
Reyhan melindungi Naura dengan memeluknya, tangannya memegang sebuah pistol yang siap kapan saja menembakkan ke tubuh Alvaro.
Alvaro diam tak berkutik namun dengan gerakan cepat ia pun mengeluarkan pistolnya juga dari kantong belakang celananya.
Naura semakin ketakutan, jantungnya seakan melompat dari tempatnya.
"Percuma kau mengoperasi wajahmu, aku akan selalu tahu jika itu adalah kau, brengsek !" ucap Reyhan dengan menampakkan kemarahannya.
"Hahaa....jika kau sudah tahu siapa aku, maka aku akan menghabisimu saat ini juga, Reyhan Wijaya"
"Diam ditempatmu atau ku tembak kepalamu, bajingan" ucap Reyhan yang masih menodongkan pistol ke arah Alvaro.
Naura mengeluarkan air matanya ia tak sanggup jika melihat adegan seperti ini.
"Kalau aku tak bisa memiliki Naura, itu artinya kau juga tak boleh memilikinya, Reyhan !"
"Dalam mimpimu !" ucap Baskoro yang sudah ada dibalik pintu kamar dengan gerakan cepat ia menembak kaki dan tangan Alvaro.
Alvaro menjerit kesakitan dan melepaskan pistol ditangannya. Naura juga mengeratkan pelukannya. Saat mendengar suara tembakan ditubuh Alvaro.
"Aaaaarrrgghhh" Alvaro menjerit kesakitan saat Baskoro menginjak kakinya.
"Bawa dia !" ucap Baskoro pada kedua anak buahnya.
"Ayah.." lirih Naura dan memeluk Baksoro erat.
__ADS_1
"Tenang sayang, dia sudah kita tangkap. Selamanya dia tak akan menganggumu lagi" ucap Baskoro menenangkan Naura dan mengelus punggungnya.
FLASH BACK
Reyhan mendapatkan telfon dari seorang detektif yang ditugaskan olehnya untuk mencari tahu tentang Alvaro. Reyhan tahu kalau Alvaro pergi ke Korea negara kelahiran Ibunya, dan melakukan operasi plastik untuk merubah bentuk wajahnya agar tak dikenali olehnya.
"Zid, kita jalankan rencana untuk menangkap laki-laki bajingan itu" ucap Reyhan penuh emosi.
"Iya, kita harus bergerak cepat Rey. Sebelum dia berani mengusik istrimu lagi"
"Malam ini dia kembali ke tanah air. Itu artinya besok dia pasti akan mencari dimana keberadaan Naura."
"Kita jebak dia diVilla mu Rey, bagaimana ? Disana tempat yang tepat untuk menjebaknya ! tawar Zidan karena ia sudah juga tak sabar menangkap Alvaro.
"Baiklah, aku akan menghubungi Ayah Naura. Dia orang yang berbahaya Zid, kurasa dia mungkin sudah sakit jiwa"
Reyhan tampak berfikir jika kasus Alvaro mencuat ke media itu artinya akan berdampak pada kesehatan istrinya, apalagi saat ini istrinya tengah hamil ia tak mau Naura stress dan terbeban fikiran. Lagipula ia juga tak mau aib keluarganya diketahui publik.
Reyhan menghela nafasnya kasar, bersandar pada kursi kebesarannya dan menatap langit-langit diruangannya.
Tak lama ia meraih hpnya dan menghubungi Ayah Naura, meminta keputusan apa yang tepat setelah menangkap Alvaro.
Dan Baskoro pun juga berpendapat dengan Rey, akan lebih baik Naura tidak dibawa-bawa ke media. Lama keduanya saling bertukar fikiran, hingga muncul sebuah ide untuk mengurung Alvaro dan memberikannya pelajaran yang sangat berharga yang nanti tak pernah ia lupakan.
"Baiklah, Ayah. Kita jalankan rencana kita besok pagi" ucap Reyhan menjawab telfon dari Baskoro.
__ADS_1
Flashback On
Dan disinilah sekarang Alvaro sedang didalam sebuah ruangan yang tak ada jendela sama sekali. Tempat yang tertutup. Saat ini Alvaro tengah pingsan akibat syok karena tangan dan kakinya terkena luka tembak.
Seorang lelaki memakai pakaian APD dan masker datang memasuki ruangan itu. Dia adalah Dokter bedah yang diperintahkan Reyhan untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tangan dan kaki Alvaro.
Dokter itu mengambil pisau bedah dan melakukan pengeluaran peluru tanpa memberikan Alvaro obat bius.
Alvaro bangun dari kesadarannya, ia memekik kala satu peluru berhasil keluar dari tangannya.
"Aaahh...apa yang kau lakukan !" teriak Alvaro kesakitan.
"Menyingkirlah brengsek !" ucap Alvaro yang menatap Dokter tersebut dengan balutan emosi.
Dokter itu menendang perut Alvaro hingga tersungkur ke belakang. Dengan cepat Dokter tersebut mengeluarkan peluru satunya lagi dipaha bagian kiri kaki Alvaro. Alvaro hanya bisa menjerit kesakitan. Dokter itu juga melakukan penjahitan luka Alvaro tanpa menggunakan obat bius.
Setelah pekerjaannya selesai, Dokter itu meninggalkan Alvaro seorang diri. Semua kejadian itu dilihat oleh Reyhan, Baskoro, dan Zidan disebuah ruangan rahasia yang menghubungkan ke ruangan Alvaro hingga Alvaro tidak bisa melihat siapapun.
"Tak ku sangka kau kejam juga Rey" ucap Zidan bergedik ngeri setelah melihat adegan Alvaro barusan.
"Itu tak sebanding dengan apa yang ia lakukan pada Naura, Zid" jawab Reyhan dingin matanya masih melihat Alvaro yang merintih kesakitan.
"Apa gadis yang Varo sekap itu sudah dibebaskan, Rey ?" tanya Baskoro yang tahu jika Alvaro menyekap seorang gadis dikorea dikediaman almarhumah ibunya.
"Sedang dalam proses, kami belum tahu identitas gadis itu. Begitu sudah dibebaskan, aku ingin kasusnya berubah, bukan Naura korbannya tapi wanita lain" ucap Reyhan.
__ADS_1
"Iya itu lebih baik"
"Zid, telfon Paman Lim. Batalkan kerja sama perusahaan kita pada Mr. Lee. Kita tidak perlu bekerja sama dengan perusahaan anak seorang bajingan yang mungkin sebentar lagi akan menjadi debu" ucap Reyhan tanpa memandang Zidan. Dirinya masih menatap tajam Alvaro dengan balutan amarah dan emosi.