
Alvaro kini sedang berada didalam pesawat menuju korea selatan, negara kelahiran Ibunya. Ia sudah menyusun rencana untuk merubah bentuk wajahnya alias operasi plastik agar tidak diketahui oleh Reyhan dan juga Baskoro. Ia tak mau mati ditangan kedua orang itu.
Alvaro meninggalkan tanah air dengan memalsukan identitasnya. Ia tak mau siapapun tahu dimana keberadaannya baik itu Ayah kandungnya sendiri. Alvaro meninggalkan semua fasilitas yang berikan oleh Ayahnya. Ia tak merasa khawatir tentang itu, karena almarhum Ibunya memiliki perusahaan dinegara Korea yang sudah di percayai orang lain yang mengurusnya. Jadi selama ini Alvaro bila tak mendapatkan uang dari Ayahnya, ia selalu mendapatkan suntikan dana dari perusahaan almarhum Ibunya.
Sampai dibandara, Alvaro sudah dijemput oleh Lee orang kepercayaan almarhum Ibunya yang juga memimpin perusahaan Ibunya. Alvaro dibawa oleh Lee ke Apartemen, dan rencananya besok Ia akan langsung melakukan operasi plastik untuk mengubah
wajahnya.
"Welcome Tuan Muda Alvaro" ucap Lee membukakan pintu apartemen untuk Varo.
"Kau sudah mengatur semuanya bukan ? aku tak mau ada celah sedikit pun !" ucap Varo dingin.
"Iya Tuan, besok rencana operasi anda jika anda dalam keadaan sehat, malamnya langsung diberi tindakan operasi" balas lelaki paruh baya yang bernama Lee.
"Dimana wanita yang ku butuhkan ? aku mau yang masih ori !"
"Dia ada dikamar anda Tuan, silahkan. Saya pamit undur diri"
Alvaro menganggukkan kepalanya ia segera menuju kamarnya dan membuka pintu kamar. Tampak seorang gadis remaja yang baru berusia 17 tahun duduk dipinggir ranjang dengan wajah yang ditekuk.
Alvaro mengambil tali pita yang ada disorokan nakas dan mendekati gadis itu.
"Beautiful" ucap Varo memandang wajah gadis itu yang sangat cantik, namun gadis itu merasa takut dan menitihkan air matanya.
"Your name ?" tanya Varo semakin mendekat pada gadis itu.
__ADS_1
"Yo..yo..Yoona" balasnya terbata-bata. "Dont touch me mister please" ucapnya memohon.
"Aku sudah membayarmu, saatnya kau melakukan tugasmu !" ucapnya dingin kemudian mendorong tubuh Yoona keranjang hingga ia terbaring terlentang.
Varo mengikat tangan Yoona dikedua sisi ranjang hal yang sama persis ia lakukan pada Naura kemarin. Varo merobek pakaian Yoona hingga polos tanpa sehelai benangpun. Varo kemudian melucuti pakaian ia sendri hingga sama polosnya. Kemudian ia naik ke atas ranjang. Yoona bersandar pada dipan ranjang sambil menangis dan memejamkan matanya.
"Open your eyes !" bentak Varo.
Yoona membuka matanya, Varo mengarahkan senjatanya kemulut Yoona. Dan menjambak rambut Yoona.
"Hisap cepat !" Varo memasukkan senjatanya ke mulut Yoona secara paksa. Ia memaju mundurkan kepala Yoona hingga ia mendesah.
"Ohh...Aah...Naura..aah..." Varo menyebut nama Naura kerena membayangkan kalau dirinya tengah bersama Naura. saat Varo akan mendapatkan pelepasannya ia semakin memasukkannya ke dalam mulut Yoona, hingga wajah Yoona memerah dan mengelurkan air mata.
"Aaaarrgghhh..." Varo mengeluarkan tinta putihnya kedalam mulut Yoona.
"Ah...sakit !" teriak Yoona.
"Kau bisa berbahasa Indonesia rupanya" Varo menyeringai ia kemudian menghentak-hentakan pinggulnya secara kasar dan brutal karena milik Yoona yang begitu nikmat baginya.
"Kau nikmat Yoona, ah ah.."
"Please hentikan, sakit" jerit Yoona
"Ah..ahh..ahh.."
__ADS_1
"Hiks hiks hiks"
...************...
Keesokan harinya Zidan, Baskoro, dan Dion tidak menemukan dimana keberadaan Alvaro. Tidak ada informasi yang menyatakan Alvaro keluar kota bahkan keluar negeri.
"Besok hari pernikahan Reyhan dan Naura, sebaiknya kita fokus pada pernikahan dulu. Kita biarkan sedikit lelaki bajingan itu bebas, tunggu saja saat nanti jika sudah ditemukan, kita beri pelajaran padanya" ucap Baskoro dengan mode amarahnya.
Semua orang juga merasa setuju dengan pendapat Baskoro. Walaupun kondisi Naura sudah mulai pulih namun masih belum sebuh benar dari rasa trauma yang ia alami.
"Mau makan buah ?" tawar Reyhan pada Naura.
Naura menganggukkan kepalanya. Reyhan kemudian memotong apel dan mengirisnya kecil-kecil kemudian menyuapi Naura dengan penuh rasa cinta.
"Nanti siang kau sudah boleh pulang, dan besok kita akan menikah. Jangan memikirkan hal yang kemarin lagi sayang, nanti biar Kak Rey dan Ayah yang memberi pelajaran pada bajingan itu" ucap Reyhan lembut.
Naura menganggukkan kepalanya dan ia begitu bahagia karena kemarin Reyhan cepat menolong dirinya. Naura memeluk Reyhan dan membisikan sesuatu ditelinga Reyhan.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku Kak Rey"
Reyhan melepas pelukan Naura kemudian mencium kening Naura dengan mesra.
"Jangan diingat lagi, Okey. Kak Rey akan selalu melindungimu, dan menjagamu" ucap Reyhan tulus kemudian mencium bibir manis Naura.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka Baskoro masuk ke dalam ruangan dan buru-buru Reyhan melepas pelukan serta ciumannya pada Naura. dan Reyhan mendapat tatapan tajam dari calon mertuanya.
__ADS_1
'Mati aku !' batin Reyhan.