
Dua bulan berlalu...
Reyhan terduduk lesu ditoilet ruang kerjanya, sudah berapa kali dia muntah-muntah. Ia meminta Alex untuk menelfon dokter pribadinya datang ke kantor. Tak lama menunggu Reyhan segera ditangani oleh dokter dan memeriksakan keadaan Reyhan.
"Apa yang kau rasakan selain mual muntah Rey ?" tanya dokter Rio yang merupakan teman Reyhan Rio menatap Reyhan yang wajahnya sudah pucat.
"Hanya mual muntah saja dan terkadang ingin makan sesuatu ini dan itu..seperti saat ini aku menginginkan makan rujak" tutur Reyhan
Rio tersenyum mendengarnya dan menjelaskan Reyhan terkena sindrom couvade.
"Sindrom Couvade ?" ulang Reyhan karena ia tak tahu penyakit apa itu.
"Sindrom couvade yaitu kondisi yang terjadi ketika pria turut merasakan gejala kehamilan yang dirasakan oleh pasangannya" Rio menjelaskan pada Reyhan, seketika raut wajah Reyhan berubah menjadi ceria.
"Kau tidak salah mendiagnosis kan ?" tanya Reyhan penasaran
"Hanya dugaan sementara untuk lebih jelasnya coba uji dahulu istrimu dengan test pack atau bawa ia ke dokter kandungan" jawab Rio.
"Aku akan mengirimkan obat pereda mualnya setelah ini, maaf Rey jika aku harus cepat pergi sebab ada pasien yang harus dioperasi sesegera mungkin" Rio berdiri dan memasukkan alat medisnya ke dalam tas sedangkan Reyhan ia terbengong melihat Rio.
__ADS_1
"Hei aku menggajimu dirumah sakit itu, aku juga pasien" Reyhan tak terima jika Rio lebih memilih pasien lain diobati ketimbang dirinya.
"Berhentilah berdebat denganku Rey, kau itu baik-baik saja hanya mual. Okey !" tukas Rio
"Hanya mual kau bilang ! aku bolak balik kamar mandi muntah-muntah begini !" Reyhan tak mau hanya dibilang sakit biasa karena ini sangat menyiksa baginya.
"Jangan manja padaku..manjalah pada istrimu, lebih baik kau pulang temui istrimu, dan selamat semoga benar istrimu hamil kembali dan kau akan punya anak lagi" Rio kemudian pamit undur diri dan meninggalkan Reyhan dan Alex yang ada disana.
Reyhan kembali ke kursi kerjanya dan memakai jasnya kembali. Ia harus pulang kerumah ia harus memastikan apakah benar Naura hamil, namun disisi lain ia juga takut nanti Naura merasa down dengan permintaannya untuk menggunakan alat test pack.
Lama ia termenung tak lama masuk sebuah pesan yang dikirim oleh Naura yang membuat mata Reyhan berbinar.
Reyhan buru-buru menjawab dan memanfaatkan situasi ini agar Naura mau memeriksanya.
"Benarkah ? Coba ditest sayang, nanti Mas belikan alatnya, kamu mau kan ?"
"Okey"
Reyhan berdiri dari duduknya dan memerintahkan Alex untuk menggantikan dirinya memimpin rapat siang ini, karena ia harus pulang menemui istrinya.
__ADS_1
.......
Saat ini Dion telah selesai melaksanakan ujian Tesisnya ia lulus ujian dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia kemudian menelfon Papa Arya dan Ayah Baskoro karena bulan depan ia akan wisuda.
Papa Arya dan Ayah Baskoro tersenyum senang mendengar kabar itu, mereka pun akan pergi ke jerman saat hari wisuda itu tiba. Namun ada hal yang mengejutkan ketika Dion meminta pada Ayah dan Papanya itu suatu permohonan agar Paman Lim dan Yoona juga ke Jerman.
"Kenapa mereka harus ikut juga, Dion ?" tanya Papa Arya dalam sambungan Video Call.
Dion pun menceritakan hubungannya pada mereka, bahwa sudah 5 tahun ini ia menjalin hubungan dengan Yoona anak Paman Lim.
"Benarkah ?" Papa Arya sangat senang jika Dion mempunyai hubungan dengan Yoona yang merupakan anak dari orang yang ia percayai selama ini membantunya membesarkan perusahaan.
"Jadi kau ingin menikahinya, Dion ?" tanya Baskoro pada Dion ia pun sama halnya merasa bahagia mendengarnya.
Dion menganggukkan kepalanya rencana ia akan melamar Yoona di Jerman disaksikan dua orang tuanya begitupun Paman Lim.
"Baiklah kami akan membantumu, kau tenang saja. Okey" ucap Papa Arya
"Siapkan saja dirimu, Dion" sambung Baskoro
__ADS_1
"Terimakasih banyak Papa dan Ayah, kalian dua orang tua terbaikku" Dion mengacungkan jempol pada layar hpnya.