
Naura menatap Reyhan ia harus mengatakan mengenai kontrak kerjanya yang tidak bisa berhenti begitu saja. Butuh waktu 2 minggu untuk menyelesaikan semuanya.
"Kak Rey, aku sepertinya belum bisa berhenti dari dunia model" ucap Naura lembut
"Why ?"
"Aku harus menyelesaikan kontrakku dulu Kak, dan itu butuh waktu dua minggu"
"Tapi kita akan menikah Naura ?"
"Aku minta pengertianmu Kak, kita undur saja pernikahan kita. Lagipula bulan depan aku udah masuk kuliah pasti repot banget"
Reyhan menghembuskan nafasnya kasar lalu ia menghusap wajahnya. Ia merasa ini sangat berat, kenapa mau menikah ada saja cobaannya.
"Kak Rey..." Naura memegang bahu Reyhan membujuk Reyhan.
"Berapa lama ?"
Mata Naura berbinar mendengar pertanyaan Reyhan itu artinya ia mendapat persetujuan untuk mengundurkan pernikahan mereka.
"2 bulan" jawab Naura
Reyhan menimbang-nimbang akhirnya ia setuju karena mungkin terlalu singkat bagi mereka untuk langsung menikah dengan waktu hanya satu bulan sedangkan hal lainnya belum sama sekali ia siapkan.
"Baiklah untukmu, aku kabulkan Nauraku" jawab Reyhan tersenyum dan mengecup kening Naura lembut.
Naura memeluk Reyhan sebagai ucapan terimakasih.
"Thankyou Kak Rey"
Dion saat ini sedang berjalan ke ruangan Valentina, ia ingin mengajak Valen makan siang bersama. Semenjak ia bertemu dengan Valen lagi ia ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia menyesali perbuatannya karena sudah merampas mahkota Valen secara paksa. Setidaknya jika Valen belum bisa menerima dirinya, Ia akan terus mengejar-ngejar Valen hingga luluh padanya.
"Valentina..." ucap Dion sambil membuka pintu ruangan.
Valen terkejut melihat kedatangan Dion. Ia mengernyitkan dahinya ketika Dion tersenyum manis padanya. Senyuman itu mampu buat jantung Valen berdegup kencang pastinya.

"Ada apa" jawab Valen ketus
__ADS_1
"Heem...maukah kau makan siang denganku Nona Valen ?" Dion bicara selembut mungkin.
Mulut Valen menganga mendengar ajakan Dion.
"Kau ini bicara yang sopan padaku, aku ini lebih tua darimu !"
"Aku sudah sopan, Nona Valen. Apa perlu aku memanggilmu Mbak Valen ?"
"Iya panggil aku Mbak mulai sekarang" ucap Valen tegas.
Dion mengehela nafsnya pasrah mungkin lebih baik menuruti Valen agar dia bisa dekat dengan dirinya.
"Baiklah-baiklah, ayo kita makan aku sudah lapar" Ajak Dion memegang tangan Valen keluar ruangan.
Saat berjalan dikoridor kantor Dion masih menggenggam tangan Valen dan mereka sesakali tertawa bersama. Tanpa sengaja dilihat oleh Reyhan dan Naura dari belakang yang sama-sama akan turun dari gedung kantor.
Naura mengernyitkan dahinya ia tahu betul.itu adalah Dion.
"Dion..." lirih Naura saat melihat pandangan Dion dan Valen menghilang karena memasuki lift.
"Iya Dion ku beri hukuman bekerja disini, Sayang" ucap Reyhan.
"Hukuman ?" tanya Naura penasaran.
"Dia marah pada kita waktu itu, dan meluapkan amarahnya dengan minum minuman keras bahkan tidur dengan wanita disebuah hotel"
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Saat ini biarkan dia menjalani hukumannya. Dan kau lihat Wanita yang bersamanya barusan, ia adalah wanita yang ditiduri oleh Dion. Dan sepertinya mereka semakin dekat, Itu artinya Dion bisa menerima hubungan kita dan bisa membuka lembaran baru pada wanita lain"
Naura menganggukkan kepalanya ia sependapat dengan Reyhan.
"Ayo kita makan direstoran favoritku, aku yakin kau pasti menyukainya" Reyhan menggenggam tangan Naura dan berjalan memasuki Lift.
Valen dan Dion kini sedang berada disebuah warung bakso yang saat ini Viral dimedia sosial. Ia heran dengan Dion padahal Dion adalah adik pemilik dari perusahaan tempatnya bekerja. Tapi kenapa Dion seperti orang susah. Kendaraan yang ia pakai pun hanya motor matic biasa yang harganya tak seberapa. Belum lagi ia mengajaknya diwarung bakso. Bukan Valen wanita matre hanya saja ia bingung dan penasaran dengan keadaan Dion. Apa ia tak pernah diberi uang oleh Tuan Reyhan.
Valen terus mengamati Dion yang tengah asyik memakan bakso Lavanya dan itu disadari oleh Dion.
"Jangan menatapku terus Mbak Valen, nanti kau jatuh cinta, bahaya" ucap Dion santai sambil mengunyah makanannya.
"Bahaya kenapa ?" Jawab Valen dengan cepat tanpa berpikir dulu untuk bicara.
"Karena aku tak punya obatnya" Ucap Dion dengan dengan menampilkan senyum manisnya.
Valen memalingkan wajahnya karena malu atas ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Maaf ya Mbak, aku cuma bisa ngajak makan siang disini" Dion bicara dengan memelas.
"Aku sedang kesusahan keuangan" ucapnya lagi.
"Kayak orang susah saja" jawab Valen ketus padahal ia ingin tahu apa penyebabnya.
"Iya bisa dikatakan begitu, aku lagi belajar jadi orang susah. Bahkan saat seperti ini teman-temanku menjauhiku hanya Mbak Valen yang masih mau duduk berdua makan denganku seperti ini"
"Kenapa ?" tanya Valen serius
"Aku dihukum oleh Kak Reyhan dan Papa, karena ketahuan tidur denganmu"
"Semua fasilitasku dicabut bahkan pendidikan di Jerman pun dihapus, tinggallah aku jadi OB sekarang dan kuliah hanya dikota ini saja"
Valen menganga tak percaya dengan apa yang diucapkan Dion. Ternyata Dion sekarang sedang menjalani hukuman. Wajar saja Dion seperti orang ke susahan.
"Aku turut bersedih" ucap Valen pelan
"Tak apa, malah aku yang merasa bersalah karena sudah memaksamu pada malam itu. Aku minta maaf" ucap Dion tulus memandang wajah Valen.
"Iya tak apa, bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga salah sudah menawarkan diri secara sadar menjadi wanita murahan" jawab Valen menundukkan wajahnya.
"Mbak Valen, aku janji akan bertanggung jawab padamu" Dion memegang jemari tangan Valen di atas meja dan itu sontak membuat Valen mendongakkan wajahnya ternganga.
"Maksudmu"
"Bagaimana kalau Mbak Valen hamil anakku" lirih Dion. Inilah yang selalu dikhawatirkannya pada Valen, Ia sadar saat berhubungan intim dengan Valen ia tak memakai pengaman apapun dan mengeluarkan semuanya di dalam sampai berkali-kali.
Valen menatap wajah Dion kemudian ia tersenyum manis. "Tenang saja aku tidak akan hamil, sebab aku sedang datang bulan saat ini" jawab Valen memalingkan mukanya karena malu.
Seketika Dion tersenyum senang karena ketakutannya kini menghilang. Jujur saja Dion tidak bisa tenang memikirkan nasib dirinya dan Valen jika Valen hamil anaknya suatu saat nanti karena prihal satu malam dengannya.
"Tapi aku tetap akan bertanggung jawab padamu, mungkin belum sekarang sebab aku bukanlah lelaki yang pantas untukmu. Nanti aku akan buktikan kalau aku sudah layak untukmu" Dion bicara dengan lantang dan tulus.
"Aku mau kau bersabar padaku, aku ingin nanti setelah aku sukses kita akan menikah. Aku tak perduli cibiran orang-orang yang mengatakan kalau kau lebih tua dariku. Aku sekarang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Maka dari itu tetaplah bersamaku, agar aku selalu semangat untuk membahagiakanmu nantinya" sambungnya lagi.
"Benarkah ? kau tidak berbohong ?" jawabnya memastikan Dion.
"Iya aku janji" Dion memegang tangan Valen dan mereka berdua sama-sama tersenyum manis.
"Aku sudah tetapkan hari ini detik ini kita jadian" lanjut Dion.
"Tapi kita tidak saling mencintai"
"Cinta akan datang dengan seiring berjalannya waktu, maukah kau menerima lelaki yang belum sempurna ini Valentina aku janji akan selalu membahagiakanmu ?" Valen hanya menganggukkan kepalanya karena sangat senang sekaligus terharu ternyata Dion lelaki yang bertanggung jawab walaupun ia masih bocah menurut Valen.
__ADS_1
'Tidak ada cinta yang abadi di dunia ini, meskipun ada itu hanyalah sebuah ego. Ego karena mempertahankan perasaan hanya untuk satu orang yang dicintai, hingga menutup pintu untuk hati orang lain masuk ke dalamnya'