
Saat ini Reyhan dan Dokter kandungan yang menangani Naura sedang bersitegang. Dokter menjelaskan bagaimana keadaan istri Reyhan saat ini. Walaupun operasi yang dilakukan para tim dokter sukses namun Naura dinyatakan koma saat ini.
"Apa pekerjaan kalian hanya sabatas ini !" teriak Reyhan pada beberapa dokter yang ada diruangan tersebut bahkan direktur rumah sakit pun ada diruangan itu.
"Tenang, Tuan. Kami hanya seorang Dokter bukan Tuhan, kami sudah berusaha semampu kami. Selebihnya kita berdoa pada yang maha kuasa agar Nyonya cepat sadar dari komanya" ucap salah satu dokter yang ada diruangan itu.
Reyhan mengusap wajahnya kasar kenapa ia harus merasakan hal seperti ini untuk kedua kalinya. Dulu pada istri pertamanya Sofia bahkan meninggal dunia saat melahirkan.
"Tuan, maaf jika saya juga harus mengatakan ini" dokter menjeda ucapannya menghirup oksigen sebentar karena setelah ini pasti entah apa yang akan dilakukan Reyhan padanya dan rekan-rekannya.
"Ada apa ?" tanya Reyhan menatap tajam dokter tersebut.
"Rahim istri anda mengalami kerusakan yang cukup serius. Robekannya terlalu besar, kami sudah melakukan proses penjahitan yang semaksimal mungkin untuk memperbaiki rahim istri anda" dokter menjeda ucapannya
__ADS_1
"Apa ?" Reyhan terkejut mendengar penyataan dari dokter tersebut. Nafasnya memburu, matanya memerah, dan rahangnya mengeras mendapatkan informasi yang didapatkannya.
"Tuan Reyhan anda harus bersabar dan berbesar hati jika suatu saat nanti istri anda tidak bisa hamil kembali, karena tidak memungkinkan istri anda bisa hamil lagi setelah operasi"
Deg
Jantung Reyhan seakan ditikam ribuan jarum terasa sesak di dadanya. Impiannya bersama istrinya untuk memiliki banyak anak harus pupus.
Reyhan memejamkan matanya kemudian menatap lurus ke depan. Kemudian ia keluar dari ruangan dokter tersebut tanpa berbicara satu katapun pada mereka yang sedang berdiri dengan merasakan ketegangan dan jantung yang berdegup kencang.
"Istrinya masih bisa hamil lagi kan ?" tanya Direktur rumah sakit pada dokter yang menangani operasi Naura.
"Sangat kecil Tuan, diprediksi mungkin hanya ada harapan 10% istrinya bisa hamil lagi"
__ADS_1
Direktur rumah sakit itu menghembuskan nafasnya kasar setidaknya ia aman untuk saat ini. Ia benar-benar takut jika istri Reyhan tidak bisa hamil lagi, ia tahu Reyhan orang yang ramah namun bisa menjadi arogan dalam hitungan detik. Ia merasa was-was jika Reyhan nanti mencabut seluruh saham dirumah sakitnya.
.
Reyhan berjalan ke arah ruang rawat anaknya ia melihat dari kaca ruangan yang menampilkan anaknya sedang menghisap ibu jarinya di dalam inkubator. Bayi itu masih perlu perawatan dan penanganan intensif.
Saat ia tengah memandang bayi mungilnya itu, pundaknya ditepuk dari belakang dan itu Baskoro serta Arya.
"Ayah sudah tahu semuanya Rey, kuatkan hatimu dan teruslah sehat supaya kau bisa menjaga istri dan anakmu" ucap Baksoro menatap Reyhan dengan tatapan sendu.
"Ayah..." lirih Reyhan.
Baskoro merangkul Reyhan dalam pelukannya begitupun Arya ia tahu saat ini anaknya butuh support sistem dari mereka.
__ADS_1
"Kau sudah memberi nama anakmu Rey ?" tanya Arya kemudian menatap cucunya yang mungil itu.
"Iya aku sudah menyiapkan nama untuknya, Pa. Nanti setelah Naura sadar kami akan mengumumkan namanya" balas Reyhan menyeka air matanya dan menatap kembali bayinya yang sangat menggemaskan. Ingin sekali ia menggendong dan mencium anaknya itu bersama saling menguatkan atas apa yang tengah dialami terutama Naura istrinya, Ibu dari anaknya.