
"Kau ingin mati !" tatapan tajam Varo mengarah pada anak buahnya. Sedangkan Naura merasa selamat karena Varo menghentikan aksi gilanya.
"Bos, ayo kita keluar dari sini. Pasukan militer akan datang kemari dan bersama Reyhan serta anak buahnya !"
Varo terkejut bukan main kemudian menatap Naura dalam. Kenapa sampai ada pasukan militer ikut menyelamatkan Naura.
"Naura ternyata anak seorang Jendral, Bos ! Ayo pakai bajumu, kita pergi dari sini" Anak buah Varo menarik paksa Varo untuk meninggalkan Villa. Naura yang sendirian di dalam kamar menangis sekaligus merasa aman karena Varo meninggalkan dirinya. Akhirnya dirinya akan segera diselamatkan.
Bunyi suara helikopter dan anggota militer mulai mencari keberadaan Naura di dalam sebuah Villa. Naura berteriak, Reyhan yang mendengar suaranya pun langsung menuju kamar paling atas. Ia mendobrak pintu dan melihat Naura dengan kondisi yang memprihatikankan.
Reyhan berlari menghampiri Naura melepas ikatan tangan Naura. Kemudian memeluknya, Naura menangis sejadi-jadinya. Ketakutan yang luar biasa dialami Naura membuatnya merasa trauma.
"Its okey, Baby...aku sudah disini" Reyhan menenangkan Naura. Naura pingsan karena syok. Reyhan kemudian membawa Naura dengan cara menggendongnya ala bridal style.
Saat berada di dalam dekapannya, Reyhan menatap Pak Baskoro. Baksoro menghampiri Reyhan dan melihat kondisi Naura.
"Ayo bawa dia ke rumah sakit" ujar Pak Baskoro. Menuntun Reyhan agar naik ke helikopter dan menuju ke rumah sakit.
Sedangkan Zidan dan Dion serta anak buah Pak Baskoro berikut para pengawal Reyhan, masih menyelidiki Villa tempat Naura disekap mereka mencari bukti-bukti yang bisa menemukan siapa pelaku penculikan.
"Sial...mereka mematikan CCTV divilla ini !" ucap Zidan kesal menggebrak meja.
Dion menyusuri setiap sudut villa hingga sampai ke halaman belakang, ia melihat pintu pagar belakang villa yang terbuka. Ia yakin pasti pelakunya melarikan diri dan masuk ke dalam jalan hutan tersebut, dan menemukan jalan raya. Tempat pelarian yang sangat bagus.
...******...
Dirumah sakit Naura sedang berada dalam ruang perawatan. Reyhan berdiri disamping ranjang Naura bersama Pak Baskoro. Baskoro menggenggam erat tangan anak kesayangannya dan menitihkan air mata.
"Ayah...gagal menjagamu sayang" lirih Baskoro.
"Siapa orang itu, akan ku bunuh mereka !" ucap Reyhan.
"Iya kita harus mencari pelakunya, jangan biarkan mereka berkeliaran semakin jauh" Baskoro bicara dengan penuh rasa amarah.
Tak lama Naura membuka kedua matanya, ia melihat Ayah dan Reyhan sedang berada disisinya.
__ADS_1
"Ayah..." ucap Naura kemudian kembali menangis.
"Nauraku...sayang.." Baskoro menangis dan memeluk Naura begitu erat.
"Ayah aku takut..." ucap Naura dengan suara yang bergetar.
"Tenang, semuanya baik-baik saja. Ada Ayah disini" Baksoro menenangkan Naura.
"Haus..." lirih Naura.
Dengan sigap Reyhan langsung memberikan segelas air putih kepada Naura. Naura meminumnya sampai habis tak tersisa.
"Ayah dan Kak Rey harus mencari dan menangkap dia" ucap Naura menatap Reyhan dan Baskoro.
"Siapa ? Siapa orang yang berani melakukan ini padamu ?" tanya Baskoro.
Naura kembali menangis dan berkata. "Alvaro...hiks hiks hiks"
Reyhan membulatkan matanya ia mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras ketika mengetahui ternyata Alvaro Pratama orang yang melakukannya pada calon istrinya.
Reyhan bangkit dari duduknya kemudian beranjak meninggalkan ruangan rawat inap Naura. Namun ditahan oleh Baskoro.
"Memberi pelajaran pada bajingan itu Om" emosi Reyhan sudah memuncak. Reyhan tak lagi memperdulikan perkataan Baksoro untuk sabar menunggu bukti yang kuat. Reyhan bergegas pergi ke kediaman Pratama.
Saat tiba didepan pintu gerbang kediaman Pratama, Reyhan tak turun dari mobilnya. Ia mendobrak paksa pagar rumah dengan mobilnya. Tiga orang satpam yang menjaga rumah pun kaget.
Reyhan turun dari mobilnya kemudian menggedor pintu rumah dengan keras. Para satpam tak berani menahan Reyhan sebab Reyhan sudah mengancamnya.
"Buka pintunya !" teriak Reyhan.
Pratama yang merupakan ayah kandung Alvaro, yang kini sedang melakukan olahraga ranjang bersama sekretaris pribadinya itu langsung menghentikan aksinya, ketika mendengar keributan didepan rumahnya.
"Siapa orang yang berani malam-malam datang kerumahku" ucapnya dengan nada kesalnya dan turun dari ranjang cepat memakai bajunya kembali.
Pratama membukakan pintu rumahnya ia terkejut melihat Reyhan tengah berada didepan rumahnya dan melihat pintu pagar rumahnya yang hancur.
__ADS_1
"Tuan Reyhan ada apa malam-malam begini..." belum sempat Pratama menyelesaikan perkataannya Reyhan mencengkram kerah baju Pratama dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Katakan, dimana putramu !"
"A..Apa maksudmu Tuan Rey ?" Pratama tak tahu apa-apa tentang Alvaro karena Alvaro jarang pulang kerumah.
Reyhan mendorong Pratama hingga jatuh ke lantai marmer itu.
"Putramu melakukan penculikan dan mencoba memperkosa calon istriku !" teriak Reyhan.
"Apa ?"
"Katakan dimana putramu, ku bunuh dia saat ini juga !" Reyhan menatap tajam Pratama.
"Ak..aku tidak tahu Tuan, dia jarang pulang kerumah" ucap Pratama jujur.
"Kau berbohong demi melindunginya, bukan !"
"Tidak Tuan, demi Tuhan aku tidak tahu keberadaannya saat ini"
Reyhan menatap dalam mata Pratama memang benar apa yang diucapkan Pratama bahwa ia tidak tahu dimana Alvaro berada.
"Ku ingatkan sekali lagi padamu, nyawa perusahaanmu ada ditanganku. Kalau kau berani menutupi dimana keberadaan Alvaro, jangan salahkan detik itu juga kau menjadi gelandangan dijalanan" ucap Reyhan tegas dan dingin kemudian meninggalkan Pratama yang terduduk lemas dilantai.
"Anak kurang ajar" Pratama merutuki kebodohan anaknya. Pratama kemudian masuk ke dalam kamarnya ia mengambil Hpnya diatas nakas, dan menelfon orang ke percayaannya untuk mencari Alvaro.
"Aku ingin tahu dimana ia berada saat ini juga, cepat ! Ku beri waktu kau 30 menit !" Pratama menutup ponselnya dan membantingnya ke atas tempat tidur.
Sabrina sahabat Reyhan yang merupakan teman partner ranjang sekaligus sekretaris pribadinya pun kaget melihat Pratama yang emosi.
"Why ?" tanya Sabrina penasaran.
Pratama memandang Sabrina yang masih berbalut selimut tebal pun langsung menyeringai, ia butuh melampiaskan amarahnya. Pratama menarik selimut sabrina kasar dan menarik kaki jenjang Sabrina. Membalikkan tubuhnya dan melakukan penyatuan dari arah belakang tanpa aba-aba dan pemanasan. Pratama melakukannya dengan kasar karena diselimuti rasa amarah. Jeritan dan teriakan Sabrina tak mampu menghentikan aksi Pratama.
"Ah...Stop it !" jerit Sabrina
__ADS_1
"Aahh...Please...Mister Pratama Oh..Sakit !!"
"Ah..ah..ah.."