Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
BAB 19


__ADS_3

Reyhan sedang fokus mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba aktivitasnya terhenti ketika handphonenya berbunyi. Ia heran siapa yang menghubunginya sebab nomor yang masuk tersebut tak dikenal. Reyhan membiarkan panggilan itu begitu saja, hingga sudah lebih dari 3 kali baru ia membalas panggilan tersebut.


"Siapa !" ucap Reyhan dingin


"Apa seperti itu kau bicara pada calon mertuamu!" bentak Baskoro


Reyhan terkejut ternyata yang menelfonnya adalah Pak Baskoro. Ia jadi menciut ketika dibentak oleh Pak Baskoro.


"Maff Om, aku tak tahu kalau Om yang menelfonku" ucap Reyhan lembut


"Huh...apa kau tidak menyimpan nomor ponsel Om, Reyhan ?"


"Bagaimana mau disimpan sedangkan nomor ponsel Om saja aku tak tahu" batin Reyhan


"Hallo Reyhan apa kau masih mendengarkan Om ?"


"Iya..iya Om"


"Om mau minta tolong padamu Nak Reyhan"


"Apa Om, bilang saja aku pasti membantu" jawab Reyhan antusias


"Om akan pergi ke Lebanon hari ini juga, Om minta kau jaga Naura selagi Om belum pulang ke tanah air. Ingat jaga dia jangan sampai lecet sedikit pun. Atau Om akan membatalkan perjodohanmu dengan Naura" ancam Baskoro


Reyhan terkejut mendengar ucapan Pak Baskoro bahwa ia akan menjodohkan dirinya dengan Naura. Kapan rencana perjodohan itupun ia tak tahu.


"Halo...Reyhan, kau mendengarkan Om atau tidak !"


"Iya iya Om, aku dengar. Aku akan menjaga Naura" jawab Reyhan cepat


"Baik, Om percayakan Naura padamu. Ingat jangan sampai lecet atau sampai menyakitinya"


"Iya baik Om, siap"


"Oke, terimakasih Nak Reyhan. Maff sudah menganggu waktumu" ucap Pak Baskoro lembut


"Sama-sama Om"


Setelah bertelfon dengan Pak Baskoro, Reyhan senang bukan main. Akhirnya ia bisa dekat dengan Naura, tanpa takut lagi dengan Ayahnya. Namun yang ia fikirkan sekarang adalah, tentang perjodohannya. Apakah mungkin ini ide Papanya. Ia jadi tak sabar ingin menanyakannya pada Papanya nanti pada saat pulang dari kantor.


........


Waktu menunjukkan jam 11.30 Wib Reyhan bergegas keluar ruangannya. Ia akan menjemput Naura untuk mengajaknya makan siang bersama.


Para karyawan memadang Bos nya itu dengan perasaan takjub karena ketampanannya. Siapa yang tidak terpanah dengan Bosnya itu. Bahkan mereka tahu jika Bosnya seorang Cassanova, namun tak mengurangi rasa kekaguman mereka pada Bosnya.


Dion yang melihat Reyhan berjalan dengan Cool serta menawan menjadi aneh dengan para karyawati perusahaan Kakaknya, mereka menatap Kakaknya tanpa berkedip.


"Hoi...kerja jangan lihatin Bos mulu !" ucap Dion sambil membawa alat pembersih lantai


"Syirik loe ya..." ucap salah satu karyawati


"Ogah gue syirik sama Bos model begituan, gue lebih ganteng dari pada Bos kalian itu"


"Ganteng sih tapi kalo cuma OB mah, males gue..." ucap salah satu karyawati


"Iya ganteng-ganteng jadi OB" sambung yang lainnya


Dion menjadi geram dengan ucapan para karyawati itu. Andai mereka tahu siapa dirinya pasti mereka tak berani merendahkan dirinya saat ini.


"Dasar perempuan mata duitan !" bentak Dion kemudian pergi meninggalkan para karyawati tersebut. Sedangkan para karyawati itu ketawa cekikikan.


Dion melihat Reyhan keluar dari lobby kantor dan pergi mengendarai mobilnya ia ingin mengejar Kakaknya itu, namun langkahnya terhenti saat ditahan oleh Zidan.


"Mau kemana Tuan"


"Mau pulang !"

__ADS_1


"Maaf Tuan, anda tidak boleh pulang sebelum jam kantor habis" ucap Zidan tegas


Dion menghembuskan nafas kasarnya dan menyugar rambutnya ke belakang ia benar-benar frustasi dengan keadaannya saat ini.


"Tapi ini sudah waktunya jam makan siang"


"Masih ada waktu 30 menit lagi Tuan"


Dion kesal bukan kepalang ingin sekali ia memukul Zidan, kalau ia bukan tangan kanan Kakaknya pasti saat ini ia sudah menghajarnya.


"Aku lapar..." ucap Dion lirih


"Aku tak punya uang..." sambungnya lagi


"ATMku di blokir, bolehkah aku meminjam uangmu ? nanti kalau gajian aku bayar" ucap Dion memelas


Zidan mendengus merasa kasihan dengan adik Bosnya. Ia tak tega, ia memberikan Dion uang biru dua lembar pada Dion.


"Ambil saja tak usah dikembalikan"


"Kau menghinaku !" ucap Dion kesal


"Tidak Tuan, aku hanya kasihan" ucap Zidan pelan


"Dasar Sekretaris gemblung kurang ajar !" Dion pergi meninggalkan Zidan dengan perasaan kesal dan marah.


'masih untung aku baik hati memberikannya uang, dasar bocah tengil' umpat Zidan dalam hati


.,.......


Reyhan sampai didepan rumah Naura ia masuk ke dalam rumah itu setelah di persilahkan masuk oleh pembantu. Reyhan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Tak lama terdengar derap langkah Naura menghampirinya. Reyhan tersenyum lebar melihat Naura.


Mereka pergi ke suatu tempat yang sudah direncanakan oleh Reyhan. Reyhan mengajak Naura ke sebuah restoran yang bernuansa alami hingga terkesan lebih santai dan sedkit romantis karena disana banyak digandrungi anak-anak seusia Naura.


Reyhan tak mau dicap sebagai lelaki yang kurang update akan kesukaan anak zaman Now, walaupun umurnya belum terlalu tua.


Banyak yang Reyhan tanyakan pada diri Naura mulai dari keluarganya bahkan bagaimana ia bisa berteman dengan Dion.


Tidak ada kecanggungan diantara mereka berdua, semua seakan mengalir begitu saja.


"Kita mau kemana sih Kak ?" tanya Naura penasaran karena sedari tadi tak kunjung sampai ke tempat tujuan.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan menculikmu" ucap Reyhan santai.


Tak lama mereka sampai di depan restoran bernuansa alam yang menyejukkan mata bagi siapa saja yang datang. Reyhan membawa Naura ke lantai paling atas. Naura terpengarah menatap kagum dengan keindahan pemandangan yang disugukan.



Disana sudah terdapat meja makan lengkap dengan peralatan makan yang sudah disediakan. Terkesan sangat romantis dan manis. Naura sampai menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Siapa yang tidak merasa bahagia ketika diberikan hal semanis ini dengan lelaki.


"Ayo duduk..." ucap Reyhan


Naura dan Reyhan mendudukan diri dikursi makan. Mereka memesan makanan serta minuman. Naura yang masih setia memandangi pemandangan didepan matanya sampai menyunggingkan senyuman manisnya. Sedangkan Reyhan dalam hati bersorak gembira karena bisa sedikit membuat Naura tersenyum senang dengan apa yang sudah ia berikan.


"Kau suka tempat ini" tanya Reyhan menatap wajah cantik Naura.


Naura menganggukkan kepalanya tanpa melihat Reyhan.


"Dari mana Kak Rey tahu tempat ini ? aku bahkan tidak tahu lokasi ini"


"Assistenku yang mencari tahunya, aku tak menyangka ternyata tempatnya benar-benar indah dan bisa menyejukkan mata"


"Iya Kak Rey benar, ini bisa sedikit menjadi tempat merefreskan diri dari kesibukan"


"He em...lain kali kita ke sini lagi, jika kau mau" tawar Reyhan


"Boleh...kak" Jawab Naura antusias.

__ADS_1


Tak lama makanan yang dipesan mereka tiba, mereka makan dengan santai dan dipenuhi canda tawa.


"Naura, aku boleh bertanya ?"


"Apa kak ?"


"Kenapa kau mulai menerimaku bukannya kau merasa jengkel padaku ?"


"Heem....aku hanya..."


"Hanya apa ?" jawab Reyhan cepat


"Berdamai dengan keadaan kak dan menerima takdir, entah itu benar atau tidaknya kita akan bersama suatu saat nanti. Aku hanya mencoba menjalaninya" ucap Naura dengan nada yang lembut.


Reyhan tersenyum ia tak percaya bahwa gadis dihadapannya ini sangat dewasa dalam berfikir.


"Terimakasih" lirih Reyhan


Naura hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Akan ku buktikan bahwa aku layak untuk bersamamu Naura" ucapnya lagi


"Baiklah...kita lihat saja nanti" jawab Naura tersenyum manis


Sebenarnya berat bagi Naura menerima Reyhan nanti menjadi pendamping hidupnya. Ia tahu sisi lain dari Reyhan yang seorang Cassanova. Ia takut Reyhan tidak bisa lepas dari itu semua.


"Aku boleh bertanya Kak Rey ?" tanya Naura ragu.


"Apa ?"


"Apakah Kakak bisa berhenti dengan dunia wanita malam !" ucap Naura pelan


Reyhan menghela nafasnya ia tahu pasti Naura akan bertanya seperti itu. Jujur saja semenjak ia gencar ingin mendapatkan Naura. Reyhan sudah lama tidak bermain dengan para ****** yang memuaskan dirinya. Semua ia lakukan demi mendapatkan Naura.


"Aku sudah lama berhenti, semenjak melihat dirimu Naura" ucap Reyhan jujur


Naura menatap mata Reyhan dalam ia yakin saat ini Reyhan pasti berkata jujur. Naura tersenyum senang. Akhirnya ia tidak merasa takut lagi dengan Reyhan. Ia Yakin Reyhan akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.


.....


Sudah kurang lebih dua jam Naura dan Reyhan masih berada dicafe yang indah itu. Reyhan sampai tak ingat jika ia ada jadwal meeting dengan klien yang sangat penting. Hingga tiba-tiba ponsel Reyhan berdering, tertera nama Zidan disana dan Reyhan mengangkat telfon tersebut.


"Ada apa" ucap Reyhan kesal


"Segeralah pulang Bos, kita ada Meeting penting dengan Ayahnya Viona 1 jam lagi"


"Astaga aku lupa" ucap Reyhan memijit pelipisnya.


Reyhan mematikan telfonnya sepihak. Ia berdiri kemudian disusul oleh Naura yang juga ikut berdiri. Naura bingung dengan perubahan sikap Reyhan setelah menerima telfon.


"Apa apa Kak Rey ?"


"Tidak apa-apa, sepertinya lain kali aku akan mengosongkan jadwalku bila ingin bertemu denganmu Naura. Aku ada pekerjaan penting. Aku minta maaf, bisa kah kita pulang sekarang ?" ucap Reyhan merasa bersalah


Naura mengangguk setuju biar bagaimanapun juga Naura tahu bahwa Reyhan orang yang sibuk akan pekerjaannya dikantor.


Diperjalanan pulang Reyhan tetap merasa bersalah dengan Naura karena semalam ia sudah berjanji akan meliburkan diri dari kantor, namun nyatanya ia malah mengingkari janjinya.


"Sekali lagi maafkan aku" lirih Reyhan


"Enggak apa-apa Kak, aku ngerti kok"


"Aku bahkan belum sempat bercerita tentang aku dan Dion" lirih Reyhan


"Iya, lain waktu Kakak bisa menceritakan padaku nanti"


"Terimakasih"

__ADS_1


"Andai saja aku tak memiliki jadwal meeting hari ini aku pasti lebih lama bersama Naura" batin Reyhan kesal .


__ADS_2