Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
BAB 24


__ADS_3

Naura keluar dari kamar setelah mandi dan memakai pakaian yang sudah diberikan oleh pelayan apartemen. Naura membuat teh hangat untuk dirinya dan Reyhan. Mereka kini duduk berdua menikmati teh untuk menghangatkan tubuh.


Hujan sangat deras membasahi bumi belum ada tanda-tanda akan berhenti. Padahal hari sudah hampir tengah malam. Reyhan dan Naura terpaksa masih menetap diapartemen karena kondisi jalanan yang sulit untuk ditempuh alias banjir. Handphone Naura tiba-tiba berdering ternyata Ayahnya yang menelfon.


"Kamu lagi dimana sayang ?"


"Hhmm...lagi sama Kak Reyhan, Yah. Kita enggak bisa pulang jalanan banjir hujan deres banget"


Baskoro mengubah panggilannya menjadi video call. Baskoro menatap tajam Naura yang sedang berada suatu tempat asing.


"Katakan dimana Reyhan ?"


Naura pun langsung memberikan telfonnya pada Reyhan, dan Reyhan menerimanya.


"Kau apakan putriku ? dimana kau bawa putriku ?"


"Eh...anu Om"


"Bicara yang jelas !"


"Aku membawa Naura ke apartemen pribadiku Om, kami tak bisa pulang karena jalanan sedang banjir. Mohon maafkan aku"


Baskoro tersenyum ia yakin saat ini Reyhan tengah menjaga Naura.


"Ingat jaga Naura jangan sampai lecet sedikitpun !"


Naura mengambil ponsel di tangan Reyhan saat Reyhan belum sempat membalas ucapan Baskoro.


"Ayah kapan pulang ?"


"Mungkin Ayah sebulan lagi disini"


"Lama banget Yah, buruan pulang. Naura kangen..." ucap Naura dengan manjanya.


"Iya..iya..Oh Ya bagaimana hubunganmu dengan Reyhan ?"


Naura tersenyum dan menampakkan jari manis ditangannya yang sudah tersemat cincin berlian.


"Kak Rey ngelamar Naura, Yah"

__ADS_1


"Benarkah apa kau bahagia sayang ?"


Naura menganggukkan kepalanya sebagai jawaba dan kemudian menjauhkan handphonenya agar menampakkan wajah dirinya dan Reyhan.


"Baiklah...ayah akan menikahkan kamu dengan Reyhan setelah ayah pulang dari Lebanon"


Reyhan tersenyum senang akhirnya ia sebentar lagi akan menikah dengan Naura, dan Pak Baskoro sendiri yang akan menikahkannya.


"Siapkan semuanya Reyhan, Om tak mau ada kesalahan nanti di hari H"


"Iya Om, aku akan menyiapkan semuanya. Om jangan khawatir, bahkan aku akan memberikan apapun pada Naura sebagai mahar pernikahan"


"Bagus....Om suka kamu ternyata lelaki yang Gantle mau menghalalkan lebih dulu anak Om, jaga Naura saat Om tidak ada Rey, Om percayakan padamu"


"Terimakasih Om, aku akan selalu menjaga kepercayaan yang Om berikan"


Setelah pembicaraan telfon berakhir. Reyhan dan Naura kini tengah duduk diatas karpet bulu diruang televisi, mereka menonton televisi bersama, karena keduanya belum bisa tidur.


"Kak Rey bisa ceritakan tentang Dion, padaku ?"


Reyhan menghela nafasnya ia menatap Naura kemudian tersenyum. Ia kemudian menjatuhkan kepalanya kepundak Naura dan mulai bercerita.


"Iya aku tahu, terus..."


"Aku membencinya dulu waktu pertama kali ia datang ke rumah kami, Papa diam-diam menikah lagi dan punya anak yaitu Dion. Mamaku sampai jatuh sakit karena setiap hari harus menanggung luka hati karena Papa. Setiap kali aku melihat Dion aku teringat selalu akan tangisan Mamaku. Maka dari itu aku selalu membencinya. Yang membuat aku tambah membenci Dion adalah saat Mamaku sedang butuh pertolongan Papa. Tapi Dion malah mengajak Papa menemui Ibunya. Aku tak tahu benar atau tidaknya kalau Ibunya sedang sakit keras dirumah sakit."


"Mamaku meninggal diperjalanan ke rumah sakit, dan itu karena ulah Papa dan Dion yang lebih memilih kerumah sakit lebih dulu ketimbang membawa Mamaku dulu ke rumah sakit"


"Itu sebabnya aku selalu membenci Dion bahkan Ibunya yang sudah tiada"


Naura yang mendengarkannya ia ternganga tak menyangka dengan apa yang diceritakan oleh Reyhan. Itu artinya Reyhan pun tak tahu kalau mereka bukanlah saudara sedarah dari Ayah yang sama.


"Apa Kak Rey percaya dengan apa yang akan ku ceritakan tentang Dion ?" Ucap Naura sambil mengelus rambut Reyhan.


"Ceritakanlah aku akan mendengarkannya"


"Tapi jika Kak Rey tak percaya, Kak Rey bisa langsung bertanya pada Om Arya atau Ayahku sendiri"


Reyhan mengangkat kepalanya dan memandang Naura dalam.

__ADS_1


"Apa ada hal yang tak ku ketahui ?"


Naura menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menceritakan semua tentang Dion pada Reyhan dan fakta bahwa Reyhan bukanlah saudara sedarah dari Ayah yang sama dengan Reyhan. Melainkan sedarah dari ayah yang sama dengan Naura, Pak Baskoro.


Jeder !


Jantung Reyhan berdetak tak karuan. Menerima kenyataan yang ia dengar dari Naura. Naura bahkan menangis. Ia turut merasa bersalah atas kehancuran keluarga Reyhan karena ulah Ayahnya sendiri.


"Aku minta maaf Kak Rey atas nama Ayahku. Maafkan Ayahku" lirih Naura disela isak tangisnya.


"Jadi...jadi Dion bukan anak Papa melainkan anak Pak Baskoro, Ayahmu ?"


"Iya Kak Rey, Kakak bisa tanyakan langsung pada Ayahku dan Om Arya. Bahkan Ayahku diam-diam melakukan tes DNA. Dia akan memberitahu Dion saat Ayahku pulang ke tanah air."


"Ku mohon maafkan Ayahku Kak Rey, Dion enggak bersalah tolong jangan membencinya"


Reyhan diam memalingkan mukanya ke arah jendela kaca yang sedang turun hujan badai. Ada rasa kecewa dan bahagia yang menjadi satu saat ini dirasakan oleh dirinya.


Naura menyentuh pundak Reyhan ia tahu saat ini pasti Reyhan sedang merasa kecewa.


"Kak Rey...."


Reyhan menatap Naura, ia menghapus air mata yang membasahi pipi Naura. Ia tak tega melihat wanita yang ia cintai menangis padahal itu bukanlah kesalahannya.


"Maafkan aku, tolong jangan menangis aku hanya belum bisa menerima apa yang menjadi kenyataan saat ini."


"Aku tak tau harus bahagia atau kecewa. Yang jelas aku sangat menyesalkan perbuatan Ayahmu dan keputusan yang diambil Papaku. Ku harap kau mengerti Naura, apalagi Mamaku sudah tiada. Andaikan Mama masih hidup pasti ia bisa menerima Dion dan Ibunya dengan baik, tanpa merasa sakit hati dengan Papaku. Tapi apapun itu Papaku seharusnya tidak mengambil tindakan untuk menikahi Ibu Dion."


"Terimakasih sudah menceritakan kebenaran ini padaku Naura, akan ku selesaikan nanti bersama Papaku" Reyhan memeluk Naura dan disambut oleh Naura.


Ya tidak mudah menerima semua yang terjadi saat ini bagi Reyhan. Ada rasa kecewa yang Reyhan terima karena perbuatan Ayahnya Naura begitupun keputusan Papanya.


Andaikan Arya tak menikahi Dilara mungkin keluarga mereka masih utuh. Selama ini Mama Reyhan (Lisa) selalu merasa dikhianati dan disakiti oleh Arya padahal apa yang dilakukan Arya hanya sebatas menolong sahabatnya yang sudah diambang kematian.


"Hari sudah tengah malam, masuklah ke kamar Naura. Besok pagi kita pulang"


"Baiklah Kak Rey, selamat malam" Naura masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.


Ia menyandarkan diri di daun pintu. Ia tahu pasti berat apa yang dirasakan oleh Reyhan.

__ADS_1


"Maafkan Ayahku Kak Rey...." Batin Naura mengeluarkan air matanya.


__ADS_2