
4 Bulan Kemudian....
Perut Naura bergejolak rasanya ia ingin memuntahkan isi perutnya, padahal saat ini ia sedang melakukan ujian semester. Naura minta izin keluar dengan dosen pengawas. Ia berlari buru-buru ke toilet sampai menabrak seorang dosen muda yang baru saja bekerja dikampusnya.
"Hei kalau jalan lihat-lihat" ujar dosen itu merasa kesal ia yakin yang menabraknya adalah seorang mahasiswi. Naura tak memperdulikannya, saat ini ia ingin cepat masuk ke dalam toilet.
"Uwek...uwek.."
Naura memuntahkan seluruh isi perutnya di wastafel, seluruh tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Keringat dingin membasahi keningnya. Ia kemudian membasuh wajahnya, dilihatnya wajahnya sangat pucat.
"Kenapa ini, tidak biasanya aku begini" Naura bermonolog.
Riska yang melihat Naura berlari menuju toilet pada waktu yang bersamaan, ia mengikuti sahabatnya itu dan melihat Naura yang sedang terduduk lemas dibawah wastafel.
"Naura !" pekik Riska yang melihat kondisi Naura yang sangat pucat.
"Riska..." lirih Naura yang lemas tak bertenanga.
"Lo kenapa, ya ampun Lo muka Lo pucet banget" Riska panik
"Ka, sebelum Lo nolongin gue. Tolong Lo harus ke kelas gue dulu, kasih lembar jawaban ujian gue sama dosen pengawas dan ambil tas gue. Gue tunggu Lo disini" ucap Riska lemas.
"Ya udah-udah Lo duduk dulu di depan. Oke jangan kemana-mana" Riska membantu Naura keluar dari toilet dan mendudukkannya dibangku panjang depan toilet.
Riska buru-buru ke kelas Naura dan mengatakan pada Dosen Pengawas ujian kalau keadaan Naura saat ini sedang sakit, beruntung Naura telah selesai mengerjakan ujiannya.
"Ayo Ra, kita unit kesehatan" ucap Riska membantu Naura berdiri.
Saat di unit kesehatan, Dokter memeriksa keadaan Naura, dan Riska hanya bisa diam memperhatikan. Dokter itu tersenyum setelah mengecek keadaan Naura.
"Terakhir kapan kamu datang bulan ?" tanya dokter itu pada Naura yang kini tengah duduk diranjang sehabis diperiksa.
__ADS_1
"Eemm...seharusnya 10 hari yang lalu Dok, memangnya kenapa ?" tanya Naura bingung.
"Ini hanya prediksi, tapi cobalah nanti kamu beli tespek diapotik jika benar kamu tengah hamil".
Riska dan Naura sama-sama menganggukkan kepalanya mencerna perkataan sang Dokter. Kemudian Naura dan Riska sama-sama terpekik kaget.
" What ! hamil !" teriak mereka bersamaan.
"Iya, bukankah kamu sudah menikah Naura ?" tanya Dokter karena ia tahu siapa Naura.
"Iya Dok, terimakasih sebelumnya" jawab
Naura.
......****************......
Naura kini sedang berada dikamar mandi ia menatap 3 buah alat tespek yang ia beli diapotik tadi siang. Matanya berbinar dan terharu bahagia, kala melihat dua garis merah yang terdapat di tespek itu.
Naura mencoba menyusun rencana agar tidak dulu memberitahukan suaminya. Ia akan memberinya kejutan nanti saat suaminya berulang tahun dua hari lagi.
...***************...
"Ini sudah 4 bulan berlalu, dimana ia bersembuyi, Zid" ucap Reyhan yang terus menanyakan dimana keberadaan Alvaro. Reyhan sengaja tak melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib, karena jika sampai ia bertemu dengan Varo kembali ia akan menghukumnya dengan caranya sendiri.
"Dia lincah seperti belut, Rey. Jangankan kita Ayah Naura saja tak bisa melacak kemana ia pergi. Aku yakin ia dilindungi oleh orang yang berkuasa" jawab Zidan.
"Siapa yang berani melindunginya, bahkan kita sudah mencabut seluruh saham yang ada di perusahaan Pratama. Dari mana dia mendapatkan uang !"
Tak lama Reyhan meraih gagang telfon karena resepsionis menelfon dari lobby.
"Siapa ? Sabrina ? Baiklah suruh dia keruanganku" Reyhan menutup telfonnya.
__ADS_1
"Sabrina ?" tanya Zidan.
"Iya aku pernah bertemu dengannya sebelum menikah, aku tak tahu jika dia masih berada di negara ini" jawab Reyhan.
Zidan mengerutkan keningnya, ia memikirkan kenapa Sabrina ada dinegara ini jika Reyhan pernah bertemu dengannya berarti sudah lama Sabrina ada di negara ini. Tapi kenapa juga saat Reyhan menikah Sabrina tidak datang dipernikahan Reyhan. Zidan terus memikirkan Sabrina, hingga tiba-tiba terdengar pintu terbuka.
'klek'
"Reyhan...Zidan..." Sabrina mendekati dua sahabatnya yang tengah duduk di kursi sofa. Sabrina memeluk Reyhan dan Zidan secara bergantian.
"Duduklah..." ajak Reyhan.
"Kau sudah lama di negara ini, tapi tak pernah memberitahuku, Rin" tanya Zidan menatap Sabrina dari bawah sampai atas tubuh Sabrina yang kini tampilannya sudah berubah 180°. Ia kenal Sabrina seorang gadis yang tomboi tidak seperti sekarang lebih feminim dan cantik.
"Ya, aku memutuskan tinggal disini. Karena bosan tinggal di London" jawab Sabrina santai karena bukan itu alasannya untuk tinggal namun karena Reyhan cinta yang tak pernah terbalaskan.
"Benarkah !" tanya Zidan penuh selidik.
"Sudahlah Zid, kita sudah lama tidak bertemu" potong Reyhan.
"Rey, aku butuh pekerjaan. Bisakah kau berikanku pekerjaan diperusahaanmu ini" tanya Sabrina.
Zidan menatap Sabrina ada rasa curiga dalam benak Zidan kenapa Sabrina meminta pekerjaan pada Reyhan. Bukankah Sabrina anak seorang konglomerat di London.
"Baiklah...kau bisa bekerja disini, tapi ingat jangan buatku kecewa walaupun kita seorang sahabat tapi dikantor aku atasanmu" ucap Reyhan
"Beneran, wah terimakasih banyak Rey." Sabrina menatap Reyhan dengan mata berbinar.
"Zid, tolong kau atur saja dibagian mana ia cocok untuk bekerja disini" titah Reyhan.
Zidan mengela nafasnya kenapa mudah sekali bagi Reyhan untuk menerima Sabrina, walaupun mereka bertiga bersahabat. Namun ia tak mau terus berpikiran negatif, Zidan akan mengikuti saja sejauh mana Sabrina mendekati Reyhan. Karena tanpa sepengetahuan Reyhan, Zidan sudah tahu kalau sebenarnya Sabrina memiliki rasa pada Reyhan sejak kuliah dulu.
__ADS_1