
Reyhan saat ini tengah menatap Sabrina dari ruangan yang tak dapat dilihat oleh Sabrina. Sabrina mengerjapkan matanya ia melihat disekelilingnya merasa bingung dimana ia saat ini ia berada. Ia sangat takut saat ini melihat tempat yang begitu mengerikan baginya.
Ia turun dari ranjang pasien dan mencoba membuka pintu yang terkunci dari berbahan baja itu. Ia mencoba berteriak meminta bantuan namun tak ada yang menjawab, usahanya hanya sia-sia.
Ia merasa haus dan melihat diatas meja kecil ada sebuah gelas dan air minum ia kemudian meminumnya sampai kandas tak tersisa.
Tanpa Sabrina sadari air minum itu telah diberi obat perangsang oleh Reyhan untuk menghukum Sabrina.
Tak lama pintu terbuka masuklah Pratama didorong oleh dua orang lelaki berpakaian serba hitam kemudian pintu kembali tertutup dan terkunci kembali.
"Kau !" Sabrina menunjukkan jarinya ke arah Pratama.
Paratama menatap Sabrina dan menyunggingkan senyuman smirknya.
"Hei kenapa kau mengurung aku disini ! cepat keluarkan aku ! Bajiangan !" ucap Sabrina pada Pratama
"Ha..ha..ha" Pratama hanya menjawab pertanyaan Sabrina dengan tertawa dan mendudukkan diri disebuah kursi. "Kita sama-sama terkurung bodoh !"
__ADS_1
"Apa maksudmu ?!"
"Dasar ja.lang bodoh ! seharusnya kau kabur ke London atau operasi plastik seperti anakku Alvaro" Pratama mengejek Sabrina.
Sabrina semakin tak mengerti apa yang dikatakan oleh Pratama. "Bicara yang jelas bajingan !" teriak Sabrina
"Kau sudah tertangkap mungkin sebentar lagi akan masuk penjara atau tinggal nama saja"
"Maksudmu ?!"
"Dasar goblok !" maki Pratama pada Sabrina yang terus bertanya apa maksudnya. "Kita dikurung oleh Reyhan ! Reyhan sudah tahu kalau kau orang yang menyelakai istrinya !"
"Aku harus pergi dari sini aku tak mau masuk penjara ! aku harus pulang ke London" ucap Sabrina ia meraih hp disaku dressnya dan naas tak ada sinyal.
"Kenapa tidak ada sinyal" Sabrina prustasi sedangkan Pratama hanya tertawa mengejek Sabrina.
Tak lama tubuh Sabrina merasa panas tenggorokannya serasa haus ia menuju nakas yang berisi dua botol air minum dan meminum 1 botol air sampai habis. Tubuhnya terus terasa panas sedangkan Pratama memicingkan matanya dan dan tersenyum smirk ia tahu pasti Reyhan memberinya obat perangsang pada Sabrina.
__ADS_1
"Panas..." ucap Sabrina merasa kepanasan ditubuhnya. "Kenapa tubuhku panas sekali" Sabrina mulai sadar kalau ia sudah meninum air yang berisi obat perangsang.
"Berengsek kau Reyhan begini caramu membalasku" racau Sabrina
Sabrina kemudian menatap Pratama dengan tatapan sayu, ia membuka seluruh pakaiannya dan hanya menggunakan pakaian dalam saja.
"Please, help me" ucap Sabrina dengan suara seraknya ia mencium bibir Pratama dengan rakusnya dan mendudukkan diri diatas pangkuan Pratama.
Pratama melepaskan ciuman mereka dan menatap Sabrina dengan senyuman lebar. "Dengan senang hati" Pratama membuka pakaiannya, dan Sabrina memimpin permainan mereka hingga rasa panas ditubuh Sabrina berangsur menghilang.
"Ah...ah..ah.."
"Kau akan hamil anakku, dan aku akan menikahimu tentu aku akan menjadi kaya kembali" ucap Pratama ditengah hentakan demi hentakan yang ia berikan pada Sabrina. Sedangkan Sabrina tak memperdulikannya saat ini ia butuh pelepasan.
"Aaarrrgghhh" di dalam Pratama kembali mengelurkannya di dalam karena ingin Sabrina terus berada digenggamannya.
Reyhan yang menyaksikan itu kemudian percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zidan. Reyhan kemudian meninggalkan ruangan itu dan segera menelfon orang tua Sabrina yang ada di London. Meminta mereka untuk datang ke Indonesia ada hal serius yang harus Reyhan katakan mengenai Sabrina. dan mereka setuju karena mereka pun merindukan Sabrina.
__ADS_1
"Maafkan aku Rin, aku akan menghukummu dengan terus dibawah kendali Pratama" Reyhan menatap foto dirinya, Zidan dan Sabrina bertiga. Tak menyangka kalau persahabatan mereka akan hancur karena cinta.