
Reyhan saat ini tengah menggendong anaknya, Dokter sudah memperbolehkannya untuk digendong pertama kalinya. Tangis Reyhan luruh ketika bayinya menggenggam jari tangannya. Andai saja Naura sudah bangun dari masa komanya pasti Naura juga bisa merasakan kebahagiaan saat ini.
Tak lama datang Tante Ayu bersama Papa Arya yang memasuki ruang perawatan bayi Reyhan.
"Dia sangat tampan sepertimu Rey" puji Tante Ayu matanya tak lepas dari pandangan bayi mungil yang digendong oleh Reyhan.
"Iya Tante, tapi matanya sama seperti Mommynya" jawab Reyhan dengan terus menimang-nimang bayinya.
"Rey, sampai kapan kita harus menunggu Naura bangun. Ayolah kasihan anakmu, dia sampai saat ini belum diberi nama, Nak" ucap Papa Arya menasehati Reyhan.
"Biarkan saja Pa, aku ingin menunggu Naura sadar dulu baru akan kami umumkan nama anak kami"
Tante Ayu yang mendengar itu menjadi iba kasihan sekali nasib yang dialami oleh Reyhan, dua kali menikah dua kali juga merasakan hal seperti ini.
"Rey, apa kau tahu ikatan batin seorang Ibu dan Anak sangat kuat" Tante Ayu mencoba memberi saran pada Reyhan.
"Maksud Tante ?" Reyhan belum mengerti arah pembicaraan Tante Ayu.
"Rey, coba dekatkan bayimu pada Naura. Siapa tahu itu bisa memancing Naura untuk segera sadar dari komanya"
__ADS_1
Reyhan menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dan setuju. Mereka pun ke ruang rawat inap Naura, dengan terlebih dahulu minta izin Dokter dan Dokter pun mengizinkannya.
Saat telah diruang rawat inap Naura, Reyhan meletakkan bayinya disebelah Naura. Ranjang yang ditempati oleh Naura adalah ranjang King Size karena Naura ditempatkan di kamar president class seperti dihotel bintang lima.
Bayi Reyhan dan Naura menangis Reyhan yang melihat itu menjadi sedih. Tak lama Reyhan melihat jari jemari Naura yang begerak dan bola mata Naura yang sedikit demi sedikit terbuka.
Baskoro dan Arya yang melihat itu segera menelfon pelayanan rumah sakit lewat sambungan telfon yang ada di kamar.
Dokter dan dua orang perawat datang memeriksa keadaan Naura, mereka bernafas lega karena Naura sudah sadar dari komanya.
Reyhan menciumi kening dan pipi Naura, namun Naura tak merespon sama sekali ia hanya diam tak bersuara, bingung ada apa sebenarnya dan kenapa dirinya ada disini.
"Mas...dimana ini, aku dimana ?" jawab Naura lemah ia belum benar-benar merasa sehat.
"Kamu dirumah sakit sayang...kamu hampir meninggal jika Riska tak cepat membawamu ke rumah sakit. Maafkan Mas yang gagal menjagamu"
"Rumah sakit ?" Naura mengingat-ingat dirinya dan benar saja ia sudah menjadi korban tabrak lari.
Naura mengusap perutnya yang rata ia membulatkan matanya kenapa perutnya tidak buncit lagi, apa yang terjadi dimana anaknya.
__ADS_1
"Mas..anak kita ?" Mata Naura berkaca-kaca ia sangat takut kalau calon bayi mereka menjadi korban.
"Tenang saja, lihat disana" Reyhan menunjuk pada Tante Ayu yang menggendong seorang bayi.
"Itu anak kita sayang, dia terpaksa dilahirkan sebelum waktunya karena kondisimu yang sudah parah pada waktu itu" jelas Reyhan menenangkan Naura.
Naura menitihkan air matanya melihat bayi itu bayi berjenis kelamin laki-laki yang sangat tampan persis seperti suaminya.
"Aku yang mengandungnya Mas, kenapa wajahnya tidak mirip aku ? semuanya mirip dengan Mas" ucap Naura cemberut memandangi bayi kecil mereka yang kini dalam dekapannya.
"Kan Mas yang lebih banyak bikinnya makanya wajahnya mirip Mas"
Baskoro dan Arya saling merangkul saat melihat interaksi kedua anaknya itu tersenyum bahagia akhirnya Naura sudah sadar dan bisa melihat anaknya kembali menjadi keluarga yang bahagia.
"Terimakasih atas saranmu, Yu" ucap Arya pada Ayu.
"Sama-sama sayang" balas Ayu yang mengelus lengan Arya.
Baskoro yang melihat itu geleng-geleng kepala dan mengambil jarak ia malas sekali jika berdekatan dengan sepasang sejoli tua yang sedang mabuk asmara.
__ADS_1