Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Menyusun


__ADS_3

Happy reading πŸŽ‰


Terimakasih untuk like, vote dan komentarnya ILU 3000+000,5πŸ’•


Nadirah mulai memikirkan hal lain untuk mencari tahu siapa pria yang melecehkannya itu, bagaimana caranya agar aku mengenal pria itu? Apa aku harus benar-benar mencari detektif yang baru ya? Nadirah melirik jam sudah pukul 7 malam, gadis itu segera mengirim pesan pada Aziz untuk mencarikan detektif kenalan pria itu.


Nadirah segera mengganti bajunya dan keluar untuk menemui Aziz yang berada di luar rumah. Nadirah pamitan pada ibunya, gadis itu tidak melihat abangnya malam ini. Pasti Aaron bersama Carissa sekarang, bisik hati Nadirah. Gadis itu melangkah dengan tergopoh-gopoh untuk pergi menemui Aziz yang sudah menuggunya di parkiran.


"Yakin bang, teman lo ini profesional?" Nadirah bertanya sekali lagi pada Aziz, membuat Aziz mendengus. Nadirah pokoknya butuh detektif yang benar-benar profesional, agar kasus ini cepat selesai.


"Yakin lah. Awas nanti kamu jatuh cinta, teman aku ganteng dan cool banget." Nadirah memutar bola matanya, palingan juga cowok itu yang akan jatuh cinta pada dirinya.


"Siap bang. Namun, kalau dia yang jatuh cinta sama aku, aku tidak tanggung jawab loh." Nadirah tersenyum menyeringai. Aziz mendengus malas.


"Terserah kamu, tapi aku tidak akan bantu ya kalau Aaron banyak tanya-tanya sama aku." Nadirah menarik bibirnya mencibir, Aaron selalu menjadi alasan.


"Oke, aku tanggung jawab sendiri. Ngomong-ngomong bang, itu teman lo sudah berapa lama jadi detektif?" Aziz mengernyit kemudian menatap Nadirah.


"Sudah 6 tahun sih, cuma sejak punya usaha gym sendiri detektif jadi pekerja sampingan dia." Nadirah mengangguk-anggukan kepala.

__ADS_1


Semoga pelaku yang melakukan kejahatan padanya cepat terungkap. Melihat Aziz yang sepertinya mulai bete, Nadirah akhirnya terdiam sepenjang jalan.


Sampai di restoran yang telah mereka tentukan Nadirah turun mengikuti Aziz yang sudah melangkah jauh di depannya. Nadirah sampai berlari-lari kecil mengikuti pria itu.


Nadirah menelan ludah setelah sampai pada meja dimana Aziz berhenti bahkan pria itu sudah duduk dan mulai salaman kemudian basa-basi dengan detektif itu. Aziz tidak tahu kondisi banget, setidaknya perkenalkan aku dulu sama temannya kek Nadirah membatin.


"Silahkan duduk, Nad ngapain sejak tadi lo berdiri seperti itu?" Aziz menatap heran pada Nadirah. Nadirah tersenyum canggung dan ikut duduk di depan Aziz dan detektif itu. Gulp! Nadirah menelan ludah ketika ekor matanya menangkap pria yang menjadi detektif itu menatapnya dingin. Apa aku terlihat aneh, sampai sebegitu amat ditatapnya.


"Dev, ini adik Aaron yang akan jadi klien kamu." Devan menganggukkn kepala kemudian mengacuhkan Nadirah. Nadirah menggigit bibir, cuma itu apa tidak ada pertanyaan-pertanyaan untuk dirinya?


"Karena aku sudah dengar ceritanya sama kamu, aku pikir aku tidak perlu bertanya sama nona?" Devan mengangkat alisnya menatap Nadirah.


"Nadirah," Nadirah bersuara pelan. Aziz menatap Devan aneh.


"Nanti lo kirimkan saja kontak nona Nadirah jadi kalau aku butuh dia aku tinggal kontak dia saja," Aziz mengangguk. Nadirah meradang dalam hati, kenapa tidak langsung minta saja sekarang sih biar semua cepat selesai.


"Jadi sudah selesai?" Nadirah bertanya dengan tegas, kurang suka dengan sikap Devan yang acuh tak acuh itu. Devan mengangguk.


"Bang, ya sudah kita pulang." Nadirah menarik tangan Aziz, Aziz menggeleng.

__ADS_1


"Setidaknya kita makan dulu lah baru pulang. Ngapain juga sih kamu buru-buru mau pulang?" Aziz menatap Nadirah heran. Nadirah mengangguk tanpa menjawab pertanyaaan Aziz.


Di rumah Dewi, Carissa terperangah ketika Arlan dan Dewi ada di dalam rumah. Apa mereka berdua melihat dia dan Aaron tadi ya? Carissa mencoba bersikap biasa dan tersenyum manis pada Arlan dan Dewi.


"Kalian dari tadi di sini?" Arlan dan Dewi menangguk, Carissa tiba-tiba menjadi pucat. Apa yang akan dipikirkan Dewi jika melihatnya bersama Aaron lagi? Padahal gadis itu sudah mewanti-wantinya agar tidak dekat-dekat lagi sama Aaron.


"Jangan dipikirin, masuk dan ganti baju ini sudah malam loh." Arlan bersuara lembut, Carissa menoleh pada Dewi. Dewi menganggukan kepala sependapat dengan Arlan. Carissa tersenyum dan segera masuk ke dalam.


"Kamu biarin saja Carissa menentukan jalannya sendiri, lihatkan tadi dia sampai pucat gitu saat tahu kita ada di rumah." Dewi menangguk pelan, mungkin dia keterlaluan ya melarang Carissa untuk dekat lagi pada Aaron?


Setelah mandi dan ganti pakaian pikiran Carissa melayang lagi pada kejadian siang tadi. Gila, gila gue benar-benar sudah gila meminta Aaron untuk membiarkan gue mendampingi dia. Kalau gue benar-benar tersakiti gimana dong? Apalagi aku tidak punya siapa-siapa lagi, Dewi pasti akan marah karena aku masih bodoh apalagi kalau dia tahu aku sendiri yang meminta untuk bertahan dengan Aaron. Carissa menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran buruk dari kepalanya.


Aaron yang kini berada di kamarnya terdiam memikirkan Carissa yang ingin menemaninya menyelesaikan semua kekacauan diantara mereka. Apa aku bisa, melakukan semuanya tanpa menyakiti Carissa? Apa aku bisa menyelesaikan semuanya tanpa ada yang tersakiti? Aaron juga tidak tahu bagaimana tanggapan papanya jika dirinya masih bersama Carissa. Tapi kalau dipikir-pikir ini 'kan hidup aku, masa bodoh dengan kata-kata orang lain.


Fani juga merenung dikamarnya, gadis itu terngiang-ngiang pada permintaan Aaron yang menyuruhnya untuk menanyakan semuanya pada pamannya. Fani meremas rambutnya, gadis itu kehilangan semangat. Fani kembali meneteskan air matanya, apa salahnya sehingga seperti ini? Fani teringat pada Rega sejak siang tadi sampai sore ini pria itu tidak kunjung menghubungi dirinya. Fani meraih handphonenya menimbang-nimbang untuk menelpon Rega, kemudian gadis itu mematikan ponselnya kemudian meraih bantal. Nantilah masalah Rega dipikirkannya, dia harus tenang sekarang.


Devan tidak bisa tidur cepat malam ini, entah kenapa dirinya teringat lagi pada Nadirah padahal tidak ada yang istimewa sedikitpun dari gadis itu. Mereka juga baru bertemu tadi untuk pertama kalinya. Devan jadi bertanya-tanya, kesalahan apa yang dilakukan gadis itu sampai mengalami pelecehan seperti itu. Devan menggeleng-gelengkan kepalanya, ngapain sih lo pikirin gadis itu. Gadis itu cuma klien lo doang kali.


Carissa yang belum tidur, mengernyit mendengar ponselnya berbunyi. Carissa turun dari ranjang dengan malas-malasan dan mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tasnya. Matanya melebar melihat nama orang yang menelponnya malam ini. Carissa mengucek matanya, ini benar dari Aaron? Carissa mendadak di kena serang jantung, jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan yang agak bergetar Carissa mengangkat telepon dari Aaron.

__ADS_1


"Ha halo," Carissa menggigit bibirnya, dan mengatur napasnya. Semoga Aaron tidak menyadari suaranya yang gemetaran ini.


"Halo, belum tidur juga?" Carissa mengangguk, kalau gue sudah tidur mana mungkin gue angkat telpon lo batin Carissa. Wanita itu melangkah dan duduk di pinggiran ranjangnya.


__ADS_2