
Hari-hari telah berlalu Naura kini resmi telah menjadi mahasiswa di Universitas ternama di ibu kota. Bagitupun hubungannya dengan Reyhan semakin hari semakin dekat satu sama lain. Pagi hari seperti biasa ia pergi ke kampus ia pergi seorang diri mengendarai mobilnya. Tak lama ponselnya berdering siapa lagi yang menelfon kalau bukan Reyhan.
'My Rey is Calling'
"Hallo Kak Rey"
"Sayang kamu kuliah ?"
"Iya, ada kelas"
"Kok enggak bilang, aku bisa anter kamu"
"Pengen aja bawa mobil sendiri Kak"
"Tapi balik dari kampus mampir ke kantor ya ?"
"Siap bos, mau dibawain apa ?"
"Bawa diri kamu selamat sampai tujuan ke kantor aku"
"Manis banget sih...ya udah nanti aku mampir ya Kak, aku tutup dulu telfonnya udah mau masuk kampus"
"Oke, semangat kuliahnya sayang. Inget jaga jarak sama lelaki lain"
"Oke My Rey sayang"
Panggilan terputus Naura mobil Naura masuk ke dalam parkiran kampus. Ia keluar dari mobilnya dengan menampakkan wajah dan penampilan yang cantik walaupun dibalut pakaian casual.
Naura berjalan ke arah gedung kampus untuk memasuki ruang kelasnya. Saat berjalan sendirian tiba-tiba seorang lelaki dengan terburu-buru menabrak Naura dan hampir terjatuh. Beruntung Naura dapat menyesuaikan keseimbangan dirinya hingga tak benar-benar terjatuh.
"Aaww.."
Lelaki itu menoleh ke arah Naura dan terkejut membulatkan matanya melihat siapa orang dihadapannya.
"Kamu !" ucap Naura dan lelaki itu bersamaan.
"Wah, enggak nyangka kita bertemu lagi. Apa ini yang dinamakan jodoh ?" ucap Alvaro lelaki yang pernah bertemu Naura disebuah Caffe belum lama ini.
"Sedang apa disini? kuliah juga ?" tanya Alvaro penasaran
"Iya" jawab Naura singkat.
"Jurusan apa ?"
Belum sempat Naura menjawab Alvaro langsung memotong ucapan Naura. "Aku pergi dulu aku sudah telat, sorry" Alvaro pergi meninggalkan Naura dengan seutas senyuman yang mengembang, karena bahagia bisa bertemu lagi dengan Naura. Wanita yang mampu membuatnya tertarik pada pandangan pertama.
Naura kini tengah berada di dalam kelas ia duduk bersebelahan dengan Dion karena satu Jurusan dan mendapatkan kelas yang sama.
"Makin cantik aja calon Kakak Ipar" seloroh Dion
"Ngegoda nih ceritanya ?"
"Ampun enggak berani gue, entar hukuman gue ditambah kalo ketahuan Kak Rey"
"Katanya Lo punya pacar ya ?" tanya Naura penasaran
Dion tersenyum mendengar pertanyaan Naura ia membayangkan wajah cantik Valentina.
"Gue nanya Dion"
"Iya....dia mampu buat gue move on dari Lo Ra"
"Bagus dong emang seharusnya kita enggak bersama karena kita kan saudara" jawab Naura polosnya, dan langsung menutup mulutnya. Ia sudah keceplosan bicara.
Dion mengernyitkan dahinya "saudara ?" tanyanya.
"Eh maksudnya calon saudara ipar"
"Oh..."
__ADS_1
"Ayah gue balik besok, Lo mau enggak nemenin gue jemput Ayah"
"Tumben ngajak gue, kenapa ?" tanya Dion penasaran karena tidak biasanya Naura mengajak Dion untuk urusan keluarganya.
"Ayah pengen ketemu kamu katanya" ucap Naura berbohong padahal punya rencana untuk mendekatkan Dion dengan Ayahnya.
"Ya udah besok gue ke rumah Lo perginya barengan dari rumah Lo aja ya" jawab Dion antusias.
"Okee"
Naura datang ke kantor Reyhan ia membawa makanan kesukaan Reyhan yang ia beli direstoran favoritnya. Semua karyawan yang lewat melihat Naura saat memasuki lift khusus CEO, mereka membicarakan Naura karena rumor yang beredar Naura yang merupakan seorang model sedang dekat dengan pemimpin perusahaan mereka.
"Enggak salah kalo Tuan Reyhan tertarik sama Naura"
"Bener tuh, cantik banget masih muda lagi"
"Kalah saing kita gaes"
"Gue aja yang sering caper dan cari celah Tuan Reyhan enggak tertarik, ternyata selera Tuan Reyhan bener-bener batu berlian"
"Hahaha...kita bisa apa cuma remahan rengginang"
Begitulah kira-kira obrolan para karyawan yang menatap Naura. Mereka jelas saja merasa iri karena kecantikan Naura dan kelebihannya.
'ceklek'
Naura membuka pintu ruangan Reyhan yang tidak dikunci ia berjalan ke arah Reyhan tanpa menatap Naura.
"Berapa kali saya bilang Valen, kalau masuk. ruangan saya ketuk pin...." ucapannya terhenti ketika melihat siapa orang yang berdiri dihadapannya kini.
"Sayang..."
"Sorry enggak ketuk pintu"
Reyhan berdiri kemudian menghampiri Naura dan mencium pipi Naura. Ia membawa Naura duduk disofa.
"Aku bawaain makanan kesukaan Kak Rey" Naura membuka kotak makanan yang ia beli dan menyodorkan suapan ke mulut Reyhan dan disambut oleh Reyhan.
"Kamu makan juga" Reyhan balik menyuapi Naura.
"Besok Ayah pulang, aku mau ajak Dion, enggak apa-apa kan ?" tanya Naura hati-hati karena ia tahu walaupun Naura dan Dion bersaudara Reyhan masih memiliki rasa cemburu karena Dion pernah memilki rasa dengannya dan itu diketahui oleh Reyhan.
"Kau ingin mendekatkannya pada Ayah ?"
Naura menganggukkan kepalanya. "Iya Kak Rey, walaupun berat nantinya Dion harus tahu kalau sebenarnya kita satu Ayah"
Reyhan mengelus rambut Naura lembut dan memainkan rambut panjang Naura.
"Baiklah honey, pergilah bersama Dion besok. Kabari aku jika terjadi sesuatu"
"Thank you My Rey" jawab Naura senang dan memeluk Reyhan.
"Kapan kau siap untuk fitting baju pengantin ?" tanya Reyhan
"Lusa ya, aku enggak ada jadwal kuliah"
"Baiklah, aku sudah memilih desaigner terkenal nanti kita pilih gaun yang cocok untukmu. Pekan ini akan ada pesta tahunan perusahaan, aku ingin mengenalkanmu pada semua orang dan mengundang awak media, kalau kau calon istriku"
"Oke My Rey"
"Dan terimakasih berkat dirimu penjualan salah satu produk perusahaanku melonjak sangat pesat, dan pastinya mendapatkan keuntungan yang berlimpah" Reyhan terus bicara sambil memainkan rambut panjang Naura dengan cara digulung-gulung dijari telunjuknya.
"sama-sama" Naura menjawab dengan senyum manisnya.
Ke esokan harinya Naura dan Dion berangkat menjemput Ayahnya. Setelah mereka bertemu Pak Baskoro memeluk hangat Dion, ada rasa yang menyeruak dalam diri Dion dan Baskoro. '*Beginikah rasanya memeluk anakku*' *Batin Baskoro
'Kenapa rasanya seperti ini, aku tak pernah merasakan kehangatan ini bersama Papaku*'
__ADS_1
Saat diperjalanan Dion terus mencuri pandang ke arah Baskoro ia ingin bertanya namun tak berani ia lakukan. Tak lama mobil yang mereka tumpangi masuk ke perkarangan rumah Baskoro. Untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam rumah Naura walaupun sudah kenal lama dengan Naura sejak kelas X SMA, karena sebelumnya Dion tak berani berhadapan langsung dengan Ayah Naura yang seorang Jendral.
Dion mendudukkan diri disofa ruang keluarga, Naura masuk ke dalam kamar Ayahnya membawakan koper Ayahnya. Tak lama Naura keluar dari kamar Ayahnya dan mendekati Dion.
"Ayah mandi dulu, tunggu bentar ya" ucap Naura pada Dion.
"Iya Ra, eh gue boleh lihat-lihat rumah Lo kan ?"
"Boleh, aku ke atas dulu ya. Mau ngecas Hp lowbat" Naura pergi meninggalkan Dion. Dion berjalan melihat-lihat sekeliling rumah Naura. Kemudian pandangannya tertuju pada figura kecil yang menampakkan foto tiga orang yang sangat ia kenal. Ia memegang figura itu dengan penuh tanda tanya.
"Ibu..." lirih Dion, dalam foto itu terlihat Ibunya sedang dirangkul oleh Baskoro dan Arya disebelah Ibunya.
"Apa hubungan kalian.." tanya Dion seorang diri
"Kami bersahabat" sahut Baskoro yang sudah muncul dibelakang Dion, dan mengagetkan Dion.
"Apa kau ayahku ?" tanya Dion spontan
Baskoro membulatkan matanya ia tak menyangka mendapatkan respon yang luar biasa dari Dion. Melihat gelagat Baskoro, Dion semakin yakin bahwa Baskoro adalah Ayah kandungnya. Ia tersenyum smirk ternyata benar kecurigaannya yang ia rasakan saat dibandara.
"Tebakanku benar, kau Ayahku !" seru Dion
"Ayah bisa jelaskan"
"Ayah..." Dion tersenyum mengejek ternyata orang dihadapannya kini benar-benar Ayahnya.
"Dion..."
"Kenapa Om tega meninggalkan Ibuku, meninggalkan kami ?" tanya Dion dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan Ayah..."
"Kau tega menghancurkan kebahagiaan keluarga orang lain demi menerima aku sebagai anaknya tetapi kau hidup bahagia tanpa memikirkan aku, Ibuku bahkan Papa Arya" suara Dion bergetar dan tak terasa air matanya menetes dengan sendirinya.
"Maafkan Ayah Dion, sungguh Ayah bukan tidak mau bertanggung jawab. Ayah tidak tahu jika Ibumu mengandungmu setelah kejadian satu malam. Bahkan Arya tak pernah memberitahu Ayah kalau kau anakku dan Ibumu menikah dengan Arya"
"Pernahkah kau mencari kami ?"
"Maaf..."
"Aku membencimu, ingat baik-baik kau bukan Ayahku" Dion pergi meninggalkan Baskoro dan berlari menuju motor maticnya yang terparkir di halaman rumah. Ia pergi dengan mengendarai motor dengan kecepatan penuh. Baskoro yang melihatnya pun merasa khawatir ia mengambil kunci mobil di dalam kamar dan mengikuti kemana Dion pergi.
'*Hancur sudah hati seorang anak ketika mengetahui kebenaran yang selama ini ia tunggu. Siapa Ayah kandungnya, ternyata adalah Ayah sahabatnya sendiri, Naura. Andai ia bisa bertemu dengan Ayah Naura saat Ibunya masih ada mungkin ia takkan membenci Ayah kandungnya sendiri*.'
Dion membawa motornya dengan kecepatan penuh tanpa memperdulikan pengendara lain. Saat di lampu merah ia tak melihat lagi jika lampu berubah menjadi merah ia tetap melajukan motornya dan terjadilah tabrakan antara motornya dengan mobil yang melintas ke arah lain.
"Aaaaa...."
'Ckitt..Brak !'
"Dion !!!!" teriak Baskoro dari dalam mobilnya, ia lekas turun dari mobil dan menghampiri Dion yang sudah bersimbah darah.

"Dion....bertahanlah, Ayah akan membawamu kerumah sakit" Baskoro panik seketika ia membawa Dion masuk ke dalam mobilnya dibantu orang-orang yang melihat kejadian kecelakaan itu.
"Ay...yah..." ucap Dion tersendat-sendat karena merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Iya Ayah disini..bertahanlah" jawab Baskoro sambil mengemudikan mobilnya.
"Maaf..." suara Dion mengecil namun masih didengar oleh Baskoro.
"Ayah yang seharusnya minta maaf, maafkan kesalahan Ayah. Bertahanlah Dion, Ayah menyayangimu Ayah ingin kita berkumpul bersama..." Suara Baskoro bergetar karena menahan tangis ia harus fokus mengemudikan mobilnya sampai ke Rumah Sakit.
"A..aku ing..in ber..sama..mu Ay..yah..."
"Iya kita akan bersama hidup bertiga dengan Naura menjadi satu keluarga yang bahagia" jawab Baskoro cepat.
Dion tersenyum kemudian penglihatannya kabur dan hilang kesadaran. Mobil Baskoro telah sampai didepan UGD rumah sakit, seketika itu Dion langsung ditangani.
__ADS_1
'*Bertahanlah Dion...Ayah menyanyangimu..maafkan Ayah...." Batin Baskoro sambil menangis*.