Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
BAB 32


__ADS_3

Baskoro terduduk di lantai depan ruangan operasi. Ia sangat terpuruk saat ini, tak ada yang mampu ia lakukan hanya doa yang selalu ia panjatkan pada sang pencipta agar Dion selamat dari operasinya. Naura mengajak Baskoro untuk duduk di kursi tunggu, namun Baskoro enggan bergerak sedikitpun. Ia terlalu larut akan kesalahannya.


Arya, Reyhan, dan Zidan menghampiri Baskoro yang tengah terduduk dilantai melihat Baskoro terus menitihkan air matanya.


"Baskoro !" suara Arya menggema memanggil nama sahabatnya itu, kecewa dan marah atas apa yang sudah terjadi pada Dion pasti karena ulahnya.


Baskoro menoleh ke arah sumber suara kemudian ia berdiri berhadapan dengan Arya.


'Bugh'


Satu pukulan mendarat ke wajah Baskoro dan Baskoro diam saja tanpa ada perlawanan.


Naura berusaha membantu Ayahnya yang terduduk di lantai dan berusaha mendirikannya, sedangan Reyhan dan Zidan berusaha menghentikan gerakan Arya.


"Lepaskan Papa, sepertinya ia kurang puas telah menyakiti Dilara dahulu dan sekarang kembali menyakiti Dion"


"Sudah Pa, hentikan !" Reyhan membantu melerai.


"Om maafin Ayahku, kecelakaan terjadi begitu aja, kalo Ayah enggak cepat membawanya ke rumah sakit Dion belum tentu bisa tertolong"


"Iya Pa, sebaiknya kita mendoakan yang terbaik untuk Dion semoga operasinya berjalan dengan lancar dan dia selamat" sambung Reyhan.


Arya mendudukkan dirinya ke kursi begitupun dengan Baskoro.


"Kau memberitahunya Bas ?" lirih Arya tanpa menatap Baskoro disampingnya ia fokus pada pintu ruang operasi yang lampu merah masih menyala.


"Tidak....Dion cukup pintar ia tahu dengan sendirinya kalau aku Ayahnya saat melihat foto kita bertiga dengan almarhum Ibunya"


"Anak itu..." Arya tak mampu meneruskan kata-katanya ia menangis dan terisak membayangkan Dion saat ini.


"Tapi ia sudah menerimaku, saat sebelum ia kehilangan kesadarannya" ucap Baskoro dengan suara yang bergetar.


"Dia sangat berjiwa besar seperti Ibunya"


Reyhan merangkul Naura ia menenangkan Naura dalam pelukannya ia tahu saat ini juga Naura merasa terpukul atas apa yang sudah menimpa pada Dion saudara sendiri.


"Tenang...semuanya pasti baik-baik saja"


Tak lama pintu ruangan operasi terbuka Dokter dan tim yang mengoperasi Dion keluar bersama membawa Dion dibangkar. Arya, Baskoro, Naura, Reyhan, dan Zidan berdiri kemudian mendekati bangkar Dion yang masih terpejam karena pengaruh obat bius.


"Dion..."


"Bagimana keadaan anakku Bram ?" tanya Baskoro pada dokter bedah yang merupakan teman baik baskoro.


"Operasinya berjalan lancar, kita tinggal menunggu waktu 2 atau 3 hari Dion siuman sebab ini operasi yang besar. Hampir saja tadi dia kehilangan detak jantungnya, tapi aku yakin dia anak yang kuat dan pemberani hingga ia bisa bertahan"


Mendengar penjelasan dokter semua menjadi lega namun tetap saja merasa khawatir dengan kondisi Dion.


"Zidan urus segala administrasi Dion, berikan ia kamar President Class di rumah sakit ini" pungkas Reyhan terus menatap Dion sang adik walaupun nyatanya Dion bukanlah adik kandungnya, tapi ia tetap menyayangi dan peduli dengan Dion.


"Baik tuan"

__ADS_1


Naura, Reyhan, Baskoro, dan Arya duduk disofa kamar tempat Dion dirawat. Mereka termenung dengan pikiran masing-masing karena merasa prihatin dengan kondisi Dion, hingga Naura membuyarkan suasana.


"Ayah pulang aja dulu, Ayah kan baru pulang tadi pagi biar Naura yang jaga Dion" tanya Naura mengelus pundak Baskoro dengan lembut.


"Tidak, Ayah akan tetap disini menemani Dion" jawab Baskoro dengan tegas.


"Iya Om juga tidak akan pulang, Om akan disini menemani anak Om" sambung Arya


"Papa yakin ?" tanya Reyhan pada Arya.


"Iya, Papa ingin menunggu Dion siapa tahu Dion siuman dengan cepat" jawab Arya antusias.


"Kamu pulang saja Naura, biar Ayah dan Om Arya disini menemani Dion. Besok pagi tolong bawakan keperluan Ayah" ucap Baskoro menatap Naura


Naura hanya bisa mengangguk pasrah sebagai jawaban sebenarnya ia juga tak mau pulang dan ingin menemani Dion namun apa daya ia tak pernah berani melawan perintah Ayahnya.


"Reyhan antar Naura pulang, tolong jaga dia" pinta Baskoro pada Reyhan dan tentu Reyhan menyanggupinya dengan semangat.




Dalam perjalanan pulang, hening tak ada percakapan antara Naura dan Reyhan. Hingga tiba-tiba Reyhan memberhentikan mobilnya ke sebuah restoran.


"Ayo sayang, kau pasti belum makan dari tadi siang bukan ?" tanya Reyhan pada Naura.


Naura baru teringat ia belum makan sama sekali sejak tadi siang, karena kepikiran Dion.


Naura dan Reyhan makan dengan diam seperti didalam mobil hening tak ada percakapan diantara keduanya, bahkan Naura tak selera makan. Reyhan menatap Naura kemudian menghela nafasnya ia tahu pasti Naura kepikiran dengan Dion.


"Aku kenyang Kak Rey" jawab Naura lesu


"Kamu belum makan sama sekali, ayo sini aku suapin" Reyhan menyuapkan makanan ke mulut Naura dan terpaksa Naura menerima suapan Reyhan.


"Kalo kamu enggak makan nanti kamu sakit siapa nanti yang jaga Ayahmu dan Dion ?


"Iya maaf..."


"Aku juga bersalah karena pernah besikap buruk dengan Dion, aku juga khawatir dan kepikiran dengannya. Kita cukup doakan dia agar dia cepat sadar dan pulih, dan bisa berkumpul lagi dengan kita"


Naura menganggukkan kepalanya sambil mengunyah makanannya.


Saat Reyhan dan Naura asyik makan, tiba-tiba datang seorang wanita cantik seumuran dengan Reyhan. Sabrina, dia adalah sahabat Reyhan saat kuliah di London. Sabrina tersenyum senang akhirnya bertemu lagi dengan Reyhan, walaupun Reyhan hanya menganggapnya seorang sahabat. Namun tidak dengan Sabrina, ia mencintai Reyhan diam-diam. Walaupun ia sempat patah hati karena Reyhan menikah dengan Sofia dan pernah memutuskan kontak dengan Reyhan sabagai bentuk kecewanya, tapi saat ia mendengar kabar Reyhan menjadi duda justru membuatnya bersemangat untuk mengambil hati Reyhan. Sabrina rela datang jauh-jauh dari London ke Indonesia demi Reyhan.


"Reyhan..."


Reyhan mendongakkan wajahnya dan berdiri menatap Sabrina ia membulatkan matanya tak percaya ada Sabrina ditempat ini.


"How are you ?" sapa Sabrina sambil memeluk dan mengelus pundak Reyhan.


Naura berdiri menatap wanita yang sedang memeluk Reyhan ia bingung siapa wanita itu.

__ADS_1


"Fine, kamu gimana kabarnya ?" Reyhan melepas pelukan Sabrina.


"Baik juga, aku boleh duduk ?"


"Boleh silahkan"


Mereka pun duduk bertiga Sabrina duduk di sebelah Reyhan sedangkan Naura duduk seorang diri. Ada rasa cemburu yang mendera dihati Naura saat ini. Kenapa Reyhan sangat akrab sekali dengan wanita dihadapannya kini.


"Rey, aku turut berduka atas meninggalnya Sofia"


"Iya terima kasih, aku kehilangan kontak denganmu Rin, apa kau menganggantinya ?"


"Iya aku menggantinya, boleh aku meminta nomor ponselmu Rey ?"


"Baiklah" Reyhan dan Sabrina saling bertukar nomor ponsel dan itu membuat Naura tambah merasa cemburu.


"Oh ya kenalkan ini Naura, calon istriku" ucap Reyhan memperkenalkan Naura.


Jeder !


Sabrina terkejut dan melongo mendengar ucapan Reyhan. Sungguh kini dirinya seperti hantam batu besar. Padahal ia sudah senang bertemu dengan Reyhan tapi sekarang harus mendapatkan kenyataan kalau Reyhan sudah memiliki calon istri.


Sabrina menatap Naura wanita yang sangat cantik diusia yang masih muda. Wajar saja fikirnya bagi Reyhan ia tertarik pada Naura.


"Oh hai, Sabrina sahabat Reyhan" Sabrina mengulurkan tangannya sambil tersenyum yang dipaksakan.


"Naura" ucap Naura lembut.


"Kak Sabrina fasih bahasa Indonesia ?" sambung Naura lagi


"Iya sebab Mama orang Indonesia walaupun kami tinggal di London"


"Sepertinya ini sudah terlalu malam, kita pulang sekarang ya Sayang. Maaf Rin, lain kali kita rencanakan makan bersama" ucap Reyhan berdiri mengajak pulang Naura.


Sabrina dan Reyhan pun berpamitan, kini Naura dan Reyhan duduk di dalam mobil sama seperti sebelumnya hening tak ada percakapan diantara keduanya. Kalau tadi Naura diam karena kepikiran Dion beda halnya saat ini ia masih memikirkan Sabrina, kenapa tingkah Sabrina tidak mencerminkan seorang sahabat melainkan ada tatapan penuh cinta yang ditujukan untuk Reyhan. Reyhan yang menyadari Naura hanya diam kemudian membuka pembicaraan sembari menyetir mobilnya.


"Sayang kamu kenapa ?" tanya Reyhan lembut


"Hah...aku enggak apa-apa" ucap Naura gugup.


"Mikirin apa sih ?" Reyhan masih penasaran


"Enggak ada Kak"


"Aku sama Sabrina sahabat kuliah" ucap Reyhan lembut karena Reyhan tahu pasti Naura memikirkan pertemuan antara dirinya dan Sabrina.


"Oh" Naura hanya ber Oh karena malas mendengar nama Sabrina.


"Saat di London hanya Zidan dan Sabrina yang dekat dengaku, kami bertiga bersahabat. Tapi sudah 3 tahun kami tidak kontak sama sekali, bahkan saat aku menikah dengan Sofia dia tidak datang saat aku menelfonnya ternyata dia memblokir kontaknya"


"Kenapa bisa begitu ?" Naura mulai kepo karena penasaran.

__ADS_1


"Terakhir yang aku tahu ia behubungan dengan Alex teman kuliah kami juga anak menteri pertahanan di London, aku pikir dia menikah dengan Alex saat ia tak bisa kami hubungi lagi. Tapi ternyata kami salah, dia tidak menikah dengan Alex"


"*Aneh" batin Naura menerka-nerka pasti ada alasan yang disembunyikan dari Sabrina*.


__ADS_2