahulu ketika dirinya masih menikah bersama Aisyah, tidak pernah sedikitpun dia ikut campur urusan istrinya atau membela istrinya seperti yang dilakukan Aaron. Dia memiliki banyak wanita yang akan membuatnya senang, jadi tidak peduli dengan perasaan istrinya. Aaron memang bodoh sampai dikendalikan oleh istrinya itu.
"Kau belum menikah, itulah pikiranmu sangat idealis. Ketika kau sudah menikah dan mempunyai banyak uang, kau tidak akan sanggup untuk menahan banyak godaan. Ibaratnya kamu adalah kucing yang dihampiri ikan asin, coba-coba kemudian ketagihan dan tidak akan pernah lepas." Zein tersenyum tipis, dan mengangkat bahu tidak peduli. Semua orang punya pembelaan untuk semua tindakannya, dan itu benar menurut mereka masing-masing.
"Apa ini tidak salah pak? Bagaimana bisa seperti ini?" Aziz masih menggeleng tidak percaya.
"Benar tuan, barang yang dianggap barang bukti itu bukan barang bukti yang sebenarnya. Itu kesengajaan pelaku, juga tidak ada sidik jari sama sekali." Aziz menggenggam penumbuknya, siapa sebenarnya yang bermain-main, ini sudah direncanakan sangat matang. Masalah semakin menyusahkan mereka untuk mengetahui siapa yang harus bertanggung jawab pada insiden yang menimpa Nadirah. Aziz meremas rambutnya, dan menggeleng bingung.
"Menurut hasil penyelidikan kami, tempat ditemukannya korban bukanlah lokasi asli. Kita harus menunggu korban pulih untuk mengorek informasi darinya." Aziz terdiam, pria ini memutar otaknya keras.
__ADS_1
“Orang yang terduga sebagai anak buah pelaku mengatakan jika ia diperintah oleh Carissa sebelum akhirnya kabur dari pengawasan dan sekarang sedang dalam pencarian. Maafkan kelalaian kami tuan." Aziz menatap polisi itu tercengang, itu sangat tidak mungkin mengingat Carissa bersama Aaron dikampung oma. Atau mungkin Carissa merencanakan segalanya dan ikut Aaron itu adalah alibinya? Apa wanita itu menyewa orang lain? Aziz bertambah pusing, banyak kemungkinan-kemungkinan yang menghasutnya. Membuatnya mendongakkan kepala mengucapkan terimakasih dan pergi dari kantor polisi.
"Jangan sampaikan apapun tentang yang kalian dengar tadi pada Aaron." Baik tuan, Aziz mengangguk dan masuk ke dalam mobil untuk ke rumah Aaron.
Arlan dan Carissa yang tertinggal di hutan segera bergerak untuk pulang. Hari mulai malam, dan nyamuk mulai banyak yang menggigit mereka. Carissa menatap Arlan dengan raut yang berbinar penuh rasa penasaran.
"Lo kenapa tadi sampai tertawa?" Carissa menatap Arlan datar, Arlan memicingkan matanya pada Carissa.
"Lo juga tertawa kalau lo lupa." Carissa menganggukan kepala mendengar jawaban Arlan.
"Childhish banget sih, suami lo. Masa aku yang dituduh tadi, gue paham sih kalau dia khawatir atau sedih tapi bukan seperti itu caranya." Carissa mengangguk datar, dan kembali menatap Arlan.
"Serius, itu bukan ulah paman gue?" Arlan menganggukan kepala mantap.
"Gue aneh sih rasanya, melihat lo tertawa tadi? Lo kenapa?" Carissa tersenyum kecil menatap Aaron menunggu penjelasan pria itu.
"Gue merasa lucu saja, kita sudah capek-capek cari keliling-keliling dalam hutan, tapi yang ada malah sempat juga diteriakin penuh kemarahan." Carissa mengangguk mendengar penjelasan Arlan, Aaron tidak masuk akal banget sampai menuduh mereka yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Nggak usah terlalu dipikirin, jadi gue antar lo pulang kemana?" Carissa menimbang-nimbang kalau pulang takut juga dia pada Aaron, tapi mungkin Nadirah membutuhkan dirinya, gadis itu pasti membutuhkan teman sekarang.
"Lo antar gue di rumah Aaron, gue ingin tahu keadaan Nadirah." Arlan menganggukan kepala. Carissa memejamkan matanya sambil mengekori Arlan yang menuju mobilnya. Semoga semuanya baik-baik saja, harap Carissa dalam hatinya.