Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
JADIAN


__ADS_3

Dion menepikan mobilnya didekat taman kota. Nafasnya bergemuruh naik turun detak jantungnya tak beraturan. Apa yang ia dengar barusan dirumah Paratama membuatnya syok.


"Siapa wanita yang bersamanya itu ?" Dion berbicara sendiri. Menyesal karena tidak dapat mengetahui identitas wanita yang mencelakai Naura.


Tapi Dion mengingat ucapan Pratama yang mengatakan bahwa wanita itu mencintai Reyhan. Itu artinya Reyhan pasti tahu siapa wanita itu.


Dion menyugar rambutnya ke belakang kemudian mengusap wajahnya kasar, tangannya kini menggebrak stir mobil merasa kesal.


Pandangan Dion tak lama menatap lurus ke depan ia melihat gadis yang memakai seragam putih abu-abu duduk disebuah kursi panjang. Dion menajamkan pendangannya dilihatnya gadis itu menangis seorang diri, saat gadis itu menoleh. Dion membulatkan matanya ternyata itu adalah Yoona anak Paman Lim. Semenjak insiden ciuman itu Dion tak lagi bertemu dengan Yoona karena kini ia sudah pindah ke kantor pusat, kantor cabang Paman Lim yang mengurusnya.


Dion keluar dari dalam mobilnya kemudian menghampiri Yoona yang masih kesunggukkan menangis menundukkan wajahnya.


"Kenapa kau cengeng sekali" ucap Dion santai mendudukkan diri disebelah Yoona.


Yoona menoleh ke samping betapa terkejutnya ia melihat Dion ada disebelahnya. Sudah lama tak bertemu kini tiba-tiba berjumpa kembali.


"Yoona, kau kenapa ?" tanya Dion penasaran.


Yoona kemudian menatap lurus ke depan dan menghapus air matanya.


"Aku rindu Mama" lirih Yoona


"Kau masih merindukan Ibu yang sudah tega menjualmu" Dion geleng-geleng kepala tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.

__ADS_1


"Sejahat-jahatnya dia, dia tetap Mamaku. Surgaku masih berada ditelapak kaki Mamaku, Kak" lirih Yoona membayangkan Mamanya kini hatinya sangat sedih. Ro Na harus mendekam dipenjara karena sudah menjual anak kandungnya sendiri.


Dion terdiam dan menatap Yoona yang masih terisak dalam tangisannya. Benar apa yang dikatakan Yoona sejahat-jahatnya seorang Ibu ia tetap seorang Ibu yang telah mengandung dan membesarkan anaknya.


Yoona tak henti-hentinya menangis karena merindukan Mamanya. Dion pun jadi teringat akan mendiang Ibunya, ia juga merindukan Ibunya yang sudah disurga.


"Aku juga rindu Ibuku" ucap Dion menatap langit.


Yoona menoleh ia tak tahu banyak tentang Dion ia pun menghentikan tangisnya.


"Sayangnya ia tak lagi didunia ini, dia sudah tenang dan bahagia disurga"


"Kak Dion, maaf..." ucap Yoona pelan


"Papa melarangku.." lirih Yoona


"Kau benar-benar merindukan Mamamu ?" tanya Dion sekali lagi


Yoona menganggukkan kepalanya masih berlinang air mata.


"Aku akan mengajakmu kesana, tapi tidak sekarang. Karena aku masih banyak pekerjaan harus menggantikan tugas Kakakku."


"Benarkah ?" Yoona tersenyum senang mendengar ucapan Dion.

__ADS_1


"Benar"


"Janji ?" tanya Yoona meyakinkan.


"Iya janji !" seru Dion


"Terimakasih" Yoona refleks memeluk Dion dan terkejut dengan sikap Yoona kemudian ia tersenyum dan memebalas pelukan Yoona.


Saat pelukan itu terlepas, Dion menghapus sisa air mata di pipi Yoona dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Yoona.


Dion seakan terhipnotis dengan Yoona wajah cantik Yoona sedangkan Yoona hanya diam saja menerima perlakukan yang diberikan oleh Dion.


Dion menatap bibir pink itu bibir yang sampai kini membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak semenjak pernah menciumnya.


Dion tanpa permisi kembali melu.mat bibir tipis berwarna pink itu. Hanya Dion yang bermain seorang diri, tak lama Yoona pun membalas ciuman itu. Karena Yoona juga sudah lama menyukai Dion.


Saat ciuman itu terlepas dengan nafas yang tersengal-sengal. Dion menyatukan kening mereka.


"Yoona..maukah kau menjadi kekasihku ?"


Yoona tak mampu menjawab lidahnya terasa kelu untuk mengatakan Iya. Karena sebenarnya ia sudah menyukai dan memiliki rasa pada Dion.


Yoona hanya mampu menjawab dengan anggukkan kepala. Dion pun tersenyum senang, kemudian ia kembali mencium bibir Yoona. Setelah ciuman itu terlepas, Dion membawa Yoona pergi dari taman dan ikut jalan-jalan dengannya merayakan hari jadian mereka.

__ADS_1


__ADS_2