
Satu jam setengah yang diberikan oleh sang ajudan Deandra sesuai dengan interupsi Papa Harland, dimanfaatkan dengan baik oleh Aidan, sungguh lucu ya buat bertemu sama istri sendiri saja dibatasi, seharusnya bisa bebas kapanpun dan tidak ada batasan waktu.
Sekarang Deandra sedang menikmati es cream rasa coklatnya, sangking nikmatnya tak sadar bibirnya sudah berlepotan dengan jejak coklat yang lumer dari dalam es creamnya. Aidan terlihat gemas melihat Deandra persis kayak bocah kecil makan es creamnya.
Sengaja Aidan menggeser duduknya agar lebih dekat, kemudian meraih dagu istrinya agar bisa dia tatap dengan jelasnya. Netra Deandra mengerjap-ngerjap hingga berulang kali, karena melihat wajah Aidan begitu dekat dengannya. Tak lama tatapan mereka mengunci, Aidan memiringkan wajahnya dan selanjutnya ...
Netra Deandra melebar, dirinya pun terhenyak saat bibir Aidan menyapa bibir ranumnya, pria itu menyesap kedua lipatan benda kenyal itu, sedangkan Deandra masih dalam keadaan terkejut. Melihat tidak ada respon dari Deandra, Aidan menyesapnya lebih dalam dan sedikit menggigit bibir bagian bawah istrinya, rupanya hal itu berhasil membuka bibir ranum istrinya, dengan lincahnya lidah Aidan menyelusup ke rongga mulut Deandra, dan menikmati manis madunya.
Entah kenapa tiba-tiba saja naluri Deandra mengikuti sesapan lembut Aidan, biasanya selalu ada penolakan setiap Aidan menciumnya, ah jangan-jangan ini dorongan si dede yang ada diperut mama, karena biasanya ibu hamil hormon progesteron dan estrogen akan mengalami kenaikan yang cukup drastis. Hal itu membuat ibu hamil jadi lebih bergairah untuk melakukan hubungan intim.
Tidak ada tuntutan lebih dari sentuhan bibir pria itu, yang ada hanya sesapan lembut namun amat memabukkan, bagi Deandra yang belum ada pengalaman dalam berciuman, mungkin terasa kaku, namun karena sering dicium Aidan sedikit bisa mengikutinya.
Dibenak hatinya saat ini Aidan yang belum melepaskan pagutannya sudah siap jika dirinya akan ditampar dan dicaci maki oleh istrinya, dia akan menerimanya, karena sadar telah lancang mencuri ciuman.
Cukup lama mereka saling menyapa dengan bibir mereka, hingga Aidan menyadari jka istrinya sudah kehabisan napas, mau tidak mau Aidan menarik pagutannya dengan hati yang masih tidak rela. Aidan mengulas senyum hangatnya, jempolnya mengusap bibir ranum yang semakin memerah dan sedikit bengkak.
“Maaf, sayang. Aku siap kalau kamu mau tampar pipi aku,” kata Aidan, pria itu menunjukkan pipinya pas dimuka Deandra.
Wanita itu sedikit menjauhkan wajahnya dari pipi Aidan dan memalingkan wajahnya, dalam hatinya dia merutuki dirinya kenapa bisa menikmati ciuman itu, sudah tahu dia sangat benci sama Aidan. Namun hatinya mengakui kali ini agak berbeda, dan jelas jauh rasanya ketika pertama kali Arik cium bibirnya. Apakah si mama baby twin sudah mulai ada rasa buat si papa baby twin?
“Aku harus kembali syuting,” ucap Deandra, seakan mengusir pria itu.
Pria itu mencoba kembali tersenyum, lalu meraih tangan wanita kemudian mengecupnya dengan lembut. “Maaf ya, Sayang ... kalau aku telah lancang cium kamu, kalau Sayang marah sama aku gak pa-pa, aku rela.”
“Mmm ...”
“Ya sudah aku pamit ke kantor ya, kalau mau dibelikan makanan lagi kasih tahu aku ya, nanti aku belikan,” pinta Aidan dengan tatapan hangatnya.
__ADS_1
“Mmm ...”
Hanya gumaman sebagai jawaban dari Deandra, sangking bingung mau jawab apa. Namun setelah pria itu meninggalkannya, Deandra bisa bernapas lega.
...----------------...
Sore hari menjelang ...
Sesuai dengan janji temu dengan Arik, usai selesai syuting wanita itu minta di antarkan ke hotel S, karena tempat janji pertemuan di restoran yang berada di hotel S.
Nurul sang maid di minta pulang terlebih dahulu, sementara Adam sang ajudan sekaligus sopirnya menunggu di tempat berbeda setelah menuruni nonanya di lobby hotel S. Dengan langkah anggunnya dan tidak ada kecurigaan apa pun, Deandra terlihat bersemangat untuk menemui sang mantan kekasih.
Arik yang sudah menunggu kehadiran sang kekasih kalau menurut dia, padahal sudah jelas telah berakhir hubungannya, terlihat berulang kali merapikan penampilannya agar terlihat tampan jika bertemu dengan Deandra. Dari kejauhan Arik sudah melihat sosok wanita culun yang semakin cantik, pria itu pun tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya saat wanita itu mencari keberadaannya, tanpa pikir panjang lagi pria itu beranjak dari duduknya kemudian bergegas mendekati wanita yang mulai menghampirinya. Lalu ...
Wajah dan tubuh Deandra menegang ketika Arik memeluknya. Karno yang dari kejauhan ditugaskan mengikuti keberadaan nyonyanya menepuk jidatnya dengan mendesah panjang, akan tetapi tangannya bergerak memotret adegan pelukan itu, dan melaporkannya pada tuannya.
Deandra agak jengah dengan pelukan Arik, padahal dulu dia sangat mencintai Arik dan tersiksa hatinya ketika dia memutuskan pria tersebut.
“Mas Arik, gak enak dilihat banyak orang,” tegur Deandra, berharap pria itu mengurai pelukannya, entah kenapa hati Deandra tidak nyaman jadinya seperti sedang selingkuhin Aidan, padahal dia tidak selingkuh, hanya bertemu saja.
“Maaf aku terlalu merindukanmu,” balas Arik sambil mengurai pelukannya, lalu menggenggam tangan Deandra mengiringnya ke meja yang sebelumnya sudah dia tempati.
Arik menarik salah satu kursi, dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk, sungguh sikap Arik bisa membuat wanita manapun melambung tinggi, akan tetapi Deandra bersikap biasa saja.
Pria itu masih betah tersenyum dan menatap hangat wanita yang kini duduk di hadapannya.
“Kamu semakin cantik aja, Dea,” puji Arik.
__ADS_1
“Makasih atas pujiannya. Oh iya ada apa sebenarnya ingin menemuiku Mas?”
Pria itu menarik buku menunya. “Sepertinya kamu terburu-buru saja, kita pesan makanan dulu ya, sudah lama kita tidak makan berdua.”
“Bu-bukan maksud ku terburu-buru Mas, hanya tumben kenapa minta bertemu?”
Pria itu mengalihkan pembicaraan, dan mengajak Deandra diskusi memilih menu makanan, dan akhirnya mereka memesan makanan untuk mereka berdua, sembari menunggu pesanan mereka tiba Arik membuka pembicaraan kembali.
“Sepertinya sekarang kamu sudah banyak perubahan, wajahnya sering berseliweran di media. Aku tidak menyangka, jika kekasih hatiku sangat jauh berbeda penampilannya, sekarang sudah jadi artis. “
Deandra agak terhenyak dengan sebutan kekasih. “Mas Arik, aku bukan kekasihmu. Kita sudah lama putus.”
Pria itu meraih tangan Deandra yang ada di atas meja. “Aku tidak pernah menganggap hubungan kita putus selama ini, aku masih menganggapmu kekasihku dan saat itu memberi kamu ruang ketika kamu menjauhiku dan memutuskan aku. Tapi untuk sekarang sepertinya tidak bisa aku berdiam lagi, aku menginginkan kamu kembali padaku, tidak menjauh dariku,” tutur Arik dengan lembut namun tegas.
“Maaf Mas Arik, sejak awal aku mengakhiri semuanya sudah aku katakan ... aku tidak bisa kembali padamu.”
“Kenapa?”
Deandra terdiam sejenak, berbarengan dengan kedatangan waiters yang membawa pesanan mereka. Arik memperhatikan waiters tersebut saat menaruh minuman yang dipilih wanita itu, dan waiters tersebut mengedipkan matanya 3x, Arik membalasnya dengan senyum tipisnya.
Sementara Aidan yang masih mengurus kekacauan perusahaannya yang kini sudah diakhiri oleh Papa Harland, terlihat rahangnya mengetat, giginya mengerutak saat melihat laporan Karno di ponselnya.
“Rapat ditutup! Kita akan melanjutkan di jadwal berikutnya!” seru Aidan dengan wajah murkanya, kemudian dengan langkah kaki besarnya pria itu keluar dari ruang rapat, Lucky dan semua peserta rapat dia buat melongo.
bersambung ...
Apa yang akan terjadi ya di next bab? hororkah?
__ADS_1