Terjebak Pesona Naura

Terjebak Pesona Naura
BAB 26


__ADS_3

"Apa aku sangat tampan hingga kau menatapku tak berkedip Nona Valentina ?" ucap Dion menyadarkan Valen karena Dion merasa dari tadi Valen menatapnya dalam tanpa berkedip.


Valen langsung memalingkan mukanya ia merasa malu dengan dirinya.


Zidan yang menyaksikan semuanya mulai mempunyai kesimpulan sendiri mungkin Dion ada hubungan spesial dengan Valentina.


"Kalian sangat dekat, apa kalian ada hubungan ?" tanya Zidan sambil memainkan laptopnya dan sesekali melirik Dion dan Valen.


Dion tersenyum kemudian menoleh ke arah Zidan.


"Iya kami ada hubungan yang sangat spesial" Dion menjawab dengan tanpa ragu.


"Tidak Pak Zidan, jangan percaya ucapannya" sangkal Valen.


"Kenapa ? apa perlu ku ceritakan pada Asisten gemblung itu kalau kau dan aku pernah berhub...." ucapan Dion terhenti karena mulutnya di tutup oleh Valen.


Zidan yang melihat keduanya merasa aneh ada apa sebenarnya antara Dion dan Valentina.


"Saya permisi Pak, saya harus mengerjakan tugas yang Bapak berikan" ucap Valen pada Zidan kemudian melangkah ke arah pintu.


Saat beberapa langkah Valen pergi meninggalkan Dion, Dion menahannya dengan bertanya pada Valen. Valen menghentikan langkah kakinya saat mendengar pertanyaan Dion.


"Apa kau tidak menyukaiku Nona Valen ?" tanya Dion dengan lantang.


"Aku tidak menyukai seorang bocah" balas Valen kemudian membuka pintu ruangan Zidan dan pergi.


"Tunggu saja nanti akan kubuat kau menyukaiku Valentina" ucap Dion dalam hati


Dion yang menyaksikan keduanya menggeleng-gelengkan kepalanya hubungan yang masih ambigu mungkin fikirnya. Tapi jika di lihat umur Dion lebih muda daripada Valen berjarak 6 tahun.


"Apa kau tidak tertarik lagi dengan wanita yang seumur denganmu Dion ?" tanya Zidan penasaran.


"Maksudmu ?"


"Maksudku kalian berdua berbeda usia, Valen wanita dewasa sedangkan kau bocah yang baru tamat sekolah. Tidakkah kau cari saja wanita yang seumur denganmu, kenapa harus yang lebih tua umurnya darimu ?" ucap Zidan menasehati Dion karena Dion sudah seperti adiknya sendiri baginya walaupun suka menjengkelkan dirinya.


"Kenapa kau jadi mengaturku, lagi pula walaupun aku masih bocah tapi aku sudah bisa membuat bocah" Ucap Dion ketus kemudian meninggalkan Zidan yang ternganga mendengar jawabannya.


"Dasar bocah edan" gerutu Zidan karena mendapatkan jawaban yang absurd dari mulut Dion.


....

__ADS_1


Reyhan saat ini tengah duduk bedua bersama sang Papa Arya dihalaman belakang rumahnya. Ia harus meminta kejelasan dan kebenaran dari Papanya mengenai Dion.


"Katakan Pa, kanapa Papa melakukan semua ini demi Ibu Dion"


Arya menatap Reyhan, ia tak menyangka Reyhan tahu kebenaran mengenai Dion yang bukan darah dagingnya.


Arya mengusap wajahnya dan menghela nafasnya pelan sudah seharusnya ia menceritakannya pada Reyhan.


"Maafkan Papa, Papa melakukannya karena kasihan dengan Ibu Dion. Kau tahu Papa, Ayahnya Naura, dan Ibunya Dion adalah sahabat yang saling menyayangi. Papa hanya menolong Ibu Dion yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Kau tahu kenapa Papa sampai menikah dengan Ibunya Dion, kami menikah bukan atas dasar cinta tapi status Dion yang belum jelas padahal ia sudah berumur 9 tahun. Lalu apa yang harus Papa lakukan selain menikah dengan Ibunya. Egois memang atau mungkin Papa akan dicap sebagai pahlawan kesiangan yang membantu wanita lain tanpa memperdulikan istri sendiri"


"Papa bukan tak menyayangi dan mencintai Mamamu, tapi Papa juga seorang laki-laki yang punya harga diri. Setiap kali Papa menyakinkan Mamamu, Mamamu tak pernah percaya pada Papa. Ia merasa dirinya yang paling tersakiti, padahal Papa menanggung semuanya."


"Bisa saja Papa menemui Om Baskoro dan mengatakan bahwa Dion anaknya, tapi coba kau bayangkan menjadi Papa. Haruskah Papa menghancurkan kebahagiaan keluarganya ?"


"Andaikan Mamamu mau menerima Dion mungkin keluarga kita akan selalu bahagia. Tapi nyatanya Mamamu tak pernah percaya pada Papa. Bahkan Papa pernah mengajak Mamamu bertemu dengan Ibunya Dion dirumah sakit, namun apa yang terjadi kondisi Ibu Dion makin Drop"


"Mamamu tetap tak percaya dan menuduh Papa berbohong. Bahkan walaupun Papa menikah dengan Ibunya Dion, Papa tak pernah memberikan nafkah batin sekalipun karena mencintai Mamamu. Papa hanya membantu menjaga Dion dan membiayai pengobatannya. Dan itupun Papa lalukan hanya sebatas rasa kasihan"


Reyhan memandang Papa Arya ternganga dengan apa yang ia dengar dari mulut Papa Arya. Jadi selama ini ia dan Mamanya sudah salah dengan apa yang terjadi antara Papanya dan Ibunya Dion.


Papa Arya kemudian menyerahkan amplop coklat ke hadapan Reyhan. Amplop yang berisi hasil Tes DNA yang diam-diam dilakukan Papa Arya pada Dion dengan Om Baskoro saat masih berumur 9 tahun.


"Itu hasil DNA antara Dion dan Om Baskoro, hasilnya 99% positif Dion anak Om Baskoro"


"Mamamu percaya kalau Dion bukanlah anak kandung Papa saat itu juga Mamamu langsung drop namun Papa tidak tahu kondisi Mamamu. Waktu itu Papa melihat Dion menangis karena mendapat kabar dari rumah sakit kalau Ibu Dion meninggal. Sungguh Papa bersalah sangat bersalah dan menyesalkan keputusan yang Papa ambil."


"Tapi semua sudah menjadi bubur, apa yang bisa Papa perbuat sekarang ? Bahkan Mamamu telah tiada"


Papa Arya menangis ia benar-benar menyesal akan keputusannya. Bahkan ia tahu kalau Reyhan membenci dirinya.


"Maafkan Papa Reyhan" ucapnya disela tangisannya.


Reyhan diam tanpa sepatah kata pun. Jujur saja ia merasa kecewa pada Papanya. Tapi ia meyakinkan dirinya untuk memaafkan Papanya dan memulai semuanya dikeluarganya dari awal, hubungan keluarga yang bahagia"


"Aku memaafkanmu Pa, maafkan aku juga yang selalu berburuk sangka padamu. Aku yakin Mama pasti sudah memaafkan Papa dan menerima kehadiran Dion walaupun Mama tidak ada disisi kita"


Mereka pun berpelukan sambil menangis, hubungan Ayah dan Anak itu kini menghangat seperti dulu tak ada lagi jarak yang membentang diantara keduanya. Terutama Reyhan yang sudah benar-benar memaafkan Papanya.


"Terimakasih Reyhan, Papa sangat menyayangimu"


.....

__ADS_1


Dion kini tengah duduk dibangku taman perusahaan Wijaya Corp. Ia medongakkan wajahnya ke langit yang cerah. Tak lama cairan bening menetes dari pelupuk matanya. Ia merindukan Ibunya saat ini.


"Aku rindu Bu, sangat..."


"Aku tak pernah membenci Papa Bu, sungguh aku sangat bahagia bisa diakui anak olehnya. Walau aku tahu aku bukanlah anak kandungnya."


Ya Dion selama ini tahu bahwa ia bukanlah anak kandung Papa Arya, ia pernah mendengar perdebatan antara Papa Arya dan Mama Lisa sewaktu masih berumur 9 tahun. Selama ini ternyata Ia sudah salah percaya dengan perkataan Ibunya yang menganggap Arya adalah Papanya.


"Siapa Ayah kandungku ?" tanya Dion seorang diri.


"Haruskah aku bertanya pada Papa ? Tapi apa setelah aku bertanya nanti ia masih menyayangiku lagi ?"


Dion berbicara seorang diri tiba-tiba Riska datang menghampiri dirinya dengan membawa paper bag berisi makanan.


"Gue muter-muter nyariin lo, enggak taunya lo disini"


"Lo enggak nanya sih gue dimana"


"Eh Bambang gue nelfonin lo enggak diangkat-angkat"


"Eh sorry Ka, hp gue ke silent"


Riska modorkan paperbag berisi makanan ke wajah Dion.


"Makanan lo"


"Wah makasih Riska baik banget deh semoga dapet jodoh laki-laki kaya raya"


Riska mengerucutkan bibirnya kemudian membukakan makanan yang bawa untuk Dion.


"Kenapa lo sampe jadi OB enggak dikasih duit lagi sama bokap lo ?"


"Gue dihukum" jawab Dion santai sambil memakan makanannya


"Kok bisa, kenapa ?" tanya Riska penasaran


"Gue ketahuan tidur sama wanita malam"


"What !!! Serius ? Wah Lo enggak perjaka lagi dong ?" ucap Riska kaget


Dion yang mendengarnya sampai tersedak dan terbatuk-batuk kemudian menatap Riska ternganga tak percaya.

__ADS_1


"Bener gue enggak perjaka lagi" ucapnya dalam hati


.........


__ADS_2