Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
PUTUS (Riska)


__ADS_3

Riska keluar dari gedung hotel ia melihat mobil yang sangat ia kenali, mobil kekasihnya Dimas. Ia bersembunyi dibalik pot besar untuk melihat Dimas. Dimas turun dari mobilnya kemudian membukakkan pintu mobil sebelahnya. Dimas menggandeng mesra wanita cantik dan bertubuh seksi masuk ke dalam lobby hotel. Riska membuntutinya masuk ke dalam lift namun ia menggunakan lift sebelah supaya tidak ketahuan oleh Dimas.


Gerak gerik Riska sedari tadi diperhatikan oleh Zidan dan Zidan mengikuti kemana Riska pergi.


Dimas tiba didepan kamar hotel bersama wanita itu, dan masuk ke dalam kamar. Riska yang sudah memperhatikan itu sejak tadi. Merasa terbakar cemburu, selama ini Dimas selalu baik padanya dan merasa dicintai olehnya. Lama Riska berdiam diri, Riska mengumpulkan keberanian untuk mendekati kamar itu. Ragu-ragu ia mengetuk pintu kamar namun ia kembali menguatkan dirinya.


'tok'


'tok'


'tok'


"Kau memanggil pelayan hotel, Dim ?" tanya wanita itu.


"Tidak !" jawab Dimas yang sudah sama-sama dalam keadaan polos bersama wanita itu. Dimas kemudian tak menghiraukannya ia kembali memulai aksinya memberikan sentuhan yang memabukkan pada wanitanya. Hingga suara ketukan pintu terus terdengar dan menghentikan konsentrasinya.


"Biar ku lihat dulu" ucap wanita itu bangkit dari ranjang dan cepat memakai pakaiannya kembali.


Saat pintu dibuka Riska terkejut melihat tampilan wanita dihadapannya kini hanya menggunakan tanktop tanpa memakai bra yang mempelihatkan ujung gundukan kembar yang menantang dan celana pendek yang minim. Riska langsung masuk ke dalam kamar tanpa bicara dulu pada wanita dihadapannya. Riska melihat Dimas yang sedang memainkan hpnya tatapan nanar dari matanya. Ia meneteskan air matanya, kondisi Dimas saat ini cukup memberikan penjelasan padanya sedang apa dan kenapa ia susah dihubungi dari tadi pagi.


Dimas menatap Riska dan membulatkan matanya, ia tak menyangka bahwa dirinya akan ketahuan oleh Riska.


"Sayang, siapa perempuan ini ?" tanya wanita merupakan selingkuhan Dimas.


Dimas jadi gugup dan salah tingkah. "Dia..dia..sepupuku !" jawab Dimas.


Hati Riska berdenyut nyeri mendengar ucapan Dimas yang menganggap dirinya sepupunya. Riska kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Dimas. Dimas dengan cepat memakai pakaiannya, dan berlari menyusul Riska dan meninggalkan selingkuhannya dikamar hotel seorang diri.


"Riska tunggu !" ucap Dimas sambil berlari mengejar Riska.


"Riska dengarkan aku dulu" ucap Dimas berhasil menangkap Riska memeluknya, wanita yang sangat ia cintai.


Riska memberontak dan berusaha melepaskan Riska. Saat pelukan Dimas terlepas, Riska berbalik dan menampar Dimas.


'plak'


"Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku, Dim ?" tanya Riska dengan nada gemetar dan menitihkan air matanya.

__ADS_1


"Maafkan aku" lirih Dimas


"Tega kamu Dim ! ternyata kamu cowok berengsek yang pernah aku kenal !"


"Iya aku memang berengsek dan itu karena salah kamu sendiri !" balas Dimas yang tak mau disalahkan.


"Salah aku ?"


"Iya kamu sendiri kan yang enggak mau aku sentuh, makanya aku mencari wanita lain yang mau aku sentuh !"


'plak' Riska kembali menampar Dimas. Dimas yang tak terima ia berusaha membalas Riska, namun saat tangannya sudah diatas ia menurunkan tangannya kembali. Ia tak tega memukul Riska wanita yang ia cintai.


"Kenapa ? ayo balik tampar aku !" tantang Riska


"Enggak, aku enggak mau menyakiti orang yang aku cintai" balas Dimas dengan suara yang berat.


Riska menyunggingkan senyuman sinis pada Dimas. Tak mau menyakiti tapi barusan jelas-jelas ia sudah menyakiti hatinya.


"Kita putus !" ucap Riska menatap tajam Dimas.


"Enggak kita enggak boleh putus !" Dimas kekeh dengan pendiriannya. "Kalo kamu mau putus sama aku, kamu harus tidur sama aku !" ucapnya menarik tangan Riska agar mengikutinya.


"Terserah kamu mau bilang aku apa, yang jelas aku mencintai kamu Riska perempuan-perempuan yang bersamaku itu hanya alat pemuas nafsuku ! cintaku hanya untukmu !"


"Dasar gila ! Lepasin tangan aku, sakit Dim"


Tiba-tiba Zidan datang dan berusaha melepakan tangan Riska.


"Lepaskan tangannya !" bentak Zidan pada Dimas.


"Tuan Zidan..." lirih Riska


"Kamu siapa ? Ini bukan urusanmu, pergi sana"


"Lepaskan tangannya atau ku habisi kau bocah tengik !"


Dimas melepaskan tangan Riska kemudian berusaha memberikan pukulan ke wajah Zidan, namun dengan gerakan cepan Zidan menahannya. Zidan membalas pukulan tepat diwajah Dimas hingga tersungkur ditrotoar pinggir jalan. Zidan menghajar Dimas hingga babak belur.

__ADS_1


"Su..sudah Tuan tolong hentikan" Riska berusaha menghentikan Zidan yang menghajar Dimas. Zidan menghentikan aksinya dan membawa Riska pergi dari hadapan Dimas. Zidan dan Riska kini sudah sama-sama berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang Riska hanya bisa diam dan sesekali menitihkan air matanya.


"Kenapa wanita itu cengeng sekali" batin Zidan yang sesekali melirik Riska.


"Tuan hentikan mobilnya" ucap Riska pada Zidan.


"Ada apa ?" Zidan menepikan mobilnya dipinggir jalan.


"Saya turun disini saja Tuan, terimakasih atas bantuan dan tumpangannya" ucap Riska membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil.


Zidan menghela nafasnya kemudian ikut turun dari mobil. "Kau mau kemana ? ini sudah malam, tidak ada taksi yang akan lewat" ucap Zidan membujuk Riska.


"Tak apa Tuan, aku hanya ingin jalan kaki saja. Sebentar lagi juga sampai dikompleks tempatku tinggal"


"Jangan membantah ini sudah malam, tak baik gadis berjalan sendirian"


"Apa pedulimu Tuan, kita bukan siapa-siapa"


Zidan menatap tajam Riska dan bejalan mendekatinya. Riska jadi bergedik ngeri melihat tatapan tajam itu.


"Ma..mau apa Tuan ?" Riska berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Melihat hal itu Zidan memberikan senyuman mengejek padanya.


"Aku tak bernafsu padamu, ayo kita jalan saja kalo kau tak mau ku antar pakai mobil" ucap Zidan menarik tangan Riska dan berjalan bersama.


"Tapi mobil Tuan bagaimana ?"


"Aku akan menyuruh orang untuk membawa pulang mobilku"


"Tuan, bisa lepaskan tanganku. Aku risih" Zidan melepaskan tangan Riska. Zidan membuka jas yang ia kenakan dan menempelkannya ke bahu Riska. Mendapatkan hal itu Riska jadi malu dan tidak menolak, wanita mana yang tidak suka diperlakukan manis seperti ini pada seorang pria.


"Kau sudah lama berpacaran dengannya ?" tanya Zidan sambil berjalan dan menatap lurus kedepan.


"Heem...dua tahun kami menjalin hubungan" jawab Riska jujur, membayangkan Dimas ia benar-benar merasa kecewa dan sakit hati. "Dia ternyata lelaki brengsek" sambungnya lagi.


Mendengar hal itu Zidan malah tersenyum senang itu artinya ia akan lebih mudah mendekati Riska dan mendapatkan hatinya, karena penghalangnya sudah tidak ada lagi.


"Sekali lagi terimakasih sudah menolongku Tuan" ucap Riska lagi.

__ADS_1


"Iya sama-sama" balas Zidan disertai senyuman yang menawan dari bibirnya. Dan itu membuat jantung Riska berdegup kencang tak beraturan.


"Oh my god, kenapa dengan jantungku ?" batin Riska.


__ADS_2