Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
SABAR


__ADS_3

Mentari pagi kini telah menampakkan cahayanya dan menebus dibalik gordeng kamar hotel yang sudah ditempati oleh sepasang pengantin baru.


Reyhan yang sudah lebih dahulu mandi dan berganti pakaian menyibakkan gorden kamar itu. Senyumannya terus mengembang karena semalam ia sudah melakukan ritual buka puasa bersama istrinya.


Kenapa buka puasa ? kan Reyhan seorang Cassanova ? Iya Reyhan memang seorang cassanova, namun ia sudah lama tak bermain dengan para wanita ketika sudah jatuh pada padangan pertama dengan Naura istrinya.


Terihitung sudah hampir 5 bulan berlalu, ia tak pernah bermain. Dan semalam melakukannya bersama istri tercintanya yang masih ranum dan bersegel alias perawan.


Sebab setiap kali Reyhan bermain dengan para wanitanya ia tak pernah menjamah wanita yang masih perawan.


Reyhan menghubungi pelayan hotel untuk membawakan sarapan pagi ke kamarnya. Begitu sudah diantar oleh pelayan, Reyhan menatap wajah istrinya yang masih setia dengan tidurnya dan menampakkan wajah kelelahan. Karena Reyhan terus meminta haknya sampai jam 3 pagi.


Reyhan merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu, dan mengecup keningnya. Kemudian meletakkan buket bunga mawar segar yang ia pinta melalui Zidan.


Reyhan keluar dari kamar dan menuju restoran hotel. Ia bergabung bersama Papa, Ayah, dan Dion tampak disana juga ada Tante Ayu.


"Selamat pagi Pa, Ayah, Tante, Dion" sapa Reyha mendudukkan dirinya dikursi.


"Seger banget kamu Rey" ucap Tante Ayu yang tersenyum ke arah Reyhan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Reyhan hanya memberikan senyuman sebagai jawaban.


"Mana Naura, kenapa tidak turun bersamamu Rey ?" tanya Papa Arya


"Dia masih tidur...biarkan dia istirahat dulu, Yah"


"Dia tidak apa-apa kan, Rey ? tak biasanya dia melewatkan bangun pagi dan sarapan" ucap Baskoro merasa khawatir.


"Iya menantuku itu baik-baik saja kan Rey ?"


Reyhan merasa kesal dengan pertanyaan kedua orang tua itu. Seharusnya mereka tahu apa yang dilakukan oleh sepasang pengantin setelah hari pernikahan. Reyhan mengusap wajahnya yang tampan itu, dan menghembuskan nafasnya pelan.


Tante Ayu yang menyadari itu ikut bicara agar Reyhan tak semakin tersudutkan.


"Kalian berdua ini padahal sudah tua, masa tidak tahu apa yang dilakukan pada malam pengantin" oceh Tante Ayu menatap tajam Baskoro dan Arya.


Arya dan Baskoro saling pandang sejenak mereka bingung, namun dengan cepat mereka menyadarinya dan tersenyum bersama.


"Doakan saja kalian cepat punya cucu" sambung Tante Ayu lagi.


"Cucu ?" Dion membeo

__ADS_1


"Iya Dion, kau akan jadi Paman kalau Kakakmu punya anak" seloroh Tante Ayu.


"Wah..berarti Kak Rey semalem udah..." Dion membulatkan matanya dan menatap Reyhan sedangkan Reyhan memberikan tatapan tajam hendak membunuh lawannya.


"Sudan berhenti, aku selesai. Aku pamit ke kamarku lagi" ucap Reyhan berdiri dari duduknya. Tidak baik terlalu lama bergabung bersama keluarganya itu yang kini tengah membicarakan dirinya dan istrinya.


"Tuh lihat Reyhan jadi ngambek !" ucap Tante Ayu yang jengkel melihat dua pria tua dan anaknya.


"Aku hanya bertanya saja tadi" Arya membela diri.


"Iya aku juga"


"Kalian berdua seharusnya tau apa yang dilakukan pengantin dimalam pertamanya, apa kalian sudah lupa ?" tanya Tante Ayu pada Baskoro dan Arya.


"Sudah lama jadi Duda makanya lupa" balas Dion sambil memakan sarapannya.


Baskoro dan Arya sama-sama tersedak makanan dimulutnya dan minum air putih dengan cepat. Kemudian menatap anak lelaki mereka yang tidak sopannya membicarakan status mereka saat ini.


"Dasar anak nakal" ucap Baskoro dan Arya dalam hati.


Sedangkan yang ditatap menjadi gugup dan salah tingkah karena mendapatkan tatapan tajam dari Papa dan Ayahnya.


***************


Perlahan Naura membuka kedua matanya dan mengerjapkannya beberapa kali. Kemudian padangannya menangkap sosok wajah tampan suaminya yang kini sedang menatapnya dengan senyuman manis.


"Kak Rey, ini jam berapa ?" Naura menguap dan berusaha bangun dari tidurnya.


"Hampir jam 10 sayang..." jawab Reyhan menyingkirkan anak rambut istrinya.


"Hah jam 10" Naura kaget ternyata ia bangun kesiangan.


"Tak apa, kamu terlihat kecapek'an. Maafkan Kakak ya" lirih Reyhan.


Ingatan Naura kemudian kembali pada tadi malam benar saja bahwa dirinya kini bangun kesiangan karena melakukan ritual malam pertama dan suaminya itu seperti tidak ada puas menjamah dirinya sampai jam 3 pagi.


Pipi naura memerah ketika membayangkan adegan panas itu. Ia kemudian menyadari bahwa dirinya hanya berbalut selimut tanpa menggunakan busana.


"Ayo mandi, Kak Rey sudah menyiapkan air hangat untukmu" ajak Reyhan mengulurkan tangannya.


Saat Naura hendak turun dari ranjang ia meringis merasakan sakit pada area sensitifnya. Rasanya sakit sekali untuk bergerak apalagi berjalan.

__ADS_1


Melihat hal itu Reyhan dengan sigap menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


"Kak Rey, aku bisa sendiri"


"Kau pasti merasakan sakit, sudah biar Kak Rey yang membantumu mandi"


Reyhan menurunkan Naura ke dalam bathub yang sudah berisi air hangat. Darahnya mulai berdesir tatkala melihat kembali pemandangan indah tubuh istrinya itu.


Tiba-tiba Reyhan melepaskan seluruh pakainnya dan itu membuat Naura memalingkan muka. Ia masih merasa malu jika dalam kondisi polos begini padahal semalam mereka sudah melakukan adegan panas.


Reyhan memijit tubuh istrinya dari belakang, ia tahu tubuh istrinya saat ini pasti terasa capek dan pegal.


"Apa pijitannya enak ?" tanya Reyhan


"Iya, terimakasih suamiku" ucap Naura lembut.


"Naura...bisakah kau berhenti memanggilku Kakak, aku seperti Kakakmu saja"


Naura menggigit bibirnya dan kemudian memejamkan matanya sembari menyebutkan sesuatu yang mampu membuat Reyhan senang.


"Mas Rey..."


"Itu lebih baik, terimakasih sayang" Reyhan memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipinya. Pelukan itu tanpa sadar Reyhan telah memegang aset kembar milik istrinya. Reyhan kemudian sadar dengan apa yang ia pegang saat ini membuatnya menelan silvanya.


Ingin sekali ia meminta haknya kembali pada istrinya itu.


"Apa boleh ?" tanya Reyhan dengan suara beratnya menahan hasrat.


Naura sudah tahu kemana arah pertanyaan suaminya itu. Bukan ia tak mau tapi rasa sakit diarea sensitifnya saja belum hilang.


Naura berpikir bagaimana cara menolak suaminya secara halus agar tak merasa kecewa.


"Hem...Mas Rey, bagaimana jika nanti saja. Aku ingin istirahat sebentar"


Reyhan menghembuskan nafasnya pelan. Benar apa yang dikatakan istrinya seharusnya dirinya bisa mengontrol diri dan bersabar karena mungkin saat ini milik istrinya masih terasa sakit.


Reyhan menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban. Kemudian Reyhan menggendong istrinya mengguyur diri mereka dibawah kucuran air shower. Reyhan dengan telaten menyabuni bahkan mengkramasi istrinya. Reyhan juga yang memakaikan istrinya baju dan kini tengah menyisir rambut istrinya itu di depan cermin.


"Terimakasih Mas.."


"Sudah kewajibanku. Nah sudah selesai, ayo sarapan dulu. Tadi Mas sudah menyuruh pelayan hotel membawa sarapan kemari"

__ADS_1


Reyhan menyuapi makanan ke dalam mulut istrinya. Rona bahagia selalu terpancar dikeduanya.


__ADS_2