
Pagi hari Naura dan Reyhan sudah keluar dari apartemen. Reyhan mengantar Naura pulang kerumahnya. Mobil Reyhan tetelah sampai didepan rumah Naura. Reyhan mematikan mesin mobilnya dan memandang Naura, ia mengecup kening Naura dengan penuh rasa cinta.
Cup
"Aku akan menelfonmu nanti, apa kau ada kegiatan hari ini ?"
"Enggak ada Kak Rey, sebab aku vakum sementara di dunia Model"
Reyhan mengerutkan keningnya bertanya-tanya mengapa Naura bisa Vakum sementara di dunia Model.
"Kenapa ?"
"Ayah melarangku bergabung Kak Rey, karena takut aku kenapa-napa nanti diluar. Sebab Ayah hanya bisa menjagaku dalam pengawasan pengawal bayangan yang sudah diperintahkan Ayah"
Reyhan menganggukkan kepalanya menandakan setuju dengan keputusan Pak Baskoro.
"Apa setelah kita menikah nanti kau masih ingin berkarir menjadi seorang Model ?"
"Tergantung keputusan Kak Rey nanti setelah kita menikah, sebenarnya aku bergabung di dunia Model karena diajak teman sepupuku. Ia tertarik padaku katanya aku cantik" ucapnya dengan percaya diri.
"Iya kau memang cantik dan mempesona hingga akupun terpesona padamu Naura"
Naura tertawa mendengar ucapan Reyhan bisa-bisanya Reyhan menggoda dirinya.
"Hahaha....jangan gombal Kak Rey masih pagi ini"
"Aku serius ! Katakan padaku apa kau memakai sihir untuk menjeratku hingga aku jatuh pada pesona wajah dan hatimu ?" Ucap Reyhan menatap Naura dalam.
"Aku enggak pakai sihir apapun Kak Rey, sebab aku bukan Dukun atau Penyihir" ledek Naura
"Aku tak percaya"
"Seriusan"
"Ingat Naura, dirimu semua yang ada padamu hanya milikku, jangan pernah tinggalkan aku dan membuatku kecewa. Aku sangat menyayangimu dan mencintaimu"
"Iya aku akan belajar mencintaimu Kak Rey, dan Kak Rey jangan pernah mengecewakan aku atau Kak Rey akan melihatku pergi"
Reyhan menggelengkan kepalanya ia tak sanggup jika Naura pergi dari dirinya.
"Aku akan selalu menjaga kepercayaanmu, Naura"
"Oh ya mengenai karir modelmu, aku akan selalu mendukungmu asalkan tidak mengganggu waktumu dan waktuku saat kita menikah nanti, tapi kalaupun kau mau berhenti di dunia model aku akan sangat senang. Itu artinya kau akan fokus padaku dan dan pendidikanmu" ucap Reyhan pelan
Naura menimbang-nimbang keputusan yang akan ia ambil. Sepertinya memang benar dirinya harus berhenti dari karirnya. Lagi pula ia tidak terlalu menggeluti bidang itu. Hanya karena wajahnya yang cantik Bebi tertarik padanya untuk menjadikannya seorang model.
"Naura bukan maksudku untuk mengekangmu, dan bukan maksudku untuk menyombongkan diriku. Tanpa kau bekerja sebagai seorang Model pun aku bisa memberimu segalanya"
__ADS_1
"Baiklah Kak Rey, aku akan berhenti dari dunia model. Tapi aku butuh waktu, karena harus mengundurkan diri dari pihak agensi, terutama Bebi pasti dia bakalan kecewa sama aku"
Reyhan tersenyum senang mendengar jawaban Naura, ia tak menyangka Naura akan menuruti keinginannya untuk berhenti berkarir menjadi seorang Model.
"Apa perlu aku membantumu Naura ? Maksudku jika kau butuh bantuanku segera hubungi aku"
Naura tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda ia setuju. Setelah keduanya selesai bicara, Naura kemudian turun dari dalam mobil Reyhan. Ia melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah. Reyhan yang melihatnya menghilang dari balik pintu, ia merasa berbunga-bunga hari ini dan tak bisa diungkapkan oleh kata-kata, hanya menubggu waktu saja sebentar lagi ia akan memiliki Naura seutuhnya.
Diperusahaan Wijaya Corp Dion tengah mengepel lantai. Ia menggerutu selama ia melakukan pekerjaannya. Bagaimana tidak ia sudah lelah mengepel lantai dengan tanpa dosanya para karyawan perusahaan berjalan dilantai yang sudah ia pel dan itu membuatnya harus mengepel berulang-ulang.
Lelah akan pekerjaan yang itu-itu saja dilakukan membuatnya menjadi emosi pada karyawan yang lewat.
"Hei apa kalian tidak lihat kalau lantai ini habis dipel ? Tidak bisahkan kalian berjalan dilantai yang tidak basah ?!" teriak Dion pada karyawan yang lewat. Para karyawan pun menatapnya dengan remeh dan tak percaya kenapa seorang OB bisa berbicara seperti itu padahal setatusnya hanya seorang OB.
"Hei kau OB saja belagu kerja saja sana yang benar" ucap salah satu karyawan meremehkan Dion.
"Kurang ajar kau, kalau kau tahu siapa aku pasti kau akan berlutut dihadapanku" ucap Dion sombong
"Emangnya siapa kau hanya seorang OB bukan Manager, direktur, ataupun CEO disini"
Dion geram rahangnya mengeras tiba-tiba ia berjalan ke arah karyawan lelaki yang merendahkannya. Ia hendak mendaratkan pukulan kewajah lelaki itu, namun tiba-tiba dengan gerakan cepat ada yang menarik lelaki itu dan melerainya. Hingga terjadilah salah pukul yang Dion berikan. Dion tak sengaja memukul wajah Valentina.
"Sudah cukup !" Valentina melerai dua orang yang hendak bertengkar itu.
Buk
"Aaww..." Valentina memegangi pipinya yang memerah dan bengkak karena menahan sakit.
Para karyawan yang awalnya berkerumun melihat adegan itu langsung membubarkan diri karena di usir oleh Zidan. Mereka tak berani menatap dan melawan Zidan karena bila mereka berani sama saja melawan pemimpin perusahaan siapa lagi kalau bukan Reyhan.
Zidan membawa Valen dan Dion serta karyawan yang ikut terlibat dalam pertengkaran tersebut ke dalam ruangannya. Ada untungnya kali ini untuk masalah ini karena Reyhan belum datang ke kantor.
"Apa kau tau siapa Dion ?" ucap Zidan pada karyawan yang sedang menundukkan wajah dihadapannya.
"Saya hanya tahu dia seorang OB Tuan"
"Harus ku beri tahu padamu, orang yang kau rendahkan itu adalah adik dari pemimpin perusahaan ini" ucapnya tegas
"A..apa ?" Karyawan itu langsung menatap Zidan dan merasa bersalah.
"Maaf kan saya Tuan sungguh saya tak tahu" ucapnya memohon
"Kau sudah tau siapa aku bukan ? makanya jangan melihat orang dari tampilan luarnya saja" ucap Dion geram.
Karyawan itu langsung berlutut di kaki Dion dan memohon pada Dion.
"Maaf kan saya Tuan, sungguh maafkan saya."
__ADS_1
"Apa jadinya kau jika ku adukan dengan Kakakku ?" ucap Dion menakuti karyawan itu
"Maafkan saya Tuan tolong maafkan saya. Jangan adukan masalah ini dengan tuan CEO aku masih butuh pekerjaan untuk menghidupi anak dan istri saya. Anak saya sedang sakit saat ini dan butuh biaya untum berobat"
"Anakmu sakit saja kau masih bisa menghinaku" ucap Dion ketus.
"Tolong maafkan saya Tuan, tolong..."
Dion mengusap wajahnya ia bukanlah manusia yang tak punya hati ia jadi Iba dengan ucapan karyawan tersebut. Dion menjadi tak tega dan ia memaafkannya begitu saja. Zidan sampai melongo tak percaya dengan sikap Dion, sangat berbeda fikirnya dengan Reyhan 180° jika Reyhan diposisi Dion pasti Reyhan sudah mengahajar karyawan itu dan memecatnya dari perusahaan.
"Pergilah...dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku" ucap Dion memalingkan muka
"Terimakasih Tuan terimakasih banyak" ucapnya dan pergi meninggalkan ruangan Zidan.
Tak lama datang seorang OB membawa kotak obat dan kompres dingin. Dion yang melihatnya dan langsung mengambil dari tangan OB tersebut. Ia kemudian mendekati Valen yang sedang meringis menahan sakit dipipinya.
"Maafkan aku....aku tak sengaja" lirih Dion merasa bersalah.
Valen hanya menatap Dion dan memalingkan muka. Ia benar-benar malas berhadapan dengan Dion, bocah itu selalu membuat ulah jika bertemu dengannya.
"Biar aku obati lebam diwajahmu"
"Tidak perlu aku bisa sendiri" ucap Valen ketus.
"Ayolah aku hanya ingin mengobatimu" Dion kekeh dengan pendiriannya membuat Valen luluh akhirnya Valen mau diobati oleh Dion.
Dion mengulurkan tangannya mengompres pipi Valen. Tatapan mereka saling bertemu, Dion yang mengompres pipi Valen sambil meniup-niupkan ke pipi Valen yang lebam membuat tubuh Valen meremang. Aroma maskulin dari nafas Dion mengingatkannya pada malam ia ditiduri secara paksa oleh Dion.
Dirasa telah selesai mengompres pipi Valen Dion menatap Valen dengan intens ada debaran dalam jantungnya yang tak karuan.
Deg
Deg
Deg
"Ada apa ini apa aku jatuh cinta ?" batin Dion masih menatap Valen begitupun dengan Valen yang menatap Dion rasanya jantungnya seakan melompat dari tempatnya karena berdetak tak karuan.
Deg
Deg
Deg
"Kenapa jantungku ? apa aku sakit jantung !" ucap Valen dalam hati.
Dion menampilkan senyum menawan diwajahnya dan Valen hanya menatapnya tak berkedip.
__ADS_1
"Kenapa dia tampan sekali" ucapnya dalam hati.