
Dion melajukan mobilnya menuju arah pulang ke rumah Papa Arya. Sampai dirumah ia masuk ke dalam kamarnya, dan mengunci diri dikamarnya. Ia membanting apa pun yang ada dihadapannya kini.
'kyak'
'brak !'
Bahkan figura kecil diatas nakas yang berisi foto dirinya dan Valen pun ia hancurkan. Rasanya begitu sesak dan sakit menerima kenyataan seperti ini. Dulu saat ia ditolak oleh Naura tak pernah ia merasakan seperti ini. Tapi mengapa begitu menyakitkan kala bersama Valen.
Dion sudah berusaha selama ini untuk belajar menerima Valen mencintainya bahkan wanita itu jelas-jelas membalas rasa cintanya pula.
Ia jadi tahu kenapa sikap Valen tak seperti dulu saat bersamanya. Selama 4 bulan ini bukan hanya sikap Valen yang berubah padanya tapi ternyata juga hatinya.
Dion menghentikan aksinya saat mendengar dering hpnya berbunyi. Ternyata Valen menghubunginya. Dion mematikan hpnya dan melemparkannya diatas ranjang. Bisa-bisanya ia masih menghubunginya saat ini.
"Dasar ******" Dion begitu membenci Valen saat ini, rasa cintanya berubah menjadi sebuah kebencian.
...****************...
"Apa maksudnya ini Zid ?" tanya Reyhan menatap amplop berisi surat pengunduran diri Zidan dari perusahaan Reyhan, dipagi hari begini.
"Surat pengunduran diriku, Rey" ucap Zidan datar.
"Kenapa ? Apa ada maslaah ? Apa gaji yang ku berikan kurang ? atau aku ada salah padamu ?" pertanyaan beruntun diberikan oleh Reyhan karena merasa terkejut.
"Tidak, tidak ada masalah apapun" Zidan menjeda ucapannya. "Aku mau menikah" ucap Zidan kemudian tersenyum melihat ke arah Reyhan.
__ADS_1
Reyhan membulatkan matanya kaget pastinya sahabatnya itu akan menikah.
"Apa !" pekik Reyhan
"Jangan teriak-teriak nanti ada yang dengar"
"Siapa ? siapa wanita yang berani meluluhkan hatimu ?"
"Sudah ku katakan aku menyukai sahabat istrimu, aku sudah mengungkapkan padanya kalau aku akan menikahinya dan sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya" jelas Zidan sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Wah...tak ku sangka kau berani juga rupanya. Apa Mami dan Papimu setuju kau menikahi Riska ?" tanya Reyhan karena ia tahu kalau kedua orang tua Zidan sangat pemilih dalam mencari jodoh untuk anaknya, harus dari kalangan atas yang jelas asal asulnya.
"Mami sendiri yang menyukai Riska, dan itu artinya Mami menyetujuiku menikahi Riska"
"Dua minggu lagi, Rey. Maaf jika aku tidak lagi bekerja padamu, setelah menikah aku akan menggantikan posisi Papiku dan kembali ke Singapura meneruskan perusahaan"
Reyhan menghela nafasnya kasar, selama lima tahun ini Zidan sudah bersamanya. Tentu berat baginya akan kehilangan Zidan. Tapi ia juga merasa bahagia akhirnya Zidan akan menikah.
...***************...
Dion berjalan memasuki perusahaan ia datang terlambat hari ini sudah pukul 11 hampir mendekati jam makan siang. Semalaman ia tak bisa tidur, ia melampiaskan diri dengan mengurung diri di kamar dan minuman keras.
Tatapan Dion saat ini tak seperti biasanya ia menjadi dingin dan arogan.
Saat ia akan memasuki pintu lift, ada seorang gadis berpakaian seragam putih abu-abu ikut masuk ke dalam lift juga. Ia menatap gadis itu, ia tahu siapa gadis di hadapannya kini. Anak Paman Lim, Yoona.
__ADS_1
Saat pintu lift akan tertutup ia melihat Valen sedang berlari ke arahnya, namun sayang pintu lift telah tertutup.
Valen bergegas berjalan ke arah tangga darurat, ia menaiki tangga tersebut sampai ke lantai 5 dengan nafas ngos-ngosan. Ia ingin bertemu dengan Dion dan meminta maaf padanya. Sungguh ia sangat menyesal telah berani melepaskan Dion.
Dion menatap datar dan tajam ke arah pintu lift yang tertutup. Saat ini hanya ada dirinya dan Yoona di dalam lift.
"Kau tidak sekolah ?" tanya Dion datar pada Yoona.
"Gurunya sedang rapat Kak, jadi kami disuruh pulang. Aku ingin mengajak Papa makan siang bersama" jawab Yoona dengan senyuman manisnya. Jujur saja saat pertama kali ia bertemu dengan Dion, ia sudah kagum padanya. Wajah Dion yang tampan, baik dan juga sangat ramah padanya saat mereka di korea pada waktu itu.
Dion menatap wajah cantik itu sangat manis ia menyunggingkan senyuman kaku.
Tiba-tiba pintu lift terbuka, Dion membulatkan matanya saat ini sudah ada Valen di depan pintu. Ia sangat membenci Valen dan tak ingin bertemu dengannya lagi.
Dion dengan cepat berfikir untuk membuat Valen cemburu. Dion menarik tubuh Yoona dan memeluk pinggang ramping itu. Yoona yang kaget dengan apa yang Dion lakukan. Dion dengan merapikan rambut yang sebagian menutupi wajah cantik Yoona.
Jantung Yoona berdegup kencang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dion. Dengan cepat Dion menautkan bibirnya ke bibir merah muda milik Yoona di hadapan Valen. Valen menatap nanar apa yang di lihatnya saat ini, Dion berciuman dengan perempuan lain. Dion tak melepaskan ciumannya hingga pintu lift tertutup kembali.
Dion melepaskan ciumannya dan mengusap sudut bibirnya yang terdapat silvanya bersama Yoona. Sedangkan Yoona diam mematung di tempatnya memandang Dion. Seakan terkena hipnotis tak mampu melakukan pergerakan apapun.
Pintu lift terbuka sebelum Dion keluar dari lift ia membisikkan sesuatu ditelinga Yoona hingga membuat Yoona sadar.
"Maaf..." bisik Dion di telinga Yoona, dan pergi meninggalkan Yoona seorang diri di dalam lift.
"Hah !" Yoona terkejut kemudian memegangi detak jantungnya yang tak beraturan.
__ADS_1