
Reyhan dan Naura duduk dikursi sofa ruang rawat Dion kini hanya ada mereka berdua diruangan itu. Reyhan membawa katalog wedding organizer yang akan mereka pilih nantinya pada saat hari pernikahan.
"Jadi yang nuansa pink apa putih, sayang" tanya Reyhan bingung karena Naura juga bingung dengan pilihannya sendiri.
"Aku tuh maunya yang putih tapi ngelihat yang pink gini jadi mau yang pink juga"
Reyhan menyenderkan tubuhnya ke sofa dan memijit pelipisnya ia jadi pusing dibuat Naura.
"Ya sudah-sudah, kita gabungkan saja nuasanya putih pink" jawab Reyhan cepat karena malas nanti ujung-ujungnya akan ribut hanya prihal WO.
"Nah itu ide bagus" jawab Naura dengan senyuman manisnya.
Reyhan kemudian menghubungi kontak WO yang akan menangani hari pernikahan mereka. Tentu saja itu hal yang sangat mudah bagi seorang Reyhan, semahal apapun harganya tak berarti baginya.
Tiba-tiba masuklah wanita cantik yang selalu mengisi hari-hari Dion dengan penuh warna, siapa lagi kalau bukan Valentina.
Reyhan dan Naura berdiri kaget, melihat kedatangan Valen.
"Valen..." lirih Reyhan
"Maaf Tuan, apa boleh saya menjenguk Dion" ucap Valen lembut
"Silahkan, kalau begitu kami keluar sebentar" balas Reyhan dan dijawab anggukan kepala oleh Valen
Naura yang bingung kenapa Reyhan tiba-tiba menarik Naura keluar dari ruang rawat inap Dion.
"Kenapa enggak didalem aja sih Kak ?"
"Biarkan Valen bertemu Dion, nanti Valen malu jika kita ada disana"
Naura menghela nafasnya "Sebenernya mereka itu ada hubungan apa sih ?" tanya Naura penasaran pada Reyhan.
"Pacaran" jawab Reyhan santainya kerena memang benar Dion sudah berpacaran dengan Valentina. Hal itu dibuktikan ketika Reyhan tak sengaja melihat mereka berdua sangat romantis, bahkan pada saat ia mengontrol cctv terdapat adegan ciuman antara Valen dan Dion.
"Kurang ajar tu anak, udah punya pacar enggak pernah cerita sama aku pasti Riska juga enggak tahu ini" omel Naura, Reyhan melihat Naura mengomel jadi menggelengkan kepalanya.
Di dalam ruang rawat inap Valen melihat keadaan dion yang terbaring lemah dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mengenggam tangan Dion dan mengelusnya.
"Kenapa jadi begini sih. Bangunlah Dion" tangis Valen pecah karena tak mampu terbendung lagi.
Saat Valen menangis kesunggukkan Dion sadar dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan ia melihat sekelilingnya dan mengira pasti saat ini ia ada dirumah sakit. Ia menatap ke arah bawah terdapat wanita yang sedang duduk dan menunduk memegang tangannya. Wanita itu menangis kesunggukkan Ia tahu pasti wanita itu adalah Valen, wanita yang selalu mengisi hari-harinya dengan canda tawa dan cinta.
"Dasar cengeng" ucap Dion pelan karena merasa sakit didaerah dadanya.
Valen mendongakkan kepalanya dengan wajah dan hidung yang merah kerena menangis. Tangis Valen semakin menjadi-jadi ketika melihat Dion telah sadar.
"Dion..."
hiks
hiks
hiks
"Aku haus..." ucap Dion
Valen cepat-cepat menghapus air matanya dan berdiri dan mendekati dispenser ia memberikan air minum pada Dion. Dion meminumnya sedikit demi sedikit hingga habis setengah gelas. Ingin rasanya Valen bertanya kenapa Dion mengalami kecelakaan, namun mengingat Dion baru sadar dan belum pulih ia tak jadi bertanya.
"Apa dari tadi hanya kamu sendiri disini ?" tanya Dion
__ADS_1
"Tidak tadi ada Tuan Reyhan dan Nona Naura, mereka keluar sebentar" balas Valen sambil mengelus tangan Dion.
"Apa aku habis di Operasi ?"
"Iya kemarin kamu habis dioperasi, jadi kamu jangan banyak gerak"
Dion menghela nafasnya ia mengingat-ingat kejadian kemarin saat ia bertemu dengan Ayah Naura dan berakhir kecelakaan dijalan raya.
"Ayah..." lirih Dion
"Ayah siapa ?" tanya Valen cepat
"Bukan apa-apa, kamu jangan pulang ya temenin aku disini. Aku enggak betah di rumah sakit, tapi kalo ada kamu aku jadi betah"
"Kamu tuh ya, udah dirawat diruang president class loh tapi masih enggak betah"
"Ya sebagus apapun fasilitas ruangannya enggak akan betah kalo dirumah sakit"
Dion merentangkan kedua tangannya Valen mengerti akan permintaan itu, Valen memeluk Dion dan Dion membisikkan sesuatu ditelinga Valen.
"Aku rindu kamu Baby.."
Valen menatap Dion kemudian menautkan bibirnya ke bibir Dion sebagai tanda obat rindu. Saat lidah mereka saling membelit tiba-tiba datanglah Papa Arya dan Pak Baskoro secara bersamaan masuk ke dalam ruang inap Dion. Dan mereka kaget melihat putranya sedang asyik bercumbu dengan seorang wanita.
"Ekhem.."
"Dion.."
Dion buru-buru melepas ciumannya begitupun Valen langsung berdiri dan menundukkan wajahnya karena malu. Sedangkan Dion membuang muka ke arah lain, ini kali ke dua ia dipergoki seperti ini.
Papa Arya mendekat ke ranjang Dion, kemudian memeluknya dengan hangat. Papa Arya menangis sedangkan Dion hanya diam tak bergeming.
Dion menatap Arya kemudian ia tersenyum. "Papa tidak salah apa-apa, justru aku yang harusnya minta maaf karena selalu menyusahkan Papa"
"Tidak kamu tidak menyusahkan Papa, kamu anak Papa" ucapnya dengan suara seraknya.
Dion menoleh menatap ke arah Pak Baskoro, ia tersenyum ke arah Baskoro.
"Apa Ayah tidak mau memelukku ?" tanya Dion pada Baskoro
Baskoro tersenyum senang dengan air mata yang lolos begitu saja, karena mendengar Dion menyebut dirinya dengan sebutan Ayah. Baskoro lekas berhambur memeluk Dion dengan erat.
"Ayah jangan terlalu kencang, aku habis operasi aku tidak mau mati dulu sebelum menikah dengan Valen"
Ucapan tersebut sontak membuat Baskoro dan Arya merasa kaget. Kemudian menatap Dion dan Valen bergantian.
"Kalian berpacaran ?" tanya Papa Arya
"Iya Pa"
"Tidak Tuan" jawab Dion dan Valen bersamaan dengan jawaban yang berbeda.
"Kita akui saja kalau kita memang pacaran dan mau menikah" jawab Dion dengan santainya.
Valen menepuk bahu Dion agak keras hingga Dion mengaduh kesakitan.
Plak
"Aduh, sakit"
__ADS_1
"Maaf Tuan, jangan dengarkan ucapan Dion. Dia ini mungkin kebanyakan makan obat jadi otak dan bibirnya agak geser" jawab Valen cepat tanpa difikir dahulu sedangkan Dion menatap dengan wajah bodohnya dengan mulut yang mengangga.
"Lekaslah sembuh Dion, pikirkan kuliahmu bahkan hukuman yang Papa berikan pun belum selesai" jawab Papa Arya tegas
"Hukuman ?" tanya Baskoro pada Arya
Dion menggelengkan kepalanya tanda jangan memberi tahu Ayahnya.
"Dia mengulang kisah seperti dirimu, Bas"
"Maksudmu ?" Baskoro mencoba mencerna ucapan Arya, kemudian ia membulatkan matanya dan menatap Dion. Dion menjadi takut melihat tatapan Ayahnya itu dan gugup.
"Kalian berdua..." Baskoro menatap Dion dan Valen secara bergantian. Ia menggelengkan kepalanya tak menyangka anak lelakinya pernah berbuat hal yang ia pernah lakukan dulu.
"Sejak kapan ?" tanya Baskoro
Dion dan Valen sama-sama diam seribu bahasa malu dan takut pastinya. Tiba-tiba Reyhan entah sejak kapan datangnya menyahuti ucapan Baskoro.
"Sudah lebih dari satu bulan yang lalu" jawab Reyhan dengan lantang. Dion menoleh ke arah Reyhan, muka Dion menggambarkan kekesalan pada Kakaknya itu.
"Dion..." lirih Baskoro
"Sudah Om nikahkan saja mereka !" tambah Reyhan lagi
Baskoro dan Arya saling pandang, sedangkan Valen sudah tak tahan lagi rasanya ingin sekali ia menenggelamkan diri ditengah lautan karena malu yang teramat. Lain halnya Dion, disatu sisi ia kesal dengan Reyhan namun disisi lain ia bersorak gembira dalam hatinya karena akan mendapatkan restu dari ke dua orang tuanya berkat kakaknya.
"Apa kau mau menikah dengan Dion, nak Valen ?" tanya Papa Arya pada Valen yang menunduk karena malu. Valen hanya mampu diam tak sanggup untuk menjawabnya.
"Apa tak masalah bagimu Dion menikah diusia yang masih muda ? tanya Baskoro karena ada sedikit rasa tak mengizinkan Dion menikah diusia yang belum matang.
"Iya, benar apa kata Ayah Baskoro. Apa kau tidak keberatan ?"
Dion ingin menjawab iya, namun ia kembali teringat ucapannya pada waktu itu pada Valen kalau ia akan mengajak Valen menikah suatu saat nanti jika dirinya sudah sukses.
Dion menghela nafasnya kemudian memegang tangan Valen dihadapan kedua orang tuanya.
"Kami akan menikah, tapi nanti Pa, Yah, saat aku sudah pantas untuk Valen dan menjadi lelaki yang sukses untuknya" jawaban Dion membuat Arya dan Baskoro menghangat begitupun Reyhan dan Naura. Tak menyangka jika Dion memiliki pemikiran yang begitu dewasa.
"Baiklah Papa setuju jika seperti itu keinginanmu, kami akan mendukung yang terbaik untukmu" jawab Arya kemudian menatap Baskoro untuk memberikan persetujuan pula.
"Iya Ayah setuju, Nak. Bagus jika kamu punya pemikiran yang seperti itu, Ayah akan mendukungmu. Yang terpenting kamu fokus pada kuliahmu"
"Iya, Papa akan menyuruh asissten pribadi Papa untuk mengajarkanmu mengolah perusahaan nantinya. Supaya nanti kamu bisa meneruskan perusahaan Papa dan membantu Kakakmu" jawab Papa Arya dan Reyhanpun setuju dengan ide Papanya.
"Sayangnya Ayah tidak punya perusahaan, tapi kalau kamu mau masuk dibidang militer Ayah bisa membantumu" Baskoro memberikan penawaran pada Dion, dan tentu Dion menggelengkan kepalanya ia tak mau terjun ke dunia militer.
"Lain kali saja Ayah, aku masih suka bangun kesiangan" jawab Dion cepat dan Baskoro hanya tersenyum mendengarnya, Ia sudah menebak Dion pasti tidak mau mengikuti jejaknya. Tapi yang paling penting dirinya sudah diakui oleh Dion sebagai Ayahnya jauh lebih bahagia.
"Bagaimana rencana pernikahan kalian ?" tanya Arya pada Reyhan dan Naura
"Sudah 60% Pa" jawab Reyhan
"Setelah resepsi pernikahan nanti, bagaimana kalau kita adakan liburan bersama ?" tanya Arya
"No ! Kami mau Honeymoon Pa, jangan ganggu kami !" jawab Reyhan tegas
"Dasar Duda kelamaan puasa" jawab Dion pelan
"Bicara apa barusan ?" tanya Reyhan cepat apada Dion karena mendengar ucapan Dion.
__ADS_1
"Tidak..tidak ada apa-apa" jawab Dion memelas