Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
BAB 35


__ADS_3

1 minggu kemudian.


Kehidupan antara keluarga Arya dan Baskoro berjalan seperti biasanya. Dion sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit karena kondisinya sudah membaik. Lain halnya pasangan calon pengantin Naura dan Reyhan semakin hari semakin sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.


"Yang ini aja ya Kak" ucap Naura saat mencoba salah satu gaun pengantin.


"No ! aku tidak mau bahu mulus dan dadamu dilihat orang lain sayang, ganti !" balas Reyhan tegas.


"Ini udah gaun ke 4 kak !" ucap Naura kekeh dengan pilihannya.


"Ayolah sayang, coba yang satu lagi" bujuk Reyhan.


Naura memasang muka cemberut dan masuk ke dalam kamar ganti, bukannya kesal dengan Naura, Reyhan malah semakin gemas melihatnya. Tak lama keluarlah Naura dengan gaun kelima, Reyhan sampai menatap Naura tak berkedip. "Sungguh indah ciptaanmu Tuhan" Batin Reyhan karena menatap kecantikan Naura apalagi menggunakan gaun pengantinnya saat ini.


Naura membalikkan badannya dengan cepat Reyhan mengambil hp disaku celananya, dan memotret Naura.



Reyhan kemudian memeluk Naura dari belakang dan membisikkan sesuatu ditelinga Naura.


"Kamu cantik" ucap Reyhan kemudian mengecup pipi Naura sekilas. "Kita ambil gaun yang ini" ucap Reyhan dan Naura pun setuju.


Setelah keluar dari butik, Reyhan dan Naura menuju perusahaan perhiasan yang merupakan teman baik almarhumah ibunya dahulu.


Reyhan dan Naura disambut hangat oleh pemilik perusahaan tersebut.


"Selamat datang Nak Reyhan, apa kabar ?" sapa wanita paruh baya yang merupakan pemilik perusahaan.


"Baik, Tante Ayu"


"Ada apa ? kau menikah lagi ?"


"Seperti yang tante lihat, dia calon istriku"


"Cantik, dia sangat mirip....teman tante" Tante Ayu menatap Naura lekat-lekat ia mengingat temannya semasa kecilnya dulu. "Siapa namamu, Nak ?"


"Naura tante, Naura Berlina" jawab Naura lembut.


"Nak Reyhan itu seperti putra tante sendiri, Naura. Karena Ibunya Reyhan teman baik tante" ucap Tante Ayu sambil mengajak Naura dan Reyhan duduk disofa. Tak lama ia menelfon asisstennya untuk membawakan katalog perhiasan keruangannya.


"Nah, ini kalian bisa lihat-lihat dulu mana yang cocok" Tante Ayu menyerahkan katalog perhiasan pada Naura dan Reyhan.


Naura dan Reyhan melihat-lihat katalog tersebut satu persatu. Tak lama Tante Ayu berdiri dari duduknya dan mengambil gambar mahkota dibawah laci meja kerjanya.


"Karena kamu mengingatkan tante dengan teman tante sewaktu kecil dulu, ini coba lihat siapa tahu kamu menyukainya" Tante Ayu menyerahkan gambar mahkota pada Naura, Naura membulatkan matanya ia begitu menyukai desain mahkota yang ada pada gambar itu.



"Cantik sekali tante..." lirih Naura

__ADS_1


"Kau menyukainya sayang ?" tanya Reyhan


Naura menganggukkan kepalanya tanda ia sangat menyukai mahkota tersebut.


"30 Milyar, Reyhan" jawab Tante Ayu diiringi dengan senyuman.


"Apa !" Naura kaget mendengar harga mahkota tersebut.


"Tidak masalah, Tante. Selagi calon istriku yang cantik ini menyukainya" jawab Reyhan. "Aku mau mahkota ini 1 minggu sebelum hari pernikahan kami, tante" sambungnya lagi.


"Tapi kak..." Naura menyela


"No Baby, apapun untukmu tidak masalah buatku. Ini bukan apa-apa buatku"


"Oke nak Reyhan, nanti tante akan mengirimkan ke alamat rumahmu satu minggu sebelum hari pernikahan"


"Dan untuk perhiasan yang lainnya, tolong tante sesuaikan saja dengan mahkotanya" balas Reyhan.


Reyhan dan Naura pamit undur diri saat diambang pintu, tante Ayu masih penasaran dengan Naura.


"Nak Naura" panggil Tante Ayu, dan Naura membalikkan badannya menatap tante Ayu.


"Iya Tante"


"Bolehkah tante bertanya ?"


"Boleh, apa Tante ?"


"Briana Putri Atmaja"


Tante Ayu membulatkan matanya ia semakin yakin bahwa Briana yang disebutkan Naura adalah teman semasa kecilnya dulu, karena wajah Naura sangat mirip dengan Briana.


"Ada apa tante ?" tanya Naura penasaran.


"Ti-tidak apa-apa Nak, tante hanya bertanya saja" jawab tante Ayu cepat.


"Kami permisi dulu, tante Ayu kami masih banyak urusan yang belum diselesaikan" ucap Reyhan mengajak Naura pergi.


"Oh iya, hati-hati Nak" balas tante Ayu.


Tak lama tante Ayu menelfon seseorang untuk mencari tahu tentang Naura calon istri Reyhan.


"Aku ingin tahu semua tentangnya, ku beri waktu kau 2 hari" ucap tante Ayu kemudian mematikan telfonnya sepihak.


"Briana..." lirih tante Ayu.


Dalam perjalanan pulang Reyhan menggenggam mesra tangan Naura. Senyum terus terukir dari bibir Reyhan dan Naura, pasangan yang sedang dimabuk asmara.


"Semuanya sudah selesai, tinggal menunggu waktu 3 minggu lagi" ucap Reyhan.

__ADS_1


"Iya Kak Rey, enggak nyangka kalo nikah itu ribet banget"


Reyhan terkekeh mendengar jawaban Naura.


"Apa dulu waktu bersama Kak Sofia, Kak Rey sibuk seperti kita ?"


Reyhan terdiam sejenak, ia mengingat sewaktu dirinya akan menikah dengan Sofia. Semuanya telah diatur oleh mertuanya, ia bahkan tak ikut andil sama sekali.


"Tidak"


"Beneran ?" tanya Naura penasaran.


Reyhan menganggukkan kepalanya. "Semuanya telah diatur oleh Mama Lia mantan mertua Kak Rey" jawab Reyhan.


"Aku belum pernah mengunjungi makam Kak Sofia" cicit Naura.


Reyhan menepikan mobilnya dipinggir jalan dibawah pohon yang besar. Tempat yang agak sejuk.


"Kau ingin mengunjunginya ?" tanya Reyhan dab Naura menganggukkan kepalanya.


"Aku ingin mendoakan Kak Sofi dan berterima kasih padanya, sudah memberikan Kak Rey padaku"


Reyhan tersenyum dan memeluk Naura erat. "I love you" bisik Reyhan


"Love you more" jawab Naura.


"Lusa kita akan mengunjungi makam Sofia" Reyhan mengelus rambut Naura yang begitu halus.


Naura dan Reyhan telah sampai di kediaman Pak Baskoro, mereka berdua disambut hangat oleh Pak Baskoro. Kini mereka tengah duduk disofa ruang keluarga begitupun ada Dion dirumah itu. Semenjak kondisi Dion sudah pulih, Dion dibawa oleh Baskoro untuk tinggal bersama, walaupun tidak secara permanen karena Papa Arya juga tidak mau jauh dari Dion yang sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri.


"Kamu betah tinggal disini ?" tanya Reyhan pada Dion.


"Betahlah...dikompleks ini ternyata banyak cewe cantik"


Reyhan, Naura dan Baskoro menatap Dion dan Dion menjadi salah tingkah.


"Hehe...bercanda"


Baskoro pun mengalihkan pembicaraan absurd antara Reyhan dan Dion. "Jadi urusan kalian sudah selesai ?" tanya Baskoro


"Iya Om, tinggal menunggu hari H" jawab Reyhan.


"Kalau begitu, kamu tidak boleh bertemu dengan Naura. Nanti kalian boleh bertemu saat ijab qobul"


Reyhan membulatkan matanya, mana bisa fikirnya tak bertemu dengan Naura dalam waktu kurang lebih 2 minggu.


"Iya Kak Rey, anggap aja lagi dipingit" timbal Dion dengan seringai diwajahnya ia tahu perasaan kakaknya saat ini.


Reyhan hanya bisa pasrah tak baik baginya untuk membantah perkataan sang calon mertua yang seorang jendral, maka dari itu lebih baik dia menuruti kemauan mertuanya dari pada nanti gagal menikah dengan Naura.

__ADS_1


"Baik Om"


Dion menahan tawanya ingin sekali rasanya ia meledek Kakaknya.


__ADS_2