Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
BAB 27


__ADS_3

Dirasa jam makan siang usai Dion berpamitan pada Riska dan berterimakasih pada sahabatnya karena sudah mau memberikan ia makan siang.


"Thank you ya Ka, besok-besok bawain gue makanan lagi. Lumayan kan penghematan"


"Ya itung-itung balas budi, kan lo sering traktir gue makan mulu, gantian"


"Eh ngomong-ngomong beneran lo ambil jurusan Keperawatan ?"


"Iya bener, masih satu kampus kok sama Naura cuma Naura di jurusan Ekonomi"


"Oh oke..oke...gue juga masuk di kampus yang sama kaya kalian satu jurusan sama Naura"


Riska menganggukkan kepalanya ia senang itu artinya mereka bisa bersama-sama lagi dalam lingkup kampus yang sama.


"Gue duluan ya Ka, makasih sekali lagi makanannya."


"Eh buru-buru amat, bukannya itu perusahaan Bokap lo ?"


"Iya sih, tapi orang seisi perusaahan itu enggak tau kalo gue anak pemilik perusahaan kecuali asissten gemblung itu"


"Asissten gemblung ?"


"Iya, sumpah gedek banget gue sama tu orang. Udah deh gue buru-buru makasih sekali lagi makanannya" ucapnya menepuk pundak Riska dan pergi meninggalkan Riska ditempatnya.


Riska menatap punggung Dion yang menjauh dan masuk ke dalam Lobby perusahaan, saat ia hendak pergi ia melihat handphone Dion tergeletak dikursi. Handphone Dion tertinggal, Riska mengambilnya. Ia berniat untuk mengembalikannya pada Dion dan menyusul Dion masuk ke dalam kantor.


Riska sebelumnya bertanya kepada teman OB Dion yang lewat apakah melihat Dion ada dimana, dan ia mendapatkan informasi Dion ada di ruangan Asissten CEO lantai 20. Riska kemudian bergegas masuk ke dalam Lift yang terbuka dan tanpa memperdulikan lelaki yang ada didalamnya yang sedang menunduk membalas pesan di handphonenya.


Saat pintu lift tertutup lelaki itu menoleh ke arah wanita disampingnya.


"Kau !" ucap Zidan terkejut dan menunjuk ke arah Riska


"Hah...Bapak !" jawab Riska tak kalah terkejut


"Bapak kau bilang ? aku bukan Bapakmu !"


"Iya Om maaf..."


"Aku bukan Om mu"


"Hah...terus harus manggil apa ?" tanya Riska bingung harus menyebut Zidan apa.

__ADS_1


"Panggil aku Tuan" ucap Zidan dingin


"Hah...Tuan ? Lo kira gue pembantu Lo, Hahaha" ucap Riska menertawakan Zidan.


"Berani kau menertawakanku !" bentak Zidan


"Iya ya maaf Om, eh maksudnya Tuan" ucapa Riska takut.


"Kenapa kau disini ? apa kau tidak tahu kalau lift ini khusus CEO ?"


"Saya enggak tahu Tuan, saya mau ketemu temen saya"


"Siapa temanmu ?" tanya Zidan penasaran


"Ciee...kepo !" ledek Riska.


Tiba-tiba pintu lift terbuka Riska kemudian keluar dari lift ia bingung dimana ruangan asissten CEO yang dikatakan staff OB barusan. Riska berbalik menatap Zidan berniat untuk bertanya padanya.


"Tuan, boleh saya tanya. Dimana ruang Asissten CEO perusahaan ini ?"


"Buat apa ?"


"Saya ada perlu Tuan, bisakah tunjukkan dimana ruangannya ?"


"Baiklah ikut aku" titah Zidan


Riska yang tidak merasa ada hal aneh pada diri Zidan dan tanpa ragu ia mengikuti Zidan ke ruangannya. Sampai didepan ruangannya Zidan mempersilahkan Riska masuk kedalam. Zidan mengunci pintu ruangan dan menekan tombol penutup tirai jendela.


"Dimana tuh anak ?" ucap Riska mengedari pandangannya ke seluruh ruangan yang tampak kosong.


Riska yang melihat tirai jendela yang tertutup sendiri mulai merasa takut, kenapa harus ditutup.


"Tuan kenapa ditutup ? mana teman saya ?"


"Benarkah kau mencari temanmu ?" ucap Zidan sambil menuangkan air minum ke dalam gelas.


"Iya Tuan, katanya dia disini"


"Buktinya dia tidak ada, atau jangan-jangan kau ingin menemui asisstennya CEO ?"


"Maksud Tuan ?"

__ADS_1


"Bukankah kau ada perlu padaku ?" ucap Zidan kemudian maju mendekati Riska. Riska refleks memundurkan langkah kakinya. Ia benar-benar takut dengan Zidan yang menampakkan wajah ingin menerkamnya.


"Ap..apa maksudmu Tuan ?"


"Kau ada perlu padaku bukan ?" tanya Zidan terus mendekat pada Riska.


"Apa yang kau inginkan dariku ?" ucap Zidan lagi dengan suara yang sengaja ia beratkan untuk mengerjai Riska.


Langkah Riska terhenti pada tembok ia benar-benar tak bisa kemana-mana lagi sekarang. Riska menatap Zidan dan refleks menutup matanya ketika Zidan mendekatkan wajah padanya dan memegang bahu Riska.


Zidan menatap ketakutan pada mimik wajah Riska dan tersenyum senang karena berhasil mengerjai Riska. Tapi tak lama Zidan melihat wajah Riska yang cantik menurutnya ia refleks memuji Riska.


"Cantik !"


Jantung Riska seakan ingin melompat pada tempatnya dengan gerakan cepat Riska mendorong Zidan dan pergi membuka pintu ruangan yang masih terdapat kunci tergantung dibawah knop pintu.


Zidan menatap punggung Riska dan tersenyum senang melihat wanita yang selalu membuatnya kesal berlari ketakutan. Namun ia memegangi dadanya karena detak jantungnya yang berdebar tak karuan setelah memandangi Riska.


Riska berlari dan menuju lift soal hp Dion mungkin nanti saja ia kembalikan, yang terpenting ia harus pergi dari kantor ini secepatnya karena tak ingin bertemu lagi dengan Zidan.


Saat Riska menunggu pintu lift terbuka tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Ia kaget dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aaaaa..ampun Tuan jangan cium aku, janji aku gak bakalan ganggu lagi !" teriak Riska ketakutan


Dion yang melihat dan mendengarkan Riska tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha....siapa juga cowok yang mau nyium lo" ledek Dion


"Dion !" Riska membuka telapak tangan yang menutup wajahnya dan refleks langsung memeluk Dion dengan erat.


Valen yang tengah lewat dan melihat Dion berpelukan dengan seorang wanita tiba-tiba merasa sesak, entahlah apa dia cemburu dengan Dion karena dipeluk wanita lain. Padahal ia tak punya hubungan apapun dengan Dion.


Lain halnya dengan Zidan yang menyusul Riska menyaksikan Riska sedang berpelukan dengan Dion. Matanya menyipit dan tangannya terkepal kuat ada rasa cemburu dalam hatinya. Menerka-nerka ada hubungan apa antara Riska dan Dion.


"Apa aku cemburu ?" ucap Zidan dan Valentina dalam hati.


Valentina yang tak mau melihat adegan berpelukan antara Dion dan Riska langsung bergegas masuk ke dalam ruangannya. Begitupun dengan Zidan.



(Valentina Putri 😍)

__ADS_1


Dion membawa Riska masuk ke dalam lift dan mengantarkannya pulang sampai ke Lobby.


Dion hanya menggaruk-garuk belakang kepala yang tidak gatal karena merasa aneh dengan sikap Riska yang ketakutan namun tak berani bicara padanya apa masalahnya.


__ADS_2