
Dalam perjalanan pulang handphone Naura berdering. Ternyata Reyhan yang menelfonnya. Naura menyambungkan telfon ke headsetnya. Supaya lebih mudah sambil membawa mobil.
"Pagi menjelang siang Naura".
" Iya Kak Rey, ada apa ?"
"Aku mau ngajak makan malam, mau enggak ?"
"Hem boleh deh"
"Oke, nanti malem aku jemput ya"
"Iya Kak Rey"
"Bye Naura"
"Bye kak Rey"
Naura melepaskan headsetnya dan tersenyum.
Riska yang melihatnya pun jadi kepo.
"Siapa yang nelfon, Kak Rey siapa tuh Ra ?" ucapnya penasaran.
"Ada deh, rahasia dulu"
"Main rahasia-rahasiaan nih sekarang"
"Belum tepat aja waktunya, entah gue cerita janji deh"
"Bener ya, awas kalo bohong"
"Eh ngomong-ngomong Dion apa kabarnya ya, dia kasih kabar ke lo gak Ra ?"
Naura yang teringat akan Dion jadi merasa bersalah karena melihat Dion yang pergi dari restoran setelah berdebat dengan Reyhan. Naura tahu saat itu Dion mungkin sedang merasa patah hati. Bahkan sampai detik ini Naura belum mendapatkan kejelasan tentang gagalnya ia pergi ke Jerman. Naura tahu pasti ada yang disembunyikan oleh Dion.
"Enggak tahu gue Ka, nanti deh kita coba ketemu sama dia" ucap Naura berbohong.
.......
Diperusahaan Wijaya Corp seorang wanita muda berumur 24 tahun cantik dan seksi saat ini tengah menjalani pekerjaannya sebagai seorang sekretaris asissten pribadi CEO Wijaya. Iya dia adalah Valentina, wanita yang pernah ditiduri oleh Dion. Valentina mengerjakan pekerjaannya dengan cermat dan teliti. Ia mampu mengerjakan tugas pertamanya sangat cepat. Hingga tak terasa ia merasa haus dan ingin ngopi.
__ADS_1
Valentina pergi ke pantry ia membuat kopi. Saat ia sedang meracik kopi. Tiba-tiba Dion masuk ke pantry ia tak melihat dengan jelas wanita yang sedang meracik kopi tersebut karena membelakangi dirinya.
Dion mengelap meja dan membersihkan debu yang ada disekitar pantry. Hingga tak sengaja ia menyenggol lengan wanita yang disebelahnya.
Mereka sama-sama terkejut, Dion membulatkan matanya ia tak menyangka bertemu dengan wanita malam yang pernah ia tiduri. Dion meneliti pakaian wanita itu dari unjung kaki sampai kepala. Ia yakin saat ini wanita itu sedang bekerja diperusahaan Papanya.
"Kau...." keduanya sama-sama terkejut
"Sedang apa kau disini" tanya Dion mengintimidasi
"Aku kerja disini, memangnya kenapa ?" ucapnya ketus
"Kerja ?" Dion menyinggingkan senyum dibibirnya. Ia tak menyangka seorang wanita malam bisa bekerja di perusahaan besar seperti ini.
"Jangan mengada-ada kau, kau kerja sebagai apa ? eh maksudku kerja diperusahaan ini apa kerja melayani bos diranjang ?" ucap Dion meremehkan
"Jaga bicaramu, dasar bocah" Valentina geram atas ucapan Dion. Ia merasa terhina, memang benar ia pernah jadi wanita malam dan itu hanya sekali terlebih ia juga melakukannya hanya dengan Dion.
"Tidak sembarang orang bisa kerja disini ! apa kau lulusan sarjana ? tapi apa iya ****** perlu kuliah !"
"Hei kau bahkan tak tau siapa aku, jadi jaga bicaramu bocah" Valentina semakin tersulut emosi ia menatap tajam Dion.
"Apa ? kau ingin membela diri dengan mengatakan kau wanita baik-baik ? Cih...bahkan aku pun pernah tidur denganmu !"
PLAK !
"Kalau aku benar-benar seorang ******, seharusnya aku bukanlah perawan saat tidur denganmu !" ucap Valentina matanya berkaca-kaca sambil menahan tangis.
Dion melihatnya dan merasa bersalah, ia seharusnya tak menghina Valentina. Saat Dion hendak mengucapkan kata maaf. Valentina bergegas pergi meninggalkan Dion.
"Maaf...." lirih Dion
Valentina berlari memasuki ruangannya ia duduk dikursi kerjanya. Ia menangis terseduh-seduh. Ia menyesali perbuatannya karena menawarkan diri untuk tidur dengan Dion waktu itu. Ia terpaksa melakukannya karena saat itu Ibunya sedang sakit dan butuh uang untuk membawa Ibunya ke rumah sakit. Sedangkan dirinya sudah satu tahun lulus kuliah tapi belum juga mendapat pekerjaan. Ia sangat putus asa pada waktu itu. Maka dari itu ia memilih untuk menjadi ******.
"Apa aku seburuk itu" ucap Valentina sambil menutup wajahnya dengan kedua lengannya yang dilipat seperti anak kecil yang menangis karena dimarahi orang tua.
"Aku minta maaf..." ucap Dion yang ternyata mengikuti Valentina ke ruangannya.
Valentina mendongakkan wajahnya menampakkan mata dan hidung yang merah karena menangis.
"Maffkan aku...." Dion duduk berhadapan dengan Valentina.
__ADS_1
Valentina memalingkan muka dan dengan celat menghapus air matanya.
"Pergilah...."
"Tidak ! aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkanku"
"Pergi !"
"Tidak akan" ucap Dion kekeh dengan pendiriannya.
Valentina berdiri dari duduknya ia berjalan ke arah Dion dan menarik tangan Dion untuk pergi dari ruangannya, tapi Dion bersikeras masih duduk dikursinya. Hingga tak sadar Dion menarik Valentina dan jatuh duduk dipangkuannya. Dion memeluk Valentina, sedangkan Valentina tekejut dengan perlakuan Dion. Posisi mereka sangat intim dan dekat.
Jantung Valentina berdetak dengan kencang ia memandang Dion. Ia tak menyangka bahwa Dion sangat tampan.
Dion membisikkan kata maaf ke telinga Valentina, dan itu membuat Valentina merasa berdesir. Tubuhnya meremang ketika mendengar kata maaf Dion.
Dengan gerakan cepat Valentina menganggukan kepalanya agar ia terbebas dari situasi ini.
Dion menelan kasar slivanya posisi seperti ini sangat tidak baik. Apalagi senjata pamungkasnya tiba-tiba terbangun dan mengeras. Saat Dion melepaskan pelukannya, belum sempat Valentina berdiri dari pangkuan Dion. Pintu ruangan dibuka masuklah Zidan dan Reyhan keruangan Valentina.
'ceklek'
"Dion !" suara Reyhan menggema melihat kelakuan adik tirinya yang memangku Valentina.
Valentina dan Dion sama-sama terkejut dengan gerakan cepat keduanya langsung berdiri. Dion hanya tersenyum kuda menampilkan gigi putihnya. Sedangkan Valentina menundukkan wajahnya merasa malu.
"Aku permisi dulu banyak pekerjaan" ucapnya tanpa rasa bersalah dan pergi meninggalkan ruangan.
Reyhan memijit pelipisnya ia berfikir yang aneh tenyang Dion. Mungkin saat ini adiknya tak pernah lepas dari urusan bermain karena pernah sekali merasakan nikmatnya surga dunia itu.
"Nona Valen apa berkas yang ku berikan tadi pagi sudah selesai kau kerjakan ?" tanya Zidan ia tak mau ikut campur urusan Valen dan juga kakak beradik bosnya itu.
"Su..sudah Pak" Valen menyerahkan berkas tersebut pada Zidan.
"Baiklah terimakasih, kami akan pergi meeting di luar. Laporkan padaku jika ada masalah dikantor" ucap Zidan tegas
"Ba..Baik Pak" Valen menundukkan wajahnya.
Reyhan dan Zidan keluar dari ruangan Valentina. Disisi lain Zidan sedang berada ditoilet ia saat ini sedang bersolo karir ia harus menidurkan senjatanya yang sudah bediri tegak. Ia selalu terbayang malam dimana ia tidur dengan Valentina dan memaksa senjatanya ke dalam gua milik Valentina hingga Vakentina merintih, menjerit, dan dan medesah.
"Aah...aah...aah..." Dion mendesah ketika merasakan pelepasan tak lupa ia menghidupkan air keran agar tak terdengar suara anehnya oleh orang lain.
__ADS_1
"Sial...ternyata rasanya sangat nikmat, wajar saja Kak Reyhan sering tidur dengan ******" Batin Dion
.....